
~misteri hilangnya Nisa~
Sebulan sudah berlalu sejak peristiwa itu, Nisa masih belum kunjung di temukan jua. Sedang Bu Sekar yang awalnya di kira ikut hilang bersama Nisa, ternyata malah di temukan dalam kondisi linglung keesokan harinya. Itu pun di area belakang rumah yang sangat jarang di jamah oleh mereka.
"Nisa ... dimana kamu, nak?" lirih Bu Sekar di dalam kamar dimana terakhir kali Nisa berada.
Saat menghilang, mereka hanya menemukan secarik sobekan baju yang di pakai Nisa dan beberapa tetes darah di atas tempat tidur. Masih menjadi misteri apa yang sebenarnya terjadi setelah Bu Sekar meninggalkan Nisa dengan sosok yang menyamar menjadi Zidan.
"Oeekkk ... Oeeekkkk." suara tangisan bayi memecah keheningan, tak lama tampak adel tergopoh-gopoh masuk ke kamar Nisa yang juga di pakai sebagai kamar bayinya sambil membawa sebotol susu.
Bayi itu sudah mulai besar sekarang, entah bagaimana selama di rawat di rumah sakit berat badannya naik secara teratur hingga akhirnya bisa keluar lebih cepat.
"Cup, cup, cup. Zafran sayang, kamu haus ya?" hibur Adel sambil menimang bayi lelaki itu dan memberikannya susu.
Bayi yang di beri nama Zafran itu menyedot susunya dengan cepat, seakan sangat kelaparan. Bayi itu sangat senang menyusu mungkin itu juga sebabnya bobot tubuhnya selalu naik. Dan tubuhnya pun semakin sehat dan besar.
Tak lama terlihat Zidan juga menyusul masuk, sepertinya dia baru saja pulang dari mengecek pabriknya. Wajah lelah yang sebelumnya menghiasi kini berganti senyum bahagia melihat tingkah anaknya yang sedang menyusu di pangkuan Adel sembari berusaha memegang wajah Adel.
"Hei, jagoan Abi. Udah bangun ya?" sapa Zidan sambil menghujani kepala dan pipi Zafran kecil dengan ciuman.
"Iya, Abi. Zafran baru bangun, lihat nih Zafran laper ... nyusunya kuat banget kan Abi? Biar nanti gedenya kaya Abi," ucap Adel seakan mewakili Zafran bicara.
Zidan semakin gemas saat bayi mungil itu mulai mengedipkan matanya seakan merespon perkataan Zidan.
__ADS_1
"Iya Zafran sayang, nanti gede mau kaya Abi ya? Jadi anak pinter ya, Nak. Jadi anak Soleh, nurut sama Umi. Abi sayang sekali sama Zafran." kembali Zidan menciumi wajah putranya itu.
Setiap kali melihat wajah Zafran, wajah Nisa selalu terbayang karna wajahnya mereka yang begitu mirip. Bukan Zidan melupakan bukan, semua usaha sudah mereka lakukan untuk bisa menemukan Nisa. Namun masih belum ada hasilnya, ingin memaksakan tapi mereka ingat ada Zafran yang masih butuh kasih sayang. Mau jadi apa dia jika mereka terus saja sibuk mencari Nisa tanpa henti? Jadi kini pencarian mereka serahkan kepada pihak kepolisian dan sesekali mereka juga berusaha mencari petunjuk dimana kiranya keberadaan Nisa.
"Bi, tentang Nisa ...."
Adel baru saja hendak bicara ketika Bu Sekar dengan cepat menyela.
"Kalian memang jahat, kalian seperti hanya memanfaatkan Nisa untuk bisa mempunyai anak. Dan kini setelah Nisa menghilang kalian seolah lepas tangan, dan tak ada sedikitpun niat kalian untuk mencari Nisa. Apa kalian lupa janji kalian pada Nisa dulu ha?"
Adel dan Zidan saling pandang, menekan emosi yang terkadang bisa saja terpancing sejak Bu Sekar mulai linglung karna kehilangan Nisa. Kadang beliau akan berteriak dan memaki siapa saja yang ada di dekatnya, namun terkadang juga beliau akan menangis tersedu atau bermain seperti biasa dengan Zafran cucunya. Mungkin, hanya saat bersama Zafran lah Bu Sekar bisa sedikit terlihat seperti orang waras.
"Kenapa kalian diam? Tidak bisa menjawab karna apa yang aku bilang itu benar kan? Tcih! Pantas saja kalian sudah tidak pernah lagi berusaha mencari Nisa, ternyata ini adalah bagian dari rencana kalian! Membuat Nisa menghilang dan menguasai putranya?" tuding Bu Sekar sambil memelototkan matanya.
"Bu, tenanglah." Adel berjalan mendekati Bu Sekar untuk menenangkannya.
Adel menekan dadanya yang terasa nyeri, semua hinaan yang dulu sempat menghampirinya kini hadir kembali dari orang yang bahkan tak pernah ia sangka.
"Tapi, Bu. Kita semua sudah berusaha mencari Nisa, tapi memang Allah belum merestui kita untuk menemukannya, Bu. Adel mohon ibu bisa sabar, insyaallah kalau Gusti Allah sudah berkehendak nanti, kita semua akan bisa berkumpul lagi," tutur Adel lembut.
Adel sekali berusaha menjelaskan semuanya pada Bu Sekar, tapi seolah buta Bu Sekar sama sekali tak mau tahu bahkan terus saja mendesak Adel dan Zidan untuk menemukan Nisa.
"Nggak usah bawa-bawa Tuhan, Adel! Kau bahkan nggak berhak mengucap nama-Nya. Wanita pembohong sepertimu harusnya yang menghilang, bukan Nisa!" sergah Bu Sekar.
__ADS_1
"Cukup, Bu!" hardik Zidan yang tak tahan mendengar setiap hari Bu Sekar selalu menghina dan menyalahkan Adel.
"Apa? Kamu juga sama saja dengan dia! Sama-sama Munaf*k! Kalian hanya mau memanfaatkan Nisa untuk punya anak. Dan setelah mendapatkanya kalian bahkan tidak lagi ingat padanya!"
"Ibu bahkan tidak pernah mau tau apa yang saya dan Adel usahakan di luar untuk mencari Nisa, dan selalu saja dengan pongahnya ibu menghina dan menekan Adel seakan hilangnya Nisa itu semua salah Adel. Padahal ibu sendiri tau kalau Adel juga korban! Adel juga nggak tau dimana Nisa, Bu! Bisa nggak sih ibu buka mata ibu dan lihat bagaimana perjuangan Adel untuk menemukan Nisa?" balas Zidan kesal.
Adel menarik tangan Zidan yang kini sudah tampak mengepal, wajahnya merah padam karna amarah yang selama ini tersimpan akhirnya meledak jua.
Bu Sekar tampak mundur ke belakang, hingga menabrak dinding. Mungkin dia terkejut karna selama ini Zidan bahkan tak pernah bicara keras padanya.
"Udah, Bi. Kasian ibu," bisik Adel tak tega melihat wajah ketakutan Bu Sekar.
Zidan mundur menuruti permintaan Adel, dan Bu Sekar menghentakkan kakinya kembali ke lantai kamar.
"Kalian hanya bisa membual, kalau memang benar apa yang tadi kau katakan Zidan, pastilah saat ini Nisa sudah bersama kita kembali. Tapi nyatanya apa? Jangankan Nisa, baunya saja bahkan tak ada di sini." Bu Sekar mengomel sambil berjalan keluar ruangan, meninggalkan Zidan dan Adel yang masih mengatur nafasnya di dalam kamar.
"Hah, kenapa malah jadi rumit begini," gumam Zidan sambil memijit pangkal hidungnya.
Adel membimbing Zidan untuk duduk di sofa kamar, dan mulai menggenggam kedua tangannya untuk berbicara serius.
"Mendengar perkataan Bu Sekar tadi ... bikin Umi jadi inget sesuatu," gumam Adel sambil mengingat ingat sesuatu.
Apa itu?" Zidan menoleh cepat dengan raut wajah penasaran.
__ADS_1
Mata Adel menatap jauh menerawang. "Seperti ... bau parfum yang terkahir kali di pakai Nisa sebelum bersalin, baunya sering berseliweran di sekitar gudang, hanya di sekitar sana."
*Nb: yang setuju author garap genre horor kasih komen ye*