
Setelah Bu Hanif masuk ke dalam rumah, tampak dari jalan depan seseorang berlari tergopoh-gopoh ke arah rumah Pak Hanif.
"Aaaaaahhhhhh." tiba-tiba saja dia berteriak sambil bergulingan di tanah sampai seluruh tubuhnya kotor oleh debu.
"Ya ampun, Jar. Fajar ... kenapa lagi kamu? Ngapain guling guling di tanah begitu? Ayo bangun, bangun!" Pak menarik tangan Fajar dan memaksanya untuk berdiri dan menarik tangan pria dewasa berotak anak-anak ke teras rumahnya.
"Fajar nggak mau ke sini, Pakde. Fajar takut nanti di tabok sutil sama Emak," keluh Fajar tapi tetap saja dia mendudukkan bokongnya ke atas balai bambu teras bersisian dengan Pak Hanif.
"Halah, kamu itu. Gayanya nggak mau tapi malah segala kopi Pakde kamu sosor," gerutu Pak Hanif saat Fajar dengan santainya meminum kopi di gelasnya yang masih tersisa separuh itu.
Fajar tak peduli dan terus saja menghabiskan kopi itu bahkan sampai bersih hingga ampasnya.
"Ckckck, Jar ... Jar. Kayaknya nggak pernah minum kopi saja kamu itu." Pak Hanif menggelengkan kepalanya.
"Kamu itu tadi kenapa, kok guling guling di tanah sambil teriak-teriak itu kenapa?" cecar Pak Hanif masih penasaran.
Fajar kembali mewek dengan wajahnya yang tak ubahnya boneka Mampang Prapatan itu. Membuat Pak Hanif sampai begidik dibuatnya.
"Huweeeee, Fajar mau ikut Neng bidadari ke kota, Pakde. Tapi malah di tinggal," Isak Fajar persis sekali seperti anak tetangga yang jatuh dari tangga.
Pak Hanif menepuk jidatnya. "Ya ampun, anak ini. Kirain ada apa."
Bu Hanif yang mendengar suara ribut di luar pun gegas keluar untuk memeriksa ada apa gerangan di sana.
"Ya ampun, Bapak. Itu di apain si Fajar sampe nangis gitu?" tunjuk Bu Hanif pada Fajar yang masih saja drama menangis itu.
Padahal nadanya juga banyak yang salah tapi masih saja memaksa menangis.
"Wes, Bu. Ayo tinggal wae nggak penting kok si Fajar itu, nanti capek juga pulang sendiri." Pak Hanif melangkah masuk ke rumah tanpa mempedulikan tangisan drama Fajar lagi.
Biar saja menangis sampai capek dan tak ada yang akan menolong karna hampir semua warga kampung sudah sangat paham bagaimana watak Fajar. Semakin di tolong dia akan semakin menjadi-jadi dan membuat budek telinga orang yang menolongnya. Jadi lebih baik biarkan saja, begitu juga yang di lakukan kedua orang tuanya kok.
Brakk
__ADS_1
Bu Hanif menutup pintu menuruti perkataan suaminya, ya siapa juga yang mau ngurusin bayi besar kayak si Fajar, buang-buang waktu dan tenaga pastinya.
"Huwaaaaa!"
Nah kan, tangisannya malah semakin besar karna di tinggal masuk rumah oleh Pak Hanif dan Bu Hanif. Entah apa maksud dan tujuannya anak itu malah masih betah di sana, apa nunggu di usir ya author juga kaga tau dah.
****
Mobil sedan putih tinggi yang membawa rombongan Adel itu berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang adalah rumah Adel.
Sebelumnya Adel sudah menelepon Zidan dan meminta untuk langsung ke rumah sakit menjenguk Nisa, tapi Zidan tidak memberi izin dan menyuruh Adel langsung saja pulang ke rumah dulu.
"Yuk, mampir dulu Johan." Adel melongokkan kepalanya dari samping mobil karena Johan yang tampak tak kunjung turun padahal mereka semua sudah keluar dari mobil.
"Ah, emmm emangnya boleh ya, Mbak? Saya nggak enak bertamu kalau nggak ada suami Mbak." Johan tersenyum kaku.
Adel mendesah, rupanya seorang Nasrani seperti Johan juga mengerti adab bertamu umat Islam saat suami sedang tidak ada di rumah.
"Di teras aja nggak papa, nanti biar Alice yang nemenin," tukas Adel sambil berjalan menuju pintu untuk membuka kuncinya.
Wajah yang bersemu merah itu dia sembunyikan di antara anak rambutnya yang menjuntai.
Ceklek
Pintu besar itu terbuka, Adel mengajak Nek Hindun untuk masuk dan membuat minuman untuk mereka. Karna hari sudah lumayan larut dan pastinya para pembantu di rumah itu sudah masuk ke alam mimpi, dan Adel menghargai itu untuk tidak menggangu masa istirahat para asisten rumah tangganya.
"Ini ... rumah Mbak Adel?" tanya Johan membuka percakapan.
Alice mendongak untuk memastikan kalau Johan memang bicara padanya.
Setelah yakin barulah Alice mengangguk. "I- iya, ini rumahnya Mbak Adel."
Johan mengangguk samar dan menatap sekeliling teras rumah yang di kelilingi taman bunga indah yang tampak sangat terawat.
__ADS_1
"Sepertinya keluarga mereka bahagia, rumahnya cantik dan tertata," desis Johan mengagumi arsitektur rumah dan taman yang sangat menyejukkan itu.
Walau malam tapi suasana di sekitar tampak hangat dan tidak ada kesan seram sedikit pun.
"Kadang, apa yang tampak di mata itu cuma kamuflase supaya yang sebenarnya terjadi tidak terlihat oleh orang lain," gumam Alice menatap jauh ke suasana komplek yang tampak lengang.
Johan mengerutkan kening, menyadari ada makna tersirat dalam perkataan Alice. Tapi itu malah membuatnya tak mau banyak bertanya lagi, sudah cukup menjelaskan kalau rumah tangga si pemilik rumah tidaklah seindah taman yang mengelilingi rumah tersebut.
"Kalau kamu ... apa sudah berumah tangga juga?" tanya Johan spontan.
Wajah Alice kembali memerah, bisa-bisanya lelaki yang diam-diam di kaguminya itu malah berpikir kalau dia sudah menikah. Oh tidak! Ini tidak bisa di biarkan.
"Sembarangan! Aku itu masih perawan ting ting tau!" ucap Alice kesal.
Namun entah bagaimana raut wajah kesal Alice justru tampak sangat menarik di mata Johan.
"Oh ya? Maaf kalau begitu," kekeh Johan sambil menutup mulutnya dan membuang pandangannya ke arah lain, tujuannya agar Alice tidak bisa melihat senyuman yang kini terkembang sempurna di wajah tampan berlesung pipi itu.
Alice melipat tangannya di depan dada dengan mulut mengerucut sepanjang jalan kenangan.
"Huh, dasar cowok nggak peka! Orang maunya berumah tangga sama dia malah di kira sudah menikah! Lama-lama ku pelet juga nih cowo satu," gerutu Alice pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Johan.
Johan tertawa kecil, sepertinya akan ada pasangan baru lagi di cerita ini. Kenapa? Karna author suka bingung ngembangin konfliknya, kasih ide di komentar kenapa? Jangan jadi pembaca gaib aja dong.
Beberapa saat kemudian, tampak sebuah mobil memasuki halaman rumah yang pagarnya sengaja di minta Adel untuk tetap di buka karena Zidan mengatakan akan menyusul pulang sebentar lagi. Jadi bisa di pastikan kalau itu adalah mobil Zidan.
"Dek Al," panggil Adel dari ambang pintu, di tangannya terdapat sebuah nampan dengan buah gelas teh hangat di atasnya.
Alice menghampiri Adel dan mengambil alih nampan dari tangannya.
Zidan yang baru saja keluar dari mobil dengan membawa sekotak pizza pesanan Adel langsung menatap tajam pada Johan, karena selama ini tak pernah ada seorang pria pun yang akan bertamu jika dia tidak ada di rumah.
Akal sehatnya sedang tidak bekerja, jadi dengan kesal Zidan menghampiri Johan dan menarik kerah bajunya.
__ADS_1
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumah ini hah?"