
Suasana di rumah sakit terasa lengang, Adel bersama yang lain tengah menunggu dengan tegang di depan ruang ugd dimana dokter tengah menangani bayi Zafran.
Semua cemas, bahkan Nisa sejak tadi tak hentinya menangis mengkhawatirkan kondisi anaknya. Sudah berkali kali Bu Sekar membujuknya namun sama sekali tak bisa menghentikan tangisan Nisa.
"Sudahlah, Nis. Lebih baik kamu doakan saja yang terbaik untuk Zafran, kalau kamu terus menerus menangisi kayak gini, bukannya membantu malah bikin kita semua makin panik," tegas Zidan sambil mengelus pundak Nisa.
Nisa menoleh menatap Zidan dengan matanya yang berair dan memerah.
"Tapi Nisa cemas sama kondisi Zafran, Mas." Nisa menjawab dengan suara serak.
Zidan menarik nafas dalam. " Iya, Mas tahu. Kita semua juga cemas, sama kayak kamu. Tapi tangisan kamu dari tadi malah bikin semuanya makin cemas. Jadi dari pada kamu nangis aja, lebih baik kalau kita berdoa demi kebaikan Zafran ya. Insyaallah Zafran nggak kenapa Napa."
Nisa mengangguk dan berusaha mengehentikan tangisnya sendiri, di pelukan Bu Sekar. Nisa menjatuhkan diri dan mulai mengangkat tangannya untuk mendoakan putranya yang kini tengah berjuang untuk sembuh di dalam ruangan UGD.
"Nisa, bisa ikut Mbak sebentar?" Adel berjalan mendekati Nisa dan mengulurkan tangan padanya.
Nisa mendongak tak mengerti, namun tatapan mata Adel yang penuh arti membuatnya menurut dan meraih uluran tangan Adel.
Adel membawa Nissa ke taman belakang rumah sakit, mereka duduk di sebuah bangku taman menatap kolam kecil yang sengaja di buat di sana. Semilir angin membelai namun sama sekali tak bisa menenangkan hati Nisa, batinnya masih belum tenang jika belum mendengar sendiri kalau keadaan anaknya baik baik saja.
"Nis, tolong jujur sama Mbak. Selama ini kamu selalu menjauhkan Zafran dari Mbak. Oke Mbak terima mungkin karna kamu takut Zafran lebih dekat ke Mbak. Dan selama itu pula Mbak nggak tau apa saja yang sudah kamu kasih ke Zafran dan lakukan buat Zafran, Mbak tau itu yang terbaik menurut kamu karna kamu ibu kandungnya. Tapi tolong jujur kali ini saja, apa yang sudah kamu kasih ke Zafran belakangan ini sampai akhirnya dia berakhir di sini ?" tegas Adel bertanya.
Nisa tampak kelabakan, namun dengan cepat dia mengatur ekspresinya agar tak ketahui Adel walau terlambat. Adel sudah merekam semua itu di benaknya.
"Ng- nggak ada kok, Mbak. Kan Asi Nisa melimpah, ngapain lagi Nisa ngasih makanan lain buat Zafran. Toh kan dia masih tiga bulan lebih usianya. Malah harusnya sebenernya dia itu baru satu bulan kalau di hitung dari tanggal seharusnya dia lahir." Nisa menjawab gugup walau dia sudah berusaha untuk tenang.
__ADS_1
Adel mendesah, rupanya tak mudah membuat Nisa jujur apa adanya.
"Jadi secara nggak langsung kamu mau bilang kalau kamu nggak pernah kasih makanan apapun ke Zafran?" tanya Adel sambil menekankan kata makanan.
Nisa kembali terhenyak, namun dia sangat pandai menyembunyikannya dari Adel dengan membuang muka ke arah lain.
"Iya, begitulah."
Adel menarik nafasnya menahan geram yang bercokol di dadanya. Jika tidak ingat kalau Nisa adalah adik madunya pasti sudah Adel Jambak dia saat ini juga.
"Lalu ... kulit pisang siapa yang Mbak lihat di kamar kamu tadi?"
Degh
Nisa menoleh cepat, dari raut kagetnya Adel sudah bisa menyimpulkan semua kejadiannya.
Adel membuang muka ke arah kolam. "Sepertinya kamu lebih tau maksud Mbak apa."
Nisa menggigit bibir bawahnya. "Itu ... itu pisang punyaku kok, kan aku harus banyak makan buah dan sayur supaya asiku berlimpah Mbak."
Adel mengangguk dan sambil tersenyum kecil. "Ooh, punya kamu ternyata. Tapi kenapa kamu makan pisang pake sendok bayi?"
****
Zafran sudah di pindahkan ke ruang rawat, sesuai perkiraan Adel. Bayi itu menjadi seperti sebelumnya karna di beri MPASI dini berupa pisang yang di lumatkan. Semua pisang itu menumpuk di lambungnya sampai dia lemas karena tubuhnya belum sanggup mencerna.
__ADS_1
Kini kondisinya sudah lebih stabil setelah semua ******* pisang itu di keluarkan dari perutnya. Hanya harus di rawat inap karna untuk memantau kondisinya hingga stabil.
"Jadi benar kamu kasih Zafran MPASI dini?" tanya Zidan menatap tegas Nisa yang kini masih terpekur di samping ranjang Zafran.
Nisa perlahan mengangguk, karena tak mungkin juga untuk terus menghindar sedangkan Zidan sudah mendengar langsung semuanya dari dokter. Dalam kata lain, Adel tidak lah mengadu pada Zidan.
Zidan menyugar rambutnya kasar, dan mengusap wajahnya dengan raut wajah gusar.
"Kamu tau kan bahayanya MPASI dini untuk bayi sekecil Zafran? Dia lahir saja prematur! Masih beruntung dia masih bertahan sampai sekarang karna di urus Adel dengan baik. Coba kalau nggak ada Adel, Mas sendiri sudah nggak tau gimana nasib Zafran. Kamu itu ibu kandungnya, masa hal begini saja kamu nggak tau?" bentak Zidan yang mulai emosi.
Adel mendekati Zidan dan kembali mengelus lengan dan punggungnya, mengingatkan pria yang di cintainya itu agar tidak lepas kendali. Sedangkan Nisa hanya terpekur di tempat, tak berani bersuara sama sekali. Hanya sesekali menatap ibunya yang kini hanya diam di sofa.
"Kamu tau kan, Nisa? Kalau Adel itu sayang sekali sama Zafran. Tapi Mas tau kalau belakangan ini kamu malah menjauhksn Zafran dari Adel seakan dia akan merebut Zafran dari kamu. Padahal kalau Adel mau, mungkin saat kamu menghilang dulu itu dia akan menguasai Zafran dan tak ada mau susah payah mencari kamu. Tapi kamu ...."
Zidan tak sanggup meneruskan kalimatnya, dia jatuh terduduk di lantai dengan dada naik turun menahan amarah yang hampir meledak. Maka dari itu dia memilih duduk untuk meredakan emosinya.
"Abi, sudah. Nggak ada gunanya marah marah begini, nanti Zafran malah terganggu tidurnya. Kasihan dia, sudah ya." Adel mengusap punggung Zidan dan merangkulnya di pelukan.
Zidan menarik nafas panjang dan menjatuhkan kepalanya sepenuhnya di pelukan Adel.
"Abi sayang sekali sama Zafran, Abi tidak sanggup melihat Zafran sakit begini, Um. Salahkah kalau Abi ingin yang terbaik bagi putra kita? Sungguh Abi hanya takut terjadi sesuatu sama Zafran." Zidan berbisik di sela pelukan Adel.
Adel mengeratkan pelukannya pada Zidan, dan mengusap rambutnya lembut. Tak peduli kini mereka di lihat oleh beberapa pasang pasang mata di sana tapi bagi Adel ketenangan Zidan lebih penting. Adel tidak mau Zidan sampai lepas kendali dan malah membuat sesuatu yang tak di inginkan terjadi.
"Iya, Umi tau kalau Abi sayang sekali sama Zafran. Tapi bukan berarti Abi bisa memarahi Nisa seperti itu. Ini juga pasti bukan sepenuhnya salah Nisa, ini salah Umi juga karena tidak memperhatikan Zafran belakangan ini. Umi janji setelah Zafran sembuh nanti bakalan lebih serius jagain Zafran. Sekarang Abi tenang ya, kita doakan Zafran supaya bisa lekas pulih."
__ADS_1
Zidan mengangguk dan kembali memeluk Adel untuk menumpahkan semua kesal di hatinya, menggantinya dengan cinta tulus dari wanita yang sudah bertahun tahun menemaninya itu.