ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 81.


__ADS_3

 Adel mengusap rambut Nisa lembut untuk mulai bicara serius dengannya.


"Ibu pasti sedih kalau lihat kondisi Nisa begini, Nisa pasti nggak mau kan kalau ibu sampai sedih dan stress nantinya melihat keadaan Nisa?"


 Nisa menggelengkan, sepertinya dia mendengarkan Adel dengan seksama.


"Kalau begitu, bisa nggak Nisa nanti kalau ada Bu Sekar bersikap seperti biasa? Seperti dulu Nisa yang Mbak kenal? Ceria dan percaya diri?" tanya Adel lagi.


 Kali ini Nisa tampak tertegun, dia tak merespon pertanyaan Adel. Hanya diam sambil mengikuti arah gerakan Zafran di hadapannya.


"Nis," panggil Adel mencoba mengingatkan Nisa.


 Tapi Nisa lagi lagi hanya diam, seolah tidak mendengar Adel. Hingga akhirnya Adel menyerah dan membiarkan Nisa kembali sendiri di kamarnya. Sedangkan dia membawa Zafran untuk di mandikan.


****


 Tak berselang lama, terdengar suara mobil Zidan mulai memasuki pekarangan. Adel yang tengah menyapu teras sambil menjaga Zafran yang berada di atas baby Walker itu menyambutnya dengan senyuman. Terlebih setelah tau kalau suaminya turut membawa serta ustadz Yusuf yang katanya akan membantu Nisa kembali pulih walau hanya sementara waktu.


 "Assalamu'alaikum," sapa Zidan sambil mengulurkan tangannya dan di sambut Adel dengan menciumnya takzim.


"Wa'alaikumsalam."


 Zidan beralih menggendong Zafran dan Adel menangkupkan tangan di dada untuk berbalas salam dengan ustadz Yusuf.


"Um, tadi alan sudah sampaikan pesan Abi kan?" tanya Zidan setelah puas menciumi buah hatinya itu.


 Adel mengangguk. "Iya, Bi. Sudah kok, bahkan tadi Umi sudah sempat bicara sama Nisa, katanya dia rindu ibunya. Tapi waktu Umi singgung tentang sifatnya dulu dia malah diam dan nggak merespon apapun lagi."


 Ustadz Yusuf mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Sebaiknya kita lekas lihat kondisinya sekarang, Bang Zidan. Mengingat saudari pernah menjadi korban penculikan oleh bangsa jin saya takut kalau kondisinya saat ini, selain di sebabkan trauma tapi juga ada andil makhluk lain yang ingin mengambil alih tubuh istri Abang."


 Zidan tampak terperanjat, dan langsung menyerahkan Zafran ke dalam gendongan Adel. Zidan lekas mengajak ustadz Yusuf untuk melihat kondisi Nisa di kamarnya.

__ADS_1


"Abi, tunggu!" sela Adel seraya berlari mengejar suaminya dan ustadz Yusuf yang sudah hampir membuka pintu kamar Nisa.


"Kenapa, Um?" tanya Zidan heran, karna Adel sampai nekat berlari menaiki tangga sambil menggendong Zafran pula.


 Kini tampak wajah Adel mulai ngos ngosan, wajahnya yang semula putih kini tampak memerah. Sedang Zafran di gendongannya malah terdiam seakan tak terjadi apa apa.


"Abi pasti lupa kalau Nisa takut sama suara laki laki," ucap Adel mengingatkan.


 Zidan terkesiap dan langsung kembali menutup pintu kamar Nisa.


"Ah, iya Abi lupa. Bagaimana ini ustadz? Istri saya Nisa sangat takut jika mendengar suara laki laki berada di dekatnya. Ini saja mungkin dia sedang ketakutan saat ini mendengar suara kita," papar Zidan .


 Ustadz Yusuf tampak berpikir sejenak, tak lama di seperti mendapatkan sebuah ide di kepalanya.


"Ah, saya tau. Bisa saya pinjam motor Abang sebentar? Ada yang perlu saya ambil di rumah."


"Boleh, Ustadz. Sebentar saya ambilkan kuncinya di kamar," sahut Zidan sambil berlari kecil menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Nisa.


 Tak butuh waktu lama, akhirnya Zidan kembali lagi sambil membawa sebuah kunci motor berbandul burung hantu. Dan langsung menyerahkannya pada ustadz Yusuf.


"Bi, apa ini akan berhasil? Umi hanya takut Nisa tertekan jika terlalu banyak yang tau akan kondisinya. Bahkan walau itu Bu Sekar sekali pun," keluh Adel resah.


 Zidan menghela nafas panjang dan membawa Adel ke dalam pelukannya.


"Sabar, Um. Kita ikhtiar dulu, semoga saja dengan meminta bantuan ustadz Yusuf akan ada jalan keluarnya seperti saat dulu kita menemukan Nisa."


 Adel mengangguk pasrah, dalam hatinya terselip doa untuk adik madunya itu agar bisa lekas sembuh dari trauma berlebih yang sudah hampir satu bulan lamanya dia derita.


****


 Benar saja, lima belas menit kemudian terdengar suara motor Zidan memasuki pekarangan dan langsung masuk ke dalam garasi dimana tadi motor itu berada.


Adel dan Zidan gegas menemui ustadz Yusuf yang datang bersama seorang wanita bercadar dan berjilbab besar dengan warna hitam mendominasi penampilannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap keduanya sambil bersalaman dengan Zidan dan Adel.


 Bahkan wanita itu sempat memeluk dan menempelkan pipi kiri dan kanannya ke pipi Adel.


" Wa'alaikumsalam, mari silahkan masuk." Adel mengajak kedua tamunya untuk masuk dan duduk terlebih dahulu di kursi ruang tamu.


.


 Dia tidak ingin terburu-buru dan malah akan membuat semuanya semakin kacau karna ketakutan Nisa nantinya.


"Perkenalkan, ini istri saya. Namanya Khadijah, Abang sama Mbak bisa panggil Dijah saja," papar ustadz Yusuf memperkenalkan istrinya yang memang sangat jarang sekali keluar dari rumahnya itu.


 Wanita bernama Dijah itu menangkup tangannya di depan dada, dari ekspresi matanya Adel tahu kalau Dijah tengah tersenyum padanya. Jadi Adel membalas senyum itu dan menyuguhkan minuman kemasan untuk ustadz Yusuf dan istrinya.


"Salam kenal juga, Mbak Dijah. Saya Adel, dan ini suami saya Zidan. Maaf kalau kami harus merepotkan Mbak Dijah sore sore begini. " Adel menuangkan air minum kemasan itu ke dua buah gelas untuk di berikan pada Ustadz Yusuf dan Dijah.


 Dijah tampak mengangguk. "Iya, saya sudah tau masalahnya, tadi suami saya sempat cerita di jalan. Setelah ini nanti ... boleh saya bertemu Mbak nisanya?"


 Adel dan Zidan mengangguk bersamaan dan meminta ustadz Yusuf dan Dijah untuk minum terlebih dahulu sambil mereka menjelaskan kondisi Nisa saat ini.


 "Yah, dari penjelasan Mbak Adel dan Bang Zidan. Saya bisa menarik kesimpulan juga kalau Mbak Nisa kemungkinan besar memang mengalami trauma luar biasa, kejadian itu memang tidak bisa di anggap remeh loh efeknya. Tapi ... kalau menurut pandangan kebatinan juga tidak menutup kemungkinan kalau ada sosok lain yang menginginkan raga Mbak Nisa," papar Dijah pelan, namun setiap perkataannya penuh penekanan.


 Adel tampak terhenyak, ternyata selama ini yang mereka anggap hanya karena trauma rupanya tidaklah sesederhana itu. Efeknya ternyata lebih parah karna semenjak itu Nisa menjadi sering melamun dan memungkinkan banyaknya sosok makhluk halus untuk singgah di tubuhnya yang sudah pernah terkontaminasi dengan dimensi mereka itu. Jadi sedikit banyak dari mereka menginginkan tubuh Nisa untuk bisa hidup kembali di dunia.


 Setelah mendengar kan penjelasan Dijah, ia minta di antarkan untuk melihat langsung kondisi Nisa. Adel menyanggupi sedangkan Zidan dan ustadz Yusuf tetap berada di ruang tamu untuk menghindari ketakutan yang akan Nisa alami jika mendengar suara lelaki. Untungnya Zafran saat ini sudah tertidur di kamar Adel, hingga Adel bisa bebas mengurus Nisa lebih dahulu.


 Krrrriiittttt


 Pintu kamar Nisa terbuka, Dijah yang membukanya. Adel yang mengikuti di belakangnya merasa heran, kenapa suasana kamar Nisa tiba tiba mendadak menjadi tak nyaman dan suram. Dan sejak kapan pula pintu kamar itu berderit jika di buka, suasana kamar yang temaram semakin membuat semuanya semakin janggal di benak Adel yang selama ini merawat Nissa dan baru kali ini mendapati kondisi seperti ini di kamarnya.


"Mbak Dijah? Kenapa ini kamar Nisa jadi seperti ini? Padahal tadi pas saya keluar dari sini masih adem adem aja loh suasananya," bisik Adel di dekat telinga Dijah.


 Dijah memutar kepalanya, wajah yang hanya tampak matanya saja itu menyipit.

__ADS_1


"Sepertinya ... semua yang terjadi di sini di luar ekspektasi saya, Mbak Adel."


 Adel terperanjat. "Ap- apa maksud Mbak Dijah?"


__ADS_2