ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 72.


__ADS_3

  Sore itu, Nisa tengah berbaring sambil menyusui Zafran. Orang tua Adel masih ada, dan kini tengah bercengkrama di taman belakang bersama Zidan juga.


 Nisa hampir saja tertidur saat dia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.


Tok


Tok


Tok


"Nis, kamu tidur?" panggil Adel dari depan pintu, masih dalam kondisi pintu tertutup.


 Nisa membuka matanya perlahan, sambil memegangi kepala yang terasa pusing Nisa bangkit menuju pintu.


Ceklek


 Pintu di buka perlahan, tampak Adel di depan sana dengan senyum khasnya.


"Zafran tidur?" tanyanya.


 Nisa menggeleng sambil memegangi kepalanya yang terasa berat karena tak jadi tertidur. Sedangkan Zafran sejak tadi memang belum tidur dan malah asik bermain sambil menyusu.


"Mbak ambil Zafran ya?" pinta Adel meminta izin.


 Nisa mengangguk dengan berat hati, padahal baru saja dia bisa bersama Zafran karna sejak pagi Zafran terus bersama Adel karena orang tuanya ingin bermain bersamanya.


 Adel tersenyum dan berjalan masuk ke dalam kamar Nisa untuk mengambil Zafran yang tengah bermain di atas kasur.


"Zafran Sayang, yuk ikut umi lagi yuk." Adel mencium pipi gembul Zafran dan menggendongnya.


 Bayi itu tampak tertawa senang dalam gendongan Adel, sesekali dia menjatuhkan kepalanya ke dada Adel dengan gaya manja.


"Mbak, jangan lama lama ya. Nisa baru aja sebentar sama Zafran. Bahkan Zafran belum kenyang menyusunya Mbak." Nisa mendekat dengan wajah di tekuk.


 Namun sayangnya fokus Adel lebih banyak ke Zafran, hingga dia tidak menyadari perubahan air muka Nisa.


"Iya, nanti kalo Zafran udah ngantuk Mbak anter ke sini lagi."


 Adel berlalu keluar sambil menggendong Zafran, sesekali terdengar tawanya bersahutan dengan tawa Zafran.


 Nisa terpekur di tempatnya, tak lama tampak Zidan masuk ke dalam kamar Nisa seperti mencari sesuatu.


"Nis, pampersnya Zafran yang baru di mana ya?" tanyanya sambil celingukan ke lemari tempat Nisa menyimpan semua barang milik Zafran.

__ADS_1


 Nisa mendesah dan menunjuk sebuah laci yang isinya penuh dengan diaper yang di berikan Adel untuk Zafran, semuanya dari merek ternama dan yang terkenal paling bagus untuk bayi.


"Nah, ini dia. Zafran pup, jadi Adel minta di ambilkan Pampers ganti." Zidan mengambil satu Pampers dan hendak berlalu keluar lagi.


"Mas, tunggu." Nisa menyela, membuat Zidan seketika menghentikan langkahnya.


"Ya, kenapa?"


"Bisa kita bicara sebentar, Mas?" pinta Nisa hati hati.


 Zidan mengangguk. "Sebentar ya, Mas anter dulu ini nanti Mas balik lagi ke sini. Kamu tunggu aja ya."


  Nisa mengangguk dan memilih menunggu sabar hingga Zidan kembali ke kamarnya. Zidan tampak menenteng satu buah hamburger di tangannya, dan meletakkannya di hadapan Nisa.


"Ini buat kamu, tadi Adel beliin buat kamu. Di makan ya," tukas Zidan mengelus lembut rambut Nisa.


 Nisa hanya mengambil hamburger itu dan memangkunya, belum berselera untuk memakannya. Tarikan nafasnya terdengar berat seperti menyimpan sejuta luka, namun lagi lagi sayangnya Zidan pun tak menyadarinya.


"Mas, aku mau bicara." Nisa berucap lemah.


 Namun Zidan malah mengusap rambutnya lagi, dan tersenyum sambil membawa kepala nisa ke dalam pelukannya.


"Terima kasih untuk semua pengennya kamu sama Adel ya, kamu selalu ikhlas Adel ikut merawat Zafran. Dan sekarang hampir setiap hari Mas lihat Adel selalu bahagia, dan bersemangat seperti dulu. Mas senang sekali lihat istri istri Mas akur begini, rasanya surga sudah turut ada di dalam rumah ini. Sekali lagi, terima kasih ya, Sayang."


"Ternyata benar kata Adel, semenjak ada kamu di rumah ini semua seolah berubah, apalagi semenjak ada Zafran. Kebahagiaan terasa terus ada di dalam sini, Mas rasanya bahagia sekali sekarang. Dan semua itu berkat kamu." Zidan mencolek hidung Nisa yang agak pesek itu dengan bibir mengulum senyum.


 Wajah Nisa memerah, seluruh gundah di hatinya seolah menguap sama sekali. Kini hanya ada bunga bunga yang tiba tiba bermekaran indah di sana, untuk pertama kalinya, akhirnya Zidan bisa menganggap dirinya berharga. Dan rasanya hatinya sangat terenyuh di buatnya hingga kehabisan kata kata.


"Oh iya, tadi kamu mau bicara apa, Sayang?"


 Blushh


 Semakin memerah wajah Nisa mendengar kata sayang keluar dari bibir Zidan, sensasi hangat terasa merambat di seluruh wajah dan tubuhnya. Merambat perlahan menimbulkan sensasi tergelitik di perutnya.


"Hei, kenapa kamu malah melamun?" desak Zidan sambil mengangkat wajahnya Nisa agar menatapnya.


 Sepasang netra bening itu beradu, Nisa semakin melayang rasanya hingga tak ingat lagi siapa dimana dan sedang apa mereka sekarang. Yang ada di hatinya hanya rasa senang yang begitu meluap luap dan hampir membuatnya lupa diri.


"Mas," panggil Nisa.


"Ya?" sahut Zidan lembut, wajah mereka masih berada di jarak yang sama yang semakin lama semakin terkikis.


"Bisakah? Kamu terus seperti ini?" bisik Nisa lirih, seiring wajah Zidan yang semakin mendesak ke arahnya.

__ADS_1


 Zidan berhenti sesaat, dan senyuman manis tersungging di bibirnya.


"Yah, tentu. Kenapa?"


 Nisa menunduk malu dan menggeleng.


"Nisa ... hanya merasa ... lebih senang saat Mas seperti ini."


 Zidan menyunggingkan senyum dan kembali mengangkat dagu Nisa agar kembali menatap ke arahnya.


"Berhentilah menunduk, izinkan Mas juga menikmati wajah polosmu, Sayang."


 Deru nafas hangat Zidan memenuhi wajah Nisa, aroma mint terasa menyegarkan di hidung Nisa. Tak puas rasanya dia menghidu nya, hingga pikirannya mulai terlarut dalam angan dan hayal tentang dia dan Zidan.


"Mas, apa kamu ... menginginkan ku?" bisik Nisa malu malu.


 Kini berganti wajah Zidan yang memerah, namun tanpa ragu akhirnya Zidan menganggukkan kepalanya.


"Y- ya, salahkah?"


 Nisa menggeleng, dan tersipu malu.


 Merasa mendapat lampu hijau, Zidan pun meneruskan aksinya mengulang kembali kisah mereka yang terukir hanya satu kali saat sebelum Zafran terlahir. Dan kini Zidan menuntut kembali haknya atas Nisa, yang sebenarnya sudah sejak lama di harapkan Nisa tapi dia selalu tak berani meminta.


 Nisa memejamkan mata saat wajah Zidan semakin dekat dan dekat, deru nafas hangat beraroma mint itu memenuhi indera penciumannya. Namun saat tinggal beberapa detik lagi bibir itu saling bertemu ketukan di pintu membuyarkan semuanya.


Tok


Tok


Tok


"Nis, apa Mas Zidan ada di dalam?"


 Itu suara Adel, serta merta bahu Nisa melorot begitu menyadari siapa yang ada di balik pintu kamarnya.


 Sesuai dugaannya Zidan langsung menjauhkan diri dari Nisa dan beranjak membukakan pintu untuk Adel.


"Kenapa, Um?" tanyanya setelah pintu terbuka dan tampaklah Adel di depan sana namun tak ada Zafran di gendongannya sepertinya bayi itu kini tengah bermain dengan Pak Hanif dan Bu Hanif.


"Abi dari tadi Umi cariin, itu lampu kamar mandi kita tiba tiba mati. Nggak tau kenapa kalo boleh Umi minta tolong perbaiki dulu soalnya Umi mau mandi," sahut Adel lembut.


"Ooh, begitu. Ya udah ayo, Abi benerin." Zidan beranjak begitu saja keluar dari kamar Nisa bahkan tanpa berbalik atau sekedar berpamitan pada Nissa, padahal sebelumnya mereka hampir saja ....

__ADS_1


"Ternyata kamu belum berubah, Mas. Masih terlalu sulit menggapai tempat setinggi Mbak Adel di hatimu. Semoga aku bisa kuat, Mas. Di saat anak dan suamiku kini justru semakin di kuasai Mbak Adel seorang." Nisa menyusut air mata yang mengalir di pipinya.


__ADS_2