ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 35.


__ADS_3

 Mendengar rintihan Adel, Zidan bergegas menyongsong istrinya itu dan langsung menggenggam erat tangannya.


"Umi, Sayang ... Umi udah sadar? Abi di sini, Mi."


 Adel perlahan membuka matanya, yang semula tampak buram kini mulai jelas di penglihatannya.


 Pak Hanif dan Bu Hanif menyusul Zidan dan berdiri di sisi kanan dan kiri brankar Adel.


"Mana yang sakit, Nduk?" tanya Bu Hanif sambil memijat pelan lengan dan kaki Adel.


"Bi ...," rintih Adel lagi, kepalanya terasa begitu berat dengan tubuh yang sangat lemas.


 Zidan mendekatkan wajahnya ke telinga Adel sambil menyibak Khimar istrinya yang agak menutupi wajahnya itu.


"Umi, Sayang. Abi di sini, maafin Abi ya semalam sudah bentak Umi," bisik Zidan tulus.


 Adel mengerjab membuka matanya perlahan dengan lebih lebar, tampak olehnya wajah khawatir dan cemas suami, kedua orang tuanya dan tak ketinggalan Nisa yang kini netranya sudah basah oleh air mata.


"Abi ... kenapa ...." Adel menitikkan air mata, ingatannya berputar pada kejadian tadi malam yang membuatnya begitu sedih dan tertekan.


  Tangis Zidan pecah, dia memeluk Adel dan menangis sejadi-jadinya. "Maaf, Abi mohon maaf, Sayang. Tolong maafkan Abi, tolong jangan pergi! Tolong jangan pernah tinggalkan Abi. Abi janji itu kalo pertama dan terakhir Abi buat Umi kecewa, tolong Sayang maafkan suamimu yang bodoh ini."


 Mereka semua tergugu, walau tanpa suara tapi air mata lagi dan lagi menyambangi keluarga mereka. Bahagia yang di harap nyatanya masih di gantung oleh sang Maha Kuasa.


"Mbak, tolong maafkanlah Mas Zidan. Kasian dia, Mbak," ucap Nisa berusah turut membujuk Adel.


 Bu Hanif menarik lengan Nisa memberi kode padanya untuk diam dan tidak ikut ikutan mempengaruhi Adel.


Adel menoleh sejenak lalu kembali fokus pada Zidan yang masih menangis di pelukannya.


"Abi, sudah jangan begini." Adel meraih wajah Zidan dan mengangkatnya.


"Tidak, sampai Umi bisa maafkan kesalahan Abi yang sudah bikin Umi nangis tadi malam. Abi memang bodoh! bahkan Abi tidak pantas di maafkan. Tapi Abi mohon berilah Abi satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya, Sayang. Tolong," pinta Zidan memelas.

__ADS_1


 Bahkan yang katanya harga diri lelaki itu begitu tinggi sampai dia pantang menangis di depan sang istri kini runtuh sudah oleh Zidan. Dia menangis sejadi-jadinya sampai Adel kualahan di buatnya.


"Ya ya, Abi. Sudahlah berhenti menangis, itu tidak lucu." Adel menarik tangannya dari genggaman Zidan.


"Jadi Umi mau maafin Abi?" binar mata Zidan tampak mulai terbit hanya dengan mendengar satu kata pengharapan dari Adel.


 Adel mengangguk samar walau hatinya masih meragu, tapi bukankah Allah saja Maha Pemaaf lalu bagaimana bisa kita hamba- Nya malah mendendam.


"Terima kasih, Sayang. Abi janji ... Abi janji nggak akan membentak Umi lagi dan akan selalu mendengar penjelasan Umi. Sekali lagi terima kasih ya, Sayang. Terima kasih untuk kesabaran seluas samudera yang Umi punya." Zidan menciumi tangan Adel berulang kali sambil mengucapkan terima kasih.


Nisa tersenyum lega begitupun Pak Hanif dan Bu Hanif yang tak menyangka masalahnya akan selesai secepat ini.


"Umi maafin Abi, tapi dengan satu syarat." Zidan menoleh cepat dan menatap Adel dalam dalam.


"Katakan, apapun ... apapun yang Umi minta akan selalu berusaha Abi penuhi," seru Zidan yakin.


Pak Hanif manggut-manggut, dalam hatinya dia sebenarnya sangat bangga pada Zidan yang tak pernah malu atau segan menunjukkan sikap mesra dan peduli pada istrinya.


 Adel tampak berpikir sejenak, menhat Zidan gemas dengan ekspresi wajahnya yang benar-benar di buat imut.


 Zidan duduk di tepian kasur dengan antusias. "Kemana Sayang? Katakan, Abi akan langsung booking tiketnya untuk Umi."


 Zidan merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya untuk memesan tiket.


 Adel terkekeh dan menggeleng pelan. "Nggak usah jauh jauh, Umi cuma mau ke rumah Bapak dan ibu saja kok. Ke kampung sana."


  Mata Zidan melotot sedangkan Pak Hanif dan Bu Hanif tampak berbinar senang mendengar putrinya ingin berlibur di tempat kelahirannya.


"Tapi ... tapi ... hanya liburan kan? bukan untuk selamanya pulang ke sana?" tanya Zidan khawatir.


 Dahi Adel berkerut dalam karna tidak mengerti dengan maksud Zidan.


"Hah? pulang selamanya? maksudnya nggak pulang ke rumah kita lagi gitu?"

__ADS_1


 Zidan mengangguk. "Iya, nggak kan? Umi pasti pulang kan? ke kampung cuma mau liburan aja kan? bukan mau ninggalin Abi kan?"


 Pak Hanif menepuk pundak Zidan dengan wajah berbinar. "Hei, Adel kan maafin kamu. Jadi ya nggak jadi Bapak bawa pulang lagi Adelnya, Bapak bukan pemain curang kayak gitu loh ya."


 Zidan menggaruk kepalanya karena malu, sedang Adel terkekeh gelinem dengar banyolan sang bapak.


"Jadi gimana? boleh nggak? kalau nggak boleh ya udah Umi marah lagi, ngambek lagi biar sekalian di bawa pulang sama Bapak," ancam Adel berpura-pura ngambek.


 Zidan terkejut dan langsung memeluk Adel. "No! iya iya Umi boleh kok kalau cuma liburan aja ke kampung Bapak dan Ibu. Tapi janji jangan sampai berniat pulang selamanya ya. Rumah Umi itu sama Abi di rumah kita."


Adel tertawa geli dan mengangguk setuju.


****


 Besoknya.


 "Gimana, Dek? Mbak udah boleh pulang kan? bosen tau harus balik ke sini lagi padahal baru aja seneng pulang ke rumah," curhat Adel pada Alice yang tengah memeriksa kondisinya.


 Alice memasang senyum manis dan membereskan peralatannya. "Iya udah bisa kok, kondisi Mbak juga udah stabil. Jadi ... udah bisa pulang. Oh iya jangan sampai kejadian kayak semalam lagi ya, jangan mikirin yang aneh aneh yang berat-berat. Pokonya Mbak harus bahagia terus ya biar cepet sembuh."


 Adel mengangguk mengiyakan dan meminta agar infusnya lekas di cabut karena sudah merasa tak nyaman.


"Mbak, Nenek pengen ngajakin kalian semua ke rumah buat makan malam," celetuk Alice setelah melepas infus dari tangan Adel.


"Oh ya, kapan, Dek?" tanya Adel yang mulai membiasakan memanggil Dek pada Alice, membuat Alice merasa senang dan merasa di anggap.


"Ummm harusnya sih malam ini, tapi mengingat kondisi Mbak yang baru keluar rumah sakit. Kayaknya nanti aja deh tunggu Mbak udah fit banget ya."


"Tapi kalau nanti-nanti takutnya nggak jadi, Dek. Mbak mau pulang dulu ke kampung soalnya. Pengen liburan, sumpek di kota terus," ungkap Adel dengan sedikit sesal mengambang di pelupuk matanya karena sebenarnya sangat ingin menemui lagi Nek Hindun.


 Alice berpikir sejenak kemudian tersenyum senang. "Al, ada jatah cuti satu Minggu. Gimana kalau kita pulang kampungnya bareng-bareng?"


" Wah, beneran? Boleh boleh, hayuk!" Adel tampak sangat bersemangat.

__ADS_1


 Pak Hanif dan Bu Hanif pun tak kalah senang karna akan mendapat teman untuk di perjalanan.


 Zidan mendekati Adel dengan wajah memelas. "Sayang, terus aku gimana?"


__ADS_2