ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 9.


__ADS_3

"Tiga hari, sepertinya waktunya akan cukup. Adel punya permintaan untuk Bapak, Ibu dan Abi." Adel menyentuh tangan suaminya.


"Katakan, Nak. Apapun yang kamu minta insyaallah kami turuti, kamu putri kami satu-satunya jangan ragu untuk minta apapun sama kami. Jangankan sesuatu, bahkan nyawa pun rela kami berikan untuk kamu, Nak." Pak Hanif mengecup kening Adel.


Bu Hanif mengangguk menyetujui ucapan suaminya.


"Bapak dan Ibu benar, Sayang. Bagi kami, apalagi Abi pribadi. Umi itu berharga, jauh lebih berharga ketimbang nyawa Abi sendiri. Jadi apapun permintaan Umi insyaallah selama Abi sanggup akan Abi kabulkan," tukas Zidan lembut.


Adel tersenyum simpul, hatinya menghangat haru menyeruak ke dalam batinnya membuat bulir bening di matanya luruh karna rasa bahagia.


"Alhamdulillah, Adel di kelilingi orang-orang baik. Terima kasih banyak Pak, Bu, Abi. Tapi nggak perlu sampai sejauh itu, Adel cuma mau punya permintaan kecil yang semoga kalian setujui," gumam Adel.


"Katakan, Nak," ucap Bu Hanif.


Adel menarik nafas dalam-dalam sebelum mengatakan keinginannya.


"Adel cuma mau Bapak sama Ibu juga hadir nanti di pernikahan kedua Mas Zidan sama Nisa, Adel mohon restu juga sama Bapak dan Ibu buat pernikahan kedua suamiku supaya dari pernikahan itu bisa lahir keturunan yang soleh-solehah. Supaya Mama nggak lagi benci sama Adel." Adel mulai terisak entah kenapa dadanya tiba-tiba sesak setiap mengingat bagaimana tajam dan pedasnya hinaan dari Bu Sita padanya.


"Adel cuma mau di sayang sama Mama, huhuhu ... Adel rela di madu asalkan Mama Sita bisa sayang juga sama Adel nantinya," ungkap Adel menumpahkan segala sesak di hatinya selama ini.


   Bu Hanif terkesiap dengan cepat langsung berpindah tempat untuk bisa memeluk Adel.


"Maafin Ibu ya, Nduk. Maaf selama ini Ibu nggak tau kalau ternyata kamu sesakit ini, bukan cuma sakit fisik tapi rupanya batin kamu ikut tersiksa. Maafin Ibu baru tau sekarang, Del. Maaf," ujar Bu Hanif berulang kali mengucap kata maaf di telinga Adel.


"Kenapa kamu nggak ngasih tau kami, Zidan? Kenapa kamu rahasiakan kalau selama ini Adel nggak di sukai sama Mama kamu? Kemana kasih sayang yang dulu dia tunjukkan sewaktu pernikahan kamu sama Adel? Apa cuma gara-gara Adel belum bisa hamil dan beliau bisa seenaknya membenci Adel?" geram Pak Hanif menatap Zidan tak suka.


Zidan menunduk tak berani membalas tatapan mertuanya.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya juga nggak tau kenapa Mama tiba-tiba bersikap seperti itu sama Adel, padahal dulu Mama begitu sayang sama Adel. Zidan sudah berulang kali bicara sama Mama supaya bisa bersikap baik sama Adel tapi entahlah sepertinya Mama nggak pernah mau tau, syarat satu-satunya supaya beliau bisa berubah mungkin hanya dengan memberinya cucu seperti kata Adel," jawab Zidan dengan tak enak hati.


Biar bagaimanapun dulu dia sudah berjanji pada Pak Hanif dan Bu Hanif kalau dia akan selalu menjaga Adel, menjadi tameng baginya dan tidak akan membiarkan sesuatu atau seseorang pun menyakitinya. Tapi mungkin hanya dua janji yang bisa dia tepati hingga saat ini, karna janji yang terakhir terpungkiri karna ego ibunya sendiri.


Pak Hanif tampak menahan amarah


sampai dadanya naik turun.


"Kalau begitu pulangkan Adel, biarkan kami yang merawatnya. Adel tidak butuh keluarga toxic seperti keluarga kalian!" sergah pak Hanif menuding Zidan.


Sebagai bapak yang sudah berjuang mati-matian menghidupi anaknya, tentu saja Pak Hanif tak terima jika ada yang menyakiti bahkan sampai menghina putri semata wayangnya yang begitu dia sayangi sejak bayi.


Zidan mengangkat wajahnya tak percaya, begitu pula Adel yang langsung melepaskan pelukannya dari sang ibu.


"Tidak, Pak! Tolong beri saya satu kesempatan lagi untuk bisa membahagiakan Adel! Saya cinta sama Adel, Pak! Biar kami tidak punya anak sampai mati asalkan saya tetap bisa menua bersama Adel. Saya mohon jangan minta Adel kembali, Pak. Saya mohon," Isak Zidan sambil menjatuhkan diri bersimpuh di hadapan Pak Hanif.


"Saya bahkan akan turuti kalau Bapak tidak mengizinkan saya menikah lagi, walau pun nanti Adel mungkin marah. Tapi saya lebih baik kehilangan hal lainnya ketimbang harus kehilangan Adel! Saya mohon, Pak! Tarik kata-kata Bapak, biarkan Adel tetap jadi istri saya." Zidan memegang kedua lutut Pak Hanif merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya asalkan dia tak di pisahkan dengan Adel.


Pak Hanif tak bergeming, hanya matanya yang memerah kini tampak kembali mengalirkan airnya.


"Pak, tolong jangan egois. Adel hanya meminta kesediaan kalian untuk merestui pernikahan kedua Mas Zidan, bukan untuk membuat Adel berpisah dari Mas Zidan. Adel cinta sama Mas Zidan, Pak. Tolong jangan buat kami berpisah," pinta Adel memelas sembari menangkupkan kedua tangannya di dada.


Bu Hanif menatap Pak Hanif tajam. "Jangan keras kepala, Pak. Ingat Adel lagi sakit!"


"Tapi bagaimana kalau nanti setelah Zidan menikah lagi, Bu Sita masih berani menyakiti Adel Bu? Tidak ada jaminan kalau  setelah dia mendapat cucu dari Zidan dan Nisa dia akan bisa menyayangi Adel juga. Bisa jadi dia malah menyayangi Nisa dan kembali menghina Adel karna tidak bisa hamil. Semua itu lebih mungkin terjadi, Bu. Dan bapak nggak rela, Bapak nggak ikhlas anak bapak satu-satunya di perlakukan seperti itu! Lebih baik Adel kita bawa pulang," tegas Pak Hanif dengan air mata bercucuran.


Zidan terkesiap dan langsung memeluk erat kaki Pak Hanif.

__ADS_1


"Saya bersumpah, Pak. Tidak akan ada kondisi yang Bapak takutkan tadi kalau Bapak sudi memberi saya kesempatan kedua untuk bersama Adel. Saya janji akan lebih tegas sama Mama dan membuat dia bisa menyayangi Adel lagi! Tolong jangan percaya saya, Pak."


  Bu Hanif yang sudah tega kembali mendesak suaminya.


"Pak!" seru Bu Hanif dengan mata melebar menatap Pak Hanif.


"Adel mau sama Mas Zidan, Pak," lirih Adel memelas, masih dengan tangan di depan dada memohon pengertian bapaknya.


Pak Hanif menghembuskan nafas kasar, dan perlahan membawa tubuh Zidan kembali berdiri sejajar dengannya.


"Hanya satu kesempatan, kalau kali kamu gagal, maka kamu harus siap memulangkan Adel pada kami."


Zidan mengangguk mantab dan menciumi tangan Pak Hanif berulang kali sambil mengucapkan terima kasih sebanyak yang dia bisa. Sedangkan Adel kembali jatuh ke dalam pelukan ibunya dengan perasaan lega.


Walau ke depannya semua masihlah abu-abu, tapi tak ada salahnya untuk mencoba bukan? Adel hanya berharap kasih sayang yang hilang dari mertuanya bisa kembali dia dapatkan dengan pengorbanannya merelakan suaminya menikah lagi.


****


Di apartemen Nisa.


Tampak Nisa tengah membantu Bu Sekar yang baru saja sampai untuk membawa masuk tas lusuh dan beberapa kantong kresek bawaannya masuk ke dalam ruangan apartemen mewah yang di belikan Nisa untuknya.


Mata Bu Sekar membulat sambil menatap takjub seantero ruangan yang lebih mirip istana ketimbang apartemen.


"Ayo masuk, Bu." Nisa berjalan mendahului Bu Sekar menuju kamar yang akan dia tempati.


Dengan mata berbinar takjub, Bu Sekar mengikuti Nisa.

__ADS_1


"Nis! Apa suaminya Adel itu orang kaya?" celetuk Bu Sekar dengan mata berkilat.


__ADS_2