
Sesuai rencana akhirnya Bu Sita di minta Zidan ke rumah sakit, dan sesuai dugaan Bu Sekar, Bu Sita hanya membawa barang-barang milik Nisa dan Zidan saja. Tapi Bu Sekar tidak berani protes, dia hanya diam tertunduk tanpa berani menatap Bu Sita.
"Bu, tolong gantikan baju Nisa ya. Zidan mau telepon Adel sebentar. Nanti biar Zidan yang ke apartemen ambil barang ibu dan Alan." Zidan berkata pada Bu Sekar sembari keluar dari kamar rawat Nisa dengan sedikit tergesa.
Mungkin dia sudah tak sabar untuk menjemput Adel yang katanya akan langsung pulang hari itu juga setelah mendengar kabar kalau Nisa masuk rumah sakit karena pendarahan.
Dengan takut-takut Bu Sekar mendekati tas yang berisi barang Nisa yang tergeletak di bawah kaki Bu Sita yang tengah asik dengan ponselnya.
Sreekkk
Bu Sekar menggeser tas agar lebih mudah menggapainya, tapi dengan cepat Bu Sita menahan tas tersebut dengan tangannya dan menatap tajam pada Bu Sekar.
"Kalian tidak bicara macam-macam kan pada anakku? Awas saja kalau kalian berani mengadu, ingat! Nyawa kalian sebagai bayarannya," desis Bu Sita mengancam.
Bu Sekar menggigil ketakutan dan melirik Alan yang hanya bisa terdiam di sudut ruangan yang agak gelap karena takut berdekatan dengan Bu sita. Di matanya wanita paruh baya itu tampak seperti monster yang begitu mengerikan.
"Bukannya ku bilang kalau aku bertanya itu jawab dengan jujur hah?" Bu Sita mencubit lengan Bu Sekar sekuat tenaga karna sejak tadi Bu Sekar tak berani menjawab apa-apa.
Bu Sekar mendesis kesakitan. "Aahhhh, ma- maaf, tapi sumpah kami tidak mengadu apa-apa. Sumpah."
Bu Sita bukannya menyudahi cubitannya di lengan Bu Sekar, mendengarnya mengaduh malah membuatnya semakin mengeratkan cubitannya mungkin saat ini lengan Bu Sekar sudah membiru saking kuatnya cubitan itu.
Alan sendiri hanya diam membisu melihat semua itu, pemandangan yang sudah biasa dia lihat ketika harus menginap kembali di apartemen Zidan.
Air mata Alan perlahan menetes, sakit sekali hatinya melihat ibunya di perlakukan sedemikian rupa, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun untuk membantu ibunya, karna ancaman Bu Sita lebih menyeramkan ketimbang menahan sedikit emosi di dadanya untuk tidak membantu ibunya saat di aniaya.
Ada apa sebenernya dengan Bu Sita? Kenapa dia sampai tega menyakiti besannya sendiri? Terus ikuti kisah ini dan kuak misterinya di episode berikutnya.
****
Di kediaman Pak Hanif.
__ADS_1
"Kamu yakin mau pulang sekarang, Del? Tapi Bapak lagi belum bisa nganter ini, kebun kita sudah waktunya panen kalo di tinggal lagi Bapak takutnya malah nanti habis di makan hama. Kamu nggak papa tho pulang sendiri sama Alice dan Nenek?" tanya Pak Hanif sambil membantu Adel membereskan barang yang akan dia bawa pulang.
Barang itu tak banyak, satu koper kecil saja sudah cukup membuat semua barang bawaan Adel.
"Loh, Dek Al jadi ikut pulang, Pak? Katanya masih betah di sini sama dokter ganteng itu," seloroh Adel sembari terkikik geli mengingat bagaimana wajah merah Alice saat di jodohkan dengan Johan.
Pak Hanif tersenyum. "Iya, katanya mau pulang aja ke kota biar bisa jagain kamu di jalan. Lagi pula di sini dia masih trauma sama si Fajar."
Adel mengangguk mengerti dan setelah semua beres dia menurunkan kopernya sebelum akhirnya di bawa oleh Pak Hanif menuju mobil.
"Mbak, kenapa buru-buru banget sih? Kenapa nggak nunggu besok pagi aja? Ini udah mau sore loh soalnya," celetuk Alice sambil memakai sepatu ketsnya.
Sedangkan Nek Hindun sedang sibuk menyiapkan cemilan kecil untuk mereka nanti di perjalanan mendadak ini.
"Haish, nggak lah Dek Al. Sekarang aja nggak papa mumpung belum sore banget, Mbak khawatir sama kondisinya Nisa. Tapi barusan Mas Zidan telpon sih katanya Alhamdulillah bayinya masih bisa di selamatkan, tapi ya begitu ... Kondisinya sekarang lemah." Adel menampakkan wajah menyesal dan turut sedih dengan apa yang menimpa Nisa dan bayinya.
Padahal dalam hati Adel sangat berharap nantinya bayi itu bisa berkembang dan akhirnya lahir dengan selamat. Betapa Adel begitu mendamba bisa ikut menimang seorang bayi mungil nantinya, walau itu bukanlah bayi yang terlahir dari rahimnya sendiri.
Setelah semua siap, barulah Adel celingukan karna sadar ada satu hal penting yang terlupakan.
"Terus ini kita pulangnya sama siapa? Siapa yang nyupirin?" tanyanya panik.
Alice dan Pak Hanif terkekeh, kemudian menunjuk seorang pria muda yang sudah siap duduk di balik kemudi.
Tin
Tin
"Ayo semuanya, saya sudah siap!" teriak pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Johan.
Pria berkulit sawo matang yang sudah berhasil membuat jantung Alice berdisko setiap kali melihatnya.
__ADS_1
"Oalah, ya pantes kalo anak ini akhirnya mau ikut pulang. Padahal katanya masih mau di sini dulu sampe liburannya habis, huh ... dasar." Adel menoel lengan Alice yang kini tampak tersipu malu.
"Sudah sana berangkat nanti kemaleman loh di jalan. Hati-hati ya, Nduk. Jangan lupa kasih kabar kami ya," celetuk Bu Hanif sambil mengusap kepala Adel dan setelah Adel berpamitan dan mencium tangannya lekas mereka bersiap dan masuk ke mobil.
"Bu, Al juga pulang ya." Alice memeluk Bu Hanif seakan sangat berat untuk berpisah.
Bu Hanif menepuk punggung Alice. "Iya , Nduk. Nanti kapan-kapan main lagi ke sini ya. Nanti nginep nya yang lama, jangan sebentar."
Alice melerai pelukannya dan tersenyum lebar sembari mengangguk.
Alice menyusul masuk ke mobil dan entah bagaimana malah langsung duduk di kursi bagian depan bersebelahan dengan Johan.
"Haish, belum apa-apa udah nyosor duluan kamu Dek Al," seloroh Adel yang melihat Alice dari kursi belakang yang seperti biasa sudah di bentangkan kasur oleh bapaknya agar mereka nyaman sepanjang perjalanan.
"Mbak Adel apaan sih ...." Alice menutup wajahnya malu, namun saat hendak membuka pintu mobil untuk berpindah ke belakang Johan lekas mengunci semua pintu mobil dan menghidupkan mesinnya.
Tin
Tin
Johan mengklakson dua kali sebagai tanda berpamitan pada kedua orang tua Adel, Bu Hanif dan Pak Hanif tampak tersenyum dan melambaikan tangannya hingga mobil menjauh dan tak tampak lagi di mata.
"Hah, jadi langsung sepi begini rumah kita ya, Bu? Beda sekali hawanya dengan beberapa detik lalu," kekeh Pak Hanif sambil duduk di balai bambu teras rumahnya dan meminum kopinya yang sudah mulai dingin karena di diamkan sejak tadi.
"Iya, Pak. Coba aja dulu kita punya anak lebih dari satu ya, hehe pastinya sekarang kita nggak kesepian setiap Adel pulang ke kota," sahut Bu Hanif pula sambil ikut duduk di sebelah suaminya.
Pak Hanif tiba-tiba menatap genit pada sang istri sembari menaik turunkan alisnya. "Gimana kalo sekarang aja kita bikin kan adeknya Adel yang beneran, Bu?"
Bu Hanif menoyor jidat Pak Hanif dan gegas melangkah masuk ke dalam rumah sambil mengomel.
"Inget umur, Pak. Sudah waktunya punya cucu malah mau produksi lagi. Yo Ndak mampu aku!"
__ADS_1