ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 38.


__ADS_3

Sesaat sebelum keluarga Pak Hanif sampai di rumah.


"Jar! sana kerumah pakde Hanif, minta tomat sama cabe di kebunnya. Emak mau masak nggak ada cabe ini loh," seru Mak Ijah pada putranya, Fajar.


"Ya ampun, Mak! Malu sama jabatan Bapak kenapa, Mak? Bapak kades tapi segala cabe tomat aja minta di tetangga," gerutu Fajar yang tengah sibuk mengukir sejarah di gigi tonggosnya itu.


Mak Ijah berjalan cepat menuju putranya dan dengan cepat pula menarik telinganya.


" Adoh, adoh sakit Mak! Ampon!" seru Fajar sambil memegangi tangan Emaknya yang seperti tertanam di telinganya, perih dan panas.


"Udah berani ngejawab ya kalo di suruh emak? berangkat kagak lu? atau emak lelepin lu di kolam ikan piranha?" ancam Mak Ijah sambil menodongkan sutil berminyak ke depan muka Fajar.


Mak Ijah melepas jewerannya di telinga Fajar yang bersungut-sungut dengan bibir maju lima meter.


"Ikan piranha katanya, yang ada mah Empang lele, Mak! marah boleh, halu mah jangan." Fajar bergegas memakai sandalnya sambil terus menggerutu.


"Ha! Ngedumel lu! Baru di suruh begitu aja sama Emaknya ngedumel! awas aja lu ya, Jar. Kagak Emak cariin jodoh baru tau lu!" kembali Mak Ijah mengancam Fajar, kali ini bahkan sampai melempar akar sawi yang sudah di petiknya ke arah Fajar berjalan.


"Kabooorrr!" teriak Fajar sambil berlari menuju jalan setapak yang menuju ke rumah Pak Hanif.


Setelah sampai di pekarangan luas rumah Pak Hanif, Fajar yang tidak tau kalau Pak Hanif sedang pergi itu malah mengetuk pintu rumah Pak Hanif sampai menggedor-gedornya. Ya tentu saja tak ada jawaban.


"Hoeyy, Jar! Ngapain kamu di situ? Wong Pak Hanifnya saja nggak ada kok, ke kota dia jenguk anaknya si adel!" seru salah satu tetangga mereka yang kebetulan lewat sembari menyunggi rumput di atas kepalanya.


  Fajar tertegun sampai tetangganya itu pergi lagi menuju ke rumahnya, sifatnya yang terkadang plonga plongo itulah yang sering membuat Fajar di kucilkan dari masyarakat walaupun statusnya adalah anak semata wayangnya Pak kades.


Akhirnya karena si emounya rumah tak ada, Fajar bukannya langsung pulang tapi malah melipir langsung ke kebun cabe dan tomat yang berada tepat di samping rumah Pak Hanif, dan mulai memetik cabe yang tampak segar dan merah itu kemudian memasukkannya ke dalam plastik kresek bening yang di bawanya dari rumah.


Namun malang, saat hendak memetik tomat terdengar suara mobil menderu masuk ke halaman rumah, Fajar yang takut ketahuan itu langsung saja merunduk mencium tanah agar tidak kelihatan.


"Haduh, celaka ini kalo ketahuan. Bisa di sunat pakde Hanif aku," desis Fajar dari tempat persembunyiannya.


Begitulah, tak berapa lama kemudian saat Fajar melihat Pak Hanif sudah masuk ke rumah dia hendak bersiap kabur, bahkan sandalnya sudah lepas.

__ADS_1


Namun saat ancang-ancang untuk ambil langkah seribu, Alice muncul di hadapannya. Wajah cantiknya membius Fajar sampai tanpa sadar malah keluar dari persembunyiannya dengan wajah belepotan tanah.


"Aaaaa! Hantu!" teriak Alice sambil berlari pontang panting menuju rumah.


Adel yang mendengar jeritan Alice langsung bergegas mencarinya, namun yang dia temui justru Fajar yang tampak memegangi kresek berisi cabe yang baru di petiknya.


"Ooh ini hantunya," bisik Adel sambil berjalan pelan dari arah belakang Fajar sampai Fajar tidak menyadarinya.


Alice berlari dan masuk ke pelukan neneknya, sambil terus berkata hantu.


"Ada apa, Al? ada apa? Hantu dimana? Mana ada hantu siang-siang begini sih?" cecar Nek Hindun ikut panik.


"Huhu, ada Nek. Hantunya di sana, mukanya serem Nek,  banyak tanahnya kayaknya baru bangkit dari kubur deh,Nek." Alice bangkit dari pangkuan neneknya sambil menyusut air matanya.


Bu Hanif mendekati Alice sambil membawa segelas air yang di berikan langsung pada Alice.


"Kamu itu kok lucu banget sih, Dek Al? di sini itu mana ada hantu, apalagi sampai bangkit dari kubur kayak kata kamu. Kamu halusinasi kali," kekeh Bu Hanif pelan.


Brugh


"Kyaaaa!" pekik Alice sambil menutup kedua matanya lagi.


"Ada kok, Bu. Dek Al bener, ini hantunya," tunjuk Adel pada Fajar yang meringkuk menutupi wajahnya.


Pak Hanif yang baru saja keluar dari kamar mandi gegas ke depan karna mendengar keributan itu.


"Lololoh, ini kok anaknya Pak kades ada di sini toh?" tanya Pak Hanif bingung.


Pak Hanif mendekati Fajar dan menegakkan tubuhnya sampai terduduk.


"Nah kan, Fajar. Kamu Fajar kan? anaknya Pak kades?" cecar Pak Hanif memegangi bahu Fajar.


Tapi Fajar yang ketakutan justru hanya diam sambil sesekali melirik kiri kanannya dengan tatapan takut. Kresek berisi cabe masih di peluknya di dada seakan takut ada seseorang yang melihatnya.

__ADS_1


"Hei, Jar. Fajar! Kamu ngapain ada di sini?" tanya Pak Hanif lagi, tapi respon Fajar masih sama terdiam dengan mata melirik ketakutan.


Pak Hanif membuka pecinya dan menepuknya ke tangan.


"Haduh, susah ini. Bu tolong panggilan Pak kades dong, Bu. Kayaknya kalo cuma kita tanyain begini nggak akan ngomong anaknya, takutnya dia ada di suruh sesuatu tapi dia lupa."


Adel mencebik sambil duduk di samping Alice. "Lupa apanya, Pak? Wong tujuannya sudah di kekepin begitu kok."


Pak Hanif menilik arah yang di tunjuk Adel, dan benar saja tampak olehnya sekresek cabai sehat yang baru di petik yang di yakini adalah cabe dari kebun Pak Hanif.


"Astaghfirullah, ya sudah, Bu. Tolong langsung panggil Pak kadesnya saja lah. Biar gimanapun ini anaknya, kita nggak boleh main hakim sendiri, lagi pula kan cuma ke kantong cabe. Tapi tetap saja Pak kades harus tau masalah ini," tukas Pak Hanif sembari duduk di dekat Fajar yang masih tampak gemetar ketakutan.


Bu Hanif gegas menuruti perintah suaminya dan berjalan kaki menuju rumah Pak kades yang sebenarnya hanya berjarak seratus meter saja dari rumahnya.


Tak lama kemudian, tampak Pak kades beserta Mak Ijah, istrinya dan juga Bu Hanif berjalan tergopoh-gopoh menuju rumah Pak Hanif.


"Astaghfirullah, Fajar. Kamu kenapa, Le?" tanya Mak Ijah langsung menubruk anaknya yang gemetaran.


"Ma- Maaakkkkk!" seru Fajar sambil memeluk emaknya dan menangis seperti anak kecil.


"Ini ada apa, Pak Hanif? kenapa anak saya bisa sampai di sini?" tanya Pak kades tak mengerti.


Pak Hanif baru akan menjelaskan, tapi Mak Ijah yang takut ketahuan itu segera menyelanya.


"Kalian apakan anak saya hah? Sampai dia gemetar ketakutan begini? Pasti dia kalian buli kan? Iya kan?" hardik Mak Ijah sembari menyembunyikan bungkusan cabe ke dalam bajunya yang kebesaran untuk menghilangkan barang bukti.


"Masyaallah, Mak! dengar dulu penjelasan Pak Hanif, Mak!" seru Pak kades menengahi karna merasa tak enak dengan keluarga Pak Hanif.


"Halah udahlah! Memang mereka ini dari dulu nggak suka sama anak kita, Pak. Buktinya dulu pas kita lamar Adel buat Fajar mereka nolak dan lebih milih orang dari kota itu buat anaknya. Norak! Keliatan banget matrenya. Udah yuk, Jar. Kita pulang!" bentak Mak Ijah sambil menarik tangan Fajar yang masih menangis seperti balita kehilangan mainan.


Adel hampir saja tertawa mendengar alasan Mak Ijah, namun saat melihat Mak Ijah hendak kabur bersama Fajar dengan cepat Adel berdiri menghalangi langkah mereka berdua.


"Heiitt, tunggu dulu Mak. Kembalikan dulu barang yang ada di balik daster Emak itu. Itu bukan hak kalian!" tunjuk Adel pada bagian daster yang tampak di kepit oleh Mak Ijah.

__ADS_1


Masalah semakin runyam saat Fajar bukannya bangkit mengikuti ibunya yang kini gelagapan menghadapi Adel, dia justru berlari dan menubruk Alice tepat di kakinya, yang kontan saja membuat Alice kembali menjerit.


"Nggak mau pulang, Mak! Maunya kawin sama bidadari ini!"


__ADS_2