Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Sahabat yang lebih baik dariku


__ADS_3

"Cepet dong melati!!!" Gibran berteriak seraya memanggil namaku dengan sebutan 'melati' itu tandanya dia sudah mulai kesal menungguku.


"Sabar dong bang!" Dan aku membalasnya dengan panggilan yang sudah pasti akan membuat Gibran semakin jengkel sambil berlari ke arahnya yang sudah menunggu di atas motornya agar kami bisa berangkat ke sekolah bersama.


"Abang ... Abang ... Emangnya gue Abang tukang ojek!"


"Ya siapa suruh panggil gue melati? Nama gue kan J.A.S.M.I.N.E a.k.a Jasmine, si cantik jelita yang gak ada dua."


"Bawel! Melati sama Jasmine kan sama aja!"


"Beda!"


"Sama!"


"Dih ngotot!"


"Bodo! Makanya kalau gak mau gue panggil Melati, gesit dikit dong!"


"Emangnya kalau melati itu lelet? Loe aja yang kecepetan datengnya, seneng ya gonceng-gonceng cewe cantik kaya gue pagi-pagi gini?"


"Udah lelet, cerewet lagi!"


"Biarin!"


"Dah pegangan?"


"Gak mau!"


"Ya udah!"


Aku nyaris terjatuh jika saja tangan ku ini tidak cepat menangkap pinggan Gibran yang melajukan motornya dengan lebih cepat dari biasanya. Terkadang aku heran, dia ini pria tapi suka sekali merajuk layaknya wanita yang sedang PMS dan tentunya aku menghukumnya dengan cubitan cukup kuat yang mampu membuatnya meringis.


"Auchh ... Sakit, Jasmine!"


"Siapa suruh ngebut!"

__ADS_1


"Ya siapa suruh gak mau pegangan?"


"Bukan muhrim!"


"Ya kan kita masih SMA jadi belum boleh nikah ..."


Hubungan kami memang seperti ini, di bilang seperti musuh tapi kami tidak terpisahkan.


Gibran adalah sahabat yang aku kenal mungkin sejak lahir? Karena dia satu tahun lebih tua dari ku tapi dia selalu mengatakan kalau kami ini seumuran karena itulah dia selalu jengkel saat aku memanggilnya dengan panggilan "Abang" tapi aku juga jengkel setiap kali dia memanggil ku "Melati" Ya mungkin artinya sama dengan namaku tapi aku lebih suka di panggil Jasmine, namaku begitu indah dan keren, oh ayolah tahun berapa sekarang, apa dia gak tahu kalau nama Jasmine itu jauh lebih kece daripada Melati? Ha ... Ha ... Tidak, melati juga bagus, aku hanya lebih suka Jasmine karena itu nama pemberian ibuku sebelum ia meninggal setelah melahirkan ku.


Ada kalanya sikap dan ucapan Gibran membuat jantungku berdebar-debar, tapi aku tidak dapat mengartikannya mungkin karena aku masih begitu muda? Atau aku tidak berani untuk mengartikannya karena takut hubungan persahabatan kami akan rusak?


***


Kami tiba di sekolah tidak sampai dua puluh menit, bukan karena Gibran mengendarai motornya dengan kebut-kebutan tapi karena jarak sekolah dari tempat tinggal kami memang tidak terlalu jauh.


Aku kemudian turun dari atas motor Gibran dan menunggu Gibran turun juga dari motornya agar kami bisa ke kelas bersama ya setidaknya sampai di depan kelas ku lebih dulu karena kelas Gibran melewati kelas ku.


"Masa buka helm aja gak bisa?" Gibran berkata lagi dengan ketus, jika saja wajahnya tidak tampan mungkin aku sudah mencubit bibirnya yang pedas itu, tapi aku merasa tidak tega membuat wajah tampan ciptaan Tuhan itu membengkak karena ulah ku.


"Helmnya kegedean jadi susah."


"Kan imut ... " Aku sengaja mengedip-ngedipkan mataku saat mengatakannya dan Gibran menanggapinya dengan ekspresi bergidik ngeri. Dasar, padahal sudah banyak yang mengatakan kalau wajah ku ini imut, selalu terlihat lebih muda daripada usia ku sebenarnya tapi Gibran tidak pernah mau mengakuinya.


"Dah, ayo ..." Ucap Gibran setelah selesai membuka helm ku.


Kami kemudian melangkah bersama, momen-momen seperti ini membuatku terkadang merasa bangga karena memiliki sahabat tampan dan populer seperti Gibran karena aku juga ikut menjadi populer ya walaupun tidak jarang aku juga sering mendapatkan tatapan sinis dari para penggemar Gibran tapi mereka tidak pernah berani benar-benar menggangguku karena Gibran tidak pernah meninggalkan ku sendirian.


Itu berlangsung bahkan setelah dia lulus terlebih dahulu tapi dia masih terus saja mengantar ku ke sekolah ya walaupun kami masih sering bertengkar sepanjang jalan karena aku yang selalu lelet baginya padahal dia yang selalu datang lebih pagi ke rumah ku agar bisa menyantap nasi goreng buatan nenek ku.


Tidak jarang Gibran juga menjemput ku saat dia tidak sibuk dengan kuliahnya seperti sekarang ini.


"Loe kok gak bilang kalau mau jemput?" Ucapku yang terkejut melihatnya duduk menunggu di depan gerbang sekolah ku padahal aku sudah berjanji akan pulang bersama dengan teman sebangku ku, Ruby. Kami berniat mampir ke toko buku sebentar untuk mencari bahan tugas yang sudah menumpuk mengingat ini tahun terakhir ku menjadi murid SMA


"Emangnya kapan gue pernah bilang kalau mau jemput loe ..." Gibran menyahut tidak kalah galak dengan pertanyaan ku sebelumnya.

__ADS_1


"Iya juga sih ..." Cicit ku pelan.


"Dia siapa? Pacar kamu?"


Aku dan Gibran sama-sama menoleh saat Ruby bertanya, aku sampai lupa kalau dia bersama ku karena tidak pernah ada orang lain diantara aku dan Gibran sebelumnya.


"Bukan, dia cuma tetangga yang suka numpang makan di rumah nenek!" Jawab ku bergurau tapi itu justru membuatku menerima jitakan di kepala ku dari Gibran.


"Sakit tau!" Aku protes tapi Gibran tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun dan itu malah membuat Ruby tertawa.


"Kalian lucu deh, awas nanti jatuh cinta ..." Goda Ruby, dia dengan mudahnya masuk ke dalam pembicaraan kami tanpa rasa canggung sedikitpun.


"Gak mungkin!" Gibran menjawab dengan cepat dan tegas membuatku cukup terkejut karena jawabannya membuat hatiku tiba-tiba saja merasa sesak.


"Gue Gibran, tetangga cewe gila ini."


"Aku Ruby, temen sebangku Jasmine."


Rasanya aneh, menyaksikan kedua sahabat ku berkenalan sambil berjabat tangan di hadapan ku seperti ini. Aku tidak mengerti, harusnya tidak ada yang salah dari perkenalan mereka hanya saja dada ku terus merasa sesak apalagi melihat mereka saling berbagi tatapan yang rasanya aku tidak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari Gibran.


***


Mereka dekat dengan mudah, aku tidak perlu berusaha untuk membuat mereka menjadi akrab karena mereka memiliki banyak kesamaan dan hari libur ku yang biasanya hanya ada Gibran kini menambah anggota baru yaitu Ruby. Terkadang ada perasaan iri karena aku dan Gibran selalu memiliki minat yang bertentangan seperti dia menyukai sepak bola sementara aku suka bulutangkis, dia menyukai menggambar dan aku lebih suka menulis, dan dia lebih banyak diam dan aku lebih banyak bicara. Karena kehadiran Ruby diantara kami, aku jadi semakin sadar kalau aku dan Gibran nyaris tidak cocok satu sama lain.


Tapi hubungan aku dan Gibran bertahan sejak kecil kan? Aku tidak ingin merasa terganggu dengan hubungan mereka yang semakin dekat tapi setiap kali kami kumpul bertiga, aku selalu merasa terasingkan karena topik pembicaraan yang tidak aku ketahui seperti sekarang mereka sedang membicarakan pemain bola yang baru saja di transfer ke klub lain dan aku hanya diam tanpa tahu siapa pemain yang mereka bicarakan.


Karena terus menerus merasa tidak diajak dalam pembicaraan mereka, aku memilih untuk ke dapur dengan alasan menyiapkan buah untuk camilan.


"Kamu kenapa, nak?"


Aku menoleh saat mendengar suara nenek ku yang kini berjalan mendekatiku, biasanya dia tidak pernah menghampiri ku saat aku menghabiskan waktu seharian dengan Gibran tapi nenek ku tidak pergi kemanapun dan terus berada di sekitar kami dan sesekali mengajak ku bicara saat aku mulai merasa kesepian diantara Gibran dan Ruby.


Apa mungkin karena selama ini aku hanya hidup dengan nenek ku, dia jadi tahu kalau aku tidak merasa baik-baik saja sekarang?


Bahkan aku sudah menangis sebelum sempat menjawab.

__ADS_1


"Kayaknya, Gibran nemuin sahabat yang lebih baik daripada aku, nek ..."


***


__ADS_2