
"Kalian menikah saja..."
Langkah kaki ku seketika terhenti, papa Gibran tiba-tiba saja membahas tentang pernikahan.
"Sebelum mama kamu meninggal, kami sudah lebih dulu berjanji akan menikahkan kamu dengan Gibran kelak kalian dewasa." ucap papa Gibran menjelaskan.
Jantungku berdegup kencang, apa aku harus merasa bahagia sekarang karena takdir sepertinya akan mengikat kami?
Mengikatku dengan Gibran...
Apa hubungan kami akan membaik seperti kebanyakan novel yang aku baca tentang perjodohan yang selalu berakhir dengan manis, apa hubunganku dengan Gibran akan juga berakhir manis?
"Lagian Jasmine gak mungkin tinggal sendirian di luar negeri, kalau kalian sudah menikah kalian bisa tinggal bersama disana dan Gibran juga bisa pindah kuliah ke sana." papa Gibran terus bicara meskipun aku masih tidak juga menghampiri mereka.
"Jasmine..." mama Gibran melangkah menghampiriku, ia menatapku dengan lembut dan menuntunku kembali menuju meja makan dan duduk di tempatku sebelumnya.
"Gimana? Menikah muda bukanlah hal buruk, kalian juga sudah bersama sejak lahir, akan lebih mudah bagi kalian beradaptasi." Kini giliran mama Gibran yang bicara, sementara nenek ku hanya tersenyum mendengarkan dan Gibran, dia diam seribu bahasa.
"Kita bahas lagi nanti kalau Jasmine sudah resmi lulus." ucap Nenek ku sesaat setelah ia melihat ekspresi Gibran yang berubah menjadi murung, terlihat nenek ku menyembunyikan kekecewaannya dan senyumnya yang tidak sepenuhnya menghiasi bibirnya. "Semua keputusan ada di kalian. Jika kalian tidak mau, maka kami gak akan memaksa." ucap nenek ku lagi, dia terlihat seperti sedang membujuk Gibran dan menenangkannya sampai Gibran akhirnya menunjukkan senyumannya.
"Gak mungkin Gibran gak mau, selama ini dia kan yang paling perduli sama Jasmine." ucapan mama Gibran berhasil menyingkirkan sepenuhnya senyuman dari wajah Gibran.
Aku menoleh menatap Gibran, sorot matanya terlihat kosong, saat itu aku sadarjika sepertinya hanya aku yang merasa senang dengan perjodohan ini.
Kenapa?
Satu lagi rasa sakit yang masuk kedalam hatiku...
***
Hari berganti dengan cepat setelah pembahasan itu tapi hubungan ku dengan Gibran justru semakin renggang. Tidak pernah sekalipun kami bicara meskipun hampir di setiap akhir pekan kami makan malam keluarga bersama.
"Jasmine, ada bahan yang lupa mama beli buat acara makan malam nanti malam, bisa tolong mama beliin bahannya gak? Kamu telepon Gibran suruh jemput kamu sekalian belanja bareng pulang sekolah nanti." ucap Mama Gibran pada sambungan teleponnya.
"Iya mah..." meskipun ragu tapi aku tetap mengiyakan permintaannya.
Aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakannya pada Gibran karena aku tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya sejak pertengkaran kami.
Gibran juga tidak pernah lagi menghubungiku, jarak kami sudah begitu lebar, menjadi pecahan yang sulit untuk di satukan. Tapi kemudian muncul pesan masuk dari mamanya Gibran, list bahan masakan yang lupa ia beli atau memang ia tidak belanja apapun karena semua bahan pokok ada dalam list ini. Jika pergi sendirian pasti akan sangat sulit bagiku untuk membawanya.
__ADS_1
Aku tidak punya pilihan selain menghubungi Gibran meskipun masih ada banyak hal yang berkecamuk dalam hati dan pikiranku termasuk rasa takut jika ia akan mengabaikan panggilan telepon dari ku.
Tut... Tut... Tut...
Aku menunggu, aku menunggunya mengangkat panggilan telepon dariku dengan perasaan gelisah hingga aku terus melihat ke layar ponsel dan memastikan panggilan ku masih belum terputus.
"Halo..." Suara itu membawa sejuta kerinduan masuk kedalam hatiku.
Selain marah, aku juga selalu merindukannya.
"Halo..." aku menjawab sapaan itu dengan pelan tidak begitu percaya diri.
"Kenapa?" Gibran bertanya dengan nada dingin, dia menghancurkannya keberanian ku yang hanya tersisa sedikit.
"Mama nyuruh aku belanja, kamu bisa tolong temenin aku belanja sepulang sekolah nanti?" tanya ku setelah bersusah payah mengatakannya, tapi Gibran tidak langsung menjawabnya. Dia diam beberapa saat jadi aku menunggu...
Hanya saja jeda waktu itu terus membuat dadaku terasa sesak.
"Maaf, gue ada urusan lain!" tukas Gibran mematikan sambungan teleponnya sebelum mendengar ucapan ku setelah itu.
Apa yang bisa aku harapkan darinya?
Aku menahan air mataku agar tidak menetes karena bagaimanapun aku masih berada di sekolah walaupun sekarang aku berdiri di lorong sekolah yang sepi.
***
Akhirnya aku pulang sendirian dan pergi berbelanja juga sendirian. Mengambil satu persatu bahan belanjaan titipan mama Gibran dan dugaan ku benar karena aku sedikit kesulitan untuk membawa barang-barang karena jumlahnya yang banyak dan juga berat.
"Kenapa kamu bawa semua ini sendirian?"
Aku menoleh saat mendengar suara itu, cukup terkejut melihatnya ada di tempat ini dan tersenyum sambil mengambil alih semua kantung belanjaan ku.
"Kak Juna..." ucapku terkejut, dia membuatku tertegun sesaat karena ulahnya yang muncul secara tidak terduga.
"Syukurlah kamu gak lupa aku." sahut Juna tersenyum senang.
"Mau ada acara?" tanya Juna sambil melangkah menuruni eskalator mengikuti langkahku.
"Iya, mau ada acara makan malam di rumah orangtuanya Gibran."
__ADS_1
"Loh kok kamu yang belanja, emangnya kalau tetangga buat acara terus yang repot kamu ya?"
Juna dan ucapannya yang tidak terduga yang selalu bisa membuatku tertawa pelan seperti kali pertama kami bertemu.
"Hubungan kamu sama tetangga kamu sedekat itu ya, aku jadi pingin jadi tetangga kamu. Kalau mau makan tinggal bilang deh sama kamu, siapa tahu di masakin."
Aku kembali tertawa, Juna seperti teman lama yang membuatku tidak merasa canggung bersamanya meskipun ini adalah pertemuan kami yang kedua.
Dia jelas berbeda dengan Gibran yang adalah teman lama ku, justru sekarang Gibran lebih terasa seperti orang asing.
Begitu asing... Ketika kedua mataku tanpa sengaja bertemu dengan kedua mata Gibran yang kebetulan sedang naik eskalator tepat di sebelah tempat ku turun.
Dia hanya menatapku, dia tidak menyapaku bahkan ia tidak tersenyum padaku. Sorot matanya begitu dingin dan terasa menyakitkan, lebih menyakitkan lagi setelah aku melihat wanita yang berdiri di sebelahnya.
Urusan yang tidak bisa Gibran tinggalkan adalah kencan dengan Ruby...
Aku sungguh bodoh, hatiku terluka tapi aku terus melihat ke atas, kearah mereka yang terus bergerak menjauh dan ketika Gibran tiba di lantai atas, kulihat tangannya merangkul bahu Ruby.
Rasa sakit itu terasa menembus jantungku hingga aku tidak memperhatikan langkahku hingga membuatku nyaris terjatuh jika saja Juna tidak dengan sigap menahan tubuhku.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Juna khawatir.
Semua barang belanjaan ku yang dibawanya kini sudah jatuh berserakan, dengan cepat aku berjongkok dan memunguti semua barang-barang ku.
"Maaf aku gak konsen..." ucapku berbohong, dengan suara yang bergetar... Diam-diam aku menangis lagi.
Aku menundukkan kepalaku dan menangis sambil memasukan barang belanjaan ku ke dalam kantung belanja dan seperti saat itu, Juna memakaikan ku topinya, dia menutupi wajahku yang saat ini diam-diam menangis seolah ia mengerti lalu membantuku memunguti sisa barang belanjaan ku.
"Mau gue anter pulang?" tanya Juna setelah ia selesai memasukan kembali barang belanjaan ku, ia kemudian mengulurkan tangannya padaku yang masih berjongkok padahal sudah tidak ada apapun yang tertinggal di lantai.
Perlahan aku mengangkat pandanganku, aku sudah tidak bisa menyembunyikan tangisan ku sekarang tapi Juna malah tersenyum dengan lembut seakan menantikan aku menyambut uluran tangannya.
"Kamu masih punya utang janji sama aku kan?" ucap Juna lagi dan akhirnya aku menerima uluran tangannya. Dia membantuku berdiri lalu kemudian menuntunku melangkah bersamanya.
Jika saja melupakan bisa semudah saat ketika jatuh hati maka aku ingin melupakan Gibran dan belajar mencintai orang lain...
Tapi perasaan ini terlalu dalam, perasaan ini memenuhi hatiku bahkan lebih besar dari rasa sakit penghuni hatiku jika saja Gibran tahu kalau aku mencintainya...
Aku terus mencintainya meskipun ia terus membalasnya dengan rasa sakit, aku tetap mencintainya.
__ADS_1
Tapi cintaku sepertinya bertepuk sebelah tangan...
***