
>>>Gibran POV<<<
"Ayo kita cerai, Gibran..."
Kata-kata itu akhirnya terlontar dari mulutnya, mulut wanita yang aku cintai sejak lama, entah sejak kapan, mungkin sepanjang hidupku.
"Jasmine, aku..."
Selalu begini, selalu sulit mengungkapkan perasaan ku padanya, setiap kali aku terlalu takut kehilangannya.
Menjadi pria bodoh yang terus-menerus menyakitinya, aku yang egois tidak tahu caranya untuk mengatakannya dengan benar kalau aku mencintainya, untuk memperlakukannya dengan lembut agar ia bertahan selamanya sisiku.
Semalam aku bermimpi, aku bertemu dengan Ruby.
Dia tersenyum padaku, duduk sendirian di sebuah taman bunga menggunakan gaun berwarna kuning kesukaannya tanpa membiarkan aku mendekatinya.
"Gibran, kamu harus bahagia sekarang, jangan lagi merasa bersalah padaku," itu adalah kalimat yang ia ucapkan sebelum menghilang dan saat itu juga aku memanggilnya, aku ingin meminta maaf padanya karena aku tidak pernah bisa mencintainya, karena aku telah menyakitinya begitu banyak tapi ketika aku terbangun, Jasmine sudah ada dihadapan ku, menyentuh wajahku dan mencium bibirku dan aku malah memanggil nama Ruby.
Aku tahu saat itu aku menghancurkannya sekali lagi, seperti saat aku membentaknya ketika aku terlalu khawatir dia akan menghilang dari hidupku untuk selamanya, seperti aku yang bodoh karena mencoba membuatnya cemburu saat aku mengatakan mungkin aku menyukai Ruby karena aku cemburu melihatnya bersama dengan Juna, seperti sebelum-sebelumnya, semua hal yang aku lakukan padanya yang selalu berujung menyakitinya.
"Gibran..." Nenek Jasmine menyentuh bahu ku ketika Jasmine menolak untuk aku sentuh sementara mama ku membantu Jasmine berdiri dan memeluknya.
Mereka menghela nafas berat, menatapku penuh kekecewaan.
__ADS_1
Aku masih terdiam di tempat ku ketika dokter keluar, mereka semua kecuali Juna langsung menghampiri Dokter dan menanyakan keadaan putri kecil ku. Putri yang selalu membuatku merasa bersalah saat menatapnya karena kelalaianku, karena aku tidak pernah mencintai ibunya meskipun aku sudah berusaha hingga kami kehilangannya semua karena ku tapi bukan berarti aku tidak menyayanginya karena Aurora adalah hidupku.
Juna kemudian mendekati ku, ia mengulurkan tangannya padaku dengan wajah dingin tapi aku mengabaikannya seraya berdiri meskipun tubuhku lemas karena rasa sakit ini menyiksaku.
"Aku berpikir untuk melepaskan Jasmine sepenuhnya..." Suara Juna menghentikan langkahku yang hendak memasuki ruangan dimana Aurora di rawat.
Aku menoleh menatap tajam pria yang selalu ada disisi Jasmine sejak hubunganku dan Jasmine menjadi buruk.
"Kemarin dia mengatakan padaku kalau dia gak bahagia dengan mu, tapi dia bilang perasaannya terlalu serakah karena mu jadi aku berpikir untuk merelakannya tapi tidak dengan sekarang."
Pria itu mengatakannya dengan tegas, dia mengungkapkan keinginannya dengan mudah padaku tanpa ragu, jika saja aku bisa mengungkapkan perasaan ku pada Jasmine tanpa ragu seperti dirinya. Aku merasa seperti seorang pecundang sekarang.
Juna melangkah mendekat, ia menepuk pundak ku dan menatapku dengan dingin. "Akan aku pastikan kali ini Jasmine menjadi milik ku." tukasnya sebelum melangkah pergi meninggalkanku.
Aku marah, kemarahan ini untuk diriku sendiri karena telah membuang banyak kesempatan untuk mendapatkan Jasmine kembali tapi aku malah mengabaikannya, bersikap seolah aku tidak melihatnya.
Kesempatan itu datang, aku berpikir setelah semalam akhirnya hubungan kami bisa kembali seperti dulu lagi tapi aku mengacaukan segalanya, memanggil Ruby ketika aku terbangun padahal Jasmine yang berada di sisiku.
Setelah itu aku melihatnya hancur, tapi aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya...
Hatinya yang telah aku hancurkan...
Aku tidak tahu caranya memperbaikinya...
__ADS_1
Aku kemudian melangkah memasuki ruangan dimana Aurora di rawat, tangannya yang mungil dipasangi selang infus, aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya.
Tidak ada yang bicara saat aku mendekat, mereka menatapku dengan tatapan kecewa yang tidak bisa aku hentikan sementara Jasmine, dia hanya menatap Aurora tanpa melirik ke arah ku sedikitpun.
Aku mendekat dengan hati-hati, rasa sesak di dadaku terasa mencekik ku. Helaan nafas ayahku yang sepertinya juga sudah muak padaku membuatku semakin merasa buruk.
Sebanyak apa aku telah menyakitimu hingga kamu terlihat seperti mati rasa sekarang, Jasmine?
Ku lihat ayah ku melangkah pergi meninggalkan ruangan dan di susul dengan ibuku yang mengajak neneknya Jasmine bersamanya.
Kini hanya ada aku dan Jasmine serta putri kecil kami yang saat ini terbaring sakit.
"Jasmine..." Aku memanggilnya, selembut mungkin berharap ia akan menoleh tapi dia tetap mengabaikan ku tapi aku tetap melangkah dan memeluknya meskipun Jasmine hanya duduk diam tidak bereaksi.
"Maaf, maafin aku..." Aku tidak berharap Jasmine memaafkan ku dengan mudah, aku tahu terlalu dalam aku menusuk hatinya tapi aku hanya ingin ia tidak menyerah padaku...
Pada si pecundang ini...
Sama seperti saat aku membuatnya menjauh dulu, saat aku mendatanginya karena tidak mampu lagi menahan rinduku padanya, aku berharap dia akan sama merindukan aku lalu kami berbaikan seperti waktu itu, seperti ketika aku mengira aku telah kembali membawanya berjalan di sisiku dan memperbaiki segalanya, menarik jarak yang sebelumnya memisahkan kami, aku berharap pelukan ini juga bisa menarik jarak yang sudah aku buat sendiri.
Tapi Jasmine tetap diam, aku kemudian berlutut dihadapannya, menyentuh tangannya dengan gemetaran karena aku takut sentuhan ku kembali melukainya.
"Jasmine, tolong beri aku kesempatan lagi... Aku berjanji akan memperbaiki segalanya, tolong beri aku kesempatan untuk mencintaimu dengan benar kali ini..." Aku menangis, aku menyandarkan kepalaku di pangkuannya, aku berharap Jasmine akan merasakan penyesalanku padanya serta cintaku yang begitu besar untuknya, terlalu besar hingga aku tidak sanggup untuk menghadapinya dan selalu membuat kesalahan yang berakhir dengan melukainya.
__ADS_1
"Sudah terlalu terlambat, Gibran. Aku udah terlalu lelah..."
***