
...Flashback on...
...----------------...
Author POV
.
Gibran menatap wajah Ruby yang sembab, penampilannya terlihat berbeda dari biasanya karena dia berpakaian cukup terbuka sekarang.
Saat ini mereka sudah berada di apartemen dimana Ruby tinggal. Gadis itu masih tetap diam, hingga Gibran harus menghela nafas berkali-kali karena tidak sabar menunggunya bicara.
Ia lantas pergi ke dapur, mengambil segelas air lalu meneguknya habis dengan tidak sabaran. Sedikit terasa pahit di ujung lidahnya tapi Gibran mengabaikannya, mungkin rasa air putih yang tidak dingin memang seperti itu.
Setelah itu Gibran kembali menghampiri Ruby, lalu memberikan segelas air pada gadis itu.
"Minum dulu...."
Ruby perlahan-lahan menyentuh gelas itu, ia mengangkat pandangannya dan menatap Gibran sesaat lalu kembali menundukkan wajahnya dan mulai menangis lagi.
"Hey, kamu sebenernya kenapa?" tanya Gibran khawatir.
Ia mengambil posisi duduk tepat di sebelah Ruby, lalu menyentuh wajah gadis itu agar mau menatapnya.
"Minum dulu abis itu cerita, ini masih belum terlalu malem jadi aku bisa temenin kamu bentar,"
Ruby akhirnya meminum air yang di bawa oleh Gibran hingga habis, dan setelah itu ia menyeka air matanya.
"Aku gak tau kak, sebenernya aku terlahir untuk apa...."
"Kenapa kamu mikir gitu?"
"Papa menolak ketemu sama aku. Aku pindah ke apartemen ini karena papa selalu mengabaikan aku, dia gak lagi bicara sama aku, dia juga enggan makan bareng aku. Dia sepenuhnya membuang aku seolah kepergian Jasmine salah aku!"
Gibran hanya diam mendengarkan Ruby bercerita, sejujurnya kepalanya mulai terasa pusing dan tenggorokannya sedikit kering.
"Aku sering pergi ke bar setiap kali aku merasa buruk, minum di sana, tapi biasa gak pernah ada yang gangguin aku soalnya aku datang masih sore dan biasanya bar selalu sepi di jam segitu jadi meskipun mabuk gak ada yang gangguin aku, tapi tadi ada banyak orang di bar," cerita Ruby yang sontak membuat Gibran terkejut.
"Aku baru mau pulang saat mereka mulai gangguin aku dan maksa aku duduk bareng mereka jadi aku telepon kakak, padahal aku tahu hari ini mestinya kakak pergi susul Jasmine, tapi aku beneran gak punya siapa-siapa buat aku mintai tolong selain kakak."
Ruby mengatakan banyak hal tapi Gibran hanya diam, kepalanya mulai terasa pening hingga ia tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan Ruby, bahkan Gibran harus membuka jaketnya dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Sedikit aja... Kakak apa gak ada perasaan buat aku?" tanya Ruby sambil ikut menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil menunjang kepalanya dengan punggung tangannya tapi Gibran tidak bergeming, ia malah memejamkan kedua matanya dan mengabaikan Ruby begitu saja.
"Kak...." panggil Ruby, ia menyentuh dada Gibran yang langsung membuat pria itu menoleh menatapnya sambil memegangi pergelangan tangannya, melarangnya meletakkan tangannya di sana.
__ADS_1
"Aku kayaknya harus pulang sekarang!" tukas Gibran sambil beranjak bangun. Ia tidak mengerti mengapa tubuhnya terasa terbakar ketika Ruby menyentuhnya.
"Kak...." Ruby memanggil dengan nada suara pelan, ia mencekal pergelangan tangan Gibran dan menahan kepergiannya.
"Kepala aku sakit banget, aku boleh minta tolong bantu aku ke kamar?"
Gibran menyeka keringat yang meluncur di tengkuknya, melihat Ruby yang saat ini memakai gaun merah dengan belahan dada yang rendah serta ketat membuat pikirannya kacau.
Ia merasa gerah dan ingin menanggalkan semua pakaiannya tapi sekaligus kedinginan hingga rasanya ia mulai mengigil. Reaksi ini membuat tubuhnya syok hingga Gibran terus berkeringat terlebih karena Ruby terus memegangi pergelangan tangannya, terasa hangat, kehangatan yang rasanya ingin ia rasakan di sekujur tubuhnya sekarang.
Gibran menarik nafas dalam, disisa kewarasannya, ia berusaha untuk tetap tenang meskipun kini Ruby sudah mengulurkan kedua tangannya, tanda jika ia minta di gendong.
Tubuh Ruby yang mungil terangkat begitu mudah, Gibran lantas membawanya menuju kamarnya, meletakkannya di atas tempat tidurnya lalu cepat-cepat bergegas pergi karena pikirannya mulai sulit di kendalikan bahkan deru nafasnya mulai memburu, tapi Ruby menahan kepergiannya dengan cara menariknya hingga tubuh Gibran nyaris menindihnya jika saja Gibran tidak menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Kak, kali ini aja ... Jadi milik aku kali ini aja...." bisik Ruby sambil terus menarik Gibran mendekat hingga jarak tidak lagi berlaku diantara mereka.
...
Setelah kejadian malam itu, Gibran selalu dihantui oleh rasa bersalahnya pada Ruby karena tidak bisa mengendalikan dirinya dan memanfaatkan kondisi Ruby yang sedang rapuh dan membutuhkan seseorang untuk merengkuhnya, sementara perasannya pada Jasmine semakin menggila.
Ia bahkan meninggalkan Ruby tanpa mengatakan apapun kemarin setelah ia merenggut kehormatannya.
"Aku akan anggap semua yang terjadi diantara kita kemarin gak pernah terjadi, maaf karena sekali lagi aku menghalangi kakak." tulis Ruby dalam pesan yang ia kirimkan pada Gibran.
Gibran membanting ponselnya begitu saja ke atas tempat tidurnya. Ia sungguh frustasi dengan semua ini, ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menahan godaan nafsunya pada Ruby.
"Aku buat kesalahan lagi, Jasmine... Aku buat kesalahan lagi...." rintih Gibran dalam tangisnya sambil memeluk foto Jasmine erat-erat.
"Jasmine, maaf...."
Butuh waktu beberapa hari untuk Gibran berdamai dengan rasa bersalahnya pada Ruby. Ia membulatkan tekadnya sekali lagi untuk pergi menyusul Jasmine tapi sebelum itu ia akan menemui Ruby dan meminta maaf padanya.
...
Gibran menekan bel apartemen Ruby beberapa kali tapi tidak ada jawaban apapun, berpikir jika Ruby mungkin sedang berada di luar jadi ia memutuskan untuk menelepon Ruby tapi tidak ada jawaban.
"Ruby...." Panggil Gibran sambil menekan bel sekali lagi.
Ia mulai gelisah, dengan ragu-ragu Gibran membuka pintu apartemen Ruby yang ternyata tidak terkunci.
"Ruby...." Gibran memanggil sekali lagi tapi masih tidak ada jawaban.
tidak ada siapapun di ruang tamu, di dapur juga sepi, tapi sepatu Ruby masih tersusun rapih di rak yang terletak di dekat pintu masuk menandakan jika Ruby memang tidak pergi kemanapun.
Pintu kamar Ruby tidak sepenuhnya tertutup, merasa penasaran, Gibran lantas memasuki kamarnya.
__ADS_1
Kondisi kamar itu masih terlihat seperti saat ia meninggalkannya pagi itu, tepat tiga hari yang lalu bahkan tempat tidur yang berantakan, bercak darah yang tertinggal di atas sprei, hingga aroma keringat mereka yang bercampur juga masih ada.
Rasa bersalah itu masuk lagi, menusuk ke dalam hatinya.
Suara benda jatuh dari kamar mandi mengalihkan perhatian Gibran, ia lantas segera berlari memasuki kamar mandi dan betapa terkejutnya dia mendapati Ruby berendam di dalam bathtub dengan air berwarna merah karena tercampur dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya.
Wajahnya pucat, ia terlihat nyaris kehilangan kesadarannya tapi Ruby masih tetap tersenyum pada Gibran.
"Astaga, Ruby!" Gibran langsung menghampiri Ruby, ia mengangkat tubuhnya keluar dari dalam bathtub.
"Kayaknya aku terlalu cinta sama kamu sampai aku berhalusinasi...."
"Sadar, Ruby! Kenapa kamu nyakitin diri kamu sendiri?" Gibran membuka jaketnya, ia meletakkannya di atas bahu Ruby lalu melihat pergelangan tangannya yang di penuhi banyak sayatan.
"Ayo kita ke dokter!" Ajak Gibran sambil bersiap menggendong Ruby lagi tapi gadis itu mendorong tubuhnya dan melangkah mundur.
"Kak, aku gak mau hidup lagi... Aku gak punya alasan apapun untuk bertahan!" ucap Ruby lirih.
"Jangan gila, Ruby!" teriak Gibran marah.
"Udah... Aku udah gila...."
"Ruby...." Gibran mendekat lagi tapi sekali lagi Ruby menolak untuk disentuh.
"Karena kalian gak pernah anggap aku... karena kalian selalu menyingkirkan aku... karena aku selalu disia-siakan... AKU JADI GILA KARENA KALIAN CUMA MIKIRIN JASMINE!" teriak Ruby histeris, tubuhnya terjatuh lemas diakhir kalimatnya.
Ia menangis terisak-isak di hadapan Gibran yang saat ini hanya bisa menatapnya nanar.
"Aku benci kalian semua! Aku benci... Aku udah gak mau hidup lagi, Gibran. Aku cape menghadapi perasaan yang bertepuk sebelah tangan ini... Aku gak kuat lagi." Ruby mulai histeris, ia menangis sambil meraba-raba lantai dan membiarkan telapak tangannya tergores serpihan kaca yang bertebaran di sekitarnya sampai akhirnya ia menemukan potongan kaca yang cukup besar.
"Ruby, please! Aku mohon jangan begini... Aku mohon, Ruby!" pinta Gibran sambil memeluk tubuh Ruby erat-erat dan menahannya agar tidak lagi melukai dirinya sendiri.
"Aku udah kehilangan segalanya, kak... Aku udah kehilangan papa, aku kehilangan kamu, bahkan sekarang aku juga udah kehilangan kehormatan aku! Aku udah gak punya apapun... Bernafas pun rasanya seperti dicekik, aku cape!"
Tubuh Ruby yang dingin terasa gemetaran di dalam dekapannya, air mata Gibran tidak lagi bisa terbendung.
"Maaf, Ruby...."
"Maaf gak akan bisa mengubah kenyataan apapun kak, aku udah hancur!"
Gibran mempererat pelukannya, nafasnya terasa tercekat.
"Maaf, Jasmine.... Sepertinya aku akan selamanya jadi pria jahat dalam hidup kamu."
"Lepasin, kak... Aku mau cepet-cepet mengakhiri semuanya, aku udah gak tahan sama rasa sakit ini... Aku mohon, kak Gibran... Aku mohon!" Ronta Ruby sambil terus menangis terisak-isak.
__ADS_1
"Ruby, ayo kita menikah."
***