
Aku hanya diam di sepanjang perjalanan hingga kami tiba di kantor kami, tempat dimana kami akan mengadakan pesta perayaan peluncuran aplikasi platform novel kami.
Tapi suasana hatiku begitu buruk, ucapan Ruby membuatku terus merasa tidak nyaman. Aku tidak suka... Aku sungguh tidak suka perasaan takut yang ia titipkan padaku hingga aku rasanya ingin menangis lagi.
"Kita tunda aja pestanya besok, nanti aku bilang ke yang lain biar mereka pergi makan di luar aja." ucap Juna menghampiri ku yang saat ini berada di dapur kantor.
Melamun memikirkan Ruby...
Aku menghela nafas dan berusaha untuk tersenyum tapi begitu melihat lurus ke mata Juna, air mataku langsung menetes. Sepertinya aku memang sudah terbiasa mengungkapkan rasa sakit hatiku padanya hingga aku tidak bisa benar-benar menyembunyikan luka ku padanya.
Pada pria yang dengan tulus mengharapakan cintaku tapi aku hanya memandangnya sebagai tempat sandaran ku tanpa pernah bisa membalas perasaannya.
Aku sungguh egois ....
Juna tidak mengatakan apapun, ia menarik tubuhku kedalam pelukannya dan memeluknya erat.
"Apa masih sakit? Kamu masih belum bisa memaafkan mereka? Itu gak apa-apa, Jasmine... Kamu memiliki hak untuk apapun sikap kamu kepada mereka."
"Aku ngerasa jahat banget, kak... Aku ngerasa buruk... Apa kemarahan ku selama ini berlebihan? Apa sikapku selama ini keterlaluan?" tanya ku yang masih tidak bisa melepaskan pelukannya, aku mengangkat pandanganku dan menatap Juna, pria lembut yang selalu ada di sisiku selama ini.
"Aku bahkan ngerasa jahat karena aku masih belum bisa jatuh cinta sama kakak... Kenapa aku sejahat ini? Maaf kak... Maafin aku."
Juna mendekap ku lebih erat lagi, aku tahu dia sedang menyembunyikan ekspresinya yang saat ini terluka sekali lagi karena ku.
"Aku gak tahu gimana caranya aku harus menjalani hidup ini sekarang... Mereka mengikatku... Mereka ngebuat aku sulit untuk benar-benar lepas dari mereka. Aku harus gimana? Gimana caranya agar aku sepenuhnya terlepas dari mereka, kak?"
"Manfaatin aku, Jasmine... Jadikan aku alat, apapun itu asal kamu ngerasa lebih baik. Aku akan menerimanya tanpa penyesalan."
Aku perlahan melepaskan pelukan Juna dan menatapnya yang kini menatapku begitu dalam. "Menikahlah dengan ku, Jasmine dan lupakan mereka sepenuhnya."
"Kamu tahu aku gak mencintai kamu, aku cuma akan melukai kamu..."
Juna tersenyum, ia kemudian mengecup keningku dengan lembut. Aku dapat merasakannya, kasih sayang yang ia salurkan melalui kecupan hangat itu. "Sebanyak apapun luka yang kamu berikan, aku akan membalasnya lebih banyak dengan cinta berbeda yang kamu kenal selama ini. Sedikit saja berikan aku celah, aku akan menyusup dengan lembut walaupun perlu waktu yang tidak sedikit. Aku akan bersabar..."
Air mataku kembali menetes, aku kembali memeluk Juna dengan begitu erat. "Maafin aku, kak Juna... Maaf karena aku memanfaatkan mu... Maaf..."
"Terima kasih... Kamu harus memanfaatkan aku dengan baik."
Aku menganggukkan kepalaku, aku dapat merasakan tubuh Juna merengkuhku dengan hangat dan begitu erat. Kehangatan yang sampai ke dalam hatiku yang rapuh.
"Ayo kita menikah, kak..."
__ADS_1
"Ya, ayo kita menikah, Jasmine. Aku berjanji akan membuatmu menemukan kembali kebahagiaan mu..."
Juna perlahan melepaskan pelukanku, ia menyeka air mataku dan tersenyum, senyuman yang membuatku juga ikut tersenyum dan setelah itu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Aku harus mengikat janji kamu kan?"
"Astaga, kenapa bisa ada cincin di saku kamu?" tanya ku terkejut melihat cincin bertabur berlian itu di tangannya.
"Aku membawanya setiap kali bertemu dengan kamu karena aku yakin suatu saat kamu pasti akan menerima lamaranku." jawabnya sambil menyematkan cincin itu di jari manis ku.
"Kita bertemu setiap hari kan?" ucapku yang tidak menyangka jika cincin itu pas di jariku.
"Iya, aku bawa setiap hari."
"Ya ampun, kamu gigih banget kak!"
"Gimana dong aku cinta banget sama kamu..."
Mungkin ini memang waktunya bagi ku membuka hatiku untuknya dan melupakan perasaanku pada Gibran.
Aku kemudian menarik baju Juna dan membuat pria itu sedikit membungkuk agar aku bisa mengecup pipinya singkat.
"Jangan minta lebih, nanti aja kalau kita udah resmi nikah." ucapku setelah berhasil membuat Juna membeku karena aksiku.
***
Aku sungguh tidak mengerti bagaimana Tuhan mengatur garis hidupku karena hari ini aku bertemu lagi dengan Ruby dan Gibran, sialnya aku sedang tidak bersama Juna karena ia ada rapat penting sementara aku harus menghadiri rapat yang berbeda dengannya.
"Kayaknya kita emang bener-bener berjodoh deh!" Ruby terlihat begitu senang karena melihatku, dengan cepat ia menghampiri ku sebelum aku benar-benar bisa kabur darinya.
Tanpa rasa canggung sedikitpun, Ruby menggandeng lenganku, rasanya seperti kembali ke masa-masa sekolah dulu karena Ruby memang sangat senang bergelayut di lengan ku.
"Kakak dari mana?"
Aku melirik sinis saat Ruby memanggilku dengan sebutan kakak, sepertinya wanita ini lupa kalau aku masih belum bisa menerimanya sebagai adik ku.
"Rapat." Jawabku singkat sambil berusaha melepaskan tanganku dari tapi Ruby memegangi ku terlalu erat, aku takut tangan ku akan menyenggol perut besarnya itu jadi aku hanya bisa pasrah sekarang dan membiarkannya mendekap lenganku sementara Gibran melangkah di sebelahnya tanpa mengatakan apapun. Dia seperti pria bisu yang tidak pernah menyapa ku, padahal aku kakak iparnya kan?
Lupakan! Aku rasa aku sedikit gila sekarang!
"Kakak kerja apa?" tanya Ruby yang terus mengajakku melangkah bersamanya memasuki toko perlengkapan bayi.
__ADS_1
"Editor..." jawabku dengan malas sekali lagi.
"Keren! Dulu kakak kan cita-citanya jadi penulis, sekarang malah jadi editor pasti banyak novel terkenal yang udah lulus dari seleksi kakak ya?"
"Hem..."
"Terus sekarang kakak mau kemana?"
"Pulang..."
"Kan masih siang?"
"Kerjaan aku fleksibel."
"Cool! Kalau gitu temenin aku belanja ya... Aku ngidam nih pingin di temenin belanja sama kakak, sekalian beliin ya..."
"Suami kamu emang gak mampu beliin?" Aku dengan sengaja menyindir Gibran dan membuat Gibran melotot kesal ke arahku namun aku membalasnya dengan memutar kedua bola mataku tanda tidak perduli.
"Mampu kok..."
"Ya udah minta beliin lah sama dia!"
"Gak mau, pokoknya aku maunya kakak yang beliin! Ya... Ya... Masa gitu sih sama keponakan gak boleh pelit..."
Aku hanya bisa menghela nafas kesal, sejak dahulu kala aku memang selalu kalah jika menghadapi Ruby yang sedang dalam mode manis seperti ini.
"Ya udah beli lah..."
"Asik!!! Makasih kakak ku yang cantik!"
Ruby lantas menarik ku memilih banyak baju berwarna cerah tapi kebanyakan berwarna merah muda, sepertinya anaknya kelak adalah perempuan. Aku sedikit penasaran dengan wajahnya kelak akan mirip siapa...
Oh Tuhan, pikiranku melayang-layang! Apa yang terjadi padaku? Aku jelas masih marah padanya tapi aku tetap menuruti semua keinginan Ruby yang membuatku harus menghabiskan banyak waktu ku dengannya dan juga dengan Gibran yang sejak tadi sama sekali tidak bersuara, dia seperti hantu mendadak aku ingin tertawa tapi aku menahannya.
"Ini..." tanpa sengaja aku dan Gibran menyentuh baju yang sama. Ruby tertegun sesaat, mungkin dia akan marah karena cemburu tapi dugaan ku salah karena dia malah tersenyum dan mengambil baju itu.
"Selera bagus!" ucapnya sambil melangkah menjauh, meninggalkan aku dan Gibran berdua tapi tidak lama karena Gibran langsung mengejar langkah Ruby dan meninggalkan ku.
Aku masih dapat merasakan rasa sakit itu bahkan kecemburuan itu, hanya saja tidak separah dulu. Apa mungkin karena aku mulai mengikhlaskan segalanya?
Mereka terlihat bahagia...
__ADS_1
Haruskah aku ikut bahagia?
***