
>>> Gibran POV <<<
"Aku sudah terlalu lelah..."
Sudah berapa banyak, Jasmine... Sudah berapa banyak luka yang telah aku berikan padamu? Aku bahkan tidak bisa menghitungnya karena terlalu banyak.
Aku tidak lagi memintanya memaafkan ku. Kesalahan ku mungkin memang sudah tidak bisa termaafkan lagi tapi aku tidak akan kabur lagi seperti yang selama ini aku lakukan.
Semuanya sudah terlalu terlambat, aku tahu itu...
Tapi meskipun kamu menyerah padaku, aku tidak akan menyerah padamu, setidaknya sampai aku membuatmu menemukan kembali kebahagiaan yang telah aku hancurkan.
Aku akan memulainya dengan meluruskan kesalahpahaman ini... Aku tidak akan menjadi pria bodoh yang hanya membiarkan cinta ku pergi setelah aku menyakitinya begitu banyak.
Aku akan berubah, aku akan memperjuangkan cintaku padamu yang selama ini terpendam dan menunjukkannya padamu kalau perasanku itu tulus.
"Saat Aurora sembuh, aku akan mengurus surat perceraian kita, tapi meskipun kita berpisah, akan aku pastikan kalau Aurora akan tetap ikut dengan ku, tidak ada siapapun yang bisa memisahkan kami meskipun itu ayahku atau bahkan kamu sendiri. Jangan berharap... Aku tidak akan pernah melepaskan Aurora."
Suaranya terdengar bergetar, aku dapat merasakan luka yang saat ini ia tahan dan semua karena ulahku.
"Sedikit saja, tolong berikan aku waktu untuk memperbaiki segalanya meskipun sedikit. Jasmine, aku mungkin gak bisa mengobati satu-persatu lukamu, tapi aku janji kali ini aku gak akan menyakiti kamu lagi."
"Apapun yang kamu ucapkan, terasa seperti omong kosong bagiku sekarang, Gibran."
>>> Author POV <<<
"Kalian tidur dan istirahat lah, mama yang akan jagain Aurora," ucap Mama Gibran pada Jasmine dan Gibran yang terlihat kelelahan terlebih kantung mata mereka menghitam.
"Gimana aku bisa tidur di saat anak aku masih belum juga sadar." Jasmine menjawab, ia kembali ingin menangis tiap kali ia melihat wajah pucat Aurora yang masih belum juga sadar meskipun hari telah malam.
__ADS_1
"Mama sama papa pulang aja, ajak nenek. Aku akan disini jagain Aurora dan Jasmine," ucap Gibran meskipun sejak tadi kedua orangtuanya mengabaikannya begitu juga dengan neneknya Jasmine yang biasanya selalu bersikap hangat padanya tapi kali ini ia sepenuhnya diacuhkan.
Di saat mereka mulai bergegas untuk pergi, agar bisa memberikan ruang untuk Jasmine dan Gibran memperbaiki hubungan mereka Tapi Jasmine mulai tertawa, ia mulai tertawa meskipun air matanya tetap menetes membuat langkah kaki mereka seketika terhenti.
"Bicara seolah kamu perduli pada kami. Gibran, apa kamu gak malu?" tanya Jasmine dengan nada dingin yang menusuk.
"Jasmine, aku mohon jangan begini." Gibran melangkah mendekat, ia tidak lagi perduli pada apapun meskipun kedua orangtuanya semakin marah padanya atau bahkan neneknya Jasmine mulai membencinya, Gibran hanya ingin mendapatkan sekali saja kesempatan dari Jasmine.
"Apa yang kamu harapkan? Gibran, aku udah muak! Apapun yang kamu lakuin terlihat salah di mataku sekarang jadi please, kamu pergi."
"Jasmine, aku mohon..."
"Gibran , aku mohon! Aku gak bisa nafas ada kamu disini!"
"Gibran, udah... Cukup! Jangan paksa Jasmine lagi, sebaiknya kamu tunggu di luar!" papa Gibran langsung menyentuh bahu Gibran dan mengusirnya.
"Gibran, keluar sebelum papa seret kamu dari sini!"
Gibran menutupi wajahnya dengan telapak tangannya dan kembali menangis. Kesalahannya sudah terlalu banyak hingga orangtuanya juga tahu dan berpihak pada Jasmine.
"Aku gak akan pergi kemanapun, aku ada di luar. Jasmine, aku di luar!" Masih tetap berusaha, Gibran terus mencari perhatian Jasmine meskipun Jasmine sudah sepenuhnya mengabaikannya sementara mamanya sudah mendesaknya untuk cepat keluar ruangan dan akhirnya ia sepenuhnya berada di luar ruangan.
"Maafin aku, Jasmine... Maaf..."
Samar-samar suara Gibran yang menangis terdengar hingga ke dalam ruangan tapi meskipun air mata Jasmine menetes, wanita itu tetap keras. Ia menyeka air matanya cepat-cepat dan kembali memandangi wajah Aurora.
Nenek Jasmine kemudian melangkah mendekat, "Jasmine," panggilnya dengan lembut.
"Ya?" jawab Jasmine tanpa menoleh, kondisi Jasmine saat ini terlihat mengkhawatirkan hingga neneknya merasa sedih, takut kalau cucu satu-satunya ini akan depresi. Ia tahu betul luka yang ditanggung oleh Jasmine dan kemarahan Jasmine pagi tadi ketika Gibran datang, menggambarkan lebih jelas jika ia masih belum bisa bahagia hingga detik ini.
__ADS_1
"Kamu yakin ingin bercerai dengan, Gibran?"
Kedua orangtua Gibran begitu terkejut mendengar pertanyaan Nenek Jasmine. Mereka tahu Jasmine sedang marah dengan Gibran hingga kata-kata perceraian terlontar dari mulutnya tapi mereka tidak menanggapinya dengan serius.
"Bu, mereka..." Mama Gibran mendekat tapi nenek Jasmine memberikan gesture tangan untuk tidak mendekat dan tidak lagi menginterupsi pembicaraannya dengan Jasmine.
"Jasmine, kamu tahu kan kalau kami semua menyayangi kamu... Apapun keputusan kamu, nenek akan mendukung tapi nenek mau kamu memikirkannya saat amarah kamu reda supaya nanti gak ada penyesalan," ujarnya menasehati sambil menyentuh tangan Jasmine dan menatapnya lembut hingga Jasmine akhirnya balas menatapnya.
"Nek, sekarang atau nanti, keputusan aku akan tetap sama. Aku udah gak bisa lagi hidup jadi bayang-bayang Ruby."
Mendengar nama Ruby di singgung oleh Jasmine, neneknya tidak lagi mengatakan apapun seolah ia sudah mengerti sebanyak apa luka dalam hati Jasmine hingga ia tidak mampu lagi bertahan.
Akhirnya kedua orangtua Gibran juga memutuskan untuk keluar dari ruangan dimana Aurora di rawat. Dengan kesedihan yang terpancar dari raut wajah mereka, mereka lantas duduk di sebelah Gibran yang juga terlihat sedih.
"Mama pikir akhirnya kamu dan Jasmine bisa bersatu dan bahagia, kebahagian yang tertunda karena kebodohan kamu tapi kamu masih sama bodohnya dengan waktu itu, Gibran..."
"Maaf, aku terus-terusan merasa bersalah sama Ruby sampai aku gak bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Jasmine."
"Gibran..." kini giliran papanya yang bicara sambil menyandarkan kepalanya di tembok untuk mencegah air matanya menetes. "Kamu yang paling tahu bagaimana Jasmine menggenggam semua lukanya seumur hidupnya tapi kamu malah menambahkannya. Papa minta maaf tapi kali ini papa akan berpihak pada Jasmine, jika dia memang tetap ingin bercerai dengan kamu, papa akan membantunya mendapatkan hak asuh Aurora bagaimanpun caranya."
Tubuh Gibran gemetaran, ia menangis sambil menundukkan kepalanya, saat harapannya semakin menipis, saat kemungkinan besar ia kehilangan dua belahan jiwanya sekaligus.
Nafasnya tercekat, hatinya hancur, ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa mereka meskipun selama ini ia selalu bersikap tidak acuh tapi ia selalu memantau mereka dari jauh, ia selalu diam-diam masuk ke dalam kamar mereka, menggendong Aurora dan membuatkannya susu saat terbangun di malam hari dan tidur di sebelah Jasmine sambil memeluknya erat yang selalu tertidur begitu pulas karena kelelahan hingga pagi menjelang dan pergi tanpa suara seolah ia tidak pernah menghampiri mereka tapi jika tahu akhirnya akan seperti ini maka Gibran akan menunjukkan kasih sayangnya secara terang-terangan.
Sekarang bagaimana caranya aku menunjukkan padamu kalau aku begitu mencintaimu, Jasmine?
Aku sangat mencintaimu, sangat...
***
__ADS_1