Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Milik ku


__ADS_3

"Anda gak tahu apapun tentang perasaan saya!" Gibran dengan tegas mengatakannya, ia bahkan melangkah satu langkah lebih dekat dan menatap ayahku dengan tajam. "Jangan usik keluarga kami, bahkan jika aku mati sekalipun, hanya Jasmine yang berhak merawat Aurora!" Tukasnya memperingatkan dan setelah itu Gibran menggandengku, ia membawaku pergi bersama Aurora meninggalkan ayahku sendirian.


Aku menoleh kebelakang, melihat ayahku yang terduduk lemas dan menangis lalu kemudian melihat Gibran yang menatap lurus ke depan dengan sorot mata memendam amarah.


Dalam perjalanan pulang, Aurora menangis, aku segera menggendongnya sementara Gibran menuangkan air ke dalam botol susu yang memang sengaja aku bawa lengkap dengan susu yang sudah aku takar.


"Udah mau magrib kenapa masih di luar?" tanya Gibran setelah menyerahkan botol susu itu padaku barulah aku meletakkan kembali Aurora ke dalam troli agar ia bisa menyusu dengan nyaman.


"Tadi aku niatnya cuma jalan-jalan sebentar, gak tau bakalan ketemu ayah." jawabku dengan sedikit canggung karena sudah lama sejak terakhir kali aku dan Gibran bicara.


"Jangan dengerin omongan ayah kamu, dia gak akan bisa bawa Rora dari kamu." ucapan Gibran membuatku ingin menangis karena sampai detik ini aku masih merasa takut.


"Rora anak aku kan, Gibran? Ayah gak berhak ambil Rora dari aku kan?" tanya ku dengan suara yang bergetar aku menahan air mataku untuk tidak menetes. Meskipun bukan aku yang melahirkannya, Aurora tetaplah anak ku, putri kecilku yang berharga.


"Iya, Rora anak kita, aku gak akan biarin ayah ambil Rora dari kita." sekali lagi Gibran menenangkan ku, ucapannya membuatku tersentuh meskipun selama ini Gibran tidak pernah terlihat benar-benar perduli padaku dan Aurora namun dia mempertahankan kami, dia membuatku terenyuh sehingga aku hanya bisa menganggukkan kepalaku sambil menangis sementara Gibran mulai memeluk ku dan menenangkan ku.


...


Kami akhirnya tiba di rumah, sesaat sebelum magrib menjelang.


"Akhirnya kita sampai ya, nak..." aku bicara pada Aurora saat menunggu Gibran membuka kunci rumah, sambil menggendongnya, putri kecilku tersenyum ceria. Ketakutan itu kembali muncul hingga aku memeluk Aurora dengan sangat erat, Gibran sepertinya menyadari ketakutan ku hingga ia mengusap puncak kepalaku setelah itu untuk menenangkan ku sekali lagi.


"Ayo masuk..."


"Jasmine..."


Ajakan Gibran serta panggilan itu terdengar secara bersamaan. Aku dan Gibran segera menoleh ke arah panggilan itu dan Juna yang berdiri di depan rumah yang berada tepat di depan rumah kami sontak membuat aku dan Gibran terkejut.


Sudah lama sejak terakhir aku dan Juna bertemu bahkan setelah kemarahan Gibran waktu itu, aku tidak lagi berani menghubunginya dan juga mengabaikan panggilan teleponnya.


Terlihat Juna melangkah menghampiri kami, Gibran seketika melangkah maju, ia berdiri tepat di hadapanku.


"Lama gak ketemu..." Juna tersenyum sedih sambil mengintip ke arah ku yang saat ini berdiri di belakang tubuh Gibran.


...

__ADS_1


"Kenapa kamu gak pernah lagi balas chat aku, kamu bahkan ngirim email pengunduran diri begitu aja dan setelah itu kamu gak pernah lagi jawab telepon aku..."


Aku terdiam ketika Juna mengajak ku bicara, saat ini aku duduk di kursi halaman depan rumahku hanya berdua dengannya sementara Gibran berada di dalam rumah bersama dengan Aurora.


"Maafin aku kak... Aku udah berusaha tapi pernikahan ini membuat perasaan ku jadi serakah."


Aku tidak berani menatap matanya, perasaan bersalah ini masih tetap sama seperti ketika aku mengecewakannya hari itu. Hari ketika aku menikah dengan Gibran, hari ketika aku menghancurkannya.


Langit sudah gelap, angin berhembus memecah keheningan diantara kami. Juna mendongakkan wajahnya, menatap langit yang cerah hingga bintang terlihat bersinar memenuhi langit, tapi langit yang cerah ini tidak sama dengan dengan perasaan kami.


"Kamu bahagia?" tanya Juna setelah beberapa saat akhirnya aku memberanikan diri menatapnya yang saat ini masih sama, masih terlihat memendam luka yang aku berikan padannya.


"Aku gak bahagia..." jawab ku pelan, "hubungan kami masih sama," sambung ku pilu.


"Kenapa gak mencari ku?"


"Karena aku sudah terlalu serakah, aku gak bisa menjadikan kamu pelarian seperti dulu lagi, kak... Aku gak mau kamu terluka lebih banyak, posisi kita hampir mirip jadi aku tahu bagaimana rasa sakitnya."


Juna menghela nafas dalam sekali lagi, ia menundukkan wajahnya setelah itu dan menyembunyikan air matanya yang menetes sama seperti ku.


"Jadi tetangga bukanlah hal buruk, tapi mungkin hubungan kita gak akan seperti dulu. Aku gak bisa lagi masak buat kamu."


Juna tertawa pedih mendengar kalimat terakhir ku. "Ya, aku sudah mulai terbiasa masak dan makan sendirian sejak kepergian kamu."


"Cobalah cari wanita yang bisa mendampingi mu kak..."


"Jangan begitu kejam padaku, setidaknya kamu jangan pinta aku berpaling karena aku sudah sering mencobanya tapi terus gagal dan membuatku semakin frustasi karena perasaan ini masih saja sama."


Aku tidak bisa lagi mengatakan apapun, aku tidak bisa menyuruhnya berhenti mencintaiku karena aku juga tidak bisa menghentikan cintaku untuk Gibran meskipun Gibran menyakitiku terlalu banyak.


"Udah malem, aku harus masak..." ucapku yang ingin segera menghindar dari situasi yang menyesakkan ini.


"Aku gak di undang?" tanya Juna yang sontak membuatku tertegun, tapi senyumannya mengendurkan sedikit ketegangan ku.


"Hanya ketika kamu dan Gibran berjanji tidak akan bertengkar."

__ADS_1


"Sepertinya aku memang harus makan sendirian lagi..."


Aku tersenyum pedih ketika Juna beranjak bangun, ia tersenyum hangat kepadaku lalu mengusap puncak kepalaku sebelum akhirnya pergi memasuki rumahnya.


Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menghela nafas berat, ayahku dan Juna mereka datang membawa kegelisahan yang besar kedalam hatiku, hidupku yang semula tidak pernah damai kini semakin terasa melelahkan.


Aku kemudian memasuki rumahku dan Gibran langsung menyambut ku dengan tatapan dingin.


"Senang huh? Calon suami mu jadi tetanggamu, kalian bisa lebih leluasa sekarang." Gibran langsung menyinggungku tanpa basa-basi.


"Bicaramu seolah Kak Juna adalah selingkuhan ku..." sahutku sambil mengambil segelas air dan meneguknya, bukan karena haus, aku hanya ingin mengurangi beban dalam hatiku sedikit saja, jika bisa meskipun sedikit tapi rasanya masih juga membuatku tercekik.


Gibran yang duduk di ruang tamu akhirnya menghampiriku ke dapur, ia mengambil alih gelas di tanganku dan meletakkannya di atas meja dengan sedikit membantingnya.


"Kak Juna... Kamu bahkan gak pernah memanggilku selembut itu, Jasmine..."


Aku menatap kedua mata Gibran yang saat ini menatapku tajam seolah mencabik ku dari dalam. "Kak Gibran..." dan aku menantangnya hingga membuatnya menyeringai dan setelah itu aku bahkan melangkah satu langkah lebih dekat lagi dan berkata, "atau mas Gibran?"


"Menggodaku huh?" Gibran balik menantang, ia melangkah semakin dekat hingga jarak diantara kami semakin terkikis.


"Agar kamu gak merasa iri!" Nada suaraku masih sama, menantang dan tidak mau kalah, aku bahkan menunjukkan seringai ku padanya.


"Jangan biarkan siapapun menyentuhmu, bahkan sehelai ujung rambutmu adalah milik ku!" Kini tantangan itu menjadi sebuah peringatan ketika Gibran mulai menyentuh rambutku dan di akhir kalimatnya ia bahkan mencium ujung rambutku.


"Sudah bosan menjadi hantu di rumah ini? Kamu mau mengakui kepemilikan mu sekarang?"


"Aku tidak perlu mengaku karena sejak awal itu adalah milik ku jadi berhati-hatilah, aku tidak akan segan mengingatkan posisi kamu sebenarnya di rumah ini!"


Gibran dan peringatannya, dia langsung menarik ku hingga jarak diantara kami sepenuhnya menghilang bahkan tangannya kini merengkuh punggungku dan perlahan-lahan bergerak naik menyentuh tengkuk ku.


Gibran menatapku, ujung lidahnya sedikit terlihat ketika membuka mulutnya, dia seolah sengaja menggodaku dengan bibirnya hingga aku tidak mampu memalingkan pandanganku dari bibirnya.


"Jasmine, jangan menantang ku..."


***

__ADS_1


__ADS_2