Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Diam-diam bahagia


__ADS_3

"Ayo aku gendong..."


Aku seketika melangkah mundur setelah mendengar tawaran Gibran.


Aku tidak sedang bermimpi kan?


Pria yang tadi mengatakan tidak akan mengijinkan aku untuk bahagia, kini terang-terangan menunjukkan perhatiannya padaku?


Gibran lantas mengangkat semua tas belanjanya setelah selesai membayar lalu ia melangkah menghampiri ku.


"Nih pegang." ucapnya lagi sambil menyerahkan tas belanja itu padaku, ekspresinya masih sama. Dia terlihat galak hingga aku tidak bisa menolak, setelah itu Gibran sedikit membungkuk dan berkata dengan tidak sabaran, "ayo cepet!"


Mungkin dulu aku tidak akan berpikir dan langsung melompat ke atas punggungnya tapi sekarang kami sudah cukup dewasa untuk melakukannya terlebih di tengah keramaian seperti ini walaupun status kami sekarang sudah menikah.


Oh jika saja pernikahan kami tidak terjadi karena sebuah pengorbanan maka perhatian dari Gibran akan menjadi hal yang sangat membahagiakan dan romantis bagiku, sayangnya hubungan ini terlalu menyakitkan untuk menjadi nyata.


Baik dulu ataupun sekarang, mungkin hubungan kami tidak akan bertemu pada kebahagiaan...


"Aku bisa jalan sendiri!" aku menolak dengan perasaan sedih.


"Jangan salahin aku kalau nanti kamu jatuh gara-gara tidur sambil jalan!" gumamnya yang tidak mau bersusah payah membujuk ku.


Dia memang tidak pernah bisa benar-benar perduli padaku...


Apa yang sebenarnya aku harapkan?


Gibran lantas mengambil kembali tas belanjaan kami lalu melangkah lebih dulu meninggalkan ku hingga aku harus berlari pelan agar bisa menyamakan langkahnya.


Aku memang sangat mengantuk hingga kepalaku terasa berayun-ayun yang membuatku selalu nyaris menabrak sesuatu di sekitarku bahkan orang yang berpapasan dengan ku jika saja Gibran tidak selalu sigap menarik ku ke sisinya.


"Seenggaknya pegangan lah!" Gibran semakin tidak sabaran menghadapi ku. Ia bahkan menghela nafas kesal.


Dengan ragu-ragu aku berpegang pada ujung jaketnya, tapi Gibran malah menggandeng tanganku dan menggenggamnya erat.


Sungguh Gibran, jangan buat aku jatuh lebih dalam lagi jika kamu tidak bisa menjanjikan cinta untuk ku...


Dari semua rasa sakit yang menyiksaku, yang paling menyakitkan adalah rasa kecewa karena saat itu terjadi aku seperti mati rasa.

__ADS_1


Tapi Gibran, harapan ini muncul di dalam hatiku yang kering dan retak. Salahkah kalau aku kembali ingin mendapatkan mu?


Bukankah aku begitu mudah? Perhatian kecil yang kamu berikan meluluhlantakkan pertahananku.


Diam-diam aku menikmati hangatnya genggaman tanganmu, diam-diam aku ingin berdoa semoga hatimu kelak bisa menjadi milik ku, diam-diam aku merasa bahagia.


Karena mu...


...


Kantuk ku tidak hilang dengan mudah karena aku langsung terlelap begitu mobil kami keluar dari tempat parkir supermarket.


Kegelisahan yang biasanya selalu mengganggu tidur ku seolah sirna, untuk pertama kalinya aku bisa tidur dengan nyenyak bahkan ketika aku nyaris terbangun karena Gibran menggendong tubuhku saat kami sampai di rumah kedua orangtua Gibran.


Aku membuka kedua mataku, terbangun sejenak dari tidur ku yang lelap tapi Gibran malah menyentuh kepalaku dengan lembut dan menyadarkannya di bahunya sambil berkata dengan sangat lembut, "tidur aja..."


Dua kata itu langsung membuatku kembali terlelap sampai akhirnya aku terbangun dan merasa lebih segar, hanya saja aku berada di sebuah kamar yang terasa asing bagiku apalagi lampunya redup dan hanya lampu tidur yang menyala.


"Udah bangun?" Suara Gibran sedikit banyak membuatku sadar dimana aku sekarang yaitu di kamarnya. Dikamar Gibran yang ada di rumah kedua orangtuanya.


Aku perlahan beranjak duduk, tidak ada Gibran di sampingku, dia kemudian muncul dibalik sofa, sepertinya ia juga baru bangun tidur.


"Aurora dimana?" tanyaku sambil menurunkan kaki ku dari atas tempat tidur Gibran setelah melihat jam digital yang menyala pada dinding di tengah ruangan yang remang-remang. Sudah jam sepuluh malam, entah berapa lama aku terlelap yang pasti cukup lama hingga malam telah larut.


"Aurora tidur di kamar mama. Biarin dia disana malam ini," jawab Gibran yang kini sudah beranjak bangun dari sofa dan melangkah untuk menyalakan lampu yang semula padam yang langsung membuatku terkejut melihat penampilannya.


"Kamu kok gak pake baju sih?" protes ku sambil menutup wajahku dengan telapak tangan ku, untung saja aku tidak menjerit karena melihat Gibran bertelanjang dada.


Sejak kapan dia membentuk tubuhnya menjadi berotot begitu? Rasio tubuh Gibran sangat proporsional, dia tinggi tegap dan barisan otot perutnya sangat pas dengan dada kekar serta bahu tegap dan lebar miliknya, dia membuatku nyaris mimisan saat melihatnya.


Gibran dan penampilannya membuatku tidak berkutik, dan aku semakin tidak berkutik ketika Gibran tiba-tiba saja menyentuh tangan ku yang saat ini menutupi kedua mataku lalu menurunkannya. Dengan tubuh yang condong dan sedikit membungkuk, ia menatapku dengan jarak yang begitu dekat.


"Kenapa tutup mata?" tanyanya dengan suara yang sedikit serak karena ia baru bangun tidur bahkan semburat kemerahan masih terlihat cukup jelas di kedua matanya yang sayup-sayup menatapku.


"Karena aku gak biasa liatnya!" jawabku jujur yang masih tidak bisa menatapnya secara tegas dan hanya berani sesekali melirik.


"Bahkan sama mantan tunangan kamu, kamu gak pernah liat dia berpenampilan begini?"

__ADS_1


Pertanyaan Gibran berhasil membuatku akhirnya menatap kedua mata itu, kedua mata yang menatapku lurus tanpa kekhawatiran sedikitpun.


"Jawab!" Suaranya mungkin pelan tapi terdengar seperti paksaan.


"Kami cuma baru tunangan!"


"Jadi kalian gak pernah tidur bareng?"


Sekali lagi aku terkejut dengan pertanyaannya, dan aku tidak mengerti kenapa Gibran terasa semakin dekat hingga aku dapat merasakan deru nafasnya menerpa wajahku dan membuatku semakin gugup.


"Jawab aku!" Dia semakin mendesak hingga aku harus sedikit menarik tubuhku kebelakang agar jarak diantara kami tidak terlalu dekat.


"Jasmine..." Gibran mulai terlihat kesal, tapi kenapa juga dia harus kesal kan?


"Gak pernah..." Akhirnya aku menjawab karena tidak tahan dengan intimidasi darinya.


Dia diam sejenak sebelum kembali bertanya, "Kamu pernah ciuman?"


Hah? Ada apa dengan Gibran dan semua pertanyaannya?


"Pernah lah!"


"Berapa kali?"


"Ya?"


"Berapa kali kamu pernah ciuman?"


"Sekali, sama kamu dulu kan!"


Gibran terlihat terkejut setelah mendengar jawabanku, apa yang sebenarnya yang ada dalam pikirannya? Kenapa dia menanyakan hal seperti ini?


Dia membuatku berpikir jika dia ingin menyentuh ku dan menjadikan aku miliknya seutuhnya setelah memastikan segalanya.


Oh Tuhan, Gibran membuat harapanku semakin membumbung tinggi terlebih ketika tangannya perlahan terulur menyentuh wajahku.


Apa mungkin ini akan menjadi malam pertama kami?

__ADS_1


***


__ADS_2