
Aku dan nenek ku duduk dalam diam setelah kepergian ayahku. Sekarang aku sungguh berharap tidak akan lagi bertemu dengannya.
Kepedihan ini menyiksa batin ku. Aku yang egois ini hanya memikirkan tentang perasaanku padahal nenek ku lebih menderita bahkan aku mendiamkannya belakangan ini.
Nenek ku menghela nafas, ia terlihat sangat lelah hingga aku segera beranjak bangun dan menghampirinya. "Maaf nek... Aku gak tau ternyata nenek nyimpen rahasia itu sendirian selama ini." ucapku menangis sambil berjongkok dan menyandarkan kepalaku di atas pangkuannya.
"Kamu gak salah apapun, nak..." jawab Nenek ku sambil mengusap kepalaku dengan lembut.
Tangisan ku semakin pecah ketika nenek ku mulai menangis lagi, terasa pilu menyayat hati. Luka yang selama ini ia simpan untuk dirinya sendiri, di tubuh kurusnya yang sudah renta, aku menambahkan luka itu kemarin dan sekarang aku sangat menyesalinya.
***
Keluarga Gibran datang esok harinya ke rumah ku karena baik aku maupun nenek ku, tidak ada satupun dari kami yang datang ke rumah mereka semalam demi memenuhi janji makan malam bersama yang sudah di buat beberapa hari sebelumnya.
Mereka datang dengan perasaan hangat kecuali Gibran yang masih bersikap dingin, sikap yang sama yang ditunjukkan oleh ku padanya sementara nenek ku berada di kamarnya. Semalam ia demam setalah menangis menceritakan kisah ibuku yang memilukan.
Aku berpikir hidupku sudah sangat menderita tapi hidup yang dimiliki ibuku sangatlah buruk. Ku harap dia bahagia di surga...
Faktanya jika ayahku tidak mencintai ibuku namun tetap menikahinya membuat hatiku semakin marah karena pada akhirnya ayahku malah berselingkuh. Kisah ibuku membuatku semakin takut, mungkin bila aku tetap memaksakan pernikahan ku dengan Gibran, aku akan bernasib sama dengan ibuku.
"Dimana nenek?" Mama Gibran bertanya padaku yang sedang membuat minuman di dapur untuk ku hidangkan pada mereka.
"Nenek di kamar, semalam nenek sakit." jawabku.
"Loh kenapa gak hubungin kami?" Papa Gibran menyahut.
Mereka begitu perduli padaku dan juga nenek ku, akan begitu menyenangkan jika menjadi keluarga mereka yang sesungguhnya tapi Gibran terus menatapku dengan dingin. Dia terlihat marah padaku padahal seharusnya aku yang marah padanya.
__ADS_1
"Nenek udah baikan kok cuma katanya masih sedikit pusing aja." jawab ku segala bersusah payah mengalihkan pandanganku dari Gibran.
Kedua orangtua Gibran kemudian melangkah memasuki kamar nenek ku.
Kecanggungan ini datang lagi ketika Gibran beranjak bangun dari sofa dan menghampiriku yang sejak tadi berada di dapur.
"Kita perlu bicara." ucapnya tanpa basa-basi.
"Ya, ngomong aja." jawabku terkesan tidak perduli padahal aku hanya mencoba mengendalikan diriku dari rasa gugup ini.
"Aku tunggu di halaman belakang." tukasnya sebelum melangkah pergi meninggalkanku.
Sejujurnya hubungan ini membuat hatiku semakin sakit. Disaat aku sedang membutuhkan seseorang untuk bersandar, Gibran malah menjauh dariku.
Aku kemudian menghidangkan dua cangkir kopi dan secangkir teh untuk Gibran dan orangtuanya dan ku letakkan di meja sofa meskipun mereka tidak sedang berada di sana setelah itu aku melangkah menuju halaman belakang rumahku, tapi ketika aku melintasi kamar ku, aku mendengar nenek ku bercakap dengan kedua orangtua Gibran.
"Iya, aku pikir Jasmine pulang ke rumah kalian." jawab Nenek ku dengan suara serak dan pelan.
"Jasmine datang bersama temannya dan langsung pulang, sepertinya Gibran dan Jasmine masih bertengkar." sahut mama Gibran.
"Jangan dipaksa, bila mereka tidak menginginkan pernikahan ini." Nenek ku kembali bicara dan kedua orangtua Gibran tidak menyahut kali ini.
"Yang aku takutkan bila umurku tidak panjang, Jasmine tidak memiliki rumah lagi untuk pulang dan bersandar tapi kalau Gibran tidak setuju dengan rencana pernikahan mereka, tidak perlu lagi mendesaknya. Aku takut nanti akhirnya Jasmine terluka lagi ..."
"Itu tidak mungkin, kali pertama kami membahas tentang rencana pernikahan mereka dengan Gibran, dia terlihat senang. Bukankah itu jelas kalau dia setuju dengan rencana ini, hanya saja kondisinya mereka sedang marahan. Biasanya juga selalu baikan setelah itu kan." akhirnya papa Gibran menanggapi ucapan nenek ku, sedikit meniupkan angin segar karena ucapannya mengatakan jika Gibran senang dengan rencana pernikahan ini. Mungkin aku memang harus sedikit menurunkan egoku dan mengalah agar hubungan kami bisa berbaikan.
"Ya sudah kalau Gibran memang setuju..."
__ADS_1
Aku tidak lagi menguping pembicaraan mereka, kini perasaan ku menjadi lebih ringan ketika menghampiri Gibran yang saat ini duduk sendirian di bangku taman belakang rumah ku.
Ia lantas menoleh ketika aku mengambil posisi duduk disebelahnya. Tidak ada senyuman hangat, hanya saja Gibran menatapku dengan lebih lembut sekarang.
Untuk sesaat suasana menjadi lebih hening karena tidak ada satupun dari kami yang mulai pembicaraan.
"Loe punya temen baru sekarang..." ucapan Gibran sungguh membuatku terkejut karena hal pertama yang Gibran bahas adalah Juna.
Apa dia cemburu?
"Iya..." jawabku pelan.
"Loe mau bales gue karena gue ajak Ruby main ke rumah gue jadi loe bawa orang itu ke rumah gue juga? Biar apa?"
Semakin Gibran bicara, semakin aku tidak mengerti apa tujuannya mengatakan semua itu.
"Mama marah semalam karena calon mantunya deket sama pria lain."
"Gue sama kak Juna cuma kebetulan ketemu pas pulang belanja, dia bantu gue bawa belanjaan titipan mama yang banyak karena loe lebih milih jalan sama Ruby."
Kemarahan itu datang lagi, percakapan ini membuatku teringat kejadian menyesakkan dada kemarin. Rasa sakit yang bercampur kecewa yang begitu dalam.
"Kak Juna..." Gibran bergumam, dia terlihat semakin kesal.
"Jasmine, gimana kalau gue jatuh cinta sama Ruby..."
***
__ADS_1