Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Pupus


__ADS_3

"Gue bukan orang asing, iya kan Jasmine?"


Aku tertegun ketika Juna dengan tegas mengatakannya padahal kami baru bertemu hari ini bahkan tidak sampai seharian.


Gibran terlihat marah dengan Juna seolah ia sedang cemburu, itu membuatku ingin tahu bagaimana reaksinya jika aku membalas perlakuannya seperti dia memperlakukan ku saat ia sedang bersama dengan Ruby.


Sekali saja, aku ingin tahu apa dia terluka seperti aku yang selalu terluka karena sikapnya.


Perlahan aku melepaskan tangan Gibran dari pergelangan tanganku lalu mengambil posisi di belakang Juna dan dengan sedikit keraguan aku menyentuh lengan kemeja Juna hingga pria itu melirik ke arahku dan tersenyum tipis.


Kedua mata Gibran memerah, apa dia akan menangis melihatku dengan pria lain? Aku akan langsung memeluknya jika ia sekali saja memintaku untuk kembali ke sisinya dengan lembut tapi Ruby kemudian mendekat, ia melakukan aksi yang sama seperti yang aku lakukan dan Gibran menyentuhnya, Gibran menyentuh tangan Ruby yang kini melingkar di lengannya dan memeganginya seolah tidak boleh terlepas.


Harusnya aku tahu sejak awal, sia-sia menggantung harapan yang sudah pupus sejak awal.


Gerimis mulai turun, tapi aku berharap menjadi hujan yang deras, cukup deras untuk menutupi air mataku yang sekarang mendesak untuk menetes.


"Ayo pulang kak..." ajak ku pada Juna, dia mungkin sadar jika aku menjadikannya alat untuk lepas dari situasi yang menyesakkan ini tapi Juna tersenyum dengan lembut kepadaku, ia bahkan memakaikan topinya ke atas kepalaku dengan begitu aku bisa menunduk dan menyembunyikan air mataku lalu setelah itu ia menuntunku menuju tempat ia memarkirkan motornya.


Sedikit harapanku, aku berharap semoga Gibran mencegah ku pulang dengan Juna tapi dia masih berdiri di tempatnya dengan Ruby yang masih menggandeng lengannya.


Mereka menatapku, tapi mereka membiarkanku...


Ketika Juna melepaskan topinya dari kepalaku dan menyadari jika aku sedang menangis, tubuhnya dengan cepat menghalangi ku dari pandangan Gibran dan Ruby.


"Maaf..." gumam ku pelan sambil menyeka air mataku. Juna tidak mengatakan apapun, ia hanya membantuku memakaikan helmnya. "Aku gak tau kalau akan membonceng gadis cantik hari ini jadi aku cuma bawa satu helm, aku harap rumah kamu gak jauh dari sini atau kita bisa kena tilang." ucap Juna yang kembali memakai topinya lalu ia naik ke atas motornya lebih dulu barulah aku ikut naik dengannya tapi sebelum itu Juna sudah lebih dulu memindahkan tasnya ke posisi depan hingga tidak menggangguku mengingat motornya adalah motor sport yang sulit untuk duduk dengan tegak, sudah pasti aku harus berpegangan padanya dan sejujurnya motor ini mengingatkanku pada motor Gibran dulu, motor yang ia pakai untuk mengantar jemput ku sebelum ia menggantinya dengan mobil dan menggeser posisiku.


"Mungkin kamu gak nyaman, tapi tolong pegangan. Aku gak mau kamu jatuh." pinta Juna dan dengan sedikit keraguan aku berpegangan pada pinggangnya.


Motor Juna lalu melintas melewati Gibran dan Ruby, tapi Gibran memalingkan wajahnya begitu aku menoleh ke arahnya.


***


Juna mengantarkan ku pulang dengan selamat, kini motornya berhenti di tepi jalan tepat di depan halaman rumahku. Sambil berpegangan di bahunya, aku perlahan turun dari motornya barulah ia turun setelah itu.


"Ini rumah kamu?" tanya Juna sambil melihat ke arah rumah ku.


"Iya..." jawabku sambil mencoba melepaskan helm di kepalaku tapi aku selalu menemukan kesulitan untuk melakukannya, mungkin karena Gibran yang selalu membantuku membukakan helm yang aku pakai hingga aku tidak pernah bisa melakukannya sendiri.


"Sorry ..." dengan sopan dan hati-hati, Juna melangkah satu langkah lebih dekat lalu membantuku membuka pengait helm yang membuatku kesulitan sekaligus membantuku membuka helm itu dari kepalaku.

__ADS_1


"Makasih..." ucapku pelan setelah Juna meletakkan helmnya di kaca spion motornya.


Langit semakin mendung, mungkin hujan akan segera turun dengan deras sebentar lagi apalagi angin yang berhembus membawa gerimis semakin terasa dingin menusuk kulit.


"Jasmine..."


Aku menoleh ketika mendengar seseorang memanggilku. Dari dalam rumah terlihat mama Gibran keluar, ia melangkah cepat menghampiriku. "Gerimis nak, kenapa berdiri di sana?" ucapnya sambil jalan, tidak lama di susul oleh papa Gibran yang datang membawa payung, satu ia pakai untuk melindungi dirinya dan istrinya dan satunya berada di tangannya, sepertinya ia menyiapkannya untuk ku. Sejujurnya aku sedikit bingung kenapa mereka berdua ada di rumah ku.


"Loh bukannya kamu pergi ke taman bermain sama Gibran, mana Gibrannya?" tanya mama Gibran setelah berada di dekatku.


"Ya, tadi aku pulang duluan soalnya mampir ke perpustakaan mah ..." jawab ku tersenyum tipis.


"Terus Gibran mana?" tanya papa Gibran kini dan tidak hanya itu, ia bahkan terlihat menatap Juna dengan dingin.


"Gibran sama Ruby..." jawab ku yang dengan sekejap rasa sesak itu datang lagi.


Kedua orangtua Gibran kemudian saling memandang, aku tidak tahu dengan apa yang ada di pikiran mereka tapi sepertinya mereka berbagi pemikiran yang sama hanya saja ekspresi mereka terlihat tidak senang.


"Ya udah yuk masuk, bentar lagi kayaknya mau hujan!" ajak papanya Gibran sambil membukakan payung yang ia bawa lalu memberikannya padaku karena gerimis mulai menjadi hujan yang perlahan turun dengan deras. Kedua orangtua Gibran kemudian langsung melangkah pergi padahal aku belum sempat memperkenalkan Juna.


"Orangtua kamu?" tanya Juna ketika aku mendekat padanya agar ia juga berada di bawah payung yang sama dengan ku.


"Kamu manggilnya mama tadi, kalian sepupuan?.."


"Tetangga..."


Juna tidak lagi bertanya, sepertinya dia sedikit mengerti dengan situasi ku meskipun aku hanya menjawabnya singkat.


"Makasih karena udah nganterin aku pulang."


"Sebagai tanda terima kasih, aku boleh gak minta sesuatu dari kamu?"


Aku tertegun sesaat mendengar ucapan Juna, dia membuatku meragukan kebaikannya tapi Juna tiba-tiba saja mengulurkan tangannya.


Dia mengajakku berjabat tangan tapi aku tidak langsung menyambutnya justru aku malah menatap tangannya dengan bingung.


"Tadi kan kenalannya belum resmi gara-gara tetangga kamu dateng." ucap Juna yang membuatku tanpa sadar tertawa karena pria ini menyebut Gibran sebagai tetangga.


Sekarang keraguan itu hilang, aku lantas menjabat tangannya.

__ADS_1


"Juna..."


"Jasmine..."


"Sama-sama later 'J'..."


"Iya... Kebetulan."


"Manis..."


"Ya?"


"Kebetulan yang manis..."


Aku tidak bisa mengatakan apapun, sorot matanya yang teduh di tambah dengan senyumannya membuatku perlahan ikut tersenyum. "Iya, kebetulan yang manis..."


"Jadi kita temenan sekarang? Boleh aku minta nomor telepon kamu?" Juna sungguh berani, dia sama sekali tidak terlihat ragu-ragu dengan semua tindakannya.


Aku tidak merasakan getaran negatif dari drinya, hanya saja menganggapnya sebagai teman dalam waktu yang begitu singkat ini membuatku ragu karena aku tidak memiliki banyak teman.


Teman ku hanya Gibran dan Ruby tapi mereka terus saja menyakitiku, menambah teman baru mungkin akan menambah luka baru.


"Kalau nanti kita ketemu lagi, aku akan memberikannya kalau kita ketemu lagi..."


Juna terlihat kecewa tapi ia tetap tersenyum. Ia kemudian melepaskan topinya lalu memakaikannya lagi padaku tepat ketika mobil Gibran tiba dan Gibran langsung turun dari dalam mobil di susul dengan Ruby.


"Kalau nanti kita ketemu lagi tolong kembalikan dan jangan lupa janji kamu." ucap Juna tersenyum lembut padaku, dia sungguh berbeda dengan Gibran yang selalu memarahiku di setiap kesempatan. Sekali lagi aku tersenyum dan menjawab, "Ok..."


"Aku balik kalau begitu..."


"Gak mau mampir dulu? Hujannya mulai deras."


"Aku gak mampir ke rumah seseorang yang masih belum jadi teman ku..." Tukas Juna, sedikit bergurau karena pria itu menekan kebawah topi yang aku kenakan hingga pandanganku sedikit tertutup.


Aku lantas membetulkan topi di kepalaku dan menatap kepergiannya yang menembus derasnya hujan tapi masih bisa tersenyum sambil melambaikan tangannya hingga aku dengan refleks membalas lambaian tangannya tapi Gibran menahan tangan ku, ia berdiri di hadapanku dengan tubuh yang sudah basah kuyup dan menatapku tajam, dia membuat senyum yang baru aku temukan kembali menghilang.


"Kenapa loe sejahat ini sama gue, Jasmine?"


***

__ADS_1


__ADS_2