Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Kembali menjadi hangat


__ADS_3

Entah karena gugup atau aku belum terbiasa dengan situasi ini, aku hanya diam di sepanjang perjalanan pulang.


Padahal dulu hanya ada aku dan Gibran tapi tidak pernah terasa sesepi ini, lalu kenapa situasi ini terasa mencekik?


Keheningan ini seolah penanda jika hubungan ku dengan Gibran sudah bergerak menjauh terlalu jauh.


Aku menghela nafas pelan dan melirik ke arahnya yang menatap lurus ke jalan. "Gimana kabar loe selama ini?" tanya ku pelan, sedikit ragu-ragu karena takut Gibran akan menjawabnya dengan ketus.


"Gue gak baik-baik aja..."


Suara Gibran terdengar pelan, nyaris seperti tertahan kesedihan yang dalam hingga aku tidak lagi ingin bertanya.


"Semenjak loe menjauh, gue gak bisa baik-baik aja."


Aku tertegun mendengar jawabannya, mendadak aku ingin menangis. "Loe yang dorong gue menjauh..."


"Ya... Gue salah, maaf."


"Kenapa?"


Gibran tidak lantas menjawab, ia diam beberapa saat membuat perasaan ku menjadi semakin buruk.


Tepat ketika kami tiba di depan rumah ku, Gibran akhirnya menoleh dan menatapku, dia mengunci pergerakan mataku dengan sorot matanya yang dalam.


Dia membuatku kembali menangis karena sorot matanya menunjukkan kesedihan yang dalam serta rasa lelah.


"Kalau gue buat salah harusnya loe ngomong, kalau gue buat loe kesel harusnya loe juga ngomong jangan jauhin gue. Jangan buat gue ngerasa jadi orang asing padahal loe tau di hidup gue selain nenek cuma ada elo."


Air mataku terus menetes tapi dengan cepat aku menyeka. Aku tidak ingin menunjukkan betapa frustasinya aku selama ini karena sikapnya.


"Makasih udah anterin gue pulang..." aku tidak ingin memperkeruh suasana dengan tangisanku ku jadi aku memilih untuk cepat-cepat turun dari mobilnya.


"Jasmine!" Gibran mencekal pergelangan tangan ku dan menahan langkahku. "Katanya kita udah baikan!" ucapnya lagi dengan ekspresi sedih yang bercampur marah.


"Iya..." jawabku dengan suara yang bergetar.


"Terus kenapa loe masih nangis, kenapa loe masih bahas?"


"Karena gue marah banget! Karena gue kesel banget loe buat gue ngerasa kalau gue bukan siapa-siapa di hidup loe padahal... Padahal..."


Gibran tahu aku tidak sanggup lagi melanjutkan ucapanku apalagi aku sudah kembali menangis hingga ia langsung menarik ku ke dalam pelukannya.


Pelukan hangat yang begitu erat hingga aku dapat merasakan penyesalannya sekali lagi.


"Loe berarti... Loe berarti banget buat gue makanya gue bilang gue gak baik-baik aja saat loe ngejauh."


Ucapannya membuatku menemukan kembali harapanku yang sebelumnya hilang darinya.


"Gibran loe jahat banget sama gue..."

__ADS_1


"Iya gue emang jahat... Maafin gue, tolong jangan buat jarak lagi diantara kita."


Aku terus menangis, seperti gadis kecil yang kehilangan boneka kesayangannya, tangisanku seperti rengekan manja.


Perlahan Gibran melepaskan pelukannya, ia tertawa melihatku yang terlihat kesal karena tidak bisa berhenti menangis.


"Jangan di ketawain!"


"Loe gemesin sih!"


"Ih jangan di ketawain!"


"Gak mau sebelum loe ijinin gue masuk. Laper nih, kangen masakan nenek..."


"Masih sempat-sempatnya mikirin makan."


"Beneran laper, loe gak liat gue kurusan gara-gara gak pernah sarapan."


Aku menyeka air mataku dan menatap Gibran bingung. Kulihat tubuhnya memang sedikit lebih kurus bahkan kantung matanya juga terlihat jelas menghitam. Melihatnya seolah melihatku yang sulit tidur setiap malam karena memikirkannya tapi apa dia juga sama?


Apa dia juga memikirkan ku setiap malam?


"Kenapa gak sarapan? Mama gak buatin sarapan?" tanya ku yang tidak mau berharap lebih. Aku tidak mau kecewa lagi.


"Buatin, tapi gue selalu kangen sarapan bareng sama loe." jawab Gibran sambil menyeka cepat air matanya yang menetes.


Perlahan aku memberanikan diri menyentuh tangan Gibran dan menuntunnya bersamaku, "ayo makan bareng."


Senyuman langsung terukir di wajah tampannya itu, wajah yang sudah sangat aku rindukan. Dia kemudian menurunkan tanganku dari pergelangan tangannya, ada perasaan takut jika dia akan melepaskannya tapi Gibran meletakkan jari-jari tangannya di sela jari-jari tanganku dan menggandengku lebih erat lagi.


"Padahal rumah nenek udah di depan mata..." cicitku tertawa pelan sambil melihat tangan kami yang bergandengan.


"Hah, iya juga..." desah Gibran saat kami berada di ambang teras rumah ku tapi kemudian Gibran membawaku berlari menjauh dari rumahku ketempat dimana Gibran memarkirkan mobilnya.


"Kok balik lagi? Gak jadi makan dulu?" tanya ku bingung tapi Gibran menjawabnya dengan gelengan kepala, "biar lama dikit." ucapnya sambil melirik ke arah tangan kami yang masih bertaut.


"Dasar!"


"Kangen tau!"


Gibran berhasil membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya sambil menggandeng tanganku memasuki rumahku.


"Assalamualaikum..." kekompakan kami membuat aku dan Gibran kembali tertawa.


Sudah sejak lama sejak terakhir aku dan Gibran memberi salam secara bersamaan. Dulu sebelum Gibran lulus, setiap pulang sekolah hampir setiap hari kami melakukannya meskipun belakangan ini sudah tidak pernah lagi.


"Waalaikumsalam..." Terdengar suara nenek ku menjawab dari dalam.


"Kenapa baru pulang jam segini, nenek khawatir banget apalagi hp kamu gak bisa di hubungin."

__ADS_1


Nenek ku selalu begitu, dia akan mengoceh sepanjang langkahnya meskipun ia masih belum sampai menggapai pintu dan ketika ia akhirnya membuka pintu, terlihat nenek ku tertegun untuk beberapa saat.


"Nenek..." Gibran memanggil dengan senyuman hangatnya dan seketika membuat nenek ku menangis. Sontak reaksinya membuatku dan Gibran kebingungan.


"Nenek kenapa?" tanya ku khawatir.


"Nenek kira mas Gibran marah jadi gak pernah dateng main lagi kesini. Nenek sampai rindu." jawab nenek ku dengan senyuman yang mengembang ia menyeka air matanya dan menyentuh lengan Gibran, "mas Gibran kok kurusan?" bahkan nenek ku menyadarinya jika Gibran memang kurusan. Gibran sungguh sudah mengambil hati nenek ku.


"Aku gak pernah lagi sarapan jadi porsi makan aku berkurang deh makanya kurusan." jawab Gibran terdengar manja.


"Kenapa gitu?" tanya nenek ku khawatir, Gibran tersenyum melihat ekspresi khawatir nenek ku karena sepertinya ia teringat dengan ekspresi ku sebelumnya.


"Soalnya aku terbiasa makan masakan nenek setiap sarapan."


"Kalau begitu kenapa gak pernah dateng lagi? Kalau marah sama Jasmine masa sama nenek juga marah sih?"


Gibran terlihat tersentuh dengan ucapan nenek ku begitu juga dengan ku.


Sekarang aku benar-benar sadar jika Gibran memiliki posisi penting di keluarga kecil kami.


Nenek ku kemudian mengajak Gibran untuk masuk, ia kemudian dengan sigap menyiapkan piring agar aku dan Gibran bisa segera makan.


"Aku mau mandi dulu." ucapku tapi Gibran tidak mau melepaskan tanganku, nenek ku terlihat tersenyum melihat tingkah kami. "Makan aja dulu." ujarnya setelah meletakkan piring di atas meja makan.


"Iya makan aja dulu." sahut Gibran setuju. Ia kemudian duduk di kursi yang sudah biasa ia tempati lalu aku duduk tepat di sebelahnya sementara nenek ku duduk di hadapan kami.


"Makan yang banyak." ucap Gibran saat aku baru akan menyendok nasi di atas piringnya, itu adalah kode jika ia ingin makan porsi double.


"Iya banyak, di abisin juga gak masalah. Iya kan nek?" ucapku sambil meminta pendapat nenek ku dan meletakkannya piring Gibran yang sudah aku isi dengan nasi porsi jumbo.


"Iya habisin aja, nenek udah makan."


Gibran semakin terlihat lebih bersemangat apalagi menu makan malam ini semur ayam kegemarannya. Memang belakangan ini nenek ku sering memasak masakan kesukaan Gibran. Mungkin bagian dari bentuk kerinduannya pada Gibran.


"Alhamdulillah, akhirnya masakan nenek kali ini berhasil." ucap nenek ku yang tersenyum hangat menatap kami menyantap masakannya.


"Masakan nenek mana pernah gagal."


"Bukan gitu, nenek hampir setiap hari masak masakan kesukaan kamu berharap kamu Dateng main ke rumah dan akhirnya hari ini kamu beneran dateng."


Sekali lagi nenek ku menunjukkan rasa rindunya tanpa ragu-ragu, andaikan aku bisa seberani itu menunjukkan kerinduanku pada Gibran, apa jarak diantara kami sebelumnya tidak akan pernah ada.


"Kalau bisa sih aku mau tiga kali sehari makan masakan nenek." sahut Gibran yang sudah mengambil potongan kedua semur ayam buatan nenek ku.


"Nikah sama Jasmine nanti nenek masakin sehari tiga kali setiap hari." gurau nenek ku yang sontak membuatku dan Gibran tersedak hingga terbatuk-batuk.


"Nenek!"


***

__ADS_1


__ADS_2