Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Kencan


__ADS_3

"Perasaan ku akan selalu sama, jadi ayo kita jangan terluka lagi, Jasmine...."


Aku menatapnya, dia yang menatapku begitu dalam hingga aku tenggelam dalam rasa sakit yang dia rasakan seolah rasa sakit itu adalah milik ku sendiri.


Aku ingin menjadi serakah dan melupakan segalanya, tapi aku tahu kami akan terus bertemu pada penderitaan jika kami masih seperti ini.


"Aku mungkin juga begitu," gumam ku pelan dan senyuman mulai terukir lagi di wajahnya, menyisipkan harapan yang semula hilang.


"Tapi... sejujurnya Juna cukup menggangguku. Dia membuatku ingin berpaling karena dia menjanjikan ku banyak kebahagiaan," sambung ku yang sontak membuat senyuman itu seketika sirna.


"Berapa banyak?" Nada suara Gibran melemah tapi justru menusuk ku. Dia kembali memegangi kedua bahuku, mungkin dia takut aku langsung berpaling saat ini juga.


"Berapa banyak kebahagiaan yang dia janjikan dan berapa banyak luka yang ingin kamu berikan padaku agar kamu puas? Agar aku bisa membayar semua rasa sakit itu, tapi haruskah kamu membicarakan soal berpaling dengan begitu mudah seolah perasaan itu sudah bukan lagi milik ku?"


"Kamu yang paling tahu miliki siapa itu, jadi berhentilah menangis seperti pria cengeng! Seharusnya kamu berjuang atau aku akan benar-benar berpaling," ujar ku sambil menyeka air matanya yang masih mengalir melintas di pipinya yang terasa dingin.


Aku menemukan harapan kembali menerobos masuk dari binar matanya saat aku mengatakan semua hal itu dan dia langsung menyeka wajahnya dengan kasar lalu berdiri tegak.


"Jangan coba-coba! Aku akan memberikanmu segalanya tapi kali ini tidak termasuk sakit hati, jadi aku mohon jangan berpaling," pintanya dengan tegas, dia mengunci pergerakan mataku, menuntut ku untuk segera menjawab pertanyaannya.


"Ya... tergantung bagaimana arah angin nanti."


"Jasmine, please-"


"Udah sampai, yuk...."


Gibran hanya bisa menghela nafas frustasi terlebih saat aku langsung meninggalkannya dan berlari pelan turun dari kapal.


Tanah yang berpasir langsung menyambut kedatangan kami dan beberapa penumpang lainnya. Ada banyak pedagang di sekitaran pulau yang tidak seberapa luas ini tapi memiliki pemandangan menakjubkan, ada banyak pohon tinggi di sini hingga terasa teduh apalagi angin yang berhembus cukup kencang karena langit masih mendung dan gerimis masih belum berhenti.


Suasana menyegarkan dengan sedikit gerimis ini memberikanku banyak ruang untuk bisa bernafas lebih lega lagi hingga kaki ku melangkah dengan ringan menyusuri bibir pantai tanpa ragu ombaknya membuat kaki ku basah.


Gibran kemudian berhenti tepat di hadapanku, dia berjongkok lalu menyentuh kakiku, tindakannya membuatku terkejut sekaligus gugup.


Tapi sentuhannya begitu lembut hingga aku membiarkannya membuka sepatuku dan setelah itu dia membawa sepatuku dan kembali melangkah bersamaku.


Sikapnya sangat manis terlebih ketika dia dengan hati-hati menyentuh ujung kelingking ku dan menautkannya dengan ujung kelingkingnya hingga aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang malu-malu.


Kemana perginya pria penggoda yang mencuri ciuman ku di pagi tadi?


Mereka terlihat seperti orang yang berbeda walaupun wajah tampannya masih sama kecuali kedua matanya yang sembab.


"Kamu tahu, Juna pernah ajak aku liburan sekali." cerita ku yang entah kenapa aku malah membahas itu dan sekarang aku menyesal, tapi ekspresi terkejutnya justru membuatku ingin terus mengganggunya.


"Ya?"


Dia harus tahu bagaimana rasanya cemburu kan?

__ADS_1


"Ke sebuah pulau pribadi milik keluarganya dan di sana pemandangannya keren banget," imbuhku lagi dan akhirnya dia menghentikan langkahnya.


"Hey, sejak kapan kamu jadi matre, Jasmine? Dan stop bahas dia, kita lagi kencan, kan?!"


Lihatlah bagaimana dia frustasi sekarang, tapi itu lebih baik daripada dia menangis seperti di kapal tadi.


"Ish, semua wanita kan suka hal-hal yang menakjubkan, dan aku kan cuma cerita, kalau kamu gak terima ya jangan di dengerin lagian kita itu tujuannya mau beli baju Rora bukannya kencan ya!"


"Emang yang ngajakin aku ke pulau siapa?"


"Aku...."


"Ya udah, berarti kita lagi kencan sekarang!"


"Eh, mana bisa gitu?"


"Bisa!"


"Oh, jadi liburan aku waktu itu bareng kak Juna berarti kencan juga dong?"


"Oh Tuhan, kamu mau aku belikan Pulau juga?"


Oh, astaga... Gibran sungguh tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya. Aku mengigit bibir bawahku agar tidak menertawakannya sebisa mungkin.


"Seolah kamu sekaya dirinya," sindir ku pelan.


"Itulah, kembali pada kenyataan jika calon suamimu ini tidak sekaya itu."


"Calon suami?" sekali lagi aku bertanya karena mungkin aku salah dengar.


"Iya, aku calon suami kamu kan?!"


"Hahah, kamu mantan suami ku, Gibran."


"Itu sampai tadi sebelum kamu memintaku untuk meninggalkan luka itu, artinya aku harus meninggalkan gelar itu juga kan? Kamu sendiri yang minta aku buat berjuang!"


"Oh ya?"


Gibran semakin kesal menghadapi ku, itu jauh lebih baik karena dia tidak cocok menjadi pria sendu.


"Oh ayolah, kamu gak bener-bener mau terima Juna karena dia lebih kaya kan?" teriak Gibran ketika aku mulai melangkah meninggalkannya di belakangku


"Ya enggak lah, kak Juna itu baik meskipun misalnya dia gak lebih kaya juga aku tetep sayang sama dia."


"Eh, siapa yang ijinin kamu sayang sama orang lain?" Gibran protes lagi.


"Siapa yang berhak melarang, heuh?" sahutku seraya menoleh.

__ADS_1


"Aku!" teriaknya dengan tegas sambil berlari pelan menghampiriku.


"Oh..." seru ku pelan dan melangkah meninggalkannya lagi.


"Oh?!" Gibran menghela nafas kesal setelah itu.


"Jangan sayang sama dia please, Jasmine...." pinta Gibran sambil mencekal pergelangan tanganku, nada suaranya terdengar seperti sebuah permohonan sekarang.


"Gimana ya, aku udah terlanjur sayang dari lama."


"Terus aku gimana?"


"Emangnya sayang sama cinta itu sama?"


"Ya?"


"Sama gak?"


Sejenak Gibran berpikir sebelum menjawab sambil melangkah lebih dekat hingga jarak diantara kami nyaris menghilang.


"Gak..." gumam Gibran pelan, "Jadi kamu cinta sama aku?"


"Tau deh!" Aku mengangkat bahuku, menarik pergelangan tanganku dengan begitu mudah dan melangkahkan menjauh dari bibi pantai.


"Oh, Tuhan!"


Aku dapat mendengar suara frustasi itu cukup jelas yakin sebelum dia kembali menyusul langkahku lalu berjongkok tepat di hadapanku.


"Jadi gimana jalan-jalan ke pulau sama dia waktu itu?" tanya Gibran sambil menyeka kaki ku yang basah dengan sapu tangannya lalu memakaikan kembali sepatuku.


Sekali lagi sikapnya membuat hatiku tersentuh.


"Seru...." wajah Gibran menggelap lagi. Tidak ingin dia menangis lagi, aku lantas kembali berkata, "Tapi sebenernya, saat itu aku lagi gak bisa bahagia gara-gara kamu."


Gibran mendongakkan wajahnya, dia masih berjongkok di hadapanku tapi raut wajahnya dihiasi senyuman tipis sekarang.


"Kalau disini sama aku, gimana rasanya?"


Aku membalas senyumannya, mengulurkan tanganku dan membantunya berdiri tapi Gibran menjadikan kesempatan itu untuk mencuri ciumanku, dia mengecupnya singkat namun berhasil membuat tubuhku seketika membeku.


"Gimana rasanya?"


"Hah? Ya?"


Saraf otak ku rasanya melemah, aku tidak bisa menenangkan jantungku yang berdebar-debar kencang sekarang karena ulah Gibran.


"... Nanti kalau kamu kembali, aku akan kasih tau." ucapku sambil memutar tubuhku dan berjalan menjauh darinya.

__ADS_1


"Astaga, Melati!"


...****************...


__ADS_2