
...Flashback on...
......................
...Ruby POV...
.......
Gibran tidak mengatakan apapun, dia pergi begitu saja. Aku berpikir itu adalah akhir dari kedekatan kami, tapi keesokan harinya Gibran menghubungi ku, dia meminta alamat rumah ku.
Dia bertemu dengan ayah ku dan berbicara cukup serius, tentunya aku tidak mau terlihat seperti wanita jahat di mata Gibran jadi dengan terpaksa aku harus memasang ekspresi sedih saat ayahku mulai menangis ketika mengungkapkan kerinduannya pada Jasmine ke Gibran.
Aku ingin tahu, apakah ayahku akan menangisi ku sebanyak itu jika aku yang menghilang dari hidupnya.
Aku ingin tahu apakah ayahku juga akan tersiksa jika tidak berada di dekatku.
Ada banyak hal yang ingin aku ketahui termasuk kenapa Jasmine mendapatkan cinta semua orang sementara aku selalu tersisihkan.
...
"Halo, hari ini jadi kan ajak papa loe temu Jasmine?" Suara Gibran terdengar begitu bersemangat di ujung telepon sana.
Sedikitpun aku tidak ingin ayahku bertemu lagi dengan Jasmine dan memperbaiki hubungan mereka.
"Sorry bgt kak, kayaknya gak bisa malem ini deh soalnya papa belum pulang," jawabku berbohong padahal ayahku sekarang sedang bersantai menonton televisi bersama dengan ibuku.
"Oh ya udah..." Suara Gibran terdengar kecewa. Sungguh kesal, karena Gibran terus menunjukkan kepeduliannya yang berlebihan pada Jasmine.
"Kakak lagi dimana sekarang?"
"Gue lagi di rumah Jasmine."
Aku tidak lagi mengatakan apapun, dan langsung mematikan sambungan telepon kami sebelum kemarahan ku semakin menjadi.
Seperti tidak ada tempat, Gibran menutup rapat-rapat hatinya hanya untuk Jasmine.
Susah payah aku mencari celah untuk dekat dengannya tapi Jasmine selalu menjadi pemenangnya.
__ADS_1
Aku benci itu tapi aku jadi semakin ingin menghancurkan Jasmine.
Segala cara aku lakukan termasuk mendaftar di universitas tempat Gibran kuliah. Aku membuatnya serba kebetulan hingga Gibran tidak mencurigai ku.
Dan kemarahan Gibran saat di bandara waktu itu mengubah sikapnya padaku menjadi sedikit lebih lembut hingga dia bahkan setuju untuk bicara lebih lembut padaku meskipun Jasmine masih menjadi alasan dasarnya.
Tapi setidaknya rasa sakit hatiku terbayarkan ketika Gibran dan Jasmine mulai bertengkar.
Berpikir semuanya akhirnya akan berbalik ke arahku, tapi ternyata aku tidak akan pernah mendapatkan posisi itu.
Aku menemukan Jasmine dan Gibran berada di ruang kelas yang sepi, dari kejauhan Gibran bahkan terlihat seperti sedang membujuk Jasmine.
Aku berusaha, aku terus berusaha, tapi usaha itu terasa sia-sia setiap kali aku melihat mereka berbagi senyuman.
Jasmine mulai menunjukkan ketidaksukaannya atas keberadaan ku diantara mereka, aku berhasil mengusiknya tapi aku masih tidak berhasil mencuri Gibran.
Pria itu begitu teguh jika aku tidak bersikap agresif padanya maka Gibran dan Jasmine tidak akan bertengkar seperti saat ini, melihat ia dan Jasmine bertengkar di tengah jalan, sungguhlah menyenangkan.
Pertengkaran mereka seperti buah manis bagiku karena saat Gibran dan Jasmine tidak saling bicara, disitulah aku masuk dan memperbesar jarak diantara mereka.
Aku mulai berpikir berhasil tapi Gibran datang menjemput ku sepulang sekolah setiap hari hanya agar Jasmine juga pulang bersama kami tapi selepas dari itu Gibran tidak pernah menghubungiku, dia bahkan mengabaikan panggilan telepon dariku meskipun aku sudah membawa nama ayahku dan mengiming-imingi Gibran dengan pertemuan ayahku dan Jasmine tapi Gibran tetap keras.
"Kamu naik taksi aja, maaf aku gak bisa nganter sampe rumah."
Dengan perasaan marah serta malu aku keluar dari dalam mobil Gibran dan pria itu langsung melajukan mobilnya begitu kencang kembali ke arah sekolah yang sepertinya sudah dapat aku pastikan jika Jasmine adalah tujuannya.
...
Aku berpikir sampai di sana saja rasa sakit hatiku tapi malam aku bertemu dengan Gibran dan Jasmine di pusat perbelanjaan dan mereka sudah berbaikan bahkan Gibran meminta ciuman dari Jasmine hingga membuatku syok.
"Kalian pacaran sekarang?" Aku bertanya ketika Gibran baru akan menghampiri ku.
"Kamu kok malem-malem ada disini?" tanya Gibran yang dengan sengaja mengabaikan pertanyaan ku begitu dingin.
"Aku lagi temenin papa beli sesuatu. Kalian kok malam-malam ada disini?"
"Gue lagi cari bahan buat kue, kebetulan Gibran nemenin." Jasmine menyambar, dia menginterupsi percakapan ku dengan Gibran begitu mudah.
__ADS_1
"Oh begitu..."
"Papa loe mana?" tanya Jasmine, aku langsung merasa takut jika mereka mungkin akan bertemu dan Jasmine akan membawa pergi ayahku dan memilikinya untuk dirinya sendiri.
"Ada tuh di bagian perkakas." jawabku dengan malas tanpa tersenyum.
"Aku ganggu kalian ya?"
"Ya gak lah." Gibran mengatakan hal yang berbanding terbalik dengan tindakannya dan dia berubah menjadi lembut saat Jasmine memperingatkannya jika sikapnya keterlaluan.
"Ya maksud aku ini kan tempat umum, lagian aku sama Jasmine gak ngapa-ngapain kok."
"Terus kenapa minta cium?"
"Itu cuma lagi bercanda aja."
"Oh..."
"Ya udah kalau kamu lagi temenin papa kamu, silahkan... Nanti papa kamu nyariin."
Gibran dan Jasmine pergi begitu saja, mereka tidak mengajakku ikut bersama dengan mereka, itu membuatku kecewa sekaligus marah.
Aku tidak ingin dibuang begitu saja oleh mereka jadi aku sengaja menunggu di tempat parkir dan menjadikan kesempatan itu untuk menunggu mereka dan ketika mereka mengijinkan ku untuk menumpang barulah aku segera masuk di kursi yang paling depan sebelum Jasmine mendudukinya.
Gibran sudah menyalakan mesin mobilnya ketika Jasmine tiba-tiba saja turun dan sikap Gibran langsung berubah.
"Kamu sengaja ya? Aku udah bilang kondisi Jasmine lagi gak stabil tapi kamu malah nyamperin kita, kalau Jasmine sampai ketemu sama papa kamu, dia pasti syok!"
"Ya aku mana tau kalau kalian ada disini."
"Ya terus kenapa kamu masih samperin kita?"
"Ya karena papa lama, kaki aku sakit jalan terus ngikutin papa. Kalau emang kakak gak ijinin aku numpang harusnya kakak tolak aja, jangan buat aku ngerasa jadi kayak orang jahat karena rasanya semua hal yang aku lakuin itu buat nyakitin Jasmine!"
Aku emosional, tidak sepenuhnya ucapanku adalah kebohongan karena sebagian memang itulah yang aku rasakan hingga Gibran akhirnya terdiam.
Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya sekarang karena dia terlihat sangat kacau, tali kemudian dia menatapku.
__ADS_1
"Maaf Ruby." ucapnya singkat sebelum turun dari dalam mobil meninggalkan ku sendirian.
***