
"Shhtt~ Nanti anak kita bangun, sayang."
Seperti tergelitik, aku merasakan jutaan kupu-kupu mengepakkan sayapnya di perutku.
Gibran dan sentuhannya serta caranya menyebut Aurora sebagai anak kami membuat hatiku tersentuh.
Sambil tersenyum hangat, dengan handuk yang masih menggantung di atas kepalanya, dia perlahan menurunkan jarinya dari permukaan bibirku.
"Sekarang udah kangen belum?" tanya Gibran.
Aku melebarkan kedua mataku, bagaimana bisa dia menanyakan hal itu padaku padahal dia ada di depan mataku sekarang.
Begitu dekat, nyaris tidak berjarak, hanya kusen jendela sebagai pemisah kami, itupun Gibran sudah mencondongkan tubuhnya nyaris melewati kusen jendela.
"Aku nungguin loh, Melati...." ucapnya mengingatkanku yang terpana oleh senyumannya.
Sambil berdehem aku meredam kegugupanku dan mendorong tubuhnya dengan jari telunjukku seolah aku enggan menyentuhnya agar dia tidak terlalu dekat denganku karena sudah pasti dia akan selalu menemukan jutaan cara untuk mengambil keuntungan dariku dengan jarak yang sedekat ini seperti halnya tadi saat dia mencuri kecupan di pipiku.
Oh, Tuhan... Bahkan pipiku kembali terasa panas saat mengingatnya lagi.
"Ya gak lah! Ngapain juga aku kangen sama kamu, tadi kan kita seharian tidur bareng."
"Iya cuma tidur bareng, nyesel aku sekarang...." sahut Gibran yang sontak sekali lagi aku terkejut bukan main.
Gibran yang pendiam sepertinya lebih mudah ditangani daripada Gibran yang terang-terangan mengungkapkan perasaannya seperti sekarang.
"Nyesel kenapa?" tanyaku berpura-pura tidak mengerti, tapi Gibran mulai menyeringai dan selanjutnya dengan mudah ia menarik pita gaun tidur ku hingga tubuhku tertarik mendekat.
Sambil menggulung pita itu di sela jari-jemarinya, Gibran berkata, "Karena aku gak bisa menghangatkan kamu dengan maksimal," bisiknya pelan. "Mau coba sekarang?"
Aku merinding!
Aku bisa merasakan otot-otot tubuhku menegang, jantungku memompa darah ke seluruh tubuhku dengan cepat hingga rasanya panas menjalar kesetiaan saraf di tubuhku tapi sialnya otak ku tidak bekerja secepat itu, justru aku hanya mematung padahal sinyal bahaya sudah berbunyi kencang karena ulah Gibran.
"Kenapa?" Gibran terus berbisik di telingaku, hingga aku harus menggeliat karena deru nafasnya memberikan sensasi panas di tubuhku.
"Kenapa apanya, Gibran? Jangan ngelantur deh!" Sisa kewarasan ku mendorongku untuk bicara, tapi aku sangat sadar kalau aku masih dikuasai oleh rasa gugup begitu kuat.
"Kenapa kamu gak pernah pakai gaun ini saat dulu kita masih jadi suami istri?"
__ADS_1
Perlahan sorot mataku bergerak turun ke arah gaun ku, sungguh sial aku tidak menyadarinya sejak awal karena penampilanku sekarang sangatlah menggoda.
Aku lupa jika aku sedang memakai gaun tidur berwana ungu dengan belahan dada yang rendah dan tali tipis hingga bahuku terekspos dengan sempurna lengkap dengan leher jenjang ku dan jejak kissmark yang Gibran tinggalkan siang tadi karena sekarang rambutku tidak sedang digerai belum lagi gaun ini cukup pendek hingga pangkal pahaku mengintip dengan mulus.
"Jawab aku...." Gibran mulai menuntut dan sorot matanya semakin liar mengikuti setiap garis tubuh ku.
"Ya suka-suka aku lah," sahutku gugup. Aku lantas melepaskan pita gaun ku dari jeratan jari-jarinya dan bergegas menuju lemari pakaianku.
"Mau kemana, sayang?" Sekali lagi Gibran menahan ku dengan cara mencekal pergelangan tanganku.
"Mau ambil cardigan."
"Buat apa?"
"Ya buat aku lah, Gibran."
"Gak boleh!"
"Eh rugi dong aku!"
Aku lantas menarik tanganku cukup kuat hingga aku berhasil melepaskan pergelangan tanganku dari genggaman tangannya yang terasa dingin lalu mengambil cardigan di lemari pakaianku dan langsung memakainya barulah setelah itu aku kembali menghampiri Gibran.
"Ya?"
"Aku bilang kamu manis...." jelas Gibran sambil tersenyum lembut, ia mengecup ujung rambutku.
"Makin malem kamu makin ngelantur ya, pulang gih sana. Besok kalau kesiangan bisa ketinggalan pesawat loh."
Aku membiarkannya bermain-main dengan rambutku meskipun aku secara halus mengusirnya, namun Gibran tetap pada posisinya, menopang tubuhnya di tepi jendela sambil memainkan ujung rambutku dan menatapku dengan sorot mata yang dalam.
Ada kilatan hasrat yang tersirat dari sorot matanya, tapi lebih banyak kasih sayang yang terpancar dari sana.
"Sejujurnya aku benci situasi ini." Ungkap Gibran setelah melepaskan rambutku dan berdiri tegak, bersandar pada jendela yang terbuka dan membelakangi ku.
Sisa air hujan masih menetes di baju hujannya yang basah, aku berpikir dia kedinginan hingga aku mengambil handuk di atas kepalanya dan mulai menggosok rambutnya agar segera kering, tapi Gibran malah menarik tanganku. Dia mendongakkan kepalanya membuatku cukup jelas melihat ekspresi wajahnya yang saat ini berada tepat di bawah wajahku.
Deg!
Jantungku rasanya seperti baru saja berhenti berdetak ketika kedua mata kami bertemu dalam kegelisahan.
__ADS_1
Hujan yang semula mulai reda perlahan turun lagi, lebih deras dari sebelumnya, menghembuskan angin yang terasa dingin menyengat kulit.
Senyuman lembut Gibran membawa kehangatan kedalam hatiku hingga dinginnya udara tidak lagi bisa mengusik ku.
"Aku benci situasi ini." Sekali lagi Gibran mengulangi ucapannya.
"Kenapa?" tanyaku tanpa menarik tubuhku menjauh, aku membiarkan jarak yang begitu dekat ini mengikat kami dengan intens.
"Karena kamu sudah bukan lagi istriku."
Aku terdiam, entah kenapa jawabannya terdengar emosional walaupun nada suaranya rendah, nyaris terdengar seperti bisikan pelan.
"Karena kamu menginginkan tubuhku?"
Senyuman tipis itu terukir lagi, "Lebih dari itu," jawabnya menggantung.
"Aku menginginkanmu. Sepenuhnya menjadi milik mu lagi, Jasmine. Aku benci fakta karena kita tidak pernah bisa sedekat ini saat dulu masih menikah."
"Mungkin ini memang prosesnya, Gibran." Perlahan aku memberanikan diri menyentuh wajahnya. Gibran kemudian berbalik, ia masih memegangi satu tanganku dan sesekali membelainya dengan ibu jarinya, terasa menggelitik dan juga nyaman.
"Jangan disesali lagi...." Pintaku dengan lembut.
"Bagaimana caranya? Ajarkan aku, Jasmine... Aku gak setangguh itu untuk mengikhlaskan segalanya."
Aku juga tidak pernah bisa benar-benar tangguh, Gibran....
"Lanjutkan hidupmu, dengan atau tanpa aku, hidupmu harus tetap berjalan."
"Ya, ujar mantan istriku yang saat ini mulai menangis." Sindir Gibran sambil menyeka air mataku yang menetes.
"Jujurlah padaku, Jasmine... Kalau kamu tidak bisa hidup tanpa ku, karena aku begitu. Aku merasa sekarat tanpamu...." Gibran mulai menangis, ia menundukkan wajahnya dan menyembunyikan air matanya lalu kembali menatapku dengan air mata yang tergenang di pelupuk matanya sementara pipinya sudah basah.
"Jasmine, tolong cegah aku untuk pergi. Aku mulai putus asa karena perpisahan ini, sedetikpun aku gak bisa menahan rasa sakitnya. Aku gak setegar itu, Jasmine... Aku gak setegar itu."
Aku ingin mengatakan padanya jika aku hanya sedang berpura-pura tegar sekarang, jika aku mulai merindukannya bahkan sebelum kepergiannya, jika aku mencintainya.
Masih sama besarnya, aku masih merasakannya, cinta itu memenuhi hatiku, tapi cinta itu juga termakan oleh keegoisanku.
***
__ADS_1