Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Lupa bahagia


__ADS_3

Ruby terus menemaniku selama di sekolah, tidak jarang ia juga mengusap-usap punggung ku sebagai bentuk dukungannya.


"Kamu udah sarapan?" tanya Ruby dengan perhatian tapi aku terlalu lelah untuk menanggapinya.


"Aku bawa bekel yang di buatin papa ku, kamu gak?"


Entah maksudnya baik atau dia sedang mengolok-olok ku, aku tidak bisa berpikir jernih. Sejujurnya aku juga takut melukai Ruby. Dia sahabatku satu-satunya selain Gibran, jika saja aku tidak cemburu padanya mungkin aku tidak akan selalu merasa marah bila dia berada di sekitar ku dan Gibran.


Aku masih tidak menjawab tapi Ruby tetap mengeluarkan bekalnya, dua potong roti isi selai coklat bercampur strawberry. Melihat roti itu kembali mengingatkan ku pada ayahku karena dulu ia sering membuatkannya untuk ku tiap kali berkunjung.


"Satu buat kamu, satu buat aku. Makan ya, jangan sampai sakit, Jasmine." ucap Ruby sambil meletakkan sepotong roti itu di tanganku.


Kulihat Ruby makan lebih dulu lalu ia tersenyum, sorot matanya seolah mengatakan jika roti itu lezat. Perlahan aku mulai mencicipi roti pemberiannya. Rasanya sama seolah di buat oleh orang yang sama yang membuatku ingin menangis ketika memakannya padahal siapapun bisa membuat roti isi selai coklat strawberry tapi hatiku yang rapuh ingin menggiring ku pada luka itu, pada kerinduan itu.


Ruby tidak memaksaku, dia tidak memintaku berhenti menangis selagi makan, ia justru menyeka air mataku sesekali.


"Kamu marah banget ya sama papa?" tanya Ruby pelan, aku menganggukkan kepalaku dan terus menangis sambil memakan roti itu. Ruby kemudian memeluk ku, ia memeluk ku yang hanya bisa terus menangis.


...


Waktu pulang akhirnya tiba, Gibran datang menjemput ku dan juga Ruby. Sambil menggandeng tanganku, Ruby menuntunku menghampiri Gibran.


"Ayo masuk, badan kamu panas banget kayaknya kamu demam." ucap Ruby sambil membukakan pintu untuk ku di kursi belakang kemudi.


"Loe sakit lagi?" Gibran langsung menyentuh kening ku dan memastikan suhu tubuhku. "Kita ke dokter ya?" bujuk Gibran khawatir setelah memastikan suhu tubuhku yang cukup tinggi.


"Gue gak sakit, mungkin gue terlalu banyak nangis." jawab ku pelan, aku terang-terangan menghindari tatapan mata Gibran.


"Ya udah kita cepet pulang aja ya." ajak Ruby.


Aku kemudian memasuki mobil Gibran dan tanpa terduga Ruby juga duduk di kursi belakang menemaniku.


"Sini berbaring..." ucap Ruby sambil menepuk-nepuk pangkuannya.


Kepalaku yang memang sudah pusing sejak tadi membuatku menurut, aku berbaring di pangkuan Ruby dan gadis itu dengan setia mengusap-usap kepala ku.


"Jasmine..." panggil Ruby.

__ADS_1


"Hmm..." aku menjawab dengan gumaman pelan, kedua mataku sudah tertutup, rasa lelah ini tidak bisa aku hindari dan usapan tangan Ruby membuatku merasa nyaman.


"Tidur aja, nanti kalau udah sampai aku bangunin."


"Ya..."


...


Aku merasakan seseorang mengangkat tubuhku dan perlahan membuatku terbangun, pemandangan yang samar-samar menyapa mataku membuatku sedikit terkejut karena Gibran menggendongku di tangannya ala bridal style sementara Ruby melangkah di sebelahnya dengan membawa tas ku.


"Gue bisa jalan sendiri, Gibran." ucapku pelan, suaraku sudah mulai serak.


"Loe udah bangun? Maaf gue harusnya lebih pelan lagi gendong loe."


Perhatian yang Gibran tunjukkan serta kehangatan yang ia berikan padaku membuatku ingin terus begini, bersandar di bahunya dan berpegangan erat, tapi Gibran hanya mengantarku sampai kamar ku setelah itu ia berpamitan pulang ingin mengantar Ruby.


Aku ingin mencegahnya, aku ingin bertanya apa ia akan kembali kesini dan menemaniku tapi melihat perhatian yang Ruby tunjukkan pada Gibran dengan memberikannya segelas air membuatku menahan diriku.


Gibran tersenyum, tapi senyuman itu tidak ditunjukkan untukku tapi untuk Ruby. Mereka berbagi senyuman di hadapanku, terlihat hangat dan bahagia.


***


Setelah hari itu, aku masih bersikap dingin pada nenek ku. Kemarahan ku masih belum reda, aku tidak ingin mengungkapkannya jadi aku mulai diam. Perlahan aku mulai berubah menjadi pendiam, tidak hanya ketika bersama nenek ku tapi juga ketika bersama dengan yang lainnya termasuk Gibran dan Ruby.


Hari ini mereka mengajak ku liburan ke taman bermain, katanya mereka ingin menghibur ku tapi yang aku rasakan tidak seperti itu karena rasanya aku hanya sedang menemani mereka berdua yang sedang kencan.


Sekarang Gibran dan Ruby sedang naik wahana rollercoaster, aku tidak ikut naik bersama mereka dengan alasan aku takut padahal aku hanya tidak ingin duduk bersama dengan orang asing karena mereka berdua sudah lebih dulu duduk berduaan.


Sakit hatiku bertambah setiap detiknya melihat kedekatan mereka hingga aku memilih untuk pulang sendirian tanpa menunggu mereka.


Sekarang aku sedang berada di dalam bus, menutup telingaku dengan earphone tapi aku tidak mendengarkan lagu apapun. Tidak ada lagu gembira yang membuatku senang dan lagu sedih hanya akan membuatku semakin terpuruk.


Bus berhenti di halte dan aku langsung turun, perpustakaan adalah tujuan ku. Berharap membaca akan membuatku melupakan kesedihanku.


Aku mengambil buku bertemakan sastra, buku besar dan tebal bukan buku novel yang dipenuhi kisah cinta manis seperti yang aku baca selama ini. Membaca semua itu hanya akan membuatku sadar betapa menyedihkannya kehidupan ku selama ini.


Sedikit kesulitan untuk menggapainya, seseorang tiba-tiba saja membantuku.

__ADS_1


"Terima kasih..." ucapku pelan tanpa tersenyum, pria yang terlihat lima tahun lebih tua dariku itu lantas tersenyum.


"Suka dunia literasi?" tanya pria itu dengan ramah tapi aku mengabaikannya tapi siapa sangka ternyata pria itu duduk di sebelah kursi ku. Rasanya sedikit canggung karena aku mengabaikannya sebelumnya apalagi ia tersenyum kikuk ketika mata kami tidak sengaja bertemu.


Aku membaca hingga lupa waktu, tenggelam dalam tulisan-tulisan panjang dan rumit itu hingga aku membacanya sampai selesai barulah aku sadar kondisi perpustakaan sudah sangat sepi dan hanya ada pria yang sejak tadi duduk di sebelahku yang ada di sekitarku, aku tidak menyadarinya tapi sudah banyak tumpukan buku di atas mejanya.


"Udah selesai bacanya?" tanya pria itu berbisik seolah ia memang menunggu ku selesai membaca.


"Anda mau baca buku ini?" tanya ku sambil menggeser buku yang sebelumnya ku baca ke hadapannya tapi pria itu mendorongnya kembali kepadaku.


"Gak, tapi kayaknya perpustakaan udah mau tutup, cuma kita berdua yang masih disini, kamu gak mau pulang?"


Aku mengedarkan pandanganku, kondisi perpustakaan memang tidak selalu ramai tapi disini memang hanya tersisa kami dan seorang wanita tua penjaga perpustakaan.


Akhirnya aku memilih pulang tapi melihat pria itu masih mengembalikan buku-buku yang ia baca ke tempatnya semula sementara penjaga perpustakaan sudah terlihat tidak sabar ingin menutup tempat ini membuatku merasa harus membantu pria itu.


Aku mengambil sebagian buku di tangannya dan mulai meletakkannya pada tempatnya semula, ada beberapa buku yang sudah pernah aku baca jadi aku menemukan tempatnya dengan mudah barulah setelah itu kami keluar dari dalam gedung perpustakaan bersama-sama.


"Makasih udah bantuin aku susun buku, kenalin aku Juna." ucap pria itu seraya mengulurkan tangannya padaku ketika kami masih berdiri di depan gedung perpustakaan.


Aku merasa ragu menerima perkenalan darinya tapi senyumnya yang hangat membuatku perlahan-lahan menyentuh tangan itu dan menjabat tangannya.


"Jasmine!" Aku tersentak saat Gibran menyentuh pergelangan tanganku yang saat ini menjabat tangan Juna. Wajahnya terlihat khawatir dan juga lelah sementara Ruby berada di belakangnya.


Gibran tidak mengatakan apapun lagi setelah itu dan hanya menarik ku pergi begitu saja meninggalkan Juna, Gibran terlihat sangat marah hingga aku kesulitan menyamakan langkahnya sementara ia mencengkram erat pergelangan tanganku hingga terasa nyeri.


"Loe gak bisa bawa dia pergi begitu aja tanpa persetujuan!" Aku terkejut sekali lagi ketika Juna mencekal lengan ku dan membuat langkah kaki kami terhenti.


"Loe gak usah ikut campur urusan gue sama Jasmine!" ucap Gibran memperingatkan, sorot matanya menyala terbakar amarah apalagi ketika ia melihat tangan Juna menggenggam lenganku tapi Juna masih tidak menjauh, ia malah melepaskan tangan Gibran dari pergelangan tangan ku.


Juna melihat pergelangan tanganku yang memerah lalu ia menarik ku ke sisinya. "Urusan apa yang buat loe sampai bersikap kasar sama Jasmine?"


"Loe orang asing gak usah ikut campur!"


"Gue bukan orang asing, iya kan Jasmine?"


***

__ADS_1


__ADS_2