Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Orang ketiga


__ADS_3

Gibran bergerak semakin mendekat, ia membuatku dalam kesulitan besar tapi tubuhku rasanya membeku. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali membiarkannya terus mendekat. Sepertinya sorot matanya berhasil menghipnotis ku. Dia membuatku gugup dengan sangat mudah.


"Tok... Tok..." Suara ketukan pada kaca jendela mobil membuat aku dan Gibran seketika terkejut.


Gibran yang panik langsung membuka sabuk pengaman ku, mungkin itu tujuan awal dia mendekat tapi karena kedua mata kami terjebak dalam tatapan dalam yang membawa ingatan tentang ciuman semalam membuat atmosfer diantara kami lalu berubah menjadi tegang.


Aku dan Gibran kemudian turun dari dalam mobil secara bersamaan dan Ruby langsung menyambut kami dengan ekspresi dingin seolah menahan marah.


"Kalian mau apa tadi deket-deket begitu? Lupa ini di sekolah?" tidak seperti biasanya, nada suara Ruby yang selalu lembut kini terdengar ketus.


"Aku cuma bantu Jasmine buka sabuk pengaman." jawab Gibran yang masih terlihat tegang.


Aku tidak mengerti kenapa Gibran harus terlihat tegang karena adanya Ruby. Dia membuatku kembali merasakan perasaan tidak nyaman itu.


"Emangnya Jasmine gak bisa buka sabuk pengamannya sendiri. Dia kan bukan anak kecil kak!" Ruby masih tetap terdengar marah.


Mereka sungguh membuatku merasa seakan aku adalah orang ketiga dalam hubungan mereka. Aku benci situasi ini.


"Gibran udah biasa begitu, dia udah sering buka pengait helm gue pas dulu kita masih naik motor jadi jangan di besar-besarin!" kini Giliran ku yang bicara dengan nada dingin yang sudah tidak bisa lagi aku sembunyikan. Aku tidak suka cara Ruby memanipulasi Gibran. Dia bertingkah seolah Gibran adalah kekasihnya.


Dan hatiku sakit setiap kali merasakan getaran yang berbeda diantara mereka.


"Ya makanya kamu jangan manja dong!"


Tentunya aku terkejut mendengar tanggapan Ruby. Apa yang salah jika aku bersikap manja pada Gibran di saat ia juga melakukan hal yang sama pada Gibran padahal aku yang mengenalkan Gibran padanya.


"Kamu kenapa sih?" Gibran akhirnya bicara, diam-diam aku tersenyum karena dia tidak membiarkan Ruby menekan ku.


"Maaf kak... Aku cuma gak mau anak-anak di sekolah salah paham. Ini kan depan sekolah dan kalian tadi itu kayak orang yang hampir ciuman. Aku cuma gak mau ada rumor buruk tentang kalian yang bisa mempengaruhi reputasi Jasmine, gimanapun juga dia lagi ikut program beasiswa, selain nilainya, kelakuannya juga harus bagus."


Ini hanya perasaanku saja atau Ruby memang pandai bicara apalagi nada suaranya langsung berubah menjadi manja dan membuatku semakin muak.

__ADS_1


Rasanya seperti dia menjadikanku alasan agar Gibran menjaga jarak denganku.


"Kami gak segila itulah..." Gumam Gibran kesal.


"Ngomong-ngomong kak, kok kamu masih pakai baju yang semalam?" tanya Ruby yang langsung membuat Gibran kembali gugup padahal sebelumnya ia terlihat kesal dengan Ruby.


"Aku nginep..."


"Dimana?"


"Di rumah gue!"


Aku sudah tidak perduli dengan hubungan mereka, aku hanya ingin segera keluar dari situasi ini. Situasi yang selalu membuat dadaku sesak melihat kedekatan mereka.


"Kok bisa? Rumah kak Gibran bukannya Deket sama rumah kamu?"


Aku hanya mengangkat bahu ku, berpura-pura tidak tahu dan melemparkan masalah itu pada Gibran. Dia sendiri kan yang bilang padaku untuk melupakan kejadian semalam dan membiarkan semuanya menjadi rahasia diantara kami?


"Jasmine sakit semalam jadi aku temenin." akhirnya Gibran menjawab walaupun jawabannya tidak terlihat memuaskan Ruby hingga ekspresi wajahnya kembali terlihat marah.


"Gibran udah biasa nginep di rumah gue. Jangan lupa kita deket dari kecil!" sahutku yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Ruby dan aku langsung memasuki gerbang sekolah tanpa berpamitan pada Gibran ataupun menunggu Ruby agar kami bisa berangkat memasuki kelas bersama.


Aku hanya merasa muak dengan tingkah mereka sekarang!


***


Bel tanda jam pelajaran telah di mulai terdengar berdering menggema di seluruh sekolah, tidak lama setelah itu Ruby datang memasuki kelas. Entah apa yang ia dan Gibran bicarakan ketika aku pergi meninggalkan mereka, aku hanya tidak ingin berada di dekat Ruby sekarang tapi gadis itu duduk tepat di sebelahku hingga aku tidak bisa menghindarinya.


"Sorry, Jasmine. Sikap aku udah berlebihan ke kamu tadi." tanpa terduga Ruby langsung meminta maaf, ia bahkan mulai menangis.


"Jangan nangis, loe mau semua murid disini ngira gue nindas loe!"

__ADS_1


"Tapi aku beneran nyesel. Aku cuma kaget aja ngeliat posisi kalian jadi aku mikirnya aneh-aneh."


"Emangnya kenapa kalau gue sama Gibran udah ngelakuin hal aneh-aneh seperti apa yang ada di pikiran loe?" Kali ini air mata itu tidak hanya membendung di pelupuk mata Ruby. Gadis itu. Ruby mulai menangis, ia terus meminta maaf padaku sambil berusaha menghentikan tangisannya. Dia membuatku mendapatkan tatapan sinis dari semua teman sekelas kami.


Sikap Ruby membuatku bingung, sebenarnya wajah aslinya seperti apa?


***


Ketika bel jam istirahat berdentang, aku segera keluar dari dalam kelas. Biasanya aku akan tetap tinggal di kelas tapi suasana kelas ini menjadi tidak lagi menyenangkan setelah Ruby menangis tadi. Aku dapat merasakannya dengan sangat kuat jika semua orang di kelas menatapku sinis. Aku yang tidak pandai bergaul ini menjadi semakin terkucilkan.


Aku menghela nafas malas saat memasuki perpustakaan, sejujurnya aku menemukan ingatan tentang Gibran yang datang memeluk ku kemarin sore di tempat ini.


Mengambil posisi di tempat duduk yang sama, aku tersenyum mengingat kami berdua menangis sambil berpelukan dan mengungkapkan rasa rindu.


Hubungan ku dengan Gibran begitu erat tapi kehadiran Ruby selalu menjadi penyekat diantara kami. Aku menghela nafas sekali lagi, kali ini aku ingin menangis. Bahkan selama ini aku menganggap Ruby sebagai sahabatku tapi Ruby sepertinya tidak menganggap ku sama.


Sekarang hatiku menjadi dua kali lebih sakit.


Tidak ada buku yang aku baca, aku tidak bisa fokus karena memikirkan hubungan ku dengan Gibran dan juga Ruby.


"Kamu disini rupanya, aku nyariin di dari tadi."


Aku menoleh ketika mendengar suara itu, suara yang sedang tidak ingin aku dengar.


"Di perpustakaan gak boleh ngobrol!" sahutku dengan tegas sambil memalingkan wajah dan mulai memainkan ponselku, dengan sengaja aku mengabaikan Ruby.


Tapi Ruby malah mendekat dan berbisik, "di perpustakaan gak boleh main hp juga." suara tawa pelan menyertai di akhir kalimatnya.


Sungguh, Ruby membuatku sulit mengambil sikap jika ia dalam mode manis seperti ini. Tuhan, kenapa hatiku begitu lemah?


Aku kemudian beranjak bangun dan melangkah keluar dari dalam perpustakaan dan Ruby mengikuti ku dari belakang seperti seekor anak ayam yang mengikuti induknya.

__ADS_1


"Jangan marah lagi dong, Jasmine... Aku kan udah minta maaf."


***


__ADS_2