Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Terbuai


__ADS_3

Tangan Gibran terasa hangat menyentuh wajahku, dia membuatku terbuai karena sentuhannya terasa lembut hingga aku perlahan memejamkan kedua mataku berharap dia akan menciumku karena jarak diantara kami semakin dekat tapi kemudian aku mendengar dia tertawa.


Aku membuka kedua mataku karena tawanya, dia lantas menyeringai lalu sedetik kemudian dia mendorong tubuhku dengan kasar hingga tubuhku terhempas ke atas tempat tidur setelah itu dia bergerak naik ke atas tempat tidur, merangkak ke atas tubuhku dan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya sehingga ia tidak sampai menindih ku.


Ketika dia mendorong ku dengan kasar, hatiku sakit tapi matanya yang menatapku dalam membuatku melupakan rasa sakit itu. Gibran lantas mendekat, ia berbisik pelan hingga aku harus menahan nafasku.


"Apa yang kamu harapkan?"


Aku mengharapkan bisikan mesra, apakah salah? Dadaku perlahan terasa sesak, aku kesulitan bernafas saat sorot mata Gibran seolah mencekik ku.


"Berada di dekatmu membuatku muak!" Secepat Gibran beranjak dari atas tubuhku, secepat itu juga air mataku menetes.


Apa sudah menjadi keharusan baginya untuk selalu menyakitiku?


Atau aku yang terlalu bodoh karena begitu buta oleh cinta ini hingga aku tidak bisa melihat dia membawa sejuta luka kearah ku.


Dengan sisa harga diriku, aku kembali duduk. Menangis sejenak saat pria itu mengunci dirinya di kamar mandi dan setelah itu aku menyeka air mataku dengan cepat meskipun hatiku masih kesakitan. Aku tidak bisa berlama-lama menangis, menunjukkan kepedihan ku dan menghancurkan harga diriku lebih lebur lagi dan mengeraskan hatiku sekali lagi.


Aku melangkah keluar dari dalam kamar Gibran. Bingung, itulah yang aku rasakan sekarang seolah aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.


"Aku ingin pulang, pulang ketempat dimana gak ada kamu, Gibran..." gumam ku saat desakan kepedihan itu menghimpit ku hingga aku kembali menangis.


Tubuhku gemetaran, aku berjongkok dan bersembunyi di balik dapur. Mencintai selalu menyakitkan bagiku karena orang-orang yang aku sayangi selalu senang menyakitiku tapi cinta ini tidak pernah habis. Apa yang harus aku lakukan?


"Menangis huh?"


Aku mengangkat pandanganku, suara Gibran yang terdengar dingin menghentikan air mataku. Pria itu lantas mendekat, ia berjongkok dan menyeringai, dia menertawakan kepedihan ku.


"Apa sakit? Mencintaiku, apa sakit?" tanya Gibran tanpa belas kasih.


Sungguh Gibran, bagaimana bisa kamu begitu tega padaku? Jika aku tahu sikap perduli yang kamu tunjukkan hanya caramu untuk mengangkat angan ku tinggi-tinggi dan menjatuhkan aku setelah itu, selamat karena kamu berhasil menghancurkan ku sekali lagi.

__ADS_1


"Apa menyenangkan? Mempermainkan ku, apa menyenangkan?" tanya ku dengan suara yang gemetar.


Aku pernah mengutarakan ucapan itu sebelumnya, dulu ketika di sekolah, saat aku hampir mati menghadapi kenyataan yang memilukan yang selama itu kamu sembunyikan dengan sengaja.


"Sangat..."


Air mataku telah mengering, jawaban Gibran membuatku menyeringai, "Jangan menyesal bila kelak kamu jatuh cinta padaku, karena di saat itu terjadi, perasaan ku padamu telah habis, Gibran."


Gibran terdiam sesaat, dan berkata setelah itu sambil mencengkram bahu ku hingga terasa nyeri. "Bicaramu seolah kamu mencintai ku seumur hidupmu..."


"Kalau ku bilang benar, apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku menantang.


"Buktikan!"


"No, Gibran! Aku gak ada disini untuk memenangkan hati mu!" tukas ku sebelum mendorong tubuh Gibran dengan kasar dan membuatnya terjatuh duduk barulah setelah itu aku pergi meninggalkannya sendirian di dapur sementara aku memilih keluar dari rumah itu.


...


Di luar hujan gerimis, tapi aku tetap melangkah menjauh dari rumah itu dan akhirnya aku berhenti di depan rumah nenek ku.


Aku baru akan mengetuk pintu tapi aku mengurungkan niatku. Melihat keadaan ku sekarang hanya akan membuat nenek ku bersedih jadi aku memilih untuk duduk di teras rumah dan melihat hujan perlahan turun dengan deras.


Terasa dingin, aku memeluk lutut ku dan menangis. Sampai detik ini aku masih saja sama.


Terjebak dalam luka yang sama, meratapi kepedihan hidupku dengan menyedihkan.


Aku menundukkan wajahku, menenggelamkannya di balik lenganku dan menangis.


Rasa dingin ini semakin memeluk ku, aku bahkan merasa air mulai menetes di atas tubuhku tapi kemudian aku sadar jika seharusnya hujan tidak bisa membasahi ku.


Aku mengangkat kepalaku dan Gibran telah berdiri di hadapan ku dengan tubuh yang basah kuyup dan nafas yang terengah-engah.

__ADS_1


"Ngapain disini? Loe mau buat nenek makin benci sama gue?" Aku tersentak, bukan karena kemarahan Gibran tapi karena dia kembali berbicara dengan menggunakan bahasa loe-gue.


Semarah itukah dia padaku?


Aku yang harusnya marah, Gibran!


Oh, Tuhan... Perasaan ini membuatku frustasi! Kenapa aku begitu takut menyakitinya.


"Ayo pulang, aku gak mau ada kehebohan besok!"


Seolah menghadapi dua orang yang berbeda, kemarahan yang sebelumnya Gibran tunjukkan kini seolah-olah baru saja reda karena dia mengulurkan tangannya padaku dan menatapku menyesal.


Aku ingin tahu, apa dia menyesali perbuatannya tadi? Dia merasa bersalah?


Aku baru akan menyambut tangannya tapi aku kembali teringat, dia selalu menjadi baik sebelum menyakitiku lebih banyak lagi.


"Aku pulang bukan karena kamu, tapi karena Rora! Harusnya kamu bawa payung, kenapa mesti ujan-ujanan? Biar apa? Biar kayak di film-film romantis gitu?" ucap ku yang terus mengoceh sambil menembus hujan yang turun semakin deras sementara dia berjalan di belakang ku, aku sengaja melakukannya demi meredam kepedihan ku yang kebingungan karena sikap Gibran yang terus berubah-ubah.


"Aku khawatir, aku kira kamu gak sampai pergi dari rumah. Ini udah mau tengah malam kan." ucapnya setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan ku.


"Khawatir? Masih ada kosakata khawatir di kamus hidup kamu buat aku? Bukannya cuma ada muak, benci, dan marah?"


Gibran hanya melirik ku sekilas setelah aku memberikan sindiran lengkap dengan tatapan yang sinis.


"Kalau aku bilang, aku pernah punya kosakata lain buat kamu, apa kamu percaya?"


"Apa?" Aku menghentikan langkahku dan menantangnya, dia lantas menatapku sesaat tapi tidak dengan cepat menjawab jadi aku kembali melangkah meninggalkannya.


"Misal cinta dan cemburu?"


***

__ADS_1


__ADS_2