
"Di dalam mimpi, aku gak sekedar minta ciuman,"
Ada yang salah dengan situasi ini, dengan sorot matanya, dengan caranya tersenyum padaku dan dengan segala sentuhan yang ia berikan padaku.
Dia menghipnotis ku dengan sentuhannya. Begitu mudah baginya menjelajahi bibirku dengan ibu jarinya sementara kedua matanya mengunci pandanganku.
Gibran tidak mengijinkan aku berpaling ketika tatapan matanya menatap lurus ke mata ku.
Suara kaki kursi yang berdecit karena terdorong kebelakang ketika Gibran bergerak semakin mendekatiku terdengar memecah keheningan meskipun begitu aku masih tetap sama.
Aku masih diam bahkan ketika Gibran mulai menyusupkan ibu jarinya diantara celah bibirku, menerobos diantara celah gigiku dan bertemu dengan ujung lidahku, pergerakannya yang nakal membuatku kesulitan untuk bernafas.
Aku melihatnya menelan saliva-nya saat sorot matanya mulai bergerak turun menatap bibirku.
Tujuannya terlihat semakin jelas sementara aku masih membeku. Aku tidak bisa menolak walaupun aku ingin atau sepertinya aku memang ingin merasakannya juga.
Berciuman dengannya ....
Oh, Tuhan!
Aku menahan nafasku ketika Gibran bergerak semakin dekat, berpikir jika pria itu akan menciumku tapi pria itu tiba-tiba saja menjauh.
Gibran menarik kursinya dan dengan tenang ia membetulkan posisi duduknya sambil tersenyum penuh makna, terlihat begitu bangga setelah berhasil membuat hatiku kalang-kabut tidak karuan.
Susah payah aku mengatur ekspresiku sekarang terlebih Gibran mulai makan dengan tenang seolah ia tidak pernah melakukan hal yang baru saja membuatku kepanasan.
Kini aku juga mulai makan, sialnya aku tidak bisa menyembunyikan kekesalanku hingga Gibran selalu diam-diam tersenyum ketika dia curi-curi pandang padaku.
"Makan aja yang bener, kalau tersedak baru tau kamu!" seru ku memperingatkannya.
"Kalau aku tersedak terus gak bisa nafas, kamu bakalan kasih nafas buatan, kan?" tanya Gibran menggoda.
Aku menyipitkan kedua mataku, menatapnya sinis sambil menjawab, "gak!" dengan tegas.
"Uhuk ... Uhuk ..."
Sumpah, itu bukanlah bagian dari doa ku ketika Gibran tiba-tiba saja tersedak hingga terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah.
Melihatnya membuatku langsung panik, aku segera beranjak bangun menghampirinya sambil menepuk-nepuk punggungnya agar batuknya mereda.
__ADS_1
"Minum dulu," ujar ku sambil menuang air kedalam gelasnya yang hampir kosong.
"Gimana sih, kek bocah kamu makan aja bisa keselek!" sambil terus mengoceh aku memberikan air itu padanya.
Tapi bukan segelas air yang ia pegang melainkan pergelangan tanganku hingga tubuhku tertarik dan akhirnya terjatuh di atas pangkuannya.
"Aku tahu kamu masih perduli padaku."
Untuk sesaat aku terdiam, tangannya yang seolah telah akrab dengan tubuh ku begitu mudah melingkar diantara pinggangku sementara dia mengunciku dengan tatapannya yang mendamba sekaligus menggoda.
Kurasakan dengan sangat jelas bagaimana tubuhnya mengeras karena posisi ini, begitu juga dengan ku yang seperti terbakar, aku merasakan wajahku memanas.
"Jangan jatuh cinta," Gibran berkata dengan sangat sangat lembut, selembut tatapan matanya.
"Jangan jatuh cinta pada orang lain selain aku, Jasmine ...." sambungnya seraya tangannya mulai bergerak membelai punggungku, menyelinap di balik rambut panjangku dan terus naik hingga tiba di tengkuk ku.
Aku memejamkan kedua mataku seraya refleks karena sentuhan tangannya yang memijat lembut tengkuk ku, mengalirkan sensasi yang menjalar ke seluruh tubuhku, menghilangkan akal sehatku.
"Aku menghabiskan seluruh hidupku mencintaimu, Jasmine .... Kesalahan yang ku perbuat mendorong mu menjauh dariku dan rasanya hampir seperti kehilangan hidupku."
Suaranya yang lembut, sentuhannya, sorot matanya serta segala hal yang sedang ia lakukan pada diriku, menyusupkan sesuatu ke dalam pikiranku yang mulai kacau hingga tangan ku bergerak dengan sendirinya menyentuh permukaan bibirnya dan membelainya hingga Gibran terbuai dan memejamkan kedua matanya.
"Hmmm.... " Nafasnya berderu berat seakan sentuhan kecil yang aku berikan memberikan banyak kenikmatan baginya.
"Kamu tahu aku tidak bisa menyentuhmu sembarangan lagi jadi jangan pancing aku."
Aku tersenyum tipis, entah kenapa keputusasaannya membuatku merasa puas. Sepertinya aku mulai menjadi wanita jahat karenanya.
"Itulah kenapa kamu tidak seharusnya mencintaiku dengan cara yang salah,"
"Hukuman ini lebih berat daripada perpisahan kita ...." suara Gibran terdengar lebih berat dari sebelumnya, nyaris seperti sebuah bisikan tapi lebih dalam lagi hingga menusuk jantung ku.
"Karena ini bukan kali pertama kita berpisah?" aku menyahut seraya bermain-main dengan wajahnya menggunakan jariku.
"Itu benar, dan aku gak pernah terbiasa dengan rasa sakitnya" jawabnya sambil menahan tanganku, dia menatapmu dengan tajam kali ini.
"Pikir mu aku terbiasa?" tanya ku seraya menarik tanganku dengan kasar dan menatapnya angkuh.
"Berharap kamu terluka sama banyaknya...." Gibran menatapku tidak kalah angkuh.
__ADS_1
Aku tersenyum, inilah Gibran yang sebenarnya, cintanya membawa serta rasa sakit bersamanya seperti dia memang sengaja memberikanku racun sementara tangannya yang lain menyembunyikan obat penawarnya dan saat aku sudah sekarat dia akan bersikap seperti pahlawan yang ingin menyelamatkanku.
Cinta dan benci yang mengikat kami begitu kuat, sialnya aku semakin terjerat.
Aku membuka mulutku, membiarkan Gibran berfantasi saat melihatnya, aku yakin dia sangat ingin menjamahnya, sesuatu yang saat ini ia tatap dengan sorot mata pemangsa yang sudah tidak lagi ia sembunyikan.
"Cium aku bila berani," aku dengan sengaja menantangnya.
Gibran menyeringai, ia membetulkan posisi duduknya tapi tidak melepaskan ku sedikitpun.
"Kalau berani, apa yang akan kamu lakukan? Mengusirku?"
Aku tidak menjawab, tapi kilatan matanya semakin menggelap. ".... Atau membawaku ke dalam sana?" sambungnya berbisik sambil melirik ke arah kamar ku.
"Bagaimana kalau aku yang memulainya?"
Damn, permainan ini semakin menggila, segila diriku yang menantangnya dengan berani.
"Aku dengan senang hati menyerahkan segalanya."
"Apa yang kamu miliki yang bukan milik ku, Gibran?"
Gibran tertegun, dia terlihat takjub mendengar ucapanku baru saja.
"Tidak ada, semuanya milik mu...."
Aku tersenyum sekali lagi, "kalau begitu cepatlah kembali sebelum seseorang menawarkan dunianya padaku."
"Resikonya terlalu besar, apa harusnya aku tidak pergi?"
"Jangan curang, aku harus melanjutkan hidup tanpamu!"
"Sangat tidak sabaran, kamu sungguh ingin membuang ku?"
"Ya, aku ingin segera melepaskan segalanya yang berkaitan dengan mu. Membuang mu sepertinya ide yang bagus."
"Seolah kamu mampu? Jawabannya aku tahu betul tidak akan pernah mampu, Jasmine...."
"Kamu terlalu percaya diri, Gibran...."
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus menandai mu sekali lagi."
***