
>>>Author POV<<<
"Ayah gak di masakin juga, Bu?"
Sejujurnya hati Jasmine bergetar saat mendengar Gibran mengatakan hal itu, bahkan sentuhan tangannya berhasil membuat Jasmine berdebar tapi sayangnya setiap kali perlakuan manis yang Gibran tunjukkan padanya, setiap itu juga Jasmine teringat akan apa yang sudah Gibran lakukan padanya hingga Jasmine kembali mengeras.
"Masak aja sendiri, biasanya juga gak pernah makan masakan aku!"
"Siapa bilang?"
Jasmine kembali tertegun, demi Tuhan, Gibran tidak seharusnya menunjukkan kelembutannya karena itu membuatnya Jasmine selalu merasa berada dalam kesulitan.
Ia kesulitan berpegangan pada pendiriannya yang bertekad meninggalkan Gibran.
"Saat aku pulang dan kamu udah tidur, aku selalu makan masakan yang kamu tinggal di meja makan."
Sekali lagi Jasmine kembali terdiam, ucapan Gibran membuat Jasmine sedikit sadar jika selama ini setiap pagi kondisi dapur memang sudah selalu bersih.
"Aku makan, apapun yang kamu siapkan untuk aku meskipun kamu gak tau."
Setiap kali Gibran bicara, setiap itu juga Jasmine merasa goyah hingga ia memilih melangkah menjauh sebelum Gibran benar-benar berhasil meluluhkan hatinya dengan mudah.
"Aku gak akan masak lagi kalau begitu!"
Oh, Tuhan... Gibran menahan dirinya agar tidak menarik Jasmine ke dalam dekapannya karena disaat Jasmine bersikap menyebalkan, di saat itu juga ia merasa gemas.
"Terus gimana kamu makan kalau gak masak?" tanya Gibran berpura-pura bodoh hingga Jasmine berbalik dan menatapnya kesal lalu berkata, "denger ya Gibran, aku akan tinggal di rumah nenek begitu Aurora keluar dari rumah sakit!"
Seketika hati Gibran terasa sakit, ia baru akan membujuk Jasmine ketika Aurora tiba-tiba kembali menangis.
"Hey, kenapa nak? Kamu mau nyusu?" tanya Jasmine tapi Aurora malah menangis lebih kencang lagi.
"Dia baru selesai nyusu kok," sahut Gibran karena dia sendiri yang membuatkan susu untuk Aurora tadi.
__ADS_1
Jasmine lantas menyentuh kening Aurora tapi suhu tubuhnya sudah kembali normal hingga membuatnya bingung kenapa Aurora masih terus saja menangis.
"Coba bentar, ibu liat popok kamu," ucap Jasmine sambil meletakkan tubuh Aurora di atas ranjang dan memeriksa popoknya.
"Aku udah ganti kok tadi." Gibran kembali menyahut, cukup membuat Jasmine terkejut karena popok yang Aurora kenakan cukup rapih seolah Gibran sudah terbiasa mengganti popok Aurora, tapi Jasmine tidak ingin terpengaruh hanya karena sebuah kebetulan. Ia lantas membuka popok Aurora dan popoknya masih kering dan bersih.
"Coba kamu tolong panggilin dokter." Pinta Jasmine karena Aurora masih juga tidak berhenti menangis.
Gibran lantas memanggil dokter, dan dokter segera datang memeriksa Aurora dan memastikan kondisinya termasuk jarum infus yang terpasang di tangannya.
"Kondisi pasien sudah stabil, kemungkinan lusa setelah observasi pasien dinyatakan bagus maka pasien sudah boleh pulang ke rumah," jelas dokter wanita yang sudah paruh baya itu sebelum meninggalkan ruangan, membuat Jasmine dan Gibran akhirnya bisa bernafas lega.
"Kenapa nak? Kok kamu gak berhenti nangis?" Tanya Jasmine dengan lembut meskipun ia sangat khawatir.
"Kamu gak mau ya tinggal di rumah omah?" Gibran tiba-tiba menyeletuk entah datang darimana pemikiran itu tapi anehnya Aurora mulai berhenti menangis.
"Tuh kan, Rora gak mau kamu sama aku jauh-jauhan..."
Padahal Aurora baru berhenti menangis tapi setelah Jasmine bicara, dia mulai menangis lagi.
"Kan, aku bilang apa?"
"Kebetulan aja itu!"
"Nih, coba kamu bilang kalau kamu gak jadi pindah."
Jasmine menarik nafas jengkel, tapi ia tetap bicara walaupun ia sadar kalau ini semua konyol. "Kamu gak mau pindah kerumah omah?"
"Tuh kan..." Gibran nyaris berteriak saat melihat ekspresi Aurora sekarang yang seolah benar-benar tidak ingin pindah ke rumah neneknya Jasmine padahal sebelumnya Gibran hanya asal bicara.
"Kita pindah ya, nak..." bujuk Jasmine sekali lagi dan Aurora mulai memasang mimik sedih yang membuat Jasmine langsung menggendongnya.
"Ih kamu kok berpihak banget sih sama ayah kamu?" Gerutu Jasmine sedikit kesal sambil menggendong Aurora dan melangkah sedikit menjauh dari Gibran dan berharap Aurora berhenti menangis.
__ADS_1
"Soalnya Rora gak mau kita pisah."
Tubuh Jasmine seketika membeku ketika Gibran tiba-tiba saja memeluknya dari belakang hingga kedua tangannya ikut merengkuh tubuh mungil Aurora.
Sampai detik ini, Jasmine tahu jika Gibran memiliki tubuh tegap yang gagah tapi ia tidak sadar kalau rengkuhan tangan Gibran juga bisa memeluknya bersama dengan Aurora sekaligus, belum lagi kata-kata yang Gibran ucapkan berbarengan dengan aksinya membuat Jasmine seketika merinding dan Aurora juga langsung berhenti menangis.
"Kamu ngapain sih, Gibran? Lepasin aku!" Dibsisa pertahanannya yang kian menipis, Jasmine berusaha berontak tapi Gibran malah mempererat pelukannya dan sialnya terasa nyaman apalagi ketika Gibran mulai menyandarkan kepalanya di bahunya.
"Sebentar aja, Jasmine... Aku cuma ingin memeluk kalian seperti ini," Gumam Gibran dengan suara yang terdengar sendu hingga Jasmine berhenti memberontak.
Jasmine memejamkan kedua matanya saat merasakan bibir Gibran mendarat di bahunya beberapa kali, menyesap aromanya dengan lembut seolah ia telah kecanduan tapi ia tidak bisa menghindar disaat Aurora terlihat nyaman dalam posisi ini apalagi ia mulai sayup-sayup tertidur.
"Liat, Rora suka kalau kita bersama..." bisik Gibran tapi Jasmine tidak menjawabnya dan hanya menarik nafas dalam.
"Kamu yang sejak awal menjauh, Gibran," akhirnya Jasmine bicara tapi sekali lagi ucapannya menyakiti hati Gibran.
Kecupan kembali mendarat tapi kali ini di tengkuknya hingga Jasmine secara refleks menggeliat. "Jangan curi kesempatan terus!" protes Jasmine yang mulai kuwalahan menghadapi Gibran dan sentuhannya.
"Aku kangen... Aku kangen banget sama kamu, Jasmine."
"Gibran, please..."
"Kamu gak kangen sama aku?"
Seperti Dejavu, Jasmine teringat ketika Gibran mendatanginya ke perpustakaan sekolah setelah mereka saling menjauh cukup lama dan ucapan rindu langsung meluruhkan amarah diantara mereka bahkan malamnya mereka berbagi ciuman pertama.
"Jasmine..." Gibran memanggil sekali lagi, wajahnya bergerak semakin dekat hingga ketika Jasmine menoleh posisi mereka nyaris membuat bibir mereka bertemu, dan sorot mata itu, tatapan hangat itu serta dorongan yang semakin kuat membuat Gibran memberanikan diri bergerak lebih dekat lagi demi bisa menggapai bibir itu sementara Jasmine tidak bisa mengalihkan pandangannya karena melihat luka di bibir Gibran yang cukup besar karena ulahnya.
"Jasmine."
"..."
***
__ADS_1