
Tawa Gibran langsung menyambut ku ketika aku selesai mengganti pakaian ku. Aku sama sekali tidak menduga jika ia akan menungguku di depan kamarnya dan itu membuatku sedikit tersentuh apalagi melihatnya meninggalkan Ruby sendirian membuatku merasa jika ia lebih memperdulikan ku.
"Mau jadi ondel-ondel loe?" tawa Gibran semakin pecah apalagi saat gaun itu melorot di bahu ku.
Dengan cepat aku menarik bajuku kembali ketempat semestinya tapi baju itu kembali melorot di bahuku hingga Gibran terus menertawakan ku tanpa henti.
"Gimana baju mama pas?" Mama Gibran datang tepat ketika Gibran mulai jahil dengan menarik baju yang aku kenakan di belakang leherku, rasanya aku seperti anak kucing di tangan Gibran.
"Mama liat nih Gibran, masa aku di jantur sih?" rengek ku yang tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman Gibran.
"Bajunya melorot mah, aku kan cuma bantu!" ucap Gibran beralasan, aku yakin jika ia memang hanya ingin menggangguku.
"Kegedean ya bajunya, gimana nih... Kamu mungil banget sih."
Bukan aku yang mungil tapi keluarga kalian aja yang kayak raksasa, tinggi dan besar. Haah~
"Terus gimana dong?" Mama Gibran terlihat bingung, sedikit tidak tega melihat Gibran menindas ku.
"Pake baju gue aja ya, tapi awas kalau pilih baju kesayangan gue!"
Aku menoleh dan melirik Gibran dengan sinis. "Gak ikhlas dasar!" cibir ku tapi Gibran malah menarik baju ku hingga aku nyaris tercekik. "Mau gak? Apa mau begini terus? Nyaman ya di deket gue!"
"Gibran, stop dong gangguin Jasmine..." Pinta Mama Gibran dan aku langsung memasang wajah memelas.
"Siapa sih yang ganggu? Aku cuma gemes aja mah. Uh gemoy-nya melatiku..." ucap Gibran yang tidak sungkan mencubit pipiku hingga aku meringis kesakitan.
"Ya udah ayo mana bajunya!" ucapku yang tidak tahan lagi dengan penindasan yang Gibran lakukan padaku.
"Let's cek it out!" Gibran lalu menyeret ku memasuki kamarnya dengan cara menarik baju yang aku pakai yang membuatku hanya bisa pasrah mengikuti langkahnya.
Gibran kemudian membawaku ke depan lemari pakaiannya lalu membukanya.
"Cepet pilih!" ucap Gibran yang masih memegangi baju ku dari belakang. "Loe ajalah yang pilih tapi lepasin dulu ini baju gue!" jawabku sambil berusaha melepaskan cengkeramannya namun Gibran tidak juga melepaskan ku.
"Gak bisa!" Gumam Gibran yang masih sibuk memilih pakaian yang akan ia pinjamkan padaku sementara satu tangganya yang lain sama sekali tidak melepaskan ku.
"Kenapa gak bisa? Gak nyaman tau!" protes ku yang masih berusaha untuk melepaskan diri.
"Jangan nyesel ya!" ucap Gibran yang akhirnya melepaskan pakaianku tapi gaun yang aku pakai malah memperlihatkan belahan dadaku dengan jelas hingga dengan cepat aku menutupinya. Oh Tuhan, pantas saja baju ini terus merosot di bahuku ternyata potongan dadanya membentuk huruf v dengan sangat rendah.
"Kan gue bilang juga apa!" ucap Gibran yang kembali menarik baju ku di belakang leherku hingga potongan baju itu tidak lagi mengekspos belahan dadaku.
"Ya udah cepet cari bajunya jangan lama-lama!"
__ADS_1
"Iya bawel!"
Gibran masih memilih t-shirt yang akan ia pinjamkan padaku sementara aku hanya diam menunggu. Sebenarnya diam ku adalah caraku untuk menutupi kegugupanku karena situasi ini.
Wangi tubuh Gibran menyentuh indra penciuman ku dengan sangat baik, wangi yang lembut meskipun Gibran jarang bersikap lembut.
Tapi semakin fokus Gibran memilih bajunya, semakin ia mendorong tubuhku hingga aku nyaris terhimpit antara lemari pakaiannya dan tubuhnya. Rasanya seperti Gibran sedang memeluk ku dari belakang.
"Ketemu nih, coba ambil tapi jangan sampai baju gue yang lain berantakan!" pinta Gibran sambil menunjukkan baju yang ia maksud yang ada di tengah-tengah tumpukan baju lainnya.
Aku menghela nafas malas karena harus berjinjit agar bisa menggapai baju yang dimaksud oleh Gibran sementara Gibran dengan sengaja hanya melihat.
Ia bersandar pada lemarinya sementara tangannya masih memegangi bajuku lalu tersenyum menyeringai seolah menikmati melihatku yang sedang kesulitan mengambil baju yang ia maksud karena posisinya berada tepat di tumpukkan yang paling atas.
"Susah tau!" Gerutu ku yang mulai lelah.
"Pegangin baju loe atau gue gak jamin buat gak ngintip!"
Aku dengan cepat menutupi dadaku dengan telapak tanganku dan barulah Gibran melepaskan ku, setelah itu dia mengambil t-shirt berwarna putih yang ia maksud.
Kedua tangan Gibran ada di atas kepalaku sekarang sementara tubuhnya berdiri di belakang tubuhku. Rasanya seperti terintimidasi, aku sungguh tidak berkutik.
"Gimana, udah ketemu gak rahasia gue?" Bisik Gibran yang sontak membuat bulu kuduk ku bergidik ngeri.
"Yakin gak tertarik?" Bisik Gibran sekali lagi.
"Yakin lah?" jawabku gugup.
Gibran lantas tersenyum, ia mengusap puncak kepalaku setelah itu, "anak baik." pujinya sebelum pergi meninggalkan ku.
Oh Tuhan, sejak kapan Gibran berubah menjadi menakutkan seperti itu?
Sebelumnya Gibran memang sempat berbisik dan mengatakan ia memilik rahasia. Aku berpikir Gibran mungkin menyembunyikan komik dewasa mengingat ia sangat gemar membaca komik dan pria itu bahkan menciumnya semalam, jelas pikiran Gibran mungkin sudah terkontaminasi dunia orang dewasa tapi sepertinya aku salah mengartikan rahasia yang Gibran maksud karena sepertinya aku adalah rahasianya.
Sebelumnya aku begitu terburu-buru tanpa memperhatikan isi kamar Gibran tapi sekarang berbeda, bingkai foto di kamar Gibran mengalihkan perhatianku, tidak hanya satu tapi beberapa foto sejak kami bayi, hingga terakhir foto ketika Gibran lulus SMA, dia memberikanku buket bunga nya lalu kami berfoto berdua. Semua foto itu membuatku tersipu membayangkan Gibran setiap hari menatap foto-foto itu.
Foto ku...
***
Aku keluar setelah mengganti pakaianku, senyumku tidak bisa pudar mengingat Gibran memiliki banyak fotoku di kamarnya. Dengan percaya diri, akhirnya aku memutuskan untuk duduk bersama dengan Ruby dan Gibran.
Setelah melihat semua foto-foto itu, rasanya kecemburuan ku selama ini seperti sebuah kekonyolan karena sedekat apapun hubungan Gibran dengan Ruby, aku tetaplah pemenangnya.
__ADS_1
Iya kan?
Sayangnya rasa percaya diri ku tidak berlangsung lama, gugur menjadi keraguan yang semakin besar ketika melihat Gibran mencubit pipi Ruby sambil tertawa. Mereka bergurau tanpa kecanggungan sedikitpun.
"Seru banget sih..." ucapku ketika hampir mendekat dan betapa terkejutnya Gibran karena kehadiranku dan betapa terkejutnya aku melihat Gibran yang langsung melepaskan tangan Ruby.
Jadi mereka bergurau sambil berpegangan tangan? Hatiku sakit tapi aku memilih untuk tetap bertahan.
Aku kemudian duduk di atas sofa berbeda dengan mereka yang duduk di lantai berdua.
Tapi mereka mendadak menjadi canggung, candaan mereka berakhir karena kehadiranku. Kenapa kalian memperlakukan ku seperti ini?
"Gimana pendaftarannya?" aku bertanya pada Ruby sebagai caraku mencairkan suasana.
"Lancar..." Jawab Ruby singkat, senyumnya bahkan terlihat kaku. "Kamu pakai baju kak Gibran?" tanya Ruby kali ini.
"Iya soalnya baju mama kebesaran." jawab ku yang diam-diam menunjukkan kebanggaan ku padanya.
"Cocok di kamu..." puji Ruby kembali tersenyum.
Oh Tuhan, sikapnya membuatku merasa seperti gadis jahat.
"Kamu mau ganti baju juga?" Gibran tiba-tiba bertanya pada Ruby, ia memang masih memakai seragam sekolah sekarang.
"Gak ah, aku takut kebayang-bayang wangi kakak nanti kebawa mimpi lagi."
"Emangnya kenapa kalau mimpiin aku?"
"Emangnya boleh?"
Gibran tidak langsung menjawab, ia tersenyum dan menatap Ruby dalam. "Kalau aku boleh gak mimpiin kamu?"
Pertanyaan Gibran langsung membuat Ruby tersipu malu. "Emangnya mau mimpiin apa?"
"Apa ya?" Gibran berpura-pura berpikir.
"Ih kak Gibran! Awas ya kalau mimpi jorok!"
"Hahaha!"
Mereka memiliki dunia mereka sendiri, sepertinya aku memang sudah kalah.
***
__ADS_1