
Aku ketiduran, saat terbangun hari sudah malam. Aku kemudian keluar dari dalam kamarku, terlihat Gibran duduk di ruang tamu bersama ke dua orangtuanya sementara nenek ku sedang menggendong Aurora di meja makan sambil memberikannya susu.
"Kamu udah bangun?" Nenek ku langsung tersenyum hangat padaku.
"Kenapa aku gak di bangunin? Kapan nenek sampai?" tanya ku sambil membelai wajah Aurora. Dia langsung melepaskan botol susunya dan mengangkat kedua tangannya, memberikan isyarat agar aku segera menggendongnya.
Aku kemudian menggendong Aurora dan menciumnya sesekali. Kegelisahan hatiku langsung sirna saat dia ada dalam pelukanku.
Gibran lantas menghampiriku bersama dengan kedua orangtuanya.
"Mama sama papa mau pulang dulu, besok kami balik lagi." ucap mama Gibran berpamitan, aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku.
"Iya mah, jangan lupa anaknya ajak pulang sekalian." sahutku yang langsung membuat Gibran cemberut.
"Sayang, kok aku di usir sih?" Gibran merengek seraya berpegangan pada gaunku, mungkin maksudnya agar tidak menyentuhku sembarangan tapi Gibran justru terlihat seperti anak kecil yang sedang membujuk ibunya agar dibelikan mainan.
"Gak ada tempat buat kamu disini!"
"Aku gak apa-apa kok tidur di lantai kayak waktu itu kalau emang tempat tidur kamu gak muat buat kita bertiga."
"Emangnya mas Gibran sebelumnya pernah tidur di kamar Jasmine?" Nenek ku tiba-tiba bertanya, ekspresinya bahkan terlihat terkejut sama halnya seperti kedua orangtua Gibran sekarang, mengingat selama menikah, aku dan Gibran belum pernah menginap di rumah nenek ku.
"Ah itu..." seketika aku menjadi gugup, semua ini karena kebodohan Gibran yang sekarang masih bersikap seolah tidak berdosa setelah mengatakan semua itu.
Jelas aku masih mengingat kapan Gibran menginap di rumah ku karena malam itu dia dan aku berbagi ciuman pertama.
Oh Tuhan, pikiranku...
__ADS_1
Maksud ku, malam itu aku begitu syok karena bertemu kembali dengan ayahku untuk pertama kalinya sejak sekian lama dan Gibran menemaniku yang menangis sepanjang malam di kamarku.
"Jadi sebelum nikah kalian dulu pernah ngapain aja sebenernya?" kini giliran mama Gibran yang bertanya, serasa diintrogasi aku tidak bisa mengatakan apapun.
"Gibran?" Mama Gibran mulai mendesak kini, akhirnya Gibran sadar jika ucapannya menimbulkan masalah baru. Ia lantas melepaskan gaun ku dan menggaruk tengkuknya.
"Dulu waktu Jasmine masih SMA, aku pernah nginep di rumah ini tanpa sepengetahuan nenek."
"Astaghfirullah, jadi dulu kalian berdua udah macem-macem?" Nenek ku langsung menyalak kaget.
"Gak nek, beneran gak ngapa-ngapain kok! Gibran nemenin aku yang nangis gara-gara syok ketemu ayah lagian itu kan masa lalu kenapa marahnya sekarang?"
"Ya karena baru tahu sekarang, dasar nakal ya kalian berdua. Untung akhirnya jodoh sekarang!" sambar mama Gibran yang gemas sambil menarik telinga Gibran hingga ia meringis kesakitan.
"Ya udah kalau gitu mas Gibran mending pulang aja, tidur di lantai kasian nanti punggung mas Gibran sakit."
Aku langsung menggelengkan kepalaku, memberikan isyarat agar nenek ku tidak memberikan ijin tapi Gibran menyerang nenek ku dengan ekspresi memelas.
"Ya udah kalau kamu mau tetep tinggal disini biar Rora tidur sama nenek aja."
"Makasih nek. Nenek emang yang mengerti aku!"
"Gak bisa! Kita kan udah mau cerai masa masih tidur sekamar, gak mau aku!" Aku menolak dengan tegas sekali lagi.
"Jasmine, selagi pengadilan belum men-sahkan perceraian kalian, gak dosa kok kalau masih tinggal sekamar." Mama Gibran membujuk dengan lembut.
Bukan masalah dosa, astaga Tuhan! Aku gak yakin sama keselamatan aku kalau harus tidur sekamar bareng Gibran!
__ADS_1
Oh sial! Mulutku belum sempat melontarkan protes saat kedua orangtua Gibran sudah lebih dulu pergi meninggalkan anaknya disini bersama ku.
"Dasar beban!" Aku mendengus pada Gibran seraya menginjak kakinya sebelum akhirnya pergi memasuki kamar ku membawa Aurora bersamaku.
"Makasih ya nek." Ku dengar Gibran kembali berterima kasih.
"Jangan paksa Jasmine yang aneh-aneh, nenek akan selalu di pihak Jasmine," ucap nenek ku memperingatkan Gibran dengan tegas, sedikit berhasil mengurangi kekesalan ku pada nenek ku karena sebelumnya aku berpikir nenek ku berpihak pada Gibran sama seperti orangtua Gibran.
...
Gibran tidak langsung masuk ke dalam kamarku, cukup lama ia berada di luar hingga aku lupa akan keberadaanya. Aku pergi mandi setelah memastikan Aurora telah tertidur lelap.
Aku tidak bisa terlalu lama mandi karena takut Aurora terbangun jadi setelah mandi, hanya dengan menggunakan handuk, aku melangkah keluar dari dalam kamar mandiri dan keberadaan Gibran membuat tubuhku seketika membeku.
Pria itu sedang menarik bajunya ke atas dan menanggalkannya, menyisakan hanya celananya saja hingga aku bisa melihat tubuh kekarnya dan juga tanda kemerahan di beberapa titik di dadanya bahkan di tengkuknya. Sungguh menyesal karena aku tidak menyadarinya sebelumnya kalau aku meninggalkan jejak di beberapa tempat yang bisa terlihat dengan jelas, mungkin itulah kenapa mama Gibran langsung melepaskan telinga Gibran tadi dan segera pergi bersama dengan suaminya.
Mungkin dia melihat harapan di jejak kiss mark yang ada di leher Gibran begitu juga dengan nenek ku padahal di rumah sakit aku masih bisa merasakan nenek ku mendukung perceraian kami.
Terlalu banyak yang aku pikirkan, terpesona dengan tubuh kekarnya hingga pikiranku melayang jauh ke belakang, ke malam panas yang sudah kami lewati bersama sebelum kemarahan itu memuncak setelahnya dan sekarang Gibran sudah berada di hadapanku entah sejak kapan, berdiri menatapku dan membuatku kesulitan bernafas.
Gibran menurunkan pandangannya, aku tahu ke arah mana mata nakalnya itu bergerak tapi tubuhku masih tidak berkutik di hadapannya.
"Kamu tahu aku udah sangat berpengalaman, Jasmine." Suara Gibran terdengar berat di telingaku seakan nafasnya tertahan sama sepertiku lalu dia melangkah lebih dekat lagi hingga tubuhku terdorong mundur dan hampir terjatuh hingga secara refleks aku berpegangan pada pundaknya.
"Memintaku untuk tidak menyentuhmu sembarangan, tapi kamu tidak berhati-hati padaku yang selalu menjadi liar jika itu berkaitan dengan mu. Jangan siksa aku, Jasmine... Aku sungguh mengaku kalah kalau harus menghadapi mu seperti ini..."
***
__ADS_1