
>>> Gibran POV <<<
"Apa kalau aku pergi, kamu sudah pasti akan bahagia, Jasmine?"
Jasmine tidak menemukan jawaban untuk pertanyaanku.
Dia hanya diam lalu melangkah pergi meninggalkan ku.
Awan mendung berwarna abu-abu, terlihat gelap memenuhi langit. Bahkan bila langit sedang cerah, aku tetap memandangnya sama karena itu seperti kondisi hatiku sekarang.
Awan hitam itu tidak pernah pergi, bersemayam begitu lama di dalam hatiku sejak aku menyakitinya.
Sejak aku menyakiti Jasmine, sejak aku meragukan perasanku untuknya.
Betapa bodohnya aku...
Aku begitu bodoh, menyakitimu dengan brutal.
Bagaimana caranya aku menyembuhkan mu sekarang?
Payung yang ku pegang akhirnya terlepas dari tanganku, aku membiarkan payung itu menjauh tertiup angin yang berhembus semakin kencang.
Haruskah aku melepaskannya juga?
Pergi menjauh dari sisiku seperti waktu itu?
Waktu dimana aku sekarat karena setiap detik merindukannya.
Disaat aku terjerat oleh penyesalan yang tidak pernah usai hingga aku membuat banyak kesalahan.
Marah padanya karena hatiku yang patah atas kesalahanku sendiri dan pada akhirnya aku kembali menyakitinya.
Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk membahagiakan mu Jasmine, tapi aku mencintaimu, sungguh hanya Tuhan yang tahu kalau kamu adalah hidup bagiku...
Aku tidak ingin kehilanganmu, Jasmine...
Aku mencintaimu layaknya kehidupanku sendiri, tanpamu aku mungkin akan mati.
Jasmine, maafkan aku...
Bila bisa aku masih ingin berusaha tapi kenapa kamu menunjukan ekspresi seperti itu padaku?
Membuatku semakin sadar kalau aku sudah terlalu terlambat untuk memperbaikinya.
Kamu dan aku...
Kita.
>>> Jasmine POV <<<
__ADS_1
Caranya berhenti mencintai...
Aku ingin tahu bagaimana caranya berhenti mencintai...
Tangisanku mungkin telah berhenti tapi rasa sakitnya masih bersemayam di sana.
Di hatiku yang semakin keropos.
Aku duduk diam bersandar di atas meja belajarku, berpikir sejenak sebelum aku membuka laci meja belajar tempat aku menyimpan diary Ruby yang belum selesai aku baca.
Berniat tidak ingin membacanya lagi karena aku tidak mau membaca ujaran kebencian yang Ruby tunjukkan padaku tapi sepertinya aku perlu mengetahui segalanya, semua hal yang tidak pernah aku ketahui selama ini.
Tarikan nafasku terasa berat, mengganjal di dadaku yang sesak. Gemetaran, aku masih sama. Rasa sakit ini terlalu menyiksa hingga tubuhku bereaksi sejauh ini dan aku langsung menutup dengan cepat buku diary itu ketika nama pertama dalam tulisan itu adalah 'Gibran'.
Aku menekan tengkuk ku yang terasa berat, menangis sekali lagi karena kecemburuan itu langsung memenuhi hatiku.
Semua ini membuatku teringat bagaimana dulu Ruby menggeser posisiku dengan mudah.
Menyeret ingatan yang coba aku lupakan dengan paksa selama ini.
Tangisanku masih belum berhenti ketika aku kembali membuka buku itu, menarik nafasku dalam-dalam sebelum kembali membacanya.
"Jakarta, 08 Juli 20xx
.
Gibran...
Setiap aku melihatnya, setiap itu juga dia sedang melihat Jasmine. Bukankah itu berlebihan?
Jasmine tidak hanya memikat ayahku tapi juga pria pertama yang menarik perhatianku.
Sekali lagi aku menemukan alasan untuk membencinya tapi sialnya, aku tidak menemukan cara untuk menghancurkannya.
Mereka seolah tercipta untuk satu sama lain.
Tidak terpisahkan bahkan semesta seolah mendukung karena aku tidak berada di kelas yang sama dengan Jasmine hingga aku kesulitan mendekati Jasmine, bukan untuk menjadi akrab tapi untuk menemukan cara agar aku bisa menyakitinya..."
Aku menahan nafasku, Ruby menyimpan dendam begitu banyak padaku.
Setiap bait tulisannya yang aku baca membuat ku sakit, bukan karena aku terluka olehnya tapi karena aku bisa merasakan kemarahan Ruby lewat tulisannya.
Sebenarnya seberapa banyak luka yang ayah berikan padamu sampai kamu membenciku sebegitunya?
Aku lantas membuka lembar yang lain, kebanyakan dari tulisannya menggambarkan kehidupannya yang berbanding terbalik dengan apa yang selama ini aku ketahui.
Ruby yang selalu membanggakan ayahnya setiap kali bicara padaku, yang membuatku selalu merasa iri karena aku tidak memiliki ayah seperti yang dia miliki, yang selalu membuatku berandai-andai jika saja ayahku memiliki sedikit saja sifat ayahnya.
Tapi sebenarnya semua itu hanyalah kebohongan...
__ADS_1
"Aku baru pulang setelah mengambil rapot sendirian, mama menolak untuk mengambil rapotku karena jadwalnya bentrok dengan arisannya dan papa, dia tidak perduli dengan apapun yang aku lakukan.
Setidaknya jika dia tidak perduli padaku maka jangan perduli juga padanya, pada Jasmine!
Dia bersembunyi di tempat parkiran, yang awalnya aku kira papa ingin memberikan ku kejutan, dengan cara datang tiba-tiba menjemput ku tapi aku terlalu berharap banyak karena kenyataannya papa dengan diam-diam melihat Jasmine dari kejauhan.
Hancur, hatiku hancur berkeping melihat ayahku menyembunyikan wajahnya ketika Jasmine berlalu melewati mobilnya dan setelah itu dia mulai menangis.
Jika Jasmine begitu berarti, kenapa dia tidak pergi saja ke sisinya? Dengan begitu aku bisa mengasihani diriku lebih banyak karena ayahku lebih menyayangi anak haramnya."
Kepala ku sakit, aku memijit pelipis mataku karena mataku mulai berkunang-kunang.
"Hari itu akhirnya tiba, hari ketika aku memiliki kesempatan dekat dengan Jasmine. Karena kamu akhirnya berada di kelas yang sama.
Aku mengajaknya bicara lebih dulu, Sejujurnya sikapnya tidak lah buruk kecuali dia jarang bicara tapi dia lembut dan perhatian.
Tapi bahkan setelah perjuangan ku mendekatinya, aku tidak pernah bisa benar-benar akrab dengannya apalagi Gibran masih setia disisinya, pulang-pergi mengantarnya.
Mereka seperti sepasang kekasih yang bahagia...
Aku benci itu, benci ketika dia selalu tiba-tiba tersenyum saat menatap layar ponselnya dan jika aku mengintip, dia sedang mengirim pesan dengan Gibran.
Kehidupan yang sempurna, dia yang hanya seorang anak haram, apa pantas dicintai seperti itu?
Aku muak tapi aku bertahan menjadi "sahabatnya" sampai akhirnya tiba di hari Jasmine memperkenalkan aku dengan Gibran.
Hari di saat harapan baru muncul karena setidaknya mereka dua orang bodoh yang menampik perasaan diantara mereka yang terlihat dengan jelas di mata orang lain namun mereka terpejam, tertutupi kata persahabatan.
Aku menyusup dengan mudah dalam hubungan mereka mempengaruhi Gibran dengan mengatakan jika perasaannya pada Jasmine bukanlah cinta yang sebenarnya tapi Platonic Love,"
>>> Flashback On <<<
"Kak Gibran!" Aku berlari cepat menghampiri Gibran sebelum pria itu pergi setelah mengantar Jasmine sekolah.
Aku sengaja berangkat lebih pagi agar bisa mendapatkan kesempatan ini karena beberapa kali aku lihat Gibran selalu menunggu Jasmine hingga memasuki kelasnya barulah dia pergi.
"Ruby..." Dia tersenyum dengan sopan padaku tapi matanya masih terus menatap Jasmine yang sudah di ujung sana.
"Ngeliatin Jasmine sampe segitunya. Jujur aja deh, kakak sebenernya naksir Jasmine kan?"
Wajahnya langsung memerah, sangat jelas tergambar dari ekspresi gugupnya jika dia tergila-gila pada Jasmine.
"Keliatan banget ya?" Sialnya dia langsung mengakuinya.
Aku hanya tersenyum tipis demi menutupi kekesalan yang langsung memenuhi rongga dadaku.
"Tapi kak, kalian kan selalu bersama dari kecil, kakak yakin itu beneran cinta atau malah Platonic love relationship?"
"Maksud loe?"
__ADS_1
"Mungkin aja hubungan kalian punya ikatan kuat karena udah terbiasa bareng dari kecil bukan hubungan yang romantis antara laki-laki dan perempuan..."
***