
"Jasmine, jangan menantang ku!"
Merasakan tangannya menyusup dibalik rambut panjangku yang tergerai membuat bulu kuduk ku merinding terlebih ketika tangan Gibran sampai pada tengkuk ku, dia menekannya sembarangan seolah itu bukanlah hal besar baginya tapi dia tidak tahu sentuhannya hampir memabukkan ku karena sulit bagiku untuk berpikir jernih sekarang.
"Siapa yang menantang mu?"
Sepertinya akal sehatku mulai goyah, bukannya menyerah, aku malah menantang seolah aku menantikan apa yang akan ia lakukan padaku jika aku terus keras menghadapinya.
Kulihat rahang Gibran mengeras, hingga tulang rahangnya terlihat semakin jelas dan tegas. Fitur wajah yang jarang, terlihat lembut tapi garang dalam waktu yang bersamaan, hampir sulit untuk ditaklukkan.
Terlalu sulit bahkan sampai detik ini aku masih belum bisa mendapatkannya.
Gibran bergerak lagi, jarak diantara kami sudah tidak ada hingga gerakannya secara otomatis mendorong tubuhku kebelakang dan akhirnya aku tersudutkan diantara tubuhnya dan meja dapur.
Menyembunyikan perasanku padamu selama ini sudah sangat sulit, bertindak seolah aku tidak perduli padamu sudah seperti sebuah siksaan tapi disini kamu sekarang, berdiri dihadapan ku, menatapku yang menyulut amarahmu karena pria lain memperhatikan ku.
"Kamu hanya perlu bilang, kalau kamu cemburu," bisik ku seraya menyeringai yang langsung membuat ekspresi Gibran tegang tapi dia masih tidak juga melepaskan ku.
Sorot mata Gibran bergerak turun, dia tidak lagi menatap kedua mataku tapi kini sorot matanya melihat ke arah bibirku dengan sangat berani. Dia tidak menutupinya sama sekali terlebih saat seringai mulai menghiasi wajah tampannya.
"Cemburu... Bagaimana kalau kita buat 'si calon suamimu' merasakannya lebih dulu?"
Aku tertegun mendengar ucapan Gibran yang tidak sepenuhnya aku mengerti tapi wajah Gibran semakin mendekat, kini kepalanya berada tepat di sebelah kepalaku, ia meletakkan dagunya di bahu ku hingga ujung bibirnya berhasil menyentuh ujung telingaku yang membuat kedua mataku langsung terpejam secara refleks karena getaran yang di bawa oleh sentuhan kecil itu terasa menyengat ke seluruh tubuhku.
"Katakan padaku, bagian mana yang kamu inginkan untuk aku tandai?" Gibran semakin menjadi, dia mulai menyesap aroma tengkuk ku, menempelkan kepala kami dan menghembuskan deru nafas hangatnya yang membuatku terbakar dengan mudah.
__ADS_1
"Jawab aku?" Gibran menggeram, terdengar seperti sedang memaksa tapi aku terlalu bingung dengan situasi ini.
Apa dia sedang menghukum ku sekarang atau dia sedang menutupi kecemburuannya dengan menjadikan perasaan Juna sebagai alasannya? Yang pasti dia membuatku tidak berdaya.
Aku tidak berdaya, nafasku mulai tidak beraturan hanya karena Gibran menekan tubuhku dengan tubuhnya. Dia menunjukkan wajahnya kembali hanya untuk memastikan ekspresiku dan aku tidak bisa mengatur ekspresi ku karena aku tidak pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya.
Gibran tersenyum, dia terlihat menikmati kegugupan ku lalu setelah itu satu tangannya yang lain mulai membelai wajahku.
Oh Tuhan, dia menjelajahinya, setiap garis wajahku, Gibran menyapukan jarinya seraya terus menatapku, memastikan jika aku tidak bisa kabur dari situasi yang didominasi olehnya.
"Apa menyenangkan menarik perhatianku?" Gibran kembali bicara tepat ketika ibu jarinya berada di bibirku.
"Sangat menyenangkan..." jawab ku dengan sisa keberanian yang hampir habis karena karismanya menghipnotis ku.
Sungguh, aku takut kehilangan akal dan menyerahkan diriku padanya dengan sukarela karena sudah pasti Gibran akan semakin meremehkan ku tapi aku juga tidak bisa kabur, aku tidak ingin kabur. Aku menikmati setiap getaran yang tercipta dari ketegangan ini.
"Sepertinya aku harus mengajarimu banyak hal malam ini," tepat setelah itu, Gibran tidak lagi bicara karena bibirnya mulai sibuk mencium ku.
"Hmm..." Tubuhku seketika menegang, saat Gibran tidak hanya sekedar mendaratkan bibirnya di permukaan bibirku tapi ia juga menyesap bibirku dan menguasainya seolah ia sudah lama lapar akan hal ini.
Rasa manis di ujung lidahku ketika ciuman ini semakin dalam, seperti meneguk madu tapi membuatku mabuk.
Dulu ketika pertama kali Gibran menciumku, ciuman itu tidak terasa seperti ini karena sekarang bukan hanya kepalaku yang seolah-olah berputar-putar tapi tubuhku juga terasa lemas hingga kakiku sulit untuk berdiri tegak.
Gibran akhirnya melepaskan ciumannya ketika aku nyaris terjatuh ketika aku tidak mampu lagi berpegangan pada tepi meja dapur, secara bersamaan Gibran menahan tubuhku agar aku tidak terjatuh.
__ADS_1
Aku menelan Saliva ku karena Gibran masih tidak sepenuhnya melepaskan ku, justru ia tiba-tiba mengangkat tubuhku lalu membuatku duduk di atas meja dapur.
"Aku masih jauh dari kata selesai jadi sebaiknya kamu berpegangan," ucap Gibran sambil mendesak tubuhnya diantara kedua kakiku hingga aku harus membukanya sedikit lebar hingga tubuh Gibran dapat berdiri dengan nyaman tapi sialnya tidak dengan ku.
Tubuhku semakin tegang ketika Gibran menarik pinggangku hingga tubuhku bergerak ke depan lebih dekat lagi dengannya hingga jarak diantara kami sepenuhnya menghilang.
Setelah itu Gibran menyentuh tanganku, dia membawa tanganku hingga bergantung di atas bahunya. "Pegangan, ini gak akan mudah untuk mu..."
Tidak seperti sebelumnya, aku menurut kali ini dengan melingkarkan kedua tanganku di lehernya dan setelah itu, Gibran kembali tersenyum.
Senyuman yang membuatku takjub karena sorot matanya berbinar ketika ia tersenyum seolah ia sedang merasa bahagia sekarang, sayangnya aku hanya sebentar melihat senyuman itu karena ia kembali menciumku.
"Balas aku, Jasmine..." Suaranya terdengar putus asa di tengah ciuman yang ia berikan padaku.
"Aku gak berpengalaman, harusnya kamu mengajariku dengan benar waktu itu..." aku senang karena Gibran begitu menggebu-gebu, aku memiliki sedikit keberanian untuk menggoda.
"Ikuti caraku, seperti yang aku lakukan..." Dia berkata dengan tidak sabar sebelum menciumku lagi tapi kali ini aku langsung mendorongnya hingga ciuman kami terlepas.
Gibran menatapku, dia terlihat bingung saat aku melepaskan ciumannya, tidak hanya bingung tapi aku bisa melihat sorot matanya redup hingga dengan cepat aku menyentuh wajah Gibran dengan kedua tanganku dan langsung menciumnya, sama kasarnya seperti yang ia lakukan padaku, sedikit terburu-buru dan liar.
"Begini?" tanyaku setelah melepaskan ciumanku tepat ketika Gibran baru akan membalas ciuman ku.
"Oh Damn, Jasmine!"
***
__ADS_1