
"Mau aku suapin?"
"Ya?"
Aku langsung mengambil sendok di tangan Gibran dan mulai menyantap nasi Padang itu. Bukan karena aku tidak ingin di suapi oleh Gibran, aku hanya khawatir menerima suapan darinya hanya akan membuatku jatuh semakin dalam lagi, aku mungkin akan segera tenggelam karena kebersamaan ini mulai menghanyutkan ku.
"Kenapa?" tanya Gibran ketika aku tiba-tiba saja berhenti makan. "Gak enak? Mau makan bubur aja?"
Tuhan, sungguh... Aku bisa terkapar karena perhatiannya ini!
"Kamu gak makan?" tanya ku yang masih mencoba meredam perasaanku yang semakin tumbuh liar karena momen ini.
Gibran mungkin tidak menjawab tapi ia mengambil sendok di tangan ku dan mulai menyantap nasi Padang itu menggunakan sendok yang sudah aku gunakan.
"Nanti kamu ketularan sakit gimana?" Aku segera mengambil sendok itu dan membawanya ke wastafel barulah aku mengambil dua sendok berbeda sekaligus dua buah piring.
"Kalau kita sama-sama sakit, siapa yang bakalan ngerawat Aurora?" ucapku sambil membagi nasi Padang itu ke dalam dua piring dan tentunya aku memberikan porsi yang lebih banyak pada Gibran.
Gibran tidak langsung menyantap nasi Padang di hadapannya, ku liat ia tersenyum tipis dan setelah itu ia terlihat menahan air matanya.
"Jasmine..." Gibran memanggil namaku dengan lirih, kalimatnya tertahan di tenggorokannya sementara aku menunggu ia melanjutkan ucapannya agar aku dapat mengerti tapi dering ponselku memecah keheningan ini. Aku memang meletakkan ponsel ku di meja dapur tadi ketika aku tidak bisa menghubungi Gibran jadi begitu ponselku berdering, aku dapat dengan mudah meraihnya.
"Siapa?" tanya Gibran karena aku terdiam saat melihat nama dalam layar ponselku yang terus berbunyi. Gibran lantas mengintip karena aku tidak langsung menjawab.
"Calon suami?" Gibran mendesis, ia tersenyum tidak senang. Ekspresinya seketika berubah setelah melihat layar ponsel ku.
Gibran terlihat kesal, ia bahkan menyantap nasi Padang di piringnya dengan tidak sabar seolah ia sengaja makan dengan cepat dan setelah itu ia pergi meninggalkan ku sendirian di dapur.
Aku hanya bisa menghela nafas berat, aku masih ingat ketika Juna mengganti nama kontaknya di ponselku tepat dihari aku setuju untuk menerima lamarannya dan beberapa hari kemudian pernikahan ku dengan Gibran tidak bisa terelakkan.
"Halo..." Suara Juna terdengar lembut di ujung telepon sana ketika aku mengangkat panggilan telepon darinya.
"Jasmine..." Juna memanggil dengan lembut, aku baru akan bicara ketika ponselku tiba-tiba saja di rebut oleh Gibran lalu ia mematikan sambungan ponsel itu tanpa mengijinkan ku untuk bicara sedikitpun dengan Juna.
"Ada apa denganmu?" Aku langsung marah bukan karena Gibran dengan seenaknya merebut ponselku tapi ia juga melempar ponselku ke atas meja begitu saja.
"Aku yang harusnya bertanya, ada apa dengan mu?" Gibran terlihat marah, dia memang selalu terlihat marah saat bicara dengan ku tapi kemarahannya kali ini terasa lain hingga aku merasa terintimidasi dengan mudah.
__ADS_1
"Calon suami? Kamu beneran mau kembali ke mantan tunangan kamu? Kamu mau ninggalin Aurora?"
"Kamu ngomong apa sih? Sebelum dia jadi tunangan aku, dia itu bos aku, Gibran! Aku ninggalin semuanya termasuk kehidupan pekerjaan aku demi Aurora, jadi jangan sekali-kali kamu kira aku bakalan ninggalin Aurora!"
"Aku gak akan biarin kamu bawa Aurora saat kamu kembali sama mantan kamu!"
"Bicaramu seolah aku akan pergi detik ini juga!"
"Itu karena kamu masih terus-terusan terikat sama dia, kamu masih simpen nama dia di ponsel kamu dengan sebutan 'calon suami', belum lagi kamu masih pakai cincin pertunangan kalian, gimana caranya supaya aku bisa gak berpikir kamu gak bakalan ninggalin aku kayak dulu?!"
Aku terdiam mendengar ucapan Gibran yang emosional dengan nada kencang hampir terdengar seperti sebuah teriakan.
"Aku pergi karena aku gak sanggup berhadapan sama kamu yang terang-terangan mempermainkan aku, Gibran! Kamu mau aku tetep disisi kamu, begitu? Dengan hati yang udah kamu buat patah, kamu mau aku terus jadi cadangan kamu, Hah?!"
"..."
"Seperti sekarang..."
Air mataku menetes, semesta sepertinya memang tidak mengijinkan aku dan Gibran untuk berdamai karena setiap hal yang kupikir akan membawa kami pada kebahagiaan justru malah menjadi gerbang awal dari penderitaan baru.
Kami bertengkar lagi entah sudah yang ke berapa kalinya sejak kami menikah.
Aku berpikir kehidupan pernikahan kami akan membaik, seiring dengan berjalannya waktu tapi aku salah karena semakin lama pernikahan ini terjalin semakin aku dan Gibran hidup sebagai orang asing yang tinggal dalam satu atap yang sama.
Meskipun hubungan ku dengan Gibran membuatku frustasi tapi setiap detik yang aku lalui bersama dengan Aurora dan menyaksikan tumbuh kembangnya membuatku merasa bahagia.
Tanpa terasa enam bulan telah berlalu dan Aurora tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan terutama ketika ia mulai bisa duduk sendiri, terkadang melihatnya mengingatkanku pada Ruby, mungkin itu juga sebabnya kenapa Gibran tidak pernah bisa menatap Aurora terlalu lama, seperti hari ini.
Padahal ini adalah hari Minggu tapi Gibran pergi sejak pagi tadi dan hari sudah menjelang sore tapi Gibran masih juga belum pulang.
Selalu seperti ini, aku selalu gelisah menunggunya pulang meskipun dia terkadang pulang hingga larut malam.
Aku menghela nafasku yang terasa sesak ketika mengingatnya, tidak ingin terus memikirkan Gibran, aku memilih untuk mengajak Aurora jalan-jalan sore mengitari perumahan.
suasana yang teduh dan sedikit berangin apalagi pohon-pohon besar berjajar rapih di pinggir jalan setapak terasa damai.
"Jasmine..."
__ADS_1
Aku menoleh ketika mendengar seseorang memanggilku. Langkah kakiku seketika terhenti walaupun setelah melihatnya senyumanku seketika memudar.
"Sore-sore gini, kamu kenapa masih di jalanan?" Ayahku bertanya seraya meninggalkan mobilnya. Aku ingat seminggu setelah kematian Ruby, ayahku dan istrinya memilih pindah ke luar kota dengan alasan agar bisa mengikhlaskan kematian Ruby dengan mudah tanpa memikirkan Aurora yang juga membutuhkan sosok kakek dan nenek meskipun kedua orangtua Gibran serta nenek ku sangat menyayangi Aurora tapi bagiku kasih sayang yang utuh untuk Aurora lebih penting.
Kami akhirnya memutuskan untuk bicara di taman, suasana hening untuk sesaat terlebih karena Aurora tertidur sampai akhirnya ayahku mulai bicara.
"Udah enam bulan, gimana pernikahan kamu dengan Gibran?"
"Ya?"
"Begini, ayah datang sebenernya ingin membawa Aurora untuk tinggal bersama dengan kami..."
"Hah?"
"Ayah sudah pikirkan, Jasmine... Tindakan implusif ayah ketika menikahkan kamu dengan Gibran sangatlah merugikan kamu apalagi sebelumnya kamu sudah hampir menikah dengan pria lain. Kalau hubungan kamu dengan Gibran gak baik, kamu bisa pergi. Aurora pasti gak akan kekurangan kasih sayang jika tinggal dengan ayah dan mamanya Ruby."
Aku sungguh kesulitan untuk bicara bahkan untuk bernafas juga terasa sulit. Perkataan ayahku membuat nafasku tercekat, aku masih belum bisa memaafkannya hingga melihatnya kembali sekarang yang datang dengan membawa ide konyolnya membuat jantungku rasanya berhenti berdetak.
"Jasmine..." Ayahku memanggil lagi dengan lembut, ia bahkan menyentuh punggung tanganku.
"Bahkan meskipun pernikahan aku dengan Gibran gak baik-baik aja, ayah gak berhak pisahin aku sama putriku, Rora!" Ucapku dengan tegas, aku menyeka air mataku dengan cepat sebelum beranjak bangun dan bergegas pergi.
"Jangan buang waktu kamu, Jasmine... Hiduplah bahagia dengan pria yang mencintai kamu dan milikilah anak mu sendiri, buat keluarga kecil kalian bahagia."
"Ayah tahu apa tentang kebahagiaan aku? Dari dulu sampai detik ini, ayah gak pernah ada di sisiku. Ayah, aku mohon... Jangan buat sisa kasih sayangku untuk mu berubah menjadi benci. Jangan serakah, Rora itu putri aku, kalian gak bisa ambil Rora dari aku!"
"Tapi Jasmine..." Ayahku menghentikan langkahku dengan mencekal pergelangan tanganku. Dia membuatku takut kalau dia akan benar-benar membawa Aurora bersamanya hingga tubuhku mulai gemetaran.
"Ayah, tolong jangan ganggu istri dan anak saya..."
Seperti pahlawan yang aku harapkan, Gibran tiba-tiba datang dan langsung melepaskan pergelangan tangan ku dari tangan ayahku, ia lantas berdiri di hadapanku seraya menahan ayahku untuk tidak bergerak mendekati ku.
"Gibran, sudah cukup... Kamu bahkan tidak mencintai, Jasmine!'
"Anda gak tahu apapun tentang perasaan saya!"
***
__ADS_1