Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Tetap menjadi sandaran


__ADS_3

Aku melangkah melewati lorong apartemen tempat aku tinggal selama beberapa bulan terakhir ini dalam diam dan sepi.


Ketika melewati apartemen milik Juna, langkahku terhenti sejenak. Ia tidak memberikanku kabar setelah hari itu, hari dimana hidup kami berubah sepenuhnya saat aku tanpa bisa menolak harus menikah dengan Gibran.


Perasaan bersalah itu kembali lagi seiring dengan ingatanku tentang Juna yang mengatakan akan menungguku.


Tapi Juna, aku bahkan tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, aku tidak tahu akhirnya nanti seperti apa, yang aku tahu sepertinya aku akan kembali berteman dengan rasa sakit.


Padahal kamu sudah susah payah menyelamatkan ku dari rasa sakit itu, tapi aku malah kembali ke tempat yang sama. Aku hanya bisa berdoa semoga hatimu berpaling dariku yang hanya bisa menyakitimu walaupun aku masih tidak tahu bagaimana caranya memalingkan hati ini karena sepenuhnya hati ini masih menjadi miliknya. Milik pria yang terganggu melihatku tersenyum, bukankah aku begitu menyedihkan?


Aku menyeka air mataku, seperti wanita bodoh yang menangis di depan pintu sendirian tanpa berani mengetuknya...


Terasa berat, begitu berat ketika aku memasuki apartemenku, tempat yang akhirnya aku bisa beli dengan hasil jerih payahku sendiri. Tempat yang akhirnya bisa membuatku dan Juna tinggal sebagai tetangga karena selama di London dulu, ketika kuliah aku tinggal di asrama kampus dan setelah lulus, aku memilih tinggal di basemen untuk menghemat biaya hidup dan menolak penawaran Juna yang memintaku tinggal dengannya.


Tidak ingin berlarut-larut dengan kesedihan ku, aku melangkah memasuki kamar ku dan mengemasi semua pakaianku.


"Kamu mau bawa semuanya?"


Aku menoleh begitu mendengar suara Juna, dia memang mengetahui password apartemen ku tapi aku tidak tahu bagaimana Juna tahu kalau aku pulang, apa mungkin dia tahu aku menangis dengan putus asa di depan pintu apartemennya?


"Kamu gak mau kembali lagi kesini?" pertanyaan Juna semakin terdengar memilukan.


"Aku gak tahu kapan aku bisa kembali..." jawabku sambil menyeka air mataku, aku kemudian keluar dari dalam kamarku dengan membawa tas berisi pakaian yang sudah selesai aku kemasi, melewati begitu saja walaupun aku tahu dia sedang terluka karena ku.


"Kamu udah makan?" tanya Juna yang membuat langkahku seketika terhenti.


Sekarang aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan air mataku lagi. "Sekali aja kak Juna... Sekali aja apa kamu gak bisa benci sama aku?" tanya ku menoleh.

__ADS_1


"Kenapa aku harus benci?"


"Aku ngecewain kamu, aku ngelanggar janji kita. Aku nikah sama orang lain, kak Juna... Aku nyakitin kamu terus, seenggaknya kamu harusnya benci aku..."


Juna mendekat, ia mengangkat wajahku dan menyeka air mataku lalu tersenyum, "Aku tahu kamu gak berniat menyakiti aku..."


"Aku udah bilang aku akan nunggu kan?" ucapnya sekali lagi dengan lembut.


Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi perasaan Juna yang tidak ada habisnya untuk ku. Pria itu bahkan menuntunku sekarang dan membuatku duduk di kursi meja makan lalu dengan tenang ia membuatkan secangkir teh hangat untuk ku dan setelah itu dengan tenang ia membuatkan roti bakar untuk ku.


"Foto profil kamu ganti..." ucapnya setelah meletakkan dua potong roti di hadapanku.


"Iya, tadi pagi aku ganti..." jawabku tanpa menyentuh roti itu, aku hanya bisa memandanginya tanpa berani memakannya sampai Juna mengoleskan selai strawberry kesukaan ku di atasnya dan bergerak menyuapiku tapi aku mengambil roti itu sebelum Juna berhasil menyuapiku.


Aku merasa ada yang salah jika aku menerima suapan itu tapi ekspresi Juna yang tetap tersenyum meskipun kecewa membuatku menyesal.


"Dia anak aku sekarang..." sahutku pelan.


Suasana menjadi hening setelah itu, terlebih ketika Juna menutup ponselnya lalu menatapku.


"Aku boleh jadi ayahnya nanti?"


Aku tertegun mendengar pertanyaan Juna tapi belum sempat aku menjawab, Gibran telah lebih dulu datang menarik ku bangun secara tiba-tiba. "Gak boleh!" ucapnya dengan tegas, ia lalu menarik ku melangkah bersamanya tapi Juna menahan langkah kami dengan mencekal pergelangan tangan ini.


Sama seperti ketika Gibran menarik ku dengan marah di depan perpustakaan dulu dan Juna menahan ku, kejadian itu terulang lagi.


Dunia kami terus berputar-putar ketempat yang sama hanya saja di waktu yang berbeda tapi rasa sakitnya tidak sedikitpun berkurang malah bertambah.

__ADS_1


Juna kemudian beranjak bangun tapi ia tidak melepaskan tanganku sedikitpun. Dia mungkin tidak bicara tapi matanya menggambarkan segalanya jika ia masih sangat marah.


Aku teringat ketika Juna memukuli Gibran di rumah sakit, luka memar itu bahkan masih sedikit membekas di wajah Gibran, aku takut dia memukul Gibran atau mungkin mereka akan saling memukul karena Gibran menunjukkan kemarahan yang sama besarnya.


"Lepasin dia..." dengan suara yang tertahan amarah, Gibran meminta Juna melepaskan tanganku.


Juna tidak lantas menjawab tapi ia melihat ke arah tangan Gibran yang mencengkram lenganku kuat-kuat.


"Kalau gue gak mau, loe mau apa?" tanya Juna menantang.


"Dia istri gue sekarang!"


"Apa yang bisa loe banggain dari pernikahan yang terjadi karena keadaan? Jasmine bahkan masih pakai cincin pemberian gue..."


Kini giliran Gibran yang melihat ke arah tanganku, tepat ke arah cincin pemberian Juna yang saat ini masih melingkar di jari manis ku.


"Loe cuma bagian dari masa lalu Jasmine, jangan serakah..." tukas Juna yang akhirnya melepaskan tangan ku tapi ia menepuk puncak kepalaku sebelum akhirnya melangkah pergi.


"Satu lagi, sampai kapanpun gue yang akan jadi sandaran bagi Jasmine... Hanya perlu waktu bagi dia kembali ke sisi gue, status kalian gak akan mempengaruhi hubungan kami..."


Juna telah pergi, pergi meninggalkan amarah bagi Gibran yang kini melampiaskannya padaku melalui sorot matanya yang seolah bisa mencekik ku.


"Apa menyenangkan?" tanya Gibran sambil melepaskan tanganku dengan kasar. "Bisa berselingkuh di depan mataku, apa begitu menyenangkan?" tanya Gibran seraya bergerak mendekat dan mengintimidasi ku.


"Jawab aku..." Bisik Gibran membuat tubuhku membeku.


"Jasmine, jangan coba-coba untuk bahagia, kamu gak di ijinkan untuk itu..." tukas Gibran sebelum melangkah pergi meninggalkan ku yang tidak bisa menepis satupun ucapannya yang menyakiti ku sekali lagi .

__ADS_1


***


__ADS_2