
"Sepertinya kamu lupa satu hal, Jasmine... Seumur hidupmu, kamu selalu egois."
Aku kehabisan kata-kata ku, tubuhku diam membeku setelah mendengar perkataan Gibran tentangku.
Egois...
Dimana letaknya? Dimana aku bisa menemukan keegoisan yang kamu sebut-sebut adalah milik ku?
Aku ingin menemukannya, aku ingin menjadi egois dan meninggalkan mu sekali lagi...
Sesak, dadaku terasa sesak hingga aku sulit bernafas. Kenapa setiap kali aku merasa kalau hubungan kami mungkin akan membaik, setiap itu juga hubungan kami semakin menjauh, hancur berantakan dan tidak tertolong.
Tubuhku jatuh lunglai, aku menangis terisak-isak di lantai karena tidak mampu menahan rasa sakit hati ini. Ucapan mu seperti racun yang perlahan-lahan membunuh ku, Gibran...
Sakit, aku tidak memiliki alasan untuk kabur dari rasa sakit ini.
Semua ini membuatku sekarat.
Pertengkaran ini membelah dunia kami. Hubunganku dengan Gibran mungkin memang tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi bahkan ketika pagi tiba, Gibran sudah tidak ada lagi di rumah orangtuanya. Dia meninggalkan ku dan Aurora dan menegaskan jika hubungan kami tidak baik-baik saja sehingga kedua orangtuanya terus menerus meminta maaf padaku terutama mamanya Gibran yang masih terus menyeka air matanya sejak ia menyerahkan Aurora kembali padaku.
"Papa antar ya, Jasmine..." entah sudah beberapa kalinya ayah Gibran membujuk ku agar aku mau di antar tapi aku tetap bersikeras pulang sendiri.
"Aku bisa pulang sendiri kok, pah. Tadi aku udah minta mama pesan taksi." jawab ku yang mencoba untuk tetap tersenyum meskipun senyuman ku tidak mengubah apapun termasuk raut wajah sedih yang mereka tunjukkan padaku.
"Mama kenapa dipesenin sih?!" Papa Gibran terlihat marah tapi mama Gibran hanya menghela nafas, sepertinya dia lebih mengerti kalau aku ingin sendirian.
"Telepon mama kalau ada apa-apa ya?" pinta mama Gibran sambil menyentuh tanganku, ia tersenyum hangat.
"Iya mah..."
__ADS_1
Aku bahkan masih tidak bisa menemukan ponselku, tapi aku tidak bisa mengatakannya atau mereka mungkin akan benar-benar menahan ku disini.
Tidak lama kemudian taksi yang aku pesan akhirnya datang, aku segera berpamitan pulang sambil menggendong Aurora.
Dalam perjalanan, air mataku kerap menetes, aku menyekanya berkali-kali dan mengalihkan perhatianku pada Aurora, bayi mungil yang saat ini terlelap dalam dekapanku tapi kemudian, air mataku kembali mengalir.
Aku tidak mengerti, aku berpikir kalau aku telah terbiasa dengan rasa sakit ini tapi aku salah, aku tidak pernah bisa terbiasa dengan rasa sakitnya bahkan setelah aku menangis semalaman, hatiku masih saja sesak.
Harusnya aku tidak perlu kembali ketempat ini, seharusnya aku menghapusnya sepenuhnya dari hidupku, harusnya aku belajar untuk membencinya, harusnya...
Serasa penyesalan itu tidak berarti ketika aku menatap wajah polos Aurora karena jika aku tidak kembali maka Aurora akan bernasib sepertiku. Hatiku kembali tersayat pedih. Aku mengecup wajah mungil itu sambil berdoa dalam hati semoga di kehidupannya, Aurora hanya mengenal kebahagiaan bukan kepedihan sepertiku.
...
Aku akhirnya tiba di rumah Gibran, segera aku meletakkan barang-barang milik Aurora di kamarnya.
Aurora mulai menangis ketika aku sadar jika kamar ini sudah sepenuhnya berubah, ada sebuah tempat tidur yang terletak di sebelah tempat tidur Aurora sementara kursi sandar yang sebelumnya berada di sana kini telah berpindah ke dekat jendela tepat di sebuah lemari yang sebelumnya tidak ada di sana. Aku ingin mengeceknya tapi tangisan lapar Aurora membuatku menundanya.
Sambil menghela nafas berat, aku mencoba menghapus ingatan manis sikap Gibran di supermarket kemarin dengan begitu rasa sakit ini mungkin juga akan berkurang tapi aku salah sekali lagi, aku masih kesakitan bagaimanapun caranya aku mencoba menghapus kenangan itu.
Aurora masih menangis, aku segera menggendongnya ke pangkuanku lalu memberikannya susu.
"Haus ya nak?" ucapku sambil mengajaknya bicara dan dia tersenyum meskipun Aurora sama sekali tidak melepaskan botol susunya.
"Ibu juga lapar, dari kemarin ibu gak makan... Makan apa ya enaknya?" Seolah memahami semua perkataan ku, Aurora selalu menatap ku setiap kali aku bicara dan setelah itu dia akan tersenyum dengan sangat cantik.
"Udah selesai nyusunya? Sekarang ikut ibu ya cari makanan di dapur," aku lantas menggendongnya dan meletakkan kepalanya di bahu ku sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan agar ia bersendawa setelah itu baru lah aku melangkah menuju dapur.
Aku membuka pintu kulkas dan menemukan banyak bahan makanan di sana tapi itu justru membuatku teringat saat aku bertemu dengan Ruby dan Gibran di supermarket, troli belanja mereka sangatlah penuh. Aku tidak ingin menangis tapi aku tidak bisa menahan kesedihanku karena teringat Ruby. Sambil menutup kembali pintu kulkas, aku memeluk Aurora erat-erat.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa berpikir untuk bahagia jika tempat ini adalah milik Ruby? Harusnya ia yang ada disini, harusnya ia sedang menikmati masa-masa bahagia bersama dengan Aurora dan juga Gibran, adik ku yang malang...
Aku merindukanmu...
***
Aku menatap wajah Aurora yang saat ini terlelap di sebelahku, kepalaku sakit, tubuhku mulai kedinginan dan sepertinya aku demam.
Tidak ingin Aurora sakit karena berada terlalu dekat dengan ku, akhirnya aku memilih untuk keluar dari kamar.
Dengan tubuh yang mulai mengigil, aku mengambil ponselku dan mencari kontak Gibran di ponselku. Aku tidak tahu nomor ponselnya masih aktif atau tidak tapi dia mencoba menghubunginya dan ternyata nomornya masih aktif.
Dengan perasaan gugup bercampur gelisah, aku menunggu Gibran mengangkat telepon dariku tapi pria itu tidak mengangkatnya.
"Tolong kirimin barcode CCTV kamar Aurora." tulis ku pada pesan yang ku kirimkan pada Gibran tapi pesan itu hanya di baca tanpa di balas.
Aku mulai batuk-batuk tapi aku segera kembali ke kamar Aurora. Aku melangkah menuju lemari pakaian, dan ketika aku membukanya, baju-baju ku sudah tersusun rapih di sana.
Apa mungkin, Gibran yang menyusun? Aku tidak mau berharap, pria itu tidak akan melakukannya, mungkin dia menyuruh orang lain untuk menyusun pakaian ku.
Memikirkannya hanya akan membuat hatiku sakit, jadi dengan cepat aku mengambil jaket ku lengkap dengan syal serta masker untuk memastikan kalau Aurora aman berada di dekatku, meskipun begitu aku memilih untuk tidak lagi tidur di sebelahnya. Aku duduk di sofa panjang dan bersandar, terasa tidak nyaman apalagi tubuhku semakin mengigil tapi aku tidak tahu harus bagaimana karena mataku terasa berat, aku tidak ingin tertidur karena aku harus mengawasi Aurora tapi tubuh ini tidak mau menuruti ku.
Aku mencoba membuka kedua mataku ketika mendengar Aurora menangis tapi tubuhku masih tidak juga mendengarkan ku.
"Rora..." Aku bergumam sambil berusaha untuk bangun tapi aku malah merasakan tubuhku terangkat.
"Kenapa kamu begitu keras kepala?"
Suara itu terdengar samar-samar di telingaku ketika aku merasakan empuknya tempat tidur dan tubuhku mulai berbaring, aku ingin tahu siapa yang memarahiku hingga aku berusaha keras untuk membuka kedua mataku dan bergegas duduk.
__ADS_1
"Sekali ini aja dengerin aku, Melati..."
***