Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Jangan terluka lagi


__ADS_3

Flashback off


...----------------...


...Jasmine Pov...


"Seperti meneguk racun. Aku merasa mati pada saat itu."


Suara klakson kapal terdengar jelas menggema di sekitaran dermaga tempat aku dan Gibran berada sekarang, seakan semesta sengaja menyamarkan ucapan penyesalan yang terlontar dari mulut Gibran, tapi aku tidak hanya mampu mendengarnya, tapi juga merasakannya.


Cukup lama Gibran bercerita hingga kami tiba di tempat ini. Beberapa kali Gibran menangis tapi aku tidak memberikan reaksi apapun, sejujurnya karena aku sudah tahu semua itu.


Diary Ruby menceritakan segalanya, bahkan kenyataan yang Gibran tidak ketahui termasuk obat perangsang yang sengaja Ruby masukkan ke dalam wadah airnya, begitu juga ketika Ruby pura-pura mabuk dan di kejar oleh dua orang brengsek yang berusaha melecehkannya karena semua itu adalah bagian dari rencananya yang ingin memanipulasi Gibran dan dia berhasil dengan sempurna.


Mungkin karena aku sudah tahu alasan kenapa takdir ini begitu mengikat dan terasa sangat menyakitkan, jadi aku tidak lagi merasa marah pada Gibran sebanyak dulu.


"Mau nyebrang pulau gak?"


"Ya?"


Gibran terlihat kebingungan dengan ajakan ku tapi dia mengikuti langkah kakiku yang berjalan mendekati kapal yang sedang berlabuh.


"Dua orang pak," ujar ku pada penjaga tiket lalu melangkah meninggalkan Gibran memasuki kapal sementara Gibran saat ini terlihat masih kebingungan saat membayar tiket.


Setelah mendapatkan tiket, Gibran langsung berlari menaiki kapal menghampiriku yang saat ini berdiri di dekat pembatas kapal, menatap pulau yang terletak tidak begitu jauh dari pelabuhan ini.


Aku merasakan sesuatu menutupi bahuku ketika Gibran akhirnya tiba di sebelahku, dia menyerahkan jaketnya padaku. Sikap seorang pria gentelman yang tidak pernah hilang dari dirinya meskipun banyak hal menyakitkan yang sudah ia lalui.


Cukup lama kami terdiam, menikmati indahnya pemandangan dan angin sejuk yang berhembus kencang karena kebetulan langit terlihat mendung. Turun gerimis ketika kapal akhirnya kembali berlayar, tapi aku dan Gibran masih tetap di posisi kami tanpa berniat untuk berteduh.


"Aku merasa marah pada diriku sendiri karena aku tidak bisa mencintainya sepanjang hidupnya." Gibran akhirnya bicara lagi. Aku menoleh dan menatapnya, merasa ingin memberitahukannya segalanya agar dia berhenti merasa bersalah tapi aku takut itu akan membuat perasannya pada Rora berubah.


"Lalu gimana denganku, kenapa kamu marah padaku dulu?"

__ADS_1


"Karena aku gak bisa memiliki kamu."


Aku melihatnya mendongakkan kepalanya, dia menahan air matanya agar tidak menetes sekuat tenaganya.


"Aku marah karena ada pria lain yang melindungi mu dan aku marah karena aku menyesali segalanya tapi aku tidak bisa mengucapkan satu maaf pun padamu. Aku marah pada segala hal diantara kita, pada takdir yang tidak berpihak, pada kamu yang mungkin sudah tidak mencintaiku dan hatiku patah karenanya," sambungnya saat kembali menatapku.


Sorot matanya memperjelas semuanya, betapa dia tersiksa di masa lalu yang ternyata tidak hanya aku yang terluka pada saat itu.


"Kamu marah pada banyak hal karena aku, haruskah aku minta maaf?"


Gibran tertegun sejenak, dan disaat itulah aku tersenyum lembut sambil melangkah satu langkah lebih dekat padanya.


"Maaf, Gibran...."


Air matanya lolos lagi, tepat ketika aku menyentuh punggung tangannya dan meminta maaf.


Dia menundukkan kepalanya, menatap ke arah tanganku yang saat ini menggenggam tangannya cukup erat dan sesekali membelainya dengan ibu jariku.


Rupanya aku memang telah mematahkan hatimu, Gibran....


"Mungkin memang sudah takdirnya, aku, kamu dan Ruby. Kita harus merasakan semua rasa sakit itu agar bisa memiliki Rora. Kamu menyayanginya kan?"


"Lebih dari apapun!"


Aku tersenyum dan memberanikan diri mengusap-usap punggungnya seraya menenangkannya.


"Aku menyesali kebodohanku, Jasmine... Aku sungguh menyesal."


Suara klakson kapal berbunyi lagi, aku berusaha untuk tetap tersenyum walaupun hatiku terasa sakit.


"Kita telah melewati banyak hal, Gibran...."


Gibran memalingkan wajahnya, dia sedang menyembunyikan tangisannya lagi. Hatiku teriris pilu, tapi aku tetap berusaha menahan air mataku.

__ADS_1


"Rasa sakit dan penderitaan yang kita lalui mulai saat kita remaja hingga menuju dewasa dan akhirnya kita menjadi dewasa sekarang. Fase itu kita lalui bersama dengan berat dan rasa sakit, tapi aku sudah tidak menyesalinya lagi."


"Tapi dari semua waktu itu, aku hanya terus menyakitimu... Aku mendorongmu menjauh, aku menorehkan banyak luka dan trauma dalam hidupmu. Aku ... Maaf, Jasmine. Aku tahu seribu maaf tidak akan mengobati luka itu!"


Air mataku tidak bisa terbendung lagi ketika Gibran mengungkapkan semua perasaan bersalahnya padaku sambil berpegangan pada bahu, sungguh... Aku sungguh ingin memeluknya sekarang.


"Sejujurnya hatiku sudah hancur, tidak ada yang perlu diobati lagi."


Aku tidak mengerti, berapa banyak air mata yang harus kami tumpahkan, berapa banyak luka yang harus kami tanggung karena perasaan ini sungguh menyiksa.


Segala hal yang terjadi diantara kami, tidak ada satupun yang membahagiakan, tapi sampai kapan?


"Sejujurnya aku muak!"


Gibran menoleh ke arahku lagi, dia menatapku nanar dengan semua rasa sakit yang tidak bisa lagi dia sembunyikan dari sorot matanya yang membuatku tersiksa.


"Aku muak dengan rasa sakit ini, Gibran... Aku muak memasukkan lebih banyak luka ke dalam hatiku dan aku muak melihatmu menderita, Gibran... Aku muak!"


Gibran menarik nafas dalam, ia menggigit bibir bawahnya, nafasnya tercekat dan dia berkata pelan, "Lalu aku harus bagaimana?"


"Aku hanya ingin kita bahagia sekarang...."


"Kembali padaku, Jasmine... Bukannya cinta harusnya tidak berpisah-"


"Tapi, Gibran... Aku meninggalkan hati itu di masa lalu. Aku mencoba untuk hidup dengan hati yang baru sekarang, maka seharusnya kamu begitu juga, kan?"


"Maksudmu hati yang tidak ada aku di dalamnya?"


"Bagaimana dengan mu?"


"Aku akan selalu sama! Perasanku tidak akan pernah berubah, jadi ayo kita jangan terluka lagi, Jasmine...."


***

__ADS_1


__ADS_2