
"Ihh!!!"
Aku menarik tanganku dengan kasar sesaat sebelum kami tiba di depan mobil Gibran yang terparkir di pinggir jalan, tepat di depan halaman rumah nenek ku.
"Pinter banget ya kamu curi kesempatan!" sindir ku dengan galak sambil melipat kedua tanganku di dadaku dan memalingkan wajahku karena kesal.
"Apa sih mantan istri? Kamu gak denger tadi nenek bilang baju Rora udah banyak yang kecil?" jawab Gibran berpura-pura polos.
"Iya tau, tapi kan ini masih pagi banget. Mana ada toko baju yang buka jam segini? Lagian aku biasanya juga beli baju Rora sendiri. Sok-sokan perduli... Kemana aja kamu selama ini?!" panjang kali lebar, ucapanku pada Gibran tidak berhenti di satu kalimat saja sementara Gibran mendengarkan dengan sabar dan sikapnya membuatku semakin jengkel.
"Udah ngomelnya?"
Tuh kan? Gibran kenapa sih hari ini?
Aku tidak menanggapinya kali ini tapi Gibran mulai melangkah, satu langkah mendekat hingga aku secara refleks melangkah mundur. Tentunya alarm bahaya mulai terdeteksi oleh tubuhku ketika Gibran terus mendesak ku.
Kini aku tidak bisa menghindar lebih jauh lagi ketika punggung ku sudah menabrak mobil Gibran dan seperti pria superior yang mendominasi dalam banyak novel yang pernah aku tulis, Gibran menempatkan satu tangannya di atas kepalaku, bersandar pada mobilnya sementara tangannya yang lain mulai bermain-main dengan ujung rambutku.
Aku menahan nafasku ketika Gibran menatap jari-jarinya yang saat ini masih membelai ujung rambutku.
Dia mendadak menjadi tenang, sekali lagi kesannya berubah dengan cepat karena aku merasa sorot matanya kembali terlihat sendu.
"Kalau aja aku bisa memutar waktu, tapi itu gak mungkin, kan?"
Aku tertegun, melihat cara Gibran tersenyum sekarang, dia terlihat menyesal dan perlahan melepaskan rambutku.
"Aku tahu kalau aku gak bisa memperbaiki kesalahan ku di masa lalu, Jasmine... Aku sadar akan semua kesalahanku, padamu, pada Rora... Jadi maaf, aku minta maaf ...."
Ada perasaan bersalah yang menyusup ke celah hatiku saat Gibran mengatakan semua hal itu.
"Aku boleh gak ikut beli baju Rora sekarang?" tanya Gibran dengan nada suara yang terdengar hati-hati, dia menatapku penuh harap.
"Ya udah...." jawabku pelan meskipun aku masih belum berani menatap kedua matanya.
Senyuman di bibir Gibran terukir lagi, dia mengusap puncak kepalaku setelah itu barulah dia membukakan pintu mobilnya untuk ku.
"Silahkan mantan istriku yang cantik...."
"Gak usah gombal!"
"Usaha dikit kan boleh...."
"Kebanyakan usaha kamu hari ini!"
Gibran tertawa pelan, tawa yang menular hingga aku juga ikut tertawa.
__ADS_1
"Seenggaknya usahaku membuahkan hasil tadi," bisik Gibran tepat ketika aku sudah duduk di kursi sebelah kemudi.
Seringai di bibirnya membuat jantungku kembali berdebar-debar tapi aku menutupinya, kegugupanku karena sorot matanya, karena senyumannya, karena segala hal kecil yang dia lakukan untuk ku.
Kedua mataku tidak bisa berpaling ketika Gibran memakaikan sabuk pengaman untuk ku, saat dia mencubit pipiku dengan gemas lalu menutup pintu mobil dengan hati-hati setelah itu dia berlari kecil seakan tidak sabar untuk segera duduk di sebelahku.
Ku pikir Gibran tidak boleh terlalu banyak tersenyum karena dia terlihat sangat tampan saat senyuman menghiasi wajahnya, itu membuatku kesulitan mengendalikan degup jantungku yang masih sama, berdebar untuknya.
Gibran masih tersenyum ketika dia duduk di balik kemudi, ia lantas memakai sabuk pengamannya lalu mulai melajukan mobilnya.
"Eh, aku lupa gak bawa dompet!" aku memekik ketika mobil Gibran sudah keluar dari dalam kompleks perumahan.
"Ya emangnya kenapa?"
"Bayarnya pakai apa coba? Aku gak bawa hp juga... Tolong putar balik dong."
"Gak perlu, jangan jadiin tas kamu sebagai alasan buat kabur ya!"
"Gak kabur, Gibran... Ayo putar balik!"
Gibran tidak menghiraukan permintaan ku, ia tetap melajukan mobilnya sesuai keinginannya, hingga aku meliriknya dengan sinis sebelum memalingkan wajahku.
"Nih...."
Aku menoleh ketika Gibran tiba-tiba saja memberikan sebuah kartu berwarna emas padaku.
"Buat apa?"
"Buat kamu lah, sayang...."
Selalu saja seperti ini, setiap kali Gibran memanggilku dengan sebutan 'sayang' perutku rasanya seperti tergelitik geli dan selanjutnya aku akan merasa gugup.
"Gak perlu!" dengan sisa kewarasan ku, aku menolak dengan tegas. "Kartu yang sebelumnya kamu kasih juga aku gak pakai!"
"Iya makanya kenapa gak pernah di pakai dulu?"
Aku ingat ketika Gibran pertama kalinya memberikan kartu kepadaku dan itu bukanlah kartu kredit, dia memberikanku kartu debit yang jumlah saldonya tidaklah sedikit dan setiap bulan selalu bertambah tapi sekalipun aku tidak pernah menggunakannya karena Gibran memberikan kartu itu dengan cara yang membuat hatiku sakit serta harga diriku terluka.
Saat itu adalah hari kedua aku tinggal di rumahnya dan malamnya kami bertengkar hebat.
"Kamu mau sarapan?" aku bertanya dengan hati-hati ketika Gibran berhenti di depan dapur dimana aku sedang membuat sarapan tapi Gibran tidak menjawab.
Wajahnya dingin, ekspresinya datar, dia lantas melemparkan sebuah kartu dan buku tabungan lengkap dengan pin-nya serta kode akses untuk m-banking ke atas meja dapur lalu pergi begitu saja. Tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertanya uang itu untuk apa karena setelah itu kami hanya terus bertengkar di setiap kesempatan.
"Jasmine?"
__ADS_1
Aku menarik nafasku ketika panggilan Gibran menarik ku dari kenangan masa lalu yang kembali membuat dadaku sesak.
"Ini ambil, bahaya nih kalau aku terus-terusan nyetir dengan satu tangan." pinta Gibran dan akhirnya aku mengambil kartu itu tapi tidak untuk aku simpan melainkan untuk aku letakkan ke atas dashboard begitu saja.
"Kenapa di taro disitu? Karena gak ada dompetnya? Pakai dompet aku mau?"
"Gibran, kamu lupa ya kita udah cerai?"
Gibran tidak segera menjawab, ia terlihat menarik nafas dalam sebelum menjawab, "Apa perlu ya diingetin terus?"
"Ya kenapa kamu malah kasih aku kartu?"
"Kan buat Rora...."
Dang! Kenapa aku merasa sedang mempermalukan diriku sendiri?
"Walaupun aku gak akan keberatan kalau kamu pakai buat kebutuhan kamu dan nenek sekalian," sambung Gibran dengan enteng.
"Gak perlu, aku masih bisa kerja!"
"Rora masih kecil banget, biar aku aja yang kerja. Kamu jaga Rora aja...."
"Kan ada nenek, lagian waktu kerja aku fleksibel. Terus kak Juna bilang gak masalah kalau bawa Rora ke kantor."
Rahang Gibran terlihat mengeras, sepertinya dia keberatan aku kembali bekerja tapi aku tidak bisa hidup mengandalkannya sementara tabunganku sudah berkurang banyak karena sebelum menikah dengan Gibran, aku baru saja membeli apartemen secara tunai tanpa menyicil yang sayangnya aku harus tinggalkan begitu saja karena aku harus tinggal dengan Gibran tapi mungkin nanti aku akan kembali menempati apartemen itu bila Aurora sudah lebih besar.
"Kenapa harus sama dia?"
"Ya?"
"Kerjanya...."
"Karena aku bisa lebih banyak waktu bareng Aurora. Lagian kemana lagi aku bisa cari bos yang pengertian kayak kak Juna, kan?"
"Itu karena dia mengharapkan sesuatu dari kamu!"
"Ya namanya bos pastinya dia menaruh harapan sama karyawannya, kan?"
"Aku gak tau kamu pura-pura bodoh atau sengaja buat aku merasa semakin buruk, tapi Jasmine... Di dunia ini gak ada orang yang baik tanpa pamrih."
"Kak Juna itu baik tanpa pamrih, dia bahkan gak keberatan pas aku minta dia cek keadaan kamu waktu itu..."
Aku segera menutup mulutku rapat-rapat karena membuka rahasia ku sendiri dulu ketika Gibran terlihat kacau di tengah proses perceraian kami.
"Terus kalau dia tulus, kamu berencana berpaling ke dia saat aku gak ada di sisi kamu?"
__ADS_1
***