
Aku menarik nafas dalam-dalam, Gibran sekali lagi membuatku nyaris kehabisan nafas dan lihatlah bagaimana caranya menyeringai penuh kemenangan setelah membungkam bibirku dengan ciumannya yang bergairah. Dia membuatku geram tapi sekaligus tidak berdaya dalam waktu bersamaan.
"Aku ingin lebih..." Bisik Gibran berbarengan dengan tangan nakalnya yang perlahan menyusup ke dalam gaun ku dan meraba pahaku dan terus bergerak naik ke atas.
Dia membuat tubuhku membeku, aku tidak bisa bergerak ketika ia mendaratkan bibirnya tapi kali ini bukan di bibirku melainkan di tengkuk ku sementara tangannya semakin liar tidak terkendali.
"Gibrannn..." Aku mencoba mendorongnya tapi sentuhannya membuatku lemas. Tentunya aku sudah cukup dewasa untuk tahu kemana arah permainan ini hanya saja aku tidak pernah tahu jika sensasinya sampai seperti ini.
Dia mengigit ku, mengecup setiap inci leher jenjang ku sementara aku terbawa permainannya hingga aku hanya bisa terus mendongakkan tengkuk ku dan membiarkannya menjelajah lebih leluasa.
"Katakan kalau kamu menginginkan ku, Jasmine..." Gibran berbisik dengan suara yang serak dan tertahan gairah yang hampir meledak-ledak diantara kami.
"Bagaimana dengan mu?" tanya ku sambil mencengkram rambutnya aku mencoba untuk bertahan sebelum luluh lantak.
"Aku hampir gila karena mu."
Oh Tuhan, bukan dia yang hampir gila tapi aku! Terlebih saat sentuhannya semakin nakal menjelajahi setiap lekuk tubuhku.
"Aku gak bisa menunggu terlalu lama, Jasmine... Jawab aku!"
Dia mendesak ku, aku tau kami bisa meledak disini, tapi bagaimana caranya menjawab pertanyaannya jika aku terlalu sibuk menahan deru nafasku yang menjadi liar karenanya?
Aku mungkin akan segera berteriak karena tidak sanggup lagi menyembunyikannya, desakan yang semakin kuat, mendorong diriku untuk merengkuh Gibran lebih erat dan erat lagi agar pria itu tidak melepaskan ku.
"Jasmine..." Kini suara Gibran terdengar lebih lembut, ia menatapku dan terasa hangat menyentuh sudut hatiku, dia membiarkanku berpikir sejenak saat ia mengehentikan sentuhannya.
"Beri aku jawaban sebelum aku memaksakan kehendak ku padamu..." Walaupun ucapannya terdengar mengerikan tapi tidak dengan tindakannya. Seperti orang yang berbeda, seperti amarah itu tidak pernah ada sebelumnya, Gibran membelai wajahku, mengecup kening ku dan menatapku dalam-dalam.
Sekarang aku sudah sepenuhnya terbuai, "Pelan-pelan aja, Gibran. Aku belum berpengalaman."
Gibran tersenyum padaku setelah mendengar ucapanku seolah ia sangat senang sekarang, "Jadi kamu sungguh hanya dengan ku?" suaranya terdengar seperti tidak percaya tapi kedua matanya berbinar-binar senang hingga sekali lagi aku terpesona oleh ketampanannya.
"Ya?"
"Bibir mu apa hanya aku yang pernah menyentuhnya?" tanya Gibran sekali lagi sambil menyentuh bibirku yang kini basah dan sudah bengkak akibat ulahnya.
Aku menganggukkan kepalaku dengan hati-hati, atmosfer diantara kami masih begitu pekat dengan gairah yang meletup-letup di udara efek ciuman intens tadi, yang masih dengan kuat menarik kami untuk terus melakukannya lebih jauh lagi.
"Aku akan mengajarimu lebih banyak lagi, tapi kali ini jangan berhenti sebelum aku ijinkan."
"Gimana kalau aku kehabisan nafas lagi?"
"Kamu bisa mengigit ku sekali lagi!"
"Meskipun aku buat kamu berdarah?"
__ADS_1
"Ya meskipun kamu merobeknya lagi..."
Aku mengangkat tanganku, menyentuh bibir Gibran yang memerah akibat ulahku mengigitnya tadi, terlihat semburat merah itu seperti titik luka yang sangat perih.
"Apa sakit?" tanya ku sambil terus menyapukan jariku di bibir Gibran.
Gibran memejamkan kedua matanya, merasakan belaian tangan ku lalu setelah itu menatapku lagi.
"Jasmine, jangan siksa aku begini..."
Aku perlahan menurunkan tanganku dari bibirnya karena tidak ingin Gibran kesakitan tapi Gibran mencegah tanganku, ia mengembalikannya dan meletakan tangan ku di wajahku.
"Boleh gak?" Gibran tidak mau menyerah, dia terus membujuk ku sambil mengecup telapak tangan ku di bawahnya.
"Ya..." Satu kata itu seperti kalimat magis yang seketika membuatku dan Gibran kembali saling bertaut, membagi Saliva kamu tanpa rasa jijik hingga lidah kami juga bertemu sementara tangan kami saling menyentuh setiap garis tubuh kami tanpa permisi dan keraguan.
Kami mengacau, aku dan Gibran mengacaukan dapur ini, bergerak liar menjatuhkan apapun dalam jangkauan kami yang sibuk mencari pegangan saat kami semakin terbakar sampai akhirnya Gibran mengangkat tubuhku, dia menggendongku dan membawaku memasuki kamarnya tanpa melepaskan ciuman kami.
Kamar yang gelap dan sedikit remang-remang, hanya ada lampu tidurnya yang menyala tapi itu sama sekali tidak menghalangi Gibran untuk terus melangkah menuju tempat tidurnya dan membaringkan tubuhku disana.
Tempat tidur ini terasa dingin seolah tidak pernah di tempati oleh pemiliknya tapi Gibran tidak membiarkan pikiranku melayang lebih jauh karena setelah membuka bajunya dan samar-samar menunjukkan tubuh kekarnya yang tegap berotot ia mulai kembali menyentuhku, lebih liar lagi tanpa sedikitpun memberikan ku kesempatan untuk bisa bernafas dengan lega seolah ia memang tidak ingin aku memiliki kesempatan untuk berubah pikiran.
"Jangan pikirkan apapun, Melati... Jangan buat aku sepenuhnya dikuasi oleh amarahku karena cemburu!"
Aku berpikir jika Gibran akan melakukannya dengan kasar karena ia di pengaruhi oleh amarah seperti banyak ciuman yang ia berikan sebelumnya padaku tapi aku salah karena ia berubah menjadi sangat lembut hingga rasa takutku hilang saat melihatnya tersenyum.
Dia menenangkan ku, membebaskan ku dari rasa nyeri yang sebelumnya terasa seperti siksaan dan membawaku padahal rasa yang menakjubkan hingga aku tidak bisa berhenti memanggil namanya dengan suara yang nyaris tercekat.
Tidak hanya aku tapi Gibran juga terus memanggil namaku, menyebutnya dengan sangat lembut, Menarik ku kedalam kenangan manis kami dulu saat semuanya belum berubah, saat di dalam hubungan ini hanya ada aku dengannya.
Hari itu Gibran begitu senang karena tahu aku masuk ke sekolah SMA yang sama dengannya, ia langsung datang berlari ke rumahku dan memeluk ku, pelukan pertama kali setelah kami menjadi remaja bukan lagi anak-anak yang selalu berebut mainan dan perhatian.
"Pokoknya loe harus janji, sampai kapanpun kita gak boleh terpisahkan, loe harus ikut kemanapun gue pergi, ngerti melatiku?"
Aku tertegun sesaat setelah mendengarnya, tepat ketika Gibran melepaskan pelukannya. Dia tersenyum dengan hangat kepadaku sambil membuatku sedikit kebingungan kenapa ia sangat ingin aku terus membuntutinya.
"Emangnya kenapa? Setiap orang kan punya jalan masing-masing Gibran?!" tanyaku yang masih tidak sepenuhnya mengerti dengan arti ucapan Gibran.
"Gak! Apapun yang terjadi jalan kita akan selalu sama! Janji sama gue, Jasmine..."
"Iya janji!"
Rasanya bahagia, ketika jari kelingking kami sama-sama bertaut dengan lembut.
"Gitu dong, gue jamin loe pasti bahagia!"
__ADS_1
"Hahah... Awas aja kalau nanti buat gue menderita!"
"Gak akan!"
"Loe kan nyebelin!"
"Kita di level yang sama soal nyebelin kan, Jasmine!"
Itu benar! Aku tidak bisa mengelaknya lagi.
"Iya kalau gue sampai menderita, gimana!"
"Kalau loe sampai menderita artinya gue pasti akan lebih menderita."
Saat janji itu kami buat, rasanya kami sedang berjanji menjadi teman hidup yang tidak terpisahkan, seolah akhir kisah kami sudah bisa dipastikan akan bahagia tapi sayangnya janji itu terbang sudah sejak lama tanpa bisa terwujud, karena kamu mengingkarinya jadi aku memilih jalan yang lain...
"Kamu mikirin apa?" pertanyaan Gibran berhasil membuatku sadar jika aku baru saja tertarik kembali pada kesedihan yang masih belum sembuh sampai detik ini, tapi kami sudah sejauh ini, apa artinya kami sudah berada di jalan yang sama lagi sekarang?
Aku penasaran apa akhirnya kali ini kami akan bertemu bahagia?
"Jasmine..." Gibran memanggilku sekali lagi, dengan lebih lembut dari sebelumnya sambil merapihkan rambutku yang berantakan. "Kamu nyesel udah ngelakuin ini sama aku?"
"Gak kok..." Jawab ku tersenyum tidak kalah lembut.
Gibran kemudian menatapku, dia masih tidak terlihat puas dengan jawabanku meskipun begitu ia tetap merengkuh tubuhku yang saat ini berada di bawah selimut yang sama dengannya.
"Jasmine..."
"Ya?"
"Kamu cape?"
"Sedikit..."
"Mau tidur?"
"Belum ngantuk sih..."
"Aku juga belum ngantuk!"
Aku tidak berpikir panjang saat mengatakan itu karena Gibran langsung kembali naik ke atas tubuhku dengan senyuman penuh makna dan aku sepertinya tahu dengan jelas apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.
Sepertinya malam ini kami tidak akan bisa tidur dengan cepat... Atau mungkin kami tidak akan pernah bisa tidur malam ini.
***
__ADS_1