Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Berpaling


__ADS_3

"Jangan coba rebut istriku!"


Gibran yang tiba-tiba saja datang langsung menarik ku ke sisinya. Dia terlihat marah hingga tanpa meminta persetujuan ku, Gibran menyeret ku pergi meninggalkan Juna tapi bukan ruangan Aurora tempat dia membawaku menjauh dari Juna, melainkan lorong yang sepi.


Ia lantas melepaskan tanganku, lalu berbalik membelakangi ku. Punggungnya yang tegap terlihat semakin kokoh saat ia berkacak pinggang dengan frustasi, terlalu frustasi hingga ia memukul dinding beberapa kali seraya meredakan amarahnya lalu setelah itu ia melangkah mendekatiku dan mendorongku ke dinding.


Tangannya mencengkram bahuku, matanya memancarkan amarah yang siap meledak, wajahnya sudah merah padam sementara bau amis darah dari buku-buku jarinya yang terluka, terasa menyengat indra penciumanku.


"Apa karena dia? Kamu begitu ingin bercerai dengan ku, apa karena dia kamu jadi seperti ini?" Tanya Gibran dengan suara yang tertahan dan tercekat. Gibran menatapku dengan tajam sedikit membuatku takut tapi aku tetap bertahan seraya menahan nafasku.


"Jawab aku, Jasmine?" Gibran semakin mendesak, aku serasa di paksa menjawab olehnya, jawaban yang semestinya memuaskan hatinya.


"Gibran, aku jadi seperti ini karena kamu... Aku hancur karena kamu! Terus salah kalau aku ingin memperbaiki perasanku?"


"AKU! AKU ORANGNYA YANG AKAN MEMPERBAIKINYA!!!" Teriak Gibran, teriakan yang cukup kencang hingga suaranya menggema di lolong yang kosong ini .


"Perasaan mu... Aku yang akan memperbaikinya jadi tolong, aku mohon... Aku mohon padamu, Jasmine..." berbeda dengan sebelumnya, Gibran berbisik sendu, suaranya begitu pelan seolah ingin menyusup ke dalam hatiku.


Saat Gibran menyandarkan kepalanya di bahu ku, aku dapat merasakan tubuhnya yang gemetaran seakan ia sangat terluka, tapi aku tidak bisa melupakan rasa sakit yang ia berikan jadi meskipun ia seperti ini, walaupun hatiku mencintainya tapi kemarahan ini membuatku ingin mendorongnya menjauh, sejauh mungkin dari hidupku.


"Aku cemburu..." Gibran mengangkat kembali kepalanya, "aku cemburu padanya, Jasmine..."


"Apapun, Jasmine... Apapun, aku bersedia melakukan apapun untuk mu asalkan kamu menerimaku lagi!" Suaranya bergetar, sorot matanya memerah, aku bisa melihat air matanya tertahan di pelupuk matanya.


"Jangan pergi, jangan tinggalin aku! Jangan pergi ke sisinya, jangan... Jangan, Jasmine..."


Air mata Gibran akhirnya pecah, dia tidak lagi bisa membendungnya, sekali lagi ia menangis di hadapanku, terlihat pilu, terasa pilu hingga ke dalam hatiku.


"Kamu udah jadi seorang ayah tapi kamu begitu cengeng."


"Karena aku takut kehilangan kamu..."


Kami diam setelah itu, Gibran masih menatapku, dia mengunci pandanganku hingga aku tidak bisa memalingkan pandangan ku sementara wajahnya penuh harap.

__ADS_1


Perlahan aku memeluknya, Gibran lantas membalas pelukanku dengan begitu erat, aku bisa merasakannya jika ia merengkuhku dengan tubuh yang masih gemetaran sampai aku akhirnya melepaskan pelukannya.


"Kamu boleh mencoba sebanyak yang kamu mau," senyuman di wajah Gibran perlahan terukir meskipun air matanya masih tetap menetes.


"Tapi Gibran... Keputusanku masih sama."


Begitu dingin, tanpa senyuman sedikitpun, tanpa ekspresi penyesalan, aku meninggalkannya begitu saja setelah menancapkan luka ke dalam hatinya, mungkin aku sudah menghunuskannya jauh ke dalam dan memecah hatinya, melihatnya terluka membuatku sekarat tapi terus bersamanya mungkin aku akan mati.


***


>>> Gibran POV <<<


Rasanya seperti dia membawa pergi separuh jiwaku, aku tidak bisa merasakan apapun selain rasa sakit.


Melihatnya melangkah menjauh, meninggalkanku setelah mengatakan hal yang membuatku nyaris terkena serangan jantung. Aku berpikir dia akan memberikan ku kesempatan saat dia memeluk ku begitu erat, ketika dia membiarkanku bersandar di bahunya tapi dia seolah hanya sedang memberikanku salam perpisahan.


Hancur, aku hancur.


Kepalaku berdenyut-denyut, mungkin karena aku terlalu banyak menangis, atau tubuhku tidak siap dengan rasa sakit ini? Tapi aku menyembunyikannya, kesakitan ku yang seolah tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang aku berikan pada Jasmine.


Sekali lagi aku menyesal, aku berlarut-larut dengan rasa bersalahku pada Ruby hingga aku melupakan jika Jasmine bisa saja terluka lebih dalam.


Sepanjang hidupku, aku hanya terus menyakitinya, sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menyembuhkannya?


"Kamu dari mana?" Aku menoleh saat ibu ku bertanya, wajahnya terlihat lelah. Melihatnya, membuatku sadar jika semua orang di ruangan ini berwajah sembab bahkan kantung mata terlihat jelas di wajah mereka.


Aku tidak menjawab dan hanya melangkah menghampiri Aurora. "Dia masih tidur?" tanya ku pada Jasmine.


Jasmine tidak menjawab, mungkin dia kesal karena pertanyaan ku terdengar bodoh karena terlihat jelas jika Aurora sedang tertidur lelap sekarang.


"Kalian udah makan? Ini makanan dari mana?" Nenek Jasmine bertanya seraya menunjuk pada masakan Juna yang terletak tepat di sebelah masakan yang ia bawa.


"Tadi kak Juna bawain."

__ADS_1


Aku menyesal, seharusnya ku buang saja masakan Juna sekalian dengan nasi goreng basi yang sudah aku buang sesaat setelah kepergian Jasmine dan Juna.


"Juna dimana sekarang?"


Apa sudah tidak ada lagi restu yang tersisa untuk ku dari neneknya Jasmine hingga dia bertanya keberadaan Juna padahal ada aku disini?


"Udah pulang." Jasmine menjawab lagi dengan singkat.


"Terus kenapa gak di makan? Dia udah capek-capek buat. Ayo makan Jasmine, mas Gibran juga makan bareng sekalian, kalau kurang masih ada masakan nenek."


Aku tidak bisa menunjukkan senyum yang mengembang meskipun aku merasa bersyukur karena neneknya Jasmine masih memperhatikanku. Aku lantas duduk di sofa tepat dimana ibu ku berada sementara ayah ku sejak tadi hanya berdiri di dekat jendela dengan wajah masam.


"Aku mau pulang, mau ambil barang-barang aku soalnya besok Rora udah boleh pulang."


Tubuhku rasanya membeku, Jasmine beranjak bangun bukan untuk menghampiriku dan makan bersamaku tapi untuk mempertegas kepergiannya.


"Ayo aku anter."


Kedua orangtuaku langsung menatapku, "Kalian udah sepakat mau pisah?" mama ku langsung bertanya seolah tidak percaya.


"Udah." Jasmine menjawab pelan. Aku hanya menundukkan kepalaku dan membiarkan air mataku menetes lalu setelah itu aku beranjak bangun dan menghampirinya.


"Gibran, kamu yang bener aja?" ibuku terlihat marah sambil menahan langkah kami.


"Jasmine, mama mohon pikirin lagi." Kini dia bahkan memohon pada menantu idamannya itu.


"Maaf mah..." Jasmine menyahut lalu melangkah melewati ibu ku begitu saja, lebih dulu meninggalkan ruangan sementara aku masih berdiri diam.


"Mah, aku gak akan menyerah. Aku pasti akan dapetin Jasmine lagi," ucapku seraya memenangkan ibu ku yang mulai menangis pedih.


"Sudahlah, jangan dipaksa. Jasmine pergi tandanya dia udah gak sanggup, Gibran."


Seperti semua orang berpaling dariku, ketika ayahku tiba-tiba saja bicara seakan mendukung perpisahan ku dengan Jasmine.

__ADS_1


"Gak pah, kami baru aja mulai."


***


__ADS_2