Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Garis takdir


__ADS_3

"Aku mau liat kalian nikah sebelum kematian ku..."


Tidak pernah terbayangkan dalam hidupku jika aku harus mendengar permohonan itu dari Ruby. Dia yang begitu gigih mengejar Gibran, kini meminta pria yang sudah menjadi suaminya itu untuk menikahi ku.


"Jangan ngomong begitu, Ruby... Please, aku tahu kamu bisa ngelewatin semua ini. Kamu dan bayi kamu pasti selamat."


Aku menguatkannya, aku terus mencoba menguatkan sahabat yang sekaligus adalah adik ku itu. Memintanya untuk bertahan tapi ia kembali menarik nafas dalam, nafas yang tertahan di tenggorokannya yang membuatnya kesakitan.


"Iya sayang, kamu pasti bisa. Tolong jangan nyerah..." Gibran masih sama, ia membujuk dengan tangisan yang tidak bisa berhenti.


Ruby menggelengkan kepalanya, ia lantas membawa tangan Gibran dan meletakkannya di atas tanganku yang masih ia genggam dengan erat.


"Aku mengembalikannya, apa yang seharusnya menjadi milik kalian sejak awal. Sungguh aku sudah sangat bahagia... Sudah cukup bahagia untuk meninggalkan semua ini."


"Gak Ruby! Gak..." Gibran menangis, meraung-raung. Siapapun akan bereaksi sama jika seharusnya momen yang paling membahagiakan ini menjadi momen yang begitu memilukan.


"Aku mohon..." Kedua mata Ruby nyaris terpejam. Alat monitor yang memantau denyut jantungnya menunjukkan penurunan yang signifikan. Dokter yang menangani Ruby juga terlihat semakin panik.


"Ruby... Ruby bangun please..." Aku memanggilnya, aku terus memanggil nama adik ku dengan putus asa.


Aku masih bisa merasakan kehangatan tubuh Ruby, aku juga masih bisa merasakan hembusan nafasnya. Ruby masih meneteskan air matanya. Aku tahu dia masih bisa bertahan saat ia kembali membuka kedua matanya.


"Aku gak bisa menunggu terlalu lama..." Suara Ruby terdengar pelan, sedikit terputus-putus. Dia tidak lagi memohon tapi matanya menatap Gibran begitu dalam.


"Sungguh, aku ikhlas..."


Tangisan Gibran semakin pecah, ia mengecup kening Ruby dan meluapkan perasannya melalui kecupan itu lalu kemudian Gibran menatapku. "Maaf, Jasmine..."


Gibran langsung berlari keluar setelah itu. "Gak Gibran! Gak... Ruby please... Bertahan aku mohon..."


Tubuhku lemas, aku tidak sanggup lagi berdiri. Sambil berlutut aku tetap memegangi tangan Ruby yang sudah tidak mampu menggenggam tanganku dan terus menangis.


"Ada kalanya aku menjadi serakah, tapi aku tahu apa yang bukan menjadi takdirku... tidak bisa aku miliki selamanya, Jasmine..."


Aku tidak lagi mengatakan apapun, aku hanya bisa menangis dan menangis terlebih ketika Gibran masuk membawa ayahku.


Aku yakin mereka sudah berkumpul di luar sejak tadi karena di perjalanan tadi Gibran sempat menghubungi mereka jika Ruby akan melahirkan.


Pertemuan kami tidak pernah terjadi dalam sebuah kebahagiaan, aku tidak mengerti mengapa aku dan ayahku selalu di pertemukan dalam situasi yang menyakitkan.

__ADS_1


Aku melihat ayahku menangis, ia melangkah menghampiri Ruby dengan tubuh yang gemetaran. Aku dapat merasakan kehancurannya saat ia langsung memeluk Ruby begitu mendekat.


Tangisannya membuatku menangis semakin kencang, bukan karena cemburu tapi karena merasakan rasa sakit yang sama.


"Tolong pinta Ruby untuk bertahan, aku mohon, ayah... Aku mohon..."


Aku mengangkat pandanganku, aku menatap wajah pilu ayahku tapi ia seolah sama menyerahnya dengan Ruby. Aku sungguh frustasi. Kenapa semua orang menyerah pada Ruby yang mereka sangat sayangi selama ini? Aku ingin menjerit, aku ingin berteriak marah pada mereka.


"Kak..." Ruby memanggilku lagi, dengan cepat aku segera bangun dan menggenggam tangannya dengan kedua tanganku. "Ya.." jawabku dengan lembut.


Ruby tersenyum hangat padaku. "Aku adik mu ..."


"Iya, kamu adik aku!"


Ruby kembali tersenyum, "makasih karena udah terima aku."


Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat, nafas Ruby yang pendek-pendek menegaskan keadaannya yang sudah sekarat.


"Tolong jadi istri kedua, suami ku..."


Bagaimana caranya lagi untuk menolaknya? Bagaimana caranya lagi untuk menguatkannya agar ia tetap bertahan?


Aku tidak bisa bernafas, aku tidak mampu menolak tapi aku juga enggan mengiyakan.


"Jasmine..." kini giliran Gibran yang seolah membujuk ku.


Situasi ini menyiksaku, saat ayahku mulai mengulurkan tangannya di atas tubuh Ruby yang saat ini sekarat dan Gibran menjabatnya. Dokter yang menangani Ruby langsung mengambil posisi sebagai saksi.


Mereka semua telah menyerah, tidak adakah harapan yang tersisa untuk adik ku? Aku menatap wajah Ruby yang sudah pucat, dia masih bisa tersenyum padaku, senyuman yang membuatku tetap diam ketika ayahku mulai mengucapkan ijab kabul pernikahan dengan Gibran yang nafasnya nyaris tercekat ketika mengucapkan janji pernikahan itu.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya terima nikahnya Jasmine Gunawan binti Dito Gunawan..."


Tubuhku lunglai ketika saksi mensahkan pernikahan ku dengan Gibran. Pernikahan yang dulu pernah menjadi impian ku tapi aku tidak pernah menginginkannya mendapatkannya dengan cara seperti ini.


"Terima kasih..." Suara Ruby terdengar lembut, dia sudah tidak terdengar lagi kesakitan sambil memberikan cincin pernikahannya padaku dan setelah itu tangan Ruby terjatuh di atas telapak tanganku dan tidak lagi bergerak.


Begitu muda, begitu cepat dia pergi meninggalkan kami semua, melepaskan kebahagiaannya yang sempurna padaku yang selama ini menghabiskan waktuku untuk membencinya.


"Maaf, Ruby... Maafin aku..." Tangisanku tidak lagi bertenaga, menyesali segalanya tapi semuanya sudah terlalu terlambat.

__ADS_1


***


Pada akhirnya Ruby meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya tapi ia masih harus menjalani operasi demi keselamatan anaknya yang juga hampir kritis.


Aku duduk diam di kursi tunggu, sendirian menjauh dari mereka semua yang saat ini menunggu dengan rasa pedih kehilangan bercampur harap semoga anak Ruby masih bisa bertahan.


"Jasmine!" Panggilan Juna yang datang dengan sejuta kekhawatirannya, langsung memecah keheningan.


Aku melihatnya melangkah mendekat dengan nafas yang terengah-engah, aku yakin dia berlari kesini begitu aku mengatakan jika aku berada di rumah sakit sekarang.


"Kamu gak apa-apa?" tanyanya khawatir sambil berlutut di hadapanku ia nyentuh wajahku agar bisa menatapku yang terus menunduk tanpa berani menatapnya.


"Maaf kak, maafin aku..." Suaraku lirih, aku menangis menyesali segalanya karena aku menyakitinya sekali lagi, mungkin kali ini aku menghancurkannya.


"Hey, kenapa? Apa yang sebenernya terjadi?" Dia terus bertanya dengan lembut dan perlahan aku memperlihatkan cincin Ruby yang kini berada di telapak tanganku.


Juna tertegun untuk sesaat, ia menatapku seolah tidak mengerti tapi aku langsung menemukan kesedihan di sorot matanya. "Maaf kak Juna, aku gak bisa menghindari situasi ini..."


Air mata Juna seketika menetes, ia terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dan aku menegaskannya sekali lagi, "aku sudah menikah dengan Gibran..." tubuh Juna langsung terjatuh lemas.


Aku dapat melihat kemarahan dalam tangisannya, ia kemudian bergerak bangun. Aku mengira dia akan pergi meninggalkan ku tapi Juna malah berjalan menghampiri Gibran lalu memukulnya tepat di wajahnya hingga Gibran jatuh tersungkur.


"Gak puas-puas loe sakitin Jasmine!" Teriak Juna marah sambil terus memukul Gibran dan Gibran hanya diam tanpa melawan meskipun kedua orangtuanya mencoba menghentikan Juna yang terus memukulinya.


"Brengsek! Loe gak pernah pantes buat Jasmine! Kalian semua gak pantes buat sakitin Jasmine sampai sejauh ini!" Juna mengamuk, bahkan ketika aku hanya bisa bisa menyakitinya, dia masih berada di pihak ku.


Aku hanya bisa melangkah mendekat dengan tubuh yang gemetaran menghampiri Juna setelah tidak ada yang berhasil meredakan amarahnya.


Tanganku belum sampai menyentuhnya tapi Juna telah berhenti memukuli Gibran yang saat ini hanya bisa menangis berbaring di lantai dengan wajah babak belur.


Nafas Juna masih terengah-engah, tangisannya masih belum juga berhenti. Ia kemudian beranjak bangun lalu menatapku dalam.


Aku akan menerimanya, bahkan jika Juna akan membenciku setelah ini, aku akan menerimanya asalkan dia tidak lagi terluka tapi Juna malah menarik ku, ia memeluk ku dengan sangat erat seolah rasa sakit itu tidak menyiksanya, dia memeluk ku yang hanya bisa kembali menangis.


Kenapa Tuhan menggariskan takdir kami serumit ini? Kenapa kami hanya terus menerus bertemu dengan rasa sakit?


Aku, Gibran, Ruby serta Juna... Kenapa begitu sulit bagi kami untuk bertemu kebahagian?


***

__ADS_1


__ADS_2