Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Resah


__ADS_3

"Jangan siksa aku, Jasmine... Aku sungguh mengaku kalah kalau harus menghadapi mu seperti ini..."


Melalui telapak tangan ku, aku bisa merasakan suhu tubuh Gibran yang berangsur-angsur semakin panas hingga terasa menyengat ujung jariku mengantarkan aliran yang membuat tubuhku juga terasa terbakar.


"Maaf," dengan sisa kewarasan ku, aku menarik kedua tanganku dari bahunya dan bergegas pergi menjauh darinya tapi ke sisi manapun aku mencoba melangkah, Gibran selalu mengambil sisi yang sama hingga aku kesusahan untuk menghindar dan akhirnya aku mengalah.


Aku memiringkan tubuhku agar Gibran bisa lewat dengan mudah tapi ia masih berdiri di tempatnya.


"Nungguin apa? Cepet lewat!" tanya ku dengan ketus sambil memberikan kode agar Gibran segera lewat dan memasuki kamar mandi tapi Gibran malah menanggapinya dengan senyuman.


Ia kemudian melangkah tapi tidak melewati ku malah ia dengan sengaja mengintimidasi ku dengan menempatkan kedua tangannya tepat di atas kepalaku.


"Apa?" tanya ku yang masih berusaha untuk tetap tenang meskipun aku setengah mati gugup. Dari semua situasi menegangkan yang terjadi diantara kami di rumah ini, kenapa harus dengan penampilan seperti ini? Handuk ini jelas bisa terlepas kapan saja atau Gibran mungkin tidak perlu berusaha keras untuk membuat handuk ini terjatuh.


Aku benci ini!


Aku benci ketika tubuhku terus menerus melepaskan hormon testosteron pada situasi seperti ini, aku bahkan lupa bagaimana caranya mengendalikan ekspresi ku.


Gibran semakin mendekat, dadaku semakin membumbung karena nafas yang sengaja aku tahan agar pertahanan ku tidak langsung luluh lantak tapi deru nafas Gibran mulai menerpa kulitku, menandakan jarak diantara kami yang semakin menipis.


Aku memalingkan wajahku, aku menolak melihat ekspresinya. Aku menolak melihat mata hazel-nya yang selalu berhasil menghipnotis ku dengan mudah, tapi meskipun aku menolak tapi tubuhku bereaksi lain.


Ketika jarak diantara kami hampir habis, ketika kaki Gibran sudah berada diantara kaki ku, ketika tubuh kami berdekatan, lebih dekat dari apapun, aku tidak tahan lagi...


Aku tidak lagi bisa menahan diriku untuk tidak menatap kedua matanya, menelisik ekspresi yang tersirat di wajah tampannya dan mencari tahu makna dibaliknya walaupun lebih banyak aku terpesona oleh visualnya.


Gibran tidak perlu bicara, dia seolah tidak perlu melakukan hal yang berlebihan untuk membujuk ku ketika aku mulai terbuai dengan sendirinya.


Aku membiarkan Gibran menyentuh tanganku dan meletakkan tanganku di atas dada bidangnya yang tidak terselimuti apapun.

__ADS_1


"Dengar dan rasakan..."


Mungkin karena keheningan ini atau jarak diantara kami yang terlalu dekat hingga aku mendengarnya, detak jantungnya yang berdebar-debar kencang serta dapat merasakan denyutan di dadanya dengan tempo cepat yang terasa sangat jelas.


Aku mengangkat pandanganku, menatapnya seolah takjub tapi tidak lama karena aku langsung memalingkan wajahku setelah itu.


"Jangan gak jelas deh, Gibran!" Sedikit kewarasan ku bekerja dengan baik. Aku berhasil menarik tanganku dari atas dadanya meskipun itu masih belum bisa memperbesar jarak diantara kami berdua.


Aku tidak mengerti, kami tinggal satu rumah lebih dari setengah tahun tapi aku tidak pernah terjebak dalam situasi seperti ini sebelumnya dan kami bahkan belum seharian berada di rumah ini dan pertahananku sudah goyah sejak awal, sejak Gibran dengan mudahnya mencuri ciuman ku.


Apa rumah ini memiliki daya magis?


Apa karena ada begitu banyak kenangan manis yang terjadi di rumah ini?


Kenangan antara aku dan dia...


Di hadapanmu aku selalu meragukan keteguhan hatiku, seakan rasa sakit yang kamu berikan padaku masih belum terlalu banyak hingga aku masih juga tidak menyerah.


Menyerah atas perasaan ku padamu...


Bagaimana ini?


Aku memejamkan kedua mataku, aku akan menyalahkan diriku sendiri jika Gibran menyentuhku karena sepertinya aku akan langsung menerimanya, sentuhan yang mulai aku dambakan sekarang.


Tapi yang aku rasakan bukan kecupan ataupun sentuhan mesra yang bergairah melainkan belaian lembut di puncak kepalaku hingga aku membuka kembali kedua mataku dan menatapnya yang sekarang sedang tersenyum padaku.


"Pakai baju kamu, nanti kamu masuk angin," ucapnya sebelum melangkah memasuki kamar mandi.


Oh Tuhan, dia membuatku hampir gila!

__ADS_1


Aku langsung menyentuh dadaku dan memastikan jika jantungku masih baik-baik saja karena terus berdebar cepat, sejujurnya aku takut terkena serangan jantung sekarang karena degupnya semakin menggila.


>>> Gibran POV <<<


Air yang meluncur di atas tubuh ku yang membasahi seluruh tubuhku sama sekali tidak membuatku berhasil meredam gairah yang terus berapi-api di dalam diriku.


Demi Tuhan, aku ingin sekali menyentuhnya.


Tubuhnya yang indah di balik handuk yang melingkar memeluk tubuhnya, jika bisa aku ingin menggantikan tugas handuk itu. Aku ingin merengkuh tubuhnya, menyentuhnya tanpa ragu dan memilikinya, oh Jasmine...


Aku membiarkan air terus mengalir, berharap keresahan ini akan mereda tapi semakin aku berusaha mengalihkan pikiranku, semakin pikiranku yang nakal terus bermain dalam ingatan bagaimana aku menyentuhnya malam itu, bagaimana aku sepenuhnya memenuhinya.


Damn, itu tidak mau berhenti. Aku mungkin akan segera gila, bagaimana caranya aku meredakan semua ini? Apa aku harus tidur semalaman di kamar mandi ini?


Aku ingin merendam tubuhku di dalam bathtub penuh es batu dengan begitu mungkin pikiranku akan kembali lurus.


Dimana aku menemukan es batu tapi bukan itu masalahnya...


Masalah yang sebenarnya adalah aku ingin mencumbu Jasmine, aku ingin membuatnya tidak berdaya berada di bawah kungkungan ku, aku ingin dia menjerit, berteriak memanggil namaku, menancapkan kukunya di bahuku dan mencengkram rambutku, membuat tubuhnya menggelinjang kenikmatan karena ulah ku.


"Oh Sialan!"


Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar mandi yang terasa menusuk karena begitu dingin, siksa aku... Siksa aku dengan cara apapun tapi setidaknya biarkan aku menyentuhmu, Jasmine.


Aku sungguh putus asa ...


Aku takut menyakitimu lagi ...


...

__ADS_1


__ADS_2