Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Saling menyakiti


__ADS_3

>>> Flashback on <<<


...Ruby POV...


Aku tidak percaya, satu kalimat saja bisa membuatnya goyah akan perasaannya sendiri.


Kulihat Gibran hanyut dalam pikirannya jadi aku mengambil kesempatan itu untuk melangkah selangkah lebih dekat.


Aku menyentuh ujung jaketnya dan tersenyum semanis mungkin padanya agar dia terpesona padaku tapi Gibran dengan cepat menepis tangan ku dan melangkah mundur.


Sikapnya menyakiti hatiku.


"Udah siang, loe mending masuk, tar telat!"


Gibran langsung bergegas naik ke atas motornya, dia terlihat marah padaku hingga aku langsung menahannya.


"Kak jangan marah, itu kan cuma perkiraan aku aja, lagian kan belum pasti juga perasaan Jasmine ke kakak gimana," ucapku berusaha membujuknya.


Gibran menghela nafas, dia terlihat kesal tanpa berusaha menyembunyikannya dariku.


"Seandainya Jasmine ternyata cuma anggap kakak itu kayak kakaknya sendiri gimana? Pasti canggung banget jadinya persahabatan kalian kalau kakak ungkapin perasaan kakak ke dia!" Aku bicara secepat mungkin selagi Gibran belum pergi.


Kali ini sepertinya aku berhasil, jadi dengan sengaja aku kembali menghasutnya. "Gimana supaya kakak yakin kalau perasaan kakak ke Jasmine itu gak bertepuk sebelah tangan, kakak coba buat Jasmine cemburu."


"Cemburu?"


Yes! Dia menangkap umpanku!


Dengan memasang ekspresi ragu-ragu seolah tidak enak hati, aku berbisik padanya. "Gimana kalau kakak pura-pura naksir sama aku biar Jasmine cemburu?"


>>> Flashback off <<<


...****************...


...>>>Jasmine POV <<<...


"Gibran tidak langsung menjawab penawaran ku pada saat itu. Dia hanya diam menatapku dengan intens dan cukup tajam untuk membuat nyaliku ciut."


Tok-tok...


Suara ketukan pintu mengehentikan ku membaca isi buku diary Ruby yang belum selesai ku baca.


"Jasmine, boleh aku masuk?" Terdengar suara Gibran dari luar.


Aku lantas meletakkan kembali buku diary milik Ruby kedalam laci dan setelah itu barulah aku membuka pintu.

__ADS_1


Gibran berdiri di depan pintu kamarku dengan wajah pucat serta kedua mata yang sembab serta pakaian yang hampir basah karena gerimis.


Aku tidak mengatakan apapun selain membuka pintu lebar-lebar dan melangkah kembali menuju meja belajarku dan duduk di sana sementara Gibran mulai melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidurku setelah dia menutup kembali pintu rapat-rapat.


Gibran tidak mengatakan apapun setelah itu, tapi aku bisa mendengar helaan nafasnya yang terasa berat walaupun aku tidak sedang melihat ekspresinya karena aku duduk membelakanginya.


Kenyataannya jika Gibran pernah mencintaiku dulu seperti tidak bisa mengubah apapun yang terjadi diantara kami sekarang.


"Jasmine..." Gibran memanggilku pelan, suaranya yang bergetar membuat hatiku sakit hingga air mataku mulai menggenang di pelupuk mataku.


Tangisan Gibran mulai terdengar tapi aku tahu dia sedang berusaha keras untuk menahannya.


"A-ayo kita bercerai..."


Air mataku menetes setelah mendengarnya mengatakan kalimat itu.


Sejak awal aku mengatakan padanya jika aku ingin bercerai dengannya, hatiku sudah hancur pada saat itu tapi aku tidak menduga jika hatiku akan luluh lantak sekarang.


Air mataku menetes, aku tidak bisa menyembunyikan tangisan ku lagi.


Aku menangis terisak-isak di meja belajarku begitu juga dengannya. Tangisan kami memenuhi kamar ku yang sempit ini.


Sakit, rasanya mencekik...


"Boleh aku peluk kamu Jasmine?" Tanya Gibran dengan hati-hati sambil menyentuh bahuku.


Aku mendongakkan kepalaku, menatapnya dengan wajah penuh air mata dan setelah itu aku beranjak bangun.


Kami berpelukan dengan sangat erat, dengan tubuh yang gemetaran, dan tangisan yang terisak-isak.


Apa yang salah dengan hubungan kami sebenarnya? Kenapa kami tidak pernah bisa bertemu pada kebahagiaan itu?


Dengan hati yang berat dan penuh luka, kami saling melepaskan pelukan.


Gibran masih memegangi kedua lenganku, berusaha untuk tersenyum seraya menatapku dengan kepedihan dan rasa sakit.


"Aku berharap waktu akan menyembuhkan mu," ucap Gibran dengan air mata yang kembali menetes, ia membiarkannya tanpa menyekanya lalu mengecup puncak kepalaku dengan penuh perasaan. "Aku mencintaimu, Jasmine..." bisiknya pelan yang hanya bisa membuat tangisanku semakin pecah.


Setelah itu, Gibran menjauh... Aku melihatnya melangkah mengambil tasnya dan kembali mengemasi pakaiannya yang sebelumnya sudah ia rapihkan sendiri dan ia letakkan di dalam lemari pakaian ku tepat di sebelah milik ku.


Hatiku seperti tersayat melihatnya memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam tasnya.


"Aku pergi, Jasmine... Tapi bukan untuk melepaskan perasaan ku padamu, aku pergi hanya agar kamu bisa menemukan kebahagiaan mu kembali," ucap Gibran berpamitan padaku.


Dengan langkah yang terasa berat, ia membawa tasnya melangkah keluar dari dalam kamarku.

__ADS_1


Pada akhirnya kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama...


Pada akhirnya, aku kehilanganmu lagi...


Dan hatiku patah lagi tapi kali ini sepertinya aku juga telah mematahkan hatimu.


Bagaimana bisa cinta ini begitu menyiksa kami?


Aku dan kamu, kenapa kita hanya bisa saling menyakiti, Gibran?


...----------------...


...>>> Gibran POV <<<...


Suara tangisan Jasmine terdengar begitu pilu. Aku tidak bisa berbalik meskipun aku setengah mati ingin.


Aku tidak bisa menjadi lebih egois lagi dengan terus memaksanya menerimaku.


Aku mungkin tidak akan pernah pantas mendapatkan maaf itu darimu, Jasmine...


Tapi hatiku selalu menyesali segalanya, setiap langkah yang aku ambil ketika meninggalkanmu sama seperti sebuah penyiksaan, mungkin ini adalah hukuman bagiku yang selalu menyakitimu dengan sengaja karena kebodohan ku, karena keegoisan ku...


"Mas Gibran..." Suara Nenek Jasmine menghentikan langkahku. Dia melangkah menghampiriku sambil menggendong Aurora dalam dekapannya.


Dengan cepat aku menyeka air mataku dan berusaha untuk tersenyum di depan putri kecilku yang selalu menatap ku dengan berbinar-binar.


"Mungkin kalian memang butuh waktu untuk menata ulang segalanya..." ucap nenek Jasmine sambil menyentuh wajahku dan tersenyum hangat padaku walaupun aku dapat melihat air matanya tertahan di pelupuk matanya.


"Nek... Aku titip Jasmine dan Rora."


Aku tidak sanggup lagi, aku takut keegoisan yang sudah mati-matian aku bunuh akhirnya kembali tumbuh karena aku sungguh tidak ingin pergi.


Aku ingin tetap disini menemani istri dan anak ku.


Aku ingin selamanya dengan mu, Jasmine...


Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti menyakitimu, aku sungguh tidak tahu...


Jadi aku hanya bisa pergi dan berharap kamu akan menatapku dengan hangat bila kelak kita bertemu lagi.


Andai kelak semesta mengijinkan ku untuk memiliki kamu lagi...


...****************...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2