
...Jasmine POV...
...----------------...
Semuanya terasa membingungkan bagiku, semakin aku membaca buku diary Ruby, semakin aku terombang-ambing.
Jika Gibran menggunakan Ruby untuk mendapatkan hatiku, tapi kenapa dia menggunakan rasa sakit untuk menguji perasanku padanya?
Kenapa dia berkali-kali membuatku kecewa? Berkali-kali menyakiti hati ku seolah itu adalah sebuah keharusan.
Aku menundukkan kepalaku, menekan tengkuk ku yang rasanya berat, aku ingin menangis tapi air mata ini serasa kering. Lalu bagaimana caranya aku menghilangkan rasa mengganjal dalam hatiku?
Drtt ... Drtt ...
Suara getar ponselku mengalihkan perhatianku, aku lantas melihat siapa yang menghubungiku di tengah malam seperti ini?
"Juna" nama itu muncul dalam layar ponselku, sebuah pesan ia kirimkan padaku.
"Kamu udah tidur?" Tulis isi pesan itu.
"Belum." Balas ku singkat.
"Aku mengganggumu?"
"Sedikit...."
"Maaf, bisa kita bertemu besok?"
"Kurasa ... Aku masih butuh waktu untuk sendiri,"
"Baiklah, hubungi aku jika kamu sudah merasa bosan dan kesepian. Aku masih sama, Jasmine .... Aku akan menunggu."
Rasanya kepalaku seperti mau pecah. Perasanku pada Gibran masih belum tuntas dan Juna sudah kembali bergerak maju.
Harusnya seperti itu, seperti Juna yang mengejar ku tanpa lelah meskipun aku berkali-kali menyakiti dan mengecewakanmu, tapi kenapa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama Gibran? Jika itu memanglah cinta ....
"Obsesi, kamu tahu itu? Aku berpikir Gibran terobsesi pada Jasmine. Moodnya selalu di pengaruhi oleh sikap Jasmine, dia menjadi gelisah hanya karena Jasmine terlihat terluka seolah itu adalah lukanya.
Aku tidak mengerti , sungguh ... Mungkin karena aku tidak pernah dicintai atau karena perasanku padanya semakin jelas jika aku mencintainya.
Gibran sebenarnya tidak buruk, jika tidak ada Jasmine yang memenuhi hatinya maka dia adalah pria yang baik dan juga perhatian.
Gibran bahkan mendengarkan curhatan ku tentang sikap ayahku yang selalu merindukan Jasmine dan membuatku merasa tersingkirkan, dia juga begitu memperhatikan ku ketika ayahnya terlihat jelas tidak menyukaiku dan ibunya terlalu menyayangi Jasmine hingga kedatanganku di rumah mereka terasa seperti penyusup yang tidak di inginkan.
Dia membuatku berpikir jika dia telah pelan-pelan jatuh cinta padaku.
Mungkin aku telah berhasil mendapatkan hatinya .... "
Hatiku sakit, aku menutup sekali lagi buku diary itu lalu melangkah menuju tempat tidurku.
__ADS_1
Berbaring sejenak, berharap jika tidur akan membawa sedikit ketenangan bagiku tapi justru hatiku terasa semakin berat.
Aku dan Gibran,
Kami sudah berpisah, aku yang menginginkannya sendiri, lalu kenapa hatiku masih sesakit ini?
Sungguh aku lelah, menggenggam perasaan ini membuatku kelelahan.
Menjadi bodoh membuatku lelah,
Mencintai juga membuatku lelah,
Aku muak pada segala hal dalam kehidupanku yang melelahkan.
Aku muak padanya yang tidak menyatakan cintanya padaku dengan jelas, aku muak pada diriku sendiri yang juga sama pengecutnya dengannya.
Bagaimana mestinya aku bersikap sekarang?
***
Suara tangisan Aurora membuatku terburu-buru keluar dari dalam kamar meskipun aku baru selesai mandi.
"Ibu disini, nak...," sambil jalan aku melangkah mendekati suaranya hingga langkahku seketika terhenti ketika melihat Gibran berada di dapur sambil menggendong Aurora dan menyiapkan susunya.
"Gibran...." aku begitu terkejut hingga aku tidak sadar bagaimana penampilanku sampai akhirnya Gibran menoleh ke arahku, berdehem pelan dan memalingkan wajahnya yang terlihat memerah hingga telinganya juga ikut memerah.
Tanpa membuang waktu lagi, aku segera berlari memasuki kamar ku. Diam sejenak sambil mencerna semua ini karena situasi ini membuatku setengah mati kebingungan.
Hal pertama yang aku cek adalah tanggal di kalender, sepertinya aku terlalu banyak membaca novel fantasi sampai-sampai aku berpikir mungkin aku tertarik ke masa lalu karena begitu frustasi menghadapi situasi ini tapi tidak ada yang berubah dari tanggal itu, bahkan kondisi kamarku masih sama seperti semalam.
Jadi itu bukanlah ilusi ataupun mimpi dan bukanlah Gibran yang masih menjadi suami ku, sepertinya aku akan segera gila.
"Jasmine...." Suara Gibran yang terdengar di balik pintu saja membuatku terkejut. Aku lantas melangkah mendekati pintu meskipun aku tidak langsung membukanya.
"Aku mau bicara sesuatu, boleh kita bicara sebentar?"
"Iya bentar, aku pakai baju dulu...." sepertinya aku baru saja kehilangan kewarasan ku karena mengatakan hal seperti itu pada Gibran yang kini sudah berstatus sebagai mantan suamiku.
Tidak lama setelah itu aku keluar dari dalam kamar ku dan Gibran masih berdiri di depan pintu kamarku dengan wajah yang masih merah padam, ia berdehem pelan ketika kedua mata kami bertemu. Sepertinya dia sedang berusaha keras meredam kegugupannya.
"Mau bicara apa?" tanya ku yang juga tidak kalah gugupnya.
Sedikit tidak mengerti mengapa kami menjadi canggung sekarang tapi itu jauh lebih baik daripada kami saling membenci seperti di masa lalu.
Gibran tidak lantas menjawab, ia menoleh ke arah Aurora yang saat ini berada di dalam gendongan nenek ku sambil asik menyusu.
"Kalian bicara aja, nenek mau ajak Rora jalan-jalan pagi," ucap nenek ku pengertian.
Ia lantas meletakkan Aurora di atas kereta bayi dan setelah itu ia langsung membawa Aurora keluar dari dalam rumah meninggalkan aku dan Gibran hanya berdua.
__ADS_1
"Mau bicara dimana?" tanya ku sekali lagi karena Gibran masih belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya.
"Di halaman belakang aja," Gibran akhirnya menjawab, ia langsung melangkah lebih dulu meninggalkan ku sendirian menuju halaman belakang.
Ketika aku tiba di halaman belakang, terlihat Gibran duduk di kursi yang masih sedikit basah karena embun yang belum sepenuhnya menguap.
Aku lantas duduk tepat di sebelahnya, dia menoleh saat menyadari kedatanganku lalu tersenyum tipis.
Senyuman yang menyadarkan ku jika itu jelas adalah senyuman kesedihan tapi aku menahan diri sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang tanpa merasa kasihan padanya.
"Aku dapat tawaran pekerjaan di luar negeri ...."
"Ya?"
Entah aku tertekan karena keberadaannya atau karena hal sebelumnya yang Gibran katakan padaku yang pasti dadaku semakin sesak sekarang.
"Jadi kamu mau pindah ke luar negeri?" tanya ku dengan hati-hati.
"Kalau kamu mengijinkan...."
"Kenapa harus ijin dari aku? Kita udah bukan lagi suami istri, Gibran."
"Tapi kamu tetep ibunya Rora,"
Aku kembali terdiam, tertegun untuk sesaat, mungkin aku baru saja tersentuh oleh ucapannya.
"...."
Gibran masih diam, sama sepertiku yang juga diam sambil membiarkan angin pagi yang berhembus dengan segar menerpa wajah serta tubuhku.
"Jasmine ...."
"Ya?"
Aku terdiam ketika Gibran mulai menghadap ke arahku dan menatapku dalam-dalam.
"Aku akan kembali untuk dapetin hati kamu lagi jadi jaga diri kamu baik-baik dan jangan terluka lagi."
Apa ini benar? Semua hal yang terjadi diantara kami apakah sudah benar?
Aku tidak bisa mengatakan apapun pada Gibran selain hanya diam dan memperhatikan segala sesuatu yang ia lakukan sekaligus ketika ia berdiri dihadapan ku dan mulai mengulurkan tangannya.
"Aku sudah menuruti segalanya, aku harap kamu telah sembuh saat aku kembali, sebab aku pergi bukan untuk menyerah pada semua ini tapi untuk membuatmu sadar jika aku akan selalu sama." ucapnya setelah aku menjabat tangannya.
"Aku akan selalu mencintaimu, Jasmine... Karena kamu adalah pemilik hatiku."
Dia menatapku lalu tersenyum dengan hangat sebelum akhirnya melepaskan tanganku dan melangkah pergi meninggalkanku.
***
__ADS_1