
"Kenapa loe sejahat ini sama gue, Jasmine?"
Dia berkata seolah dia tidak pernah menyakitiku. Aku menatapnya tapi aku tidak mendekat, aku membiarkan dia basah terguyur hujan yang turun dengan deras.
"Kenapa Jasmine? Loe gak tau gimana paniknya gue saat loe tiba-tiba hilang, hampir gila gue nyariin elo apalagi hp loe juga gak bisa di hubungin!" Gibran terus meluapkan amarahnya, ia memarahiku seperti biasanya...
"Padahal gue ngajak ketempat itu biar loe ngerasa lebih baik tapi loe malah pergi gitu aja, loe bahkan lebih milih pulang sama cowok yang baru aja loe kenal! Gak mikir apa loe? Gimana kalau dia jahat? Gimana kalau dia apa-apain loe di jalan? Mikir dong Jasmine! Gue setengah mati khawatir!" Gibran terus meneriaki ku, dia memarahiku tanpa memberikanku kesempatan untuk bicara.
Semudah itu ia melemparkan kesalahan padaku, akhirnya aku melangkah mendekat dan membiarkan ia berdiri di bawah payung yang sama dengan ku. Aku menatapnya dan dia membalasnya dengan tatapan yang dingin.
Aku berharap kamu cemburu, aku berharap kamu menyesali sikapmu yang terus-menerus mengabaikan ku, aku berharap banyak padamu, Gibran...
Aku berharap kamu kembali padaku...
Tapi sekali lagi, kamu menghancurkan harapan itu dengan begitu mudah...
Semudah kamu melupakanku kalau aku adalah bagian terpenting dalam hidupmu...
"Jangan jadiin gue alesan buat kesenangan kalian, Gibran..." Suaraku mungkin pelan tapi aku berhasil membuat air mata Gibran menetes.
"Gue udah cukup banyak menderita jadi tolong berhenti kalau loe cuma pura-pura perduli." tukas ku sebelum melangkah meninggalkannya.
Mencoba bertahan, aku masih mencobanya...
Tapi aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menahannya, bila kamu terus menjauh... Begitu jauh dari jangkauanku.
Aku melangkah memasuki rumah ku, sedikitpun aku tidak menoleh karena aku takut kemarahan ku padanya akan reda dengan mudah seperti hujan ini yang perlahan-lahan reda menyisakan jalan yang becek dan rumput yang basah sama seperti luka yang tertinggal di hatiku setelahnya.
"Jasmine..." Mama Gibran langsung menghampiri ku dan menatapku dalam. Ekspresinya seolah mengetahui apa yang terjadi padaku dan Gibran begitu juga dengan papa Gibran dan nenek ku, mereka memasang ekspresi yang sama. Ekspresi yang terluka.
"Aku mau istirahat..." mungkin ini adalah kali pertama bagiku bersikap dingin kepada mama Gibran, aku bahkan melepaskan tangannya dari wajahku lalu melangkah memasuki kamarku, menguncinya rapat dan menangis.
Aku menangis terisak-isak tapi kali ini aku tidak membiarkan mereka masuk, aku tidak ingin bergantung pada siapapun. Mereka yang katanya paling perduli padaku, mereka yang terang-terangan merahasiakan keberadaan ayahku, mereka yang meninggalkan ku seolah aku tidak pernah dekat dengannya.
Mereka yang aku anggap sebagai keluargaku, mereka yang paling aku sayangi, mereka juga yang paling banyak menyakitiku.
__ADS_1
***
Setelah hari itu hubungan ku dengan Gibran tidak pernah kembali menjadi baik. Dia tidak pernah lagi datang ke rumahku, bahkan ia sudah tidak lagi datang ke sekolah ku dan Ruby mulai kembali pulang dan pergi sekolah bersama supirnya.
Seperti hubungan ku dan Gibran yang memburuk, hubungan ku dengan Ruby juga ikut memburuk. Dia pindah dari tempat duduknya dan tidak ada yang duduk di sebelahku setelah itu.
Rasa sakit di dalam hatiku selalu bertambah setiap harinya, seperti rasa sepi yang setia menemaniku. Mungkin merekalah sahabatku sekarang.
Beberapa kali ayahku mencoba menemui ku tapi aku selalu menolaknya, dan hancur setelahnya.
Musim hujan nyaris berakhir tapi kesedihan dalam hatiku tidak pernah reda, seolah tidak memiliki akhir dan aku mengisi waktu ku yang melelahkan jiwa ini dengan belajar. Tidak hanya satu tapi ada banyak program beasiswa yang aku ikuti termasuk program belajar ke luar negeri meskipun aku tidak yakin akan bisa pergi, aku hanya sedang mengalihkan pikiranku pada hal sulit yang bisa membuatku melupakan kesedihanku meskipun sedikit, hanya sedikit karena setelah itu rasa sakitnya selalu datang lagi.
"Jasmine..." Aku menoleh ketika mendengar suara nenek ku memanggil dan dengan cepat aku menutup buku album yang baru saja aku lihat karena aku begitu merindukan Gibran serta keluarganya. Kedua orangtuanya yang selalu memperlakukan ku seperti putri mereka.
Aku merindukan mereka...
Aku merindukan kehidupan ku yang dulu.
"Ada yang datang cari kamu tuh..."
Langkah kaki ku langsung terhenti ketika melihat Gibran datang bersama dengan kedua orangtuanya.
"Loh gak salaman nak?" tegur nenek ku. Kecanggungan ini terlalu besar hingga menyapa saja aku tidak mampu tapi meskipun begitu aku tetap melangkah menghampiri kedua orangtua Gibran dan mencium tangan mereka.
Kulihat kedua orangtua Gibran tersenyum sambil menahan air matanya. "Mama rindu..." mama Gibran bicara dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Aku tidak menjawab tapi aku membiarkannya memeluk ku dengan sangat erat sambil menangis lalu meskipun tidak lama karena ia langsung melepaskannya. Aku kemudian melangkah ke hadapan papanya Gibran, pria itu masih belum bicara tapi ia telah menangis lebih dulu. "Maaf..." ucapnya sambil menyeka air matanya sambil sedikit mengangkat air matanya barulah aku bisa mencium tangannya dengan sopan dan dengan lembut aku merasakan ia mengusap puncak kepalaku.
Hanya sampai pada mereka, aku tidak lagi melangkah mendekati Gibran yang masih terus menatapku dengan ekspresi yang tidak dapat aku pahami.
Nenek ku kemudian mengajak mereka untuk makan malam bersama kami, Gibran dan aku duduk bersebelahan tapi tidak ada satupun dari kami yang bicara.
Seperti perang dingin, kami berdua sama-sama keras dan tidak mau mengalah, itulah yang membuat suasana makan malam ini jadi canggung.
"Lulus nanti kamu mau kuliah dimana?" Papa Gibran memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Aku dapat beasiswa..." jawabku sedikit ragu untuk menceritakannya.
"Oh ya? Hebat banget kamu!" Seru mama Gibran terlihat bangga. "Universitas apa?"
"Ada dua, satu dalam negeri satu luar negeri."
"Luar negeri mana?" akhirnya Gibran bersuara setelah sebelumnya hanya diam.
"London..." jawabku pelan.
"Gitu jauh, nanti disana loe sendirian siapa yang jagain?" Gibran kembali bicara, nada suaranya terdengar dingin.
"Gue bisa jaga diri sendiri."
"Dengan sikap loe yang seenaknya, gue gak yakin orang-orang di sekitar loe nanti bakal tahan."
"Gibran!" Papa Gibran menggeram memperingatinya yang bicara tanpa memikirkan perasaanku.
"Gue seenaknya?" Suaraku tertahan desakan rasa sesak yang muncul dalam hatiku.
"Loe kan selalu bisa pergi tanpa rasa bersalah..."
Gibran masih tidak merasa bersalah atas sikapnya waktu itu, dia malah membahas di sini, di depan nenek ku serta kedua orangtuanya dan ucapannya membuatku terlihat buruk. Dia sungguh tidak pernah memikirkan ku sedikitpun.
"Gak ada gunanya gue tetep disitu di saat loe asik berdua sama Ruby." ucapku yang langsung membuat Gibran yang sejak tadi bicara tanpa melihatku akhirnya menatapku.
"Jasmine..." Suara Gibran terdengar tertahan, dia terlihat sangat marah padaku.
"Udah jangan berantem di depan makanan..." ucap nenek ku melerai sebelum aku menjawab Gibran. "Jasmine lagi sensitif belakangan ini, tolong mas Gibran mengerti."
"Aku udah selesai..." aku sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini bahkan nenek ku lebih berpihak pada Gibran padahal nenek ku tahu sejak awal jika Gibran selalu mengabaikan ku begitu ada Ruby.
Aku kemudian beranjak bangun dari melangkah meninggalkan meja makan.
"Kalian menikah saja..."
__ADS_1
***