
Aku menarik nafas dalam, air mataku sudah kering dan kepalaku semakin pening karena hari ini aku terlalu banyak menangis.
Sambil membawa kantung belanjaan berisikan pembalut, Gibran menggandeng tanganku dan membawaku menuju toilet.
"Aku tunggu disini." ucap Gibran sambil menyerahkan kantung belanjaan itu padaku.
"Makasih..." ucap ku pelan setelah menerima kantung itu dan langsung melangkah meninggalkan Gibran yang seolah enggan melepaskan tanganku.
Haruskah aku bersyukur karena kami telah berbaikan hari ini? Kehadirannya membuatku sedikit lebih kuat menghadapi kenyataan jika ayahku sudah tidak mengenaliku lagi.
"Jangan lama-lama. Kalau masih mau nangis, gue siap jadi sandaran loe." pesan Gibran sebelum akhirnya aku memasuki toilet.
Perutku kram, kepalaku pening dan perasaanku kacau. Aku tidak bisa marah, aku bahkan tidak bisa menangis lagi. Semuanya terasa hampa.
Mungkin ini adalah efek datang bulan ku, hingga perasan ku jadi seburuk ini atau mungkin rasa sakit itu terlalu besar.
Tidak lama setelah itu aku keluar dari dalam toilet, kulihat Gibran nyaris terlelap saat menunggu ku di depan pintu toilet. Dia bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangannya di dadanya sementara kepalanya menunduk dan kedua matanya terpejam.
"Gibran..." Aku memanggil pelan dan Gibran langsung membuka kedua matanya lalu tersenyum padaku.
"Udah?" tanya Gibran seraya mendekat.
"Udah..." jawab ku pelan sambil tersenyum tipis. "Yuk pulang..." ajak ku yang kali ini memberanikan diri menyentuh tangannya dan menggandengnya lebih dulu tapi Gibran tidak mau melangkah bersamaku.
"Kenapa?" tanya ku menoleh bingung.
Gibran kemudian melepaskan genggaman tanganku, dia membuatku merasa seperti baru saja di tolak.
"Kenapa lama banget sih?" tanya Ruby yang tiba-tiba datang menghampiri kami atau lebih tepatnya menghampiri Gibran karena gadis itu langsung memukul dada Gibran dengan manja. Seketika aku merasa jika Gibran sengaja melepaskan tanganku karena ia sudah melihat kedatangan Ruby lebih dulu.
Sekarang hatiku dua kali lebih sakit dari sebelumnya. Mungkin aku terlalu terluka, atau aku merasa tidak akan sanggup lagi melihat kedekatan mereka dengan kondisiku sekarang jadi aku memilih melangkah lebih dulu meninggalkan mereka.
"Jasmine!" Gibran terdengar memanggil tapi aku tidak menghiraukannya. Aku terus melangkah meninggalkan mereka di belakang ku. Aku hanya ingin pulang sekarang, bersembunyi di kamarku dan mengurung diriku disana jadi aku bisa menangis sepuasnya hingga aku lelah dan ketiduran.
"Jasmine..."
Tubuhku akhirnya terhenti ketika Gibran menahan langkahku dengan mencekal lengan ku. Dia menatapku dalam, air mataku yang sudah menumpuk di pelupuk mataku dan siap untuk menetes, menghalangiku untuk melihat dengan jelas ekspresi yang Gibran tunjukkan.
"Sakit banget ya?" tanya Gibran, suaranya terdengar khawatir. Aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda jawabanku lalu menunduk karena aku tidak lagi kuasa menahan air mataku untuk tidak menetes.
__ADS_1
Gibran lantas membuka jaketnya, ia kemudian mengikatkannya di pinggangku. Aku memang memiliki kebiasaan mengikat pinggangku ketika datang bulan agar rasa nyerinya sedikit berkurang dan Gibran selalu meledek ku setiap kali aku melakukannya tapi kali ini ia yang mengikatkan perutku sendiri dan memastikan jika ikatan itu tidak terlalu kencang melilit pinggangku.
"Ayo naik..." ucap Gibran yang berdiri membelakangi ku dengan sedikit membungkuk.
"Ayo gue gendong, udah malam ini." ucap Gibran lagi terdengar tidak sabar.
Dengan ragu-ragu aku menyentuh bahu Gibran dan Gibran mulai mengangkat tubuhku dan menggendongku di punggungnya dan mulai melangkah di ikuti dengan Ruby yang berjalan di belakang kami.
"Turun berapa kilo?" tanya Gibran sambil membetulkan posisi gendongannya agar aku bisa berpegangan lebih erat lagi.
"Tiga kilo." jawab ku tanpa semangat.
"Pantesan jadi enteng. Makan yang banyak, nanti mama liat loe kurus, gue yang di marahin."
"Iya... loe juga kurusan kan."
"Emang gara-gara siapa gue kurus?"
"Siapa?"
"Ya elo lah! Gue jadi gak enak makan gara-gara mikirin loe terus."
"Gue khawatir, refleks karena terlalu syok. Loe hampir ketabrak mobil di hadapan gue. Gue gak mau kehilangan loe..."
Terus kenapa loe cuekin gue? Kenapa loe dorong gue kebelakang dan cuma melihat Ruby saat itu?
Perasan tersingkirkan itu muncul lagi tapi kali ini rasa sakit itu hanya seperti sebuah kenangan pahit karena Gibran sudah kembali perduli padaku meskipun ada Ruby bersama kami sekarang.
Terdengar Ruby menghela nafas kesal, aku menoleh ke arahnya dan gadis itu tersenyum. Tidak ada yang salah dengan senyumannya karena Ruby memang sering tersenyum tapi kali ini terasa lain.
"Kak Gibran sering gendong Jasmine kalau dia lagi dateng bulan ya?" tanya Ruby yang dengan sengaja mempercepat langkahnya agar ia bisa melangkah tepat di sebelah Gibran.
"Iya kadang, biasanya dia ngerengek kesakitan kalau hari pertama datang bulan."
"Enak ya ada yang merhatiin kaya kak Gibran. Kalian bener-bener kayak kakak-adik beneran."
Aku dan Gibran seketika menoleh secara berbarengan setelah mendengar ucapan Ruby.
"Ya gak lah, kita cuma sahabatan." jawabku dengan cepat sebelum Gibran menjawabnya lebih dulu dan mungkin jawabannya akan membuatku kecewa.
__ADS_1
"Sahabat gak mungkin jadi cinta kan?"
"Ya?" Aku sungguh tidak bisa memprediksi ucapan provokatif Ruby. Dia seolah sengaja membuatku dan Gibran merasa canggung.
"Emangnya kenapa kalau sahabat jadi cinta?" tanya Gibran sontak membuatku tertegun.
"Ya takut aja, kan sayang banget kalian udah sedekat ini terus tiba-tiba pacaran nanti tau-taunya putus malah jadi musuh."
"Terus kalau hubungan kalian di sebutnya apa?" tanya ku saat kami tiba di tempat parkir.
"Kalau aku sih tergantung kak Gibran anggap aku apa." jawab Ruby tersenyum malu-malu.
Gibran tidak langsung menanggapi ucapan Ruby, ia hanya membuka pintu mobil di sebelah kemudi lalu menurunkan ku di sana, menggantikan tempat Ruby sebelumnya.
"Pakai sabuk pengamannya." ucap Gibran sambil mengaitkan sabuk pengaman untuk ku, perlakuannya sekali lagi membuat jantungku berdebar-debar. Gibran selalu menemukan cara untuk menenangkan ku yang sedang gelisah setelah itu ia menutup pintu mobil rapat-rapat.
Terlihat Ruby dan Gibran bicara sejenak. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, yang pasti wajah Ruby terlihat cemberut saat memasuki mobil dan ekspresi Gibran terlihat dingin.
Sungguh, sikap mereka membuatku berpikir jika mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Gibran mengantarkan Ruby lebih dulu pulang ke rumahnya.
"Kok berhenti di sini? Kita gak anter Jasmine dulu?" tanya Ruby saat mereka tiba di depan pintu gerbang rumahnya yang megah itu.
"Udah malem, kasian Jasmine butuh istirahat." jawab Gibran.
"Tapi kan bisa anter Jasmine duluan baru kamu anterin aku." protes Ruby yang masih tidak mau turun dari dalam mobil.
"Aku mau nemenin Jasmine, kalau kamu ikut nanti kemalaman."
Ruby menghela nafas kesal entah sudah yang ke berapa kalinya. Ia lantas keluar dari dalam mobil lalu mengetuk kaca jendela di sisi Gibran hingga Gibran menurunkan kaca jendelanya.
Aku melihat Ruby meletakkan tangannya di atas tangan Gibran yang berpegangan pada kaca jendela yang tidak sepenuhnya terbuka, ia lantas tersenyum dengan manis dan berkata, "besok jemput aku ya..."
"Iya." jawab Gibran singkat.
"Telepon aku kalau udah sampai." tukas Ruby sambil melambaikan tangannya dan terus tersenyum pada Gibran. Hanya padanya seolah aku tidaklah terlihat.
***
__ADS_1