
Aku menemukan catatan di depan pintu kamarku esok harinya, "Ada proyek di luar kota, untuk dua hari ke depan aku tidak akan pulang."
Begitu dingin, bahkan setelah dia menyakitiku sebanyak ini, dia masih saja sama.
Dia masih terus menambahkan luka itu seolah sengaja...
Mungkin dia memang ingin menghancurkan ku...
Aku langsung membuang catatan itu ketempat sampah lalu kembali memasuki kamarku dan mengemasi semua pakaianku bersama dengan dengan barang-barang milik Aurora.
Sampai detik ini aku masih tidak bisa berpikir dengan jernih, aku takut Aurora akan terkena dampak dari kepedihan hatiku, tempat ini sudah membuatku sesak sejak awal tapi sekarang aku semakin tidak bisa bernafas.
Hidupku seolah tidak lagi memiliki tujuan, aku bingung apa yang harus aku lakukan demi bisa membuang rasa sakit yang menyiksa hatiku ini, di saat Gibran sukses menjadi seorang insinyur sesuai apa yang ia cita-citakan, aku melepaskan karir ku yang cemerlang demi dirinya.
Kenapa baru sekarang aku sadar, aku terlalu banyak berkorban demi mereka yang tidak pernah memikirkan perasaanku.
Aku sudah selesai mengemasi semua barang-barang ku dan tepat ketika aku membuka laci untuk mengambil beberapa buku catatan ku, aku menemukan diary milik Ruby yang tidak perna berani aku baca meskipun buku ini memang sengaja Ruby tinggalkan untuk ku.
Meskipun enggan tapi aku tetap memasukkan buku itu ke dalam tas ku. Aku bersiap untuk pergi tapi ketika aku menghampiri Aurora di tempat tidurnya, betapa terkejutnya aku mendapati Aurora yang diam sementara suhu tubuhnya tunggi.
"Rora, nak..." Aku memanggilnya dengan lembut sambil menggendongnya dan mencari termometer untuk mengecek suhu tubuhnya dan betapa terkejutnya aku suhu tubuh Aurora nyaris mendekati angka 40 derajat Celcius.
Aku langsung panik, dan mencari ponselku untuk menghubungi Gibran tapi pria itu tidak mengangkat panggilan telepon ku.
"Rora!" Aku berteriak dan langsung menggendong Aurora keluar dari rumah untuk meminta bantuan ketika tubuh Aurora mulai kejang-kejang.
"Tolong!" Aku berteriak sambil menangis histeris, tubuh Aurora terus kejang dalam dekapanku, suhu tubuhnya terasa semakin tinggi.
Dalam ketakutan ku, aku menangis sambil mencoba menghubungi Gibran, aku berteriak minta tolong, berharap seseorang akan mendengarkan jeritan ku dan membantuku membawa Aurora ke rumah sakit.
__ADS_1
Tapi kompleks perumahan ini selalu sepi, dengan jarak halaman yang cukup jauh dari satu rumah ke rumah lainnya, hampir semua penghuni kompleks ini menjalani hidup mereka masing-masing dan jarang bersosialisasi.
"Rora, bertahan ya nak, kita ke rumah sakit bentar lagi..." Aku menangis, aku terus menangis sambil berlari menuju rumah Juna. Menggedor-gedor pintu rumahnya tanpa memberi salam dan berharap semoga dia ada di rumahnya.
"Juna! Kak Juna tolong aku!" Aku berteriak sambil terus menggedor-gedor pintu rumahnya dan tidak lama ia membuka pintu rumahnya.
"Astaga, Jasmine!" Juna begitu terkejut melihatku menangis dan Aurora yang kejang-kejang dalam dekapan ku.
"Tolongin aku kak..."
Juna tidak berpikir lama, ia langsung membawaku dan Aurora ke rumah sakit, sampainya di sana Aurora langsung di tangani oleh dokter.
"Anak aku bakalan baik-baik aja kan kak?" Aku bertanya pada Juna yang saat ini duduk di sebelahku, aku begitu frustasi menunggu dokter keluar dan memberitahuku kalau Aurora baik-baik saja.
"Kita berdoa semoga anak kamu baik-baik aja!" Juna menenangkan ku sambil menepuk-nepuk bahu ku.
"Aku bodoh banget, aku gak bisa urusin Rora. Aku gak becus jaga dia..." Aku terus menangis, merasa bersalah karena semalam aku terlalu sibuk dengan Gibran dan setelah itu aku sibuk menangis tanpa memperhatikan kondisi Aurora yang ternyata sedang demam.
"Aku hubungin nenek ya?" tanya Juna dan aku langsung menganggukkan kepalaku tanda setuju sementara aku menghubungi Gibran sekali lagi tapi dia tetap mengabaikan panggilan telepon ku.
Aku kemudian menghubungi orangtua Gibran dan memberitahukan mereka tentang kondisi Aurora.
Tidak lama setelah itu nenek ku datang berbarengan dengan kedua orangtua Gibran.
"Jasmine..." Nenek ku langsung melangkah cepat memeluk tubuhku.
"Aurora, nek... Rora kejang-kejang di dalam, panasnya sampai 40 derajat, aku gak tau... Aku gak becus jagain dia, nek... Anak aku... Aku salah... Aku salah..."
"Ini bukan salah kamu, nak..." Nenek ku memeluk ku lebih erat lagi, ia mencoba menenangkan ku begitu juga dengan mamanya Gibran yang ikut mengusap-usap punggung ku.
__ADS_1
"Tenang sayang, Aurora pasti baik-baik aja..."
"Aku gak tau harus apa kalau Aurora sampai kenapa-kenapa, aku gak akan mungkin bisa bertahan lagi, mah... Aku aja... Aku aja yang sakit jangan dia..."
"Jasmine!"
Nenek ku melepaskan pelukannya ketika Gibran datang dengan wajah khawatir dan nafas yang terengah-engah.
"Mana Rora?" Tanya Gibran begitu ia berada di hadapanku.
"Ngapain dia ada disini?" Gibran bertanya lagi, kali ini ia tidak segan berteriak marah sambil menunjuk ke arah Juna saat melihat keberadaannya.
Kepalaku sakit menghadapinya!
Aku melangkah mendekati Gibran lalu memukul-mukul tubuhnya dengan emosional tanpa bisa menghentikan air mataku sedikitpun.
"Kamu boleh lupa kalau aku ini istri kamu, Gibran! Tapi gimana bisa kami lupa kalau kamu itu punya anak?! Kenapa kamu gak angkat telepon aku? Kenapa?! Kenapa kamu masih bisa marah sama orang yang udah bantuin aku bawa anak kamu kesini?! Kenapa Gibran? Kenapa kamu begitu mirip dengan ayahku? Kenapa? Kenapa, Gibran?"
Tubuhku merosot lemas, aku menangis sejadi-jadinya meluapkan amarahku padanya yang selama ini aku tahan dan ku simpan sendiri.
"Jasmine... Maaf, aku..."
"Aku muak..."
Aku merasakan air mata Gibran menetes di atas punggung tanganku. Dia yang saat ini berjongkok di hadapanku, aku menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku muak sama kamu, Gibran..."
"Jasmine, aku minta maaf..."
__ADS_1
"Ayo kita cerai, Gibran..."
***