
"Oh Damn, Jasmine!"
Aku menikmati ketika Gibran menggeram frustasi karena ku. Saat wajahnya memerah hingga daun telinganya juga ikut merah padam. Aku tahu apa yang ia inginkan tapi aku tidak akan membuatnya mudah.
Gibran kembali mendekat ketika aku dengan sengaja mendongakkan wajahku sedikit ke atas hingga Gibran gagal mencium bibirku.
"Jangan mempermainkan aku, Jasmine..."
"Siapa yang mempermainkan mu? Aku pikir, aku sudah cukup banyak belajar darimu!"
"Sial!" Sekali lagi Gibran mengumpat kesal, dia terjebak oleh permainannya sendiri meskipun begitu ia masih tetap berada di posisinya tanpa menjauh sedikitpun.
"Jasmine..."
"Apa?"
Gibran menggigit bibir bawahnya, dia terlihat gemas menghadapi ku yang terus menantangnya tanpa dia tahu aku setengah mati menahan diriku agar tidak terbuai.
Deru nafasnya yang hangat, tatapannya yang dalam dan mendamba serta senyumannya yang mengerikan sekaligus menggoda, dia adalah ancaman besar bagiku.
Otak ku terus mengirimkan sinyal waspada agar tidak terjatuh terlalu dalam tapi aku bahkan ingin menyelam sekarang.
"Katakanlah kalau kamu sedang cemburu, mungkin aku akan berbaik hati mengijinkan mu menyentuhku."
"Jangan bermimpi, Jasmine..."
Aku tersenyum mendengarnya, bahkan dalam situasi seperti ini, Gibran masih tetap menyakitiku dengan kata-katanya.
"Kayaknya aku harus praktekin apa yang udah kamu ajarin ke orang lain deh," gumam ku sambil menyentuh bibirku dan sedikit menekannya dengan sengaja, "biar gak sia-sia ilmunya kan?" sambung ku sambil tiba-tiba menundukkan wajahku seolah aku akan kembali menyambar bibir Gibran.
Kedua mata Gibran seketika membulat sempurna, aku bertaruh jantungnya berhenti berdetak karena ulahku.
Aku tertawa pelan melihat ekspresinya yang menggemaskan, sayangnya tawaku tidak berlangsung lama karena Gibran langsung menangkap wajahku dan menciumku tanpa ampun setelah itu.
Dia mendominasi ku, tanpa mengijinkan aku bernafas dengan baik, ia terus menyesap bibirku secara bergantian atas dan bawah tanpa memberikanku kesempatan untuk membalasnya.
__ADS_1
Aku dapat merasakannya, kemarahan yang tersalurkan oleh ciuman ini tapi sialnya tubuhku malah meresponnya sebagai pemantik gairah dalam diriku.
"Jangan coba-coba melakukannya selain dengan ku, Melati!"
Gibran bergerak semakin liar, dia hanya berhenti sesaat untuk memperingatkan ku dan setelah itu lidahnya mulai memasuki rongga mulutku sementara tangannya menekan tengkuk ku seolah ia takut aku akan kembali mengakhiri ciuman yang sangat ia nikmati ini.
Oh setidaknya berikan aku sedikit celah untuk menghirup oksigen! Aku memukul-mukul bahu Gibran agar ia melepaskan ku tapi dia malah semakin menjadi hingga aku terpaksa mengigit bibir bawahnya hingga berdarah dan akhirnya ia melepaskan ku.
Nafasku tersengal-sengal, aku menghirup nafas dalam-dalam dan mengembalikan oksigen yang nyaris hilang karena ulah nakal Gibran dan lihatlah dia sekarang, tanpa rasa menyesal atau bahkan bersalah, pria itu malah tertawa pelan sambil menyeka darah di bibirnya.
"Kamu masih begitu buruk dan sudah tidak ingin belajar? Jangan begitu arogan, Jasmine!"
"Kamu membuatku gak bisa nafas, Gibran!" aku protes tidak terima tapi bukannya menyerah Gibran malah menyeka bibirku dengan ibu jarinya dan sedikit menekannya.
Aku dapat merasakan ujung lidah ku menyentuh ibu jarinya yang dengan nakal bergerak masuk ke dalam mulutku.
"Jangan buat aku mengigit jari mu juga!" Aku memperingatkannya dengan tegas tapi Gibran semakin menekan bibir ku ke dalam hingga sulit bagiku untuk bicara karena ujung ibu jarinya berada di antara barisan gigi-gigi ku.
"Ayo lakukan sekali lagi!" Ajak Gibran berbisik, dia membuat bulu kudukku merinding seketika.
"Kali ini bernafas lah dengan baik!"
Aku tidak bisa melakukannya karena begitu ia kembali menciumku, saat itu juga aku lupa caranya bernafas karena ciumannya kali ini berbeda dengan ciuman sebelumnya. Ia melakukannya dengan lembut dan hati-hati, menciptakan sensasi seolah jutaan kupu-kupu sedang berterbangan di perutku sekarang sementara kembang api meletup-letup di atas kepalaku.
Bagaimana caranya menghadapi situasi yang memabukkan ini?
"Masih tidak mau membalas ku, huh?" Gibran menggeram di sela ciumannya, dia memperingatkan ku dengan tangannya yang mulai bergerak nakal merengkuh pinggangku dan terus bergerak ke atas, tujuannya sangatlah jelas hingga aku perlahan membalas ciumannya, merengkuh tubuhnya, berpegangan pada lehernya dan meremas rambutnya sesekali ketika ia begitu nakal menyelipkan lidahnya ke dalam rongga mulutku sementara tangan Gibran juga melakukan hal yang hampir mirip dengan ku.
Ciuman ini berlangsung lama dan intens, anehnya aku menikmati ciuman ini tanpa kehabisan nafas justru aku tidak ingin lepas tapi Gibran sepertinya sedang membalas ku karena ia langsung melepaskan bibirku sesaat ketika aku mulai haus akan kecapan lidahnya.
Gibran tersenyum, dia tidak menertawakan ku justru aku merasakan kelembutan dari senyumannya dan binar matanya terasa lebih teduh. Sambil terus merengkuhku, Gibran mengunci pergerakan mataku yang mulai merasa gelisah karena gugup menghadapinya.
Aku memejamkan kedua mataku ketika Gibran mengigit bibir bawahku dengan lembut dan melepaskannya, memberikan sensasi getaran yang membakar tubuhku.
Kami tidak lagi bicara meninggikan ego kami masing-masing, tapi kami berbagi pandangan hangat yang dalam.
__ADS_1
Gibran masih tidak menjauh sedikitpun dari ku, ia kemudian membelai rambutku dan mencium aroma shampoo yang tertinggal di ujung rambutku.
"Kenapa kamu mengubah warna rambut mu?" tanya Gibran karena dulu rambutku berwarna hitam tapi sekarang berwarna coklat.
"Kamu gak suka?" aku balik bertanya dan langsung membuatnya tersenyum sebelum mengecup bibirku singkat.
"Suka..." Jawabnya setelah itu.
"Kamu suka padaku?"
Gibran kembali tersenyum mendengar pertanyaan ku yang tidak tahu malu itu.
"Maksudmu rambut mu? Warna rambutmu?" dia semakin menggodaku dengan memelintir ucapan ku.
"Apapun yang ada di diriku!"
"Kalau aku bilang suka, boleh aku meminta lebih?"
"Itu terdengar gak tulus, Gibran!"
"Kamu marah kalau aku gak tulus,?"
"Ya, aku akan sangat marah..."
"Kalau begitu aku akan membujuk mu..."
"Caranya?"
"Begini..."
Sekali lagi Gibran berhasil membuatku tertegun dengan aksinya. Entah sudah yang ke berapa kalinya tapi aku tidak pernah merasa muak dengan ciuman yang diberikan oleh Gibran dan aku menikmatinya ...
Setiap sentuhan kecil yang Gibran berikan membuatku tidak berdaya seolah aku memang menantikannya sejak lama.
Jika sudah begini, apa boleh aku meletakkan harapanku lagi padanya?
__ADS_1
***