
Aku ingin tahu apa maksudnya mereka mengirimkan ku undangan pernikahan mereka di tambah dengan foto mesra mereka. Apa mereka sedang mengolok-olok ku?
Bertahun-tahun aku memutuskan hubunganku dengan mereka semua yang telah menyakitiku, aku sungguh tidak percaya karena bukan penyesalan yang mereka tunjukkan padaku melainkan kesenangan diatas penderitaan ku.
Mereka menari-nari, menginjak-injak harga diriku sekali lagi. Hatiku semakin keras...
Sekalipun aku tidak pernah bisa baik-baik saja tapi mereka hidup tanpa rasa bersalah dan mendapatkan kebahagiaan setelah menghancurkan ku.
Bibirku tersenyum walaupun hatiku menangis pedih.
"Kamu siap?" Juna bertanya padaku, ketika mobil yang kami kendarai tiba di depan sebuah hotel megah berbintang.
"Ya..." jawabku dengan begitu tenang tanpa menoleh menatap Juna yang kini sudah bergerak turun lalu dengan sopan membukakan pintu mobil untuk ku lalu mengulurkan tangannya saat mempersilahkan ku turun dari mobil mewah keluaran terbaru miliknya.
Juna memang kaya, aku tahu sejak lama kalau latar belakang Juna bukanlah orang sembarangan, ia membuka bisnis hanya sebagai pembuktikan tapi ia tidak pernah kekurangan apapun.
Pria dewasa yang tampan dan kaya itu kini berdiri di sebelahku, memakai setelan jas hitam yang pas di badannya sementara aku memakai gaun berwarna merah dengan potongan yang menunjukkan lekuk tubuhku walaupun tidak ada satu inci-pun kulit ku yang terekspos, lengkap dengan riasan glamor yang aku pilih. Mereka tidak akan pernah tahu aku bisa berubah sebanyak ini, terima kasih untuk Juna yang selalu memberikanku saran dalam berpakaian.
Aku dan Juna lantas melangkah menaiki satu-persatu anak tangga lalu memasuki ballroom tempat dimana Gibran dan Ruby melangsungkan pesta pernikahan.
Kedatangan kami langsung mencuri perhatian semua orang tidak terkecuali Gibran dan Ruby beserta keluarga mereka termasuk ayahku di sana, dia terlihat seperti pria yang nyaris terkena serangan jantung setelah melihatku.
Juna menyentuh tanganku yang kini menggantung di lengannya, sepertinya ia tahu jika kesedihanku datang menyergap ku ketika aku melihat Gibran dan Ruby berdiri berdampingan di atas pelaminan.
Rasa sakit itu terasa menusuk, mengingat aku dan Gibran pernah ada di situasi yang hampir menikah jika saja saat itu Gibran tidak jatuh cinta pada Ruby.
Jika saja aku tidak pernah memperkenalkan mereka...
Kedua mata kami tanpa sengaja bertemu, Gibran menatapku seolah tidak percaya melihat kedatanganku padahal dia sendiri yang mengirimkan kartu undangan pernikahannya ke tempatku, padahal aku sudah begitu jauh pergi bersembunyi tapi mereka masih bisa menemukanku dan menyakitiku lagi.
__ADS_1
Terlihat Gibran seolah ingin pergi menghampiri ku tapi ku lihat Ruby menahannya, senyuman gadis itu terlihat terpaksa.
Oh, jangan salahkan aku karena mengacaukan pesta pernikahan kalian.
"Sepertinya kita perlu menyapa mereka?" Juna berbisik seolah sengaja menunjukkan kemesraan kami. Ia bahkan menarik pinggangku hingga jarak diantara kami begitu dekat.
"Tentu saja..." jawabku tersenyum. Senyuman yang sengaja aku tunjukkan karena Gibran terlihat sangat terganggu melihat kemesraan kami.
"Perlukah aku menggendong mu?" Juna berbisik lagi, dia sungguh mengambil kesempatan ini dengan baik.
"Jangan gila!" ucapku memperingatkan sambil merapihkan jas Juna yang sebenarnya tidak berantakan, aku hanya senang melihat Gibran tidak terlihat bahagia di pesta pernikahannya.
Aku dan Juna kemudian melangkah naik ke atas pelaminan, Kami berhenti di hadapan kedua orangtua Gibran terlebih dahulu.
"Jasmine, ini sungguh kamu nak?" Mama Gibran langsung menangis sambil menyentuh wajahku seolah tidak percaya.
"Kenapa kamu tidak pernah mengabari kami? Kenapa kamu memutuskan semua kontak kita?" kini giliran papa Gibran yang bertanya, ia terlihat menahan tangisnya.
"Karena bukan aku yang menjadi menantu kalian." aku menjawab dengan provokatif sekali lagi hingga membuat kedua orangtua Gibran tertegun.
"Kamu tahu, bagaimanapun hubungan kamu dengan Gibran, kamu tetaplah putri yang kami sayangi." mama Gibran menangis lagi, aku kemudian mendekat dan memeluknya dengan erat.
Aku sungguh ingin menangis, kerinduan yang selama ini aku tahan sungguh menyiksaku tapi aku tidak bisa menunjukkan pada mereka jika aku masih hancur.
"Terima kasih, mah..." bisik ku pelan dengan suara yang gemetar, aku terus menahan air mataku.
Perlahan aku melepaskan pelukan ku, mama Gibran menangis tanpa terbendung lagi setelah mendengar ku memanggilnya dengan panggilan mama bukan Tante seperti terakhir kali aku berpamitan.
"Papa boleh peluk kamu?" tanya papa Gibran dengan hati-hati. Aku tersenyum dan mengangguk, ia lantas memeluk ku dengan sangat erat. Pria yang menyayangiku lebih dari ayahku sendiri. Sejujurnya sejak kecil aku sudah menganggap mereka sebagai orangtuaku.
__ADS_1
Tentunya kedekatan ku dengan kedua orangtua Gibran berhasil membuat para tamu bergunjing. Gunjingan yang sampai terdengar ke atas pelaminan ini. Para tamu yang terang-terangan bergunjing jika seharusnya aku menjadi mempelai wanita di pernikahan ini, gunjingan jika aku akan tetap menjadi menantu kesayangan kedua orangtua Gibran, gunjingan-gunjingan yang sudah pasti akan mengganggu Ruby.
Itulah kenapa kalian tidak seharusnya mengusik ku...
Pelukan papa Gibran akhirnya terlepas, ia masih kesulitan menyeka air matanya hingga mama Gibran harus membantu menenangkannya tapi mereka tidak memiliki sapu tangan untuk menyeka air mata papa Gibran dan Juna langsung mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya pada papa Gibran hingga membuat pria yang berusia setengah abad itu tertegun.
"Terima kasih..." papa Gibran menerima saputangan itu dengan hati-hati dan memakainya.
"Mama masih ingat cowok yang nganter aku belanja? kenalin dia Juna..." ucapku memperkenalkan Juna setelah itu.
Juna kemudian mengulurkan tangannya dan mengajak kedua orangtua Gibran berjabat tangan meskipun kedua orangtua Gibran masih menatapnya dengan tidak bersahabat.
"Juna, om-tante... Calon suaminya Jasmine..." ucap Juna memperkenalkan diri, dia berhasil membuatku menoleh begitu juga dengan Gibran.
Padahal Juna sudah berjanji tidak akan memperkenalkan dirinya sebagai pria yang memiliki hubungan asmara denganku tapi ia memang sulit untuk dikendalikan!
Aku sungguh gemas hingga tanganku yang telah terbiasa mencubitnya, kini juga secara refleks mencubitnya hingga ia meringis.
"Sakit sayang..." Juna merengek tapi aku tidak mendengarkannya dan malah menuntunnya ke hadapan Ruby dan Gibran.
Gibran menatapku nanar, ia masih terlihat tidak percaya hingga Gibran melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya, hendak menyentuh wajahku tapi aku menepisnya lebih dulu.
"Selamat... Aku datang karena kalian sudah repot-repot mau mengundangku, bukan untuk memaafkan kalian apalagi memberikan restu, bersyukurlah karena aku tidak mengacau lagi." ucapku dengan nada suara yang dingin dan Juna yang menangkap getaran di suaraku langsung merangkul dan memberiku semangat.
"Lain kali jangan buang waktu kalian karena Jasmine sudah sepenuhnya move-on..." Juna menambahkan sambil menyeringai.
Aku lantas menuntun Juna, menggandeng tangannya erat-erat dan membawanya turun dari atas pelaminan tanpa menegur ayahku lebih dulu meskipun pria itu sudah sangat berharap.
***
__ADS_1