Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku

Jadi Istri Ke Dua Cinta Pertamaku
Jarak diantara kita


__ADS_3

"Loe kenapa sih?"


Aku menoleh begitu mendengar suara Gibran setelah kami selesai mengantarkan Ruby pulang entah untuk yang ke berapa kalinya karena Ruby bilang jika supir yang dulu selalu mengantar-jemput dirinya sudah lama sembuh tapi dia masih tetap berangkat dan pulang sekolah bersama kami.


"Gue gak kenapa-kenapa kok." Jawab ku dengan malas, iya malas ... Gibran hanya bicara padaku setelah tidak ada Ruby padahal sebelumnya ia lebih sering mengajak Ruby bicara bahkan bercanda, dia mengikutsertakan aku dalam pembicaraan hanya ketika ia membutuhkan seseorang untuk membuat ucapannya lebih terdengar menyakinkan.


"Kalau gak kenapa-kenapa, kenapa loe diem aja?"


"Emangnya kita mau ngomongin apa sih? Kan kita gak punya hobi atau apapun yang sama-sama kita suka."


"Jangan cari ribut deh, Melati!"


Aku menghela nafas saat dia mulai memanggil ku Melati, mungkin dulu aku akan menyalak dan protes padanya tapi tidak untuk kali ini. Aku lelah, aku merasa dia hanya bicara dengan ku agar tidak jenuh.


Dan tepat saat mobil yang dikendarai Gibran berhenti di depan rumah ku, aku langsung turun dari dalam mobil tanpa mengatakan apapun padanya.


"Jasmine!"


Gibran memanggil ku tapi aku tidak menghiraukan panggilannya dan terus melangkah masuk.


"Jasmine, kamu kenapa? Mas Gibran manggil kamu kok jalan terus?" Tegur nenek ku sambil menahan langkahku memasuki kamar ku.


"Aku cuma lagi gak mood, nek ... Biarin aja Gibran, dia juga udah sering cuekin aku kok belakang ini."


Aku langsung memasuki kamar ku dan membuang tas ku ke sembarang arah. Dari luar aku mendengar suara Gibran dan nenek ku berbincang.


"Jasmine belakangan ini kok sering murung ya nek?"


Aku mendengarnya dengan hati-hati dari balik pintu. Apa dia sedang mengkhawatirkan ku sekarang?


"Mungkin lagi PMS ..." terdengar nenek ku menjawab, dia sudah menganggap Gibran adalah cucu pertamanya padahal aku adalah cucu satu-satunya dan terdengar jelas jika nenek ku tidak ingin Gibran risau.


Tidak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu, dengan cepat aku berlari ke atas tempat tidur ku dan menutupi setengah tubuh ku dengan selimut.


"Jasmine, gue masuk ya?"


Aku tidak menjawab, tapi Gibran sudah sering masuk ke dalam kamar ku dan mengambil buku-buku komik yang sengaja aku beli agar dia bisa membacanya karena kedua orangtua Gibran melarangnya membaca buku komik. Dan benar saja, terdengar suara pintu terbuka dan setelah itu aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat.


Aku sengaja berbaring miring membelakangi jadi Gibran tidak akan bisa melihat ekspresi ku sekarang.

__ADS_1


Kurasakan Gibran duduk di tepi ranjang ku, dia terdiam untuk sesaat lalu setelah itu dia membelai rambut ku dengan lembut seperti apa yang selalu ia lakukan selama ini hanya saja sejak dia dan Ruby menjadi semakin dekat, dia tidak lagi melakukannya.


Sejujurnya aku merindukan tangannya yang mengusap-usap kepala ku seperti ini. Bukan tanpa alasan aku menyukai Gibran melakukannya karena dulu saat kecil aku selalu merasa iri saat melihat anak yang mendapat perhatian dari ayahnya, bukan berarti aku tidak menginginkan perhatian dari ibuku tapi karena dia meninggal sejak aku kecil, tahu kalau itu memang takdir ku dan aku menerimanya dengan ikhlas hanya saja ayah ku sudah tidak lagi mengunjungi ku saat aku berusia lima tahun karena dia telah menikah lagi dan memiliki keluarga baru dan aku bukan bagian dari keluarganya dan disaat itulah Gibran selalu ada untuk ku, dia memeluk ku lalu mengusap puncak kepala ku setiap kali aku merasa buruk.


Seperti sekarang, dia melakukannya dan membuatku merasa lebih baik walaupun masih ada perasaan yang mengganjal dalam hati ku.


"Jasmine ..." Gibran memanggil lagi sambil terus mengusap-usap puncak kepala ku dan aku menjawab dengan singkat tanpa keramahan, "apa?"


"Makan bareng yuk, laper nih ... Tuh cium masakan nenek aromanya lezat banget."


"Loe makan aja sendiri."


"Gak asik kalau makan sendiri."


"Ya minta temenin aja sama nenek ..."


Atau sama Ruby, ingin sekali aku menyindirnya seperti itu tapi aku takut membawa namanya akan membuat perasaanku semakin buruk.


"Jasmine ..." sekarang Gibran mulai mengacak-acak rambut ku karena aku terus mengabaikannya.


"Nanti rambut gue kusut, Gibran!"


"Gue gak laper!"


"Bohong, Ruby tadi kirim pesan katanya loe gak makan apapun pas jam istirahat!"


Oh mereka bahkan sudah saling mengirim pesan di belakang ku? Padahal ada grup pesan kami bertiga tapi tidak ada pesan masuk sama sekali di sana, aku mengira mungkin mereka sibuk dengan urusan masing-masing tapi ternyata mereka sibuk saling berbalas pesan tanpa ku.


"Gibran, gue cape. Tolong jangan ganggu gue."


Tangan Gibran tiba-tiba saja berhenti mengusap kepalaku, dia terdengar menghela nafas berat lalu aku merasakan dia beranjak bangun dari atas tempat tidur ku.


"Nanti telepon gue ya kalau udah ngerasa baikan,"


"Hem ..."


Aku tidak berani menolak karena takut dia marah dan akan membuat hubungan kami semakin menjauh tapi aku juga tidak bisa mengiyakannya langsung karena hatiku merasa kacau sekarang.


"Gue pulang ya,"

__ADS_1


Terdengar Gibran berkata sebelum ia menutup pintu kamar ku.


Aku segera duduk dan turun dari atas tempat tidurku untuk mengintip kepergian Gibran dari balik jendela kamar ku.


"Loe kenapa sih, Jasmine ... " Aku mengeluh pada diriku sendiri sambil memukul-mukul dadaku yang terasa sesak.


***


Aku gelisah sepanjang hari dan memilih mengurung diri di dalam kamar ku. Aku merasa tidak baik-baik saja tapi aku menolak untuk mengakui jika penyebab kekacauan hatiku adalah kedekatan antara Gibran dan Ruby.


Bahkan menulis pun aku tidak bisa, pikiran ku kacau. Aku menoleh ke arah kue dan susu yang sudah menjadi dingin pemberian nenek ku sore tadi yang tidak aku sentuh sama sekali.


"Tok ... tok ... tok ..."


Terdengar suara ketukan pintu, aku menoleh berbarengan dengan Gibran yang bergerak masuk.


"Masih sakit? Nenek bilang loe gak keluar kamar sama sekali." Tanya Gibran sambil melangkah menghampiri ku dan membawa piring berisi menu makan malam.


"Gue gak sakit kok cuma gak mood aja." Jawab ku yang memilih kembali fokus pada tulisan ku walaupun aku tidak tahu apa yang sedang aku tulis.


Gibran kemudian duduk di sebelah ku dan meletakkan piring yang ia bawa di atas meja belajar ku.


"Masih aja coret-coret gak jelas kaya anak SD." Cibir Gibran setelah mengintip ke dalam buku ku sehingga aku dengan cepat menutupnya.


"Kenapa sih?" Tanya Gibran sekali lagi tapi kali ini suaranya terdengar khawatir.


"Kenapa? Emangnya gue kenapa?"


"Gue kenal loe dari orok jadi gue tau banget kalo elo lagi gak baik-baik aja." Ucap Gibran sambil mengacak-acak rambut ku.


Aku hanya bisa menepis tangannya tanpa mengatakan apapun. Aku takut kalau aku tidak bisa menahan air mataku.


"Lagi PMS?" Tanya Gibran lagi.


"Gak ..." Aku menjawab dengan singkat dan ketus.


"Terus kenapa? Loe kangen sama bapak loe?"


"Gibran sebenernya gue..."

__ADS_1


***


__ADS_2