
"Jangan marah lagi dong, Jasmine... Aku kan udah minta maaf."
Aku menghentikan langkah ku, membiarkan Ruby merengek di sepanjang lorong sekolah hanya akan membuatku semakin di benci oleh penggemarnya.
"Loe kan yang awalnya marah-marah." kini pertanyaan itu ku kembalikan padanya.
"Iya tadi kan aku udah jelasin, aku takut banyak orang yang salah paham ngeliat kamu sama Gibran."
Aku menghela nafas kesal karena Ruby mengungkapkan alasan yang sama padahal aku dapat merasakan getaran cemburu yang kuat darinya di depan gerbang tadi.
"Dari jaman loe sama Gibran belum kenal, gue sama Gibran emang sedeket itu, Ruby." aku sungguh habis sabar menghadapinya. Mungkin kecemburuan ku memengaruhi sikapku padanya sekarang.
"Tapi bukan begitu maksudku... Gimana sebagai permintaan maaf aku traktir kamu sepulang sekolah nanti, ajak kak Gibran juga kita jalan bertiga."
Aku tidak lagi mau menanggapinya karena aku sepertinya sudah menebak bagaimana akhirnya nanti dan dering ponsel ku membantuku mengabaikan ajakan Ruby.
"Siapa yang nelpon?" tanya Ruby mendekat dan langsung mengintip ke layar ponselku seolah kemarahan ku sebelumnya tidak ada artinya baginya.
"Mama? Bukannya mama kamu udah meninggal?" Ruby bertanya sekali lagi sambil menatapku bingung.
"Mamanya Gibran." jawab ku dengan malas.
"Kok panggilnya mama sih?" cicit Ruby terdengar kesal tapi aku tidak menghiraukannya dan dengan sengaja mengangkat panggilan telepon itu di dekatnya.
"Halo, mah..." Aku menyapa dengan suara manis, suara yang hanya aku tunjukkan pada orang-orang tertentu seperti nenek ku dan juga orangtua Gibran.
"Mama denger kamu pulang malam terus gara-gara persiapan ujian beasiswa ya?" tanya mama Gibran terdengar khawatir di ujung telepon sana. Oh, jika saja ia tahu kalau putranya lah yang sudah membuatku dengan terpaksa menghabiskan waktu ku lebih banyak di perpustakaan sekolah serta toko buku demi memenangkan pikiranku yang selalu hanyut dan bertepi pada rasa sakit karena terus memikirkan Gibran dan sikapnya yang berubah mengacuhkan ku, aku yakin Gibran akan mendapatkan masalah besar.
"Iya mah..." jawabku pelan.
"Terus hari ini kamu pulang malam lagi? Gibran bilang semalam dia nginep di rumah kamu gara-gara kamu sakit. Mau mama anterin ke dokter, nak?"
"Aku udah sembuh kok mah, Gibran temenin aku sepanjang malam. Sekarang aku udah di sekolah jadi gak perlu periksa lagi ke dokter." tapi jika memang ada dokter yang dapat menyembuhkan luka dalam hatiku, tolong tunjukkan alamatnya padaku karena aku sangat tersiksa sekarang.
"Ya udah kalau begitu bisa gak nanti malam makan di rumah? Udah lama loh kamu gak main ke rumah, emangnya gak kangen sama mama-papa?"
__ADS_1
Aku melirik ke arah Ruby, gadis itu masih berdiri di sebelahku dan menguping tanpa tahu malu, tapi aku tidak akan marah kali ini karena dia harus tahu kedekatan ku dengan Gibran sudah berada di level berbeda.
"Ok mah, pulang sekolah nanti aku langsung ke rumah mama sekalian masak bareng, udah lama juga kan."
"Ok, mama tunggu loh. Nanti mama telepon Gibran suruh jemput kamu tepat waktu."
Suara senang mama Gibran di ujung telepon sana membuatku ikut tersenyum. Sejak kecil orangtua Gibran memang sangat baik padaku, mereka selalu mengajakku liburan bersama bahkan tidak jarang mereka mengenalkan ku pada teman-teman mereka jika aku adalah putri mereka dan teman-teman mereka selalu bergurau jika kedua orangtua Gibran sedang menjaga calon menantunya. Mungkin dulu aku tidak mengerti sepenuhnya dengan percakapan mereka tapi sekarang aku malah berharap.
Boleh kan?
"Sorry gue gak bisa terima ajakan loe hari ini."
Ruby hanya mengangguk tapi dia jelas terlihat kecewa. "Asal kamu gak marah lagi sama aku, aku gak apa-apa kok." sahut Ruby tersenyum sambil menggandeng tanganku.
Sebenarnya tidak ada alasan bagiku untuk marah padanya, aku hanya kesal dia selalu melangkah maju di saat aku sedang bersama Gibran. Aku mulai sadar jika cemburu sangatlah mengerikan. Sedekat apapun Gibran dengan Ruby, mereka tidak akan sedekat hubunganku dengan Gibran kan?
***
Akhirnya waktu pulang tiba, Gibran mengirimkan pesan padaku sebelumnya, tidak lama setelah mamanya menelepon ku dan meminta maaf karena tidak bisa menjemput ku karena masih ada kelas jadi aku harus pulang sendiri sekarang.
Ku lihat Ruby berlari kecil menghampiri jemputannya, sekarang aku tahu bagaimana dia bisa berakhir menjadi idola sekolah karena selain cantik, tingkahnya juga menggemaskan sementara aku?
Aku adalah definisi dari gadi remaja biasa yang tidak memiliki pesona apapun, ya setidaknya meskipun tidak ada pria yang mendekatiku tapi aku sudah pernah merasakan ciuman pertama dan orang yang memberikannya adalah Gibran.
Wajahku seketika memanas mengingat kejadian semalam apalagi Gibran mengatakan jika itu adalah ciuman pertamanya juga.
...
Aku akhirnya tiba di rumah Gibran, dan mama Gibran langsung datang menjemput ku di depan gerbang rumahnya. Dia seperti seorang ibu yang menunggu anak gadisnya kembali pulang setelah sebelumnya tinggal di asrama atau seperti mertua yang menyambut kedatangan menantunya?
Imajinasi ku nyaris tidak tertolong!
"Ayo masuk..." mama Gibran mempersilahkan ku masuk. Tanpa rasa canggung sedikitpun aku memasuki rumahnya lalu meletakkan tas ku di atas sofa.
"Mau minum apa sayang?" tanya mama Gibran yang kini sudah melangkah ke dapur. "Air putih hangat aja mah, aku lagi dateng bulan jadi perutku gak nyaman." jawab ku sambil mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu tunggu aja biar mama yang masak."
Aku menggelengkan kepalaku tanda tidak mau. "Aku kangen masak sama mama."
"Oh.." Mama Gibran tersenyum hangat setelah mendengar jawaban ku lalu memeluk ku dengan lembut. "makanya sering-sering main dong ke sini."
"Hihihi iya nanti kalau udah gak sibuk persiapan ujian aku pasti sering-sering main kok."
"Nanti kita liburan bareng!"
"Ok!"
"Liburan kemana?"
Kedatangan Gibran membuatku terkejut, tapi lebih terkejut lagi karena Gibran datang bersama dengan Ruby. Padahal pria itu sebelumnya bilang ada kelas hingga tidak bisa datang menjemput ku tapi kini dia datang dengan membawa Ruby dan gadis itu bahkan belum mengganti pakaiannya.
"Loh bukannya kamu ada kelas?" tanya mama Gibran seraya melepaskan pelukannya dan melangkah menghampiri Gibran dan Ruby.
"Iya tapi mendadak kelasnya batal."
"Kok gitu?"
"Gak tau deh..."
Sejujurnya aku tidak yakin jika Gibran berkata jujur kepada ibunya tapi meyakini jika Gibran sedang berbohong dan hanya beralasan agar bisa pergi berdua dengan Ruby membuat hatiku tertusuk pedih.
Aku kemudian melangkah menghampiri mereka. "Ada Ruby..."
"Hi..." Ruby menyapaku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Ini Ruby temen yang kamu suka ceritain itu?"
"Iya mah!" aku dan Gibran menjawab dengan kompak tapi setelah itu kamu seketika menjadi canggung dan perasan ku menjadi semakin buruk karena jawaban Gibran menegaskan jika pria itu juga menceritakan tentang Ruby kepada ibunya.
Jadi sudah sedekat apa mereka sebenarnya selama aku dan Gibran bertengkar?
__ADS_1
...